Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Dijodohkan Dengan Ketos Galak
eps 5


__ADS_3

Sepulang dari tempat psikolog Bryan memutuskan membawa Nindy makan


mereka menyusuri sepanjang perjalanan pulang memilih tempat makan mana yang mereka tuju tapi Nindy hanya bilang terserah dan terserah


Membuat bryan geram dengan jawaban Nindy


akhirnya Bryan singgah di sebuah rumah makan yang dibangun dari bambu


meskipun bambu tapi rumah makan itu terlihat sangat cantik, nyaman dan bersih



"Gimana nin bagus gak?" tanya Bryan seraya melihat sekeliling


" Bagus, GK nyangka ya dari bambu bisa jadi sebagus ini" ucap Nindy kagum


Bryan memesan makanan beberapa pelayan menyuguhkan berbagai menu


memenuhi meja makan di hadapan mereka


mata Nindy sampai membulat dengan mulut menganga yang di tutupi tangan


" OMG Bryan apa Lo gak salah pesan makanan sebanyak ini, siapa yg bakal abisin::¿??" ucap Nindy


" Gak, gue sengaja biar Lo agak isi dikit abis Lo kerempeng" jawab bryan membuat Nindy mendelik sebal


" Eehh ini bukan kerempeng ya, ini tuh langsing" jawab Nindy tidak terima disebut kerempeng


" Terserah, pokoknya gue mau Lo agak montok biar seksi" ucap Bryan seraya menaik turunkan alisnya


" Diihh mesum gilllaaa" jawab Nindy memalingkan wajahnya


Bryan sedikit tersenyum melihat Nindy yang sedang memanyunkan bibirnya


tapi masih makan dengan lahap


sesekali ketika tatapan mereka bertemu Nindy memalingkan wajahnya memasang wajah sebal


membuat Bryan gemas di buatnya


Bryan terus saja menatap Nindy membuat Nindy salah tingkah


"Apa sih liatin Mulu? " ujar Nindy menatap Bryan kesal


" Tadi siapa ya yang bilang makanannya kebanyakan? apa masih kurang?" ucap Bryan


Melihat makanan di meja satu persatu Nindy cicipi bukan di cicipi lebih tepatnya ia makan


Nindy semakin salah tingkah dia gelagapan mencari jawaban untuk Bryan


Bryan masih menatapnya seraya meminum jus


Nindy merasa terpojokkan dan malu tanpa sadar dia makan begitu banyak


" Ya.. ya karena gue laper, tau ahh" ucap Nindy lalu bergegas keluar


Saking malunya nindy lupa dia tidak bawa motor dan terpaksa menunggu Bryan di parkiran


Nindy bersandar di motor bryan memainkan ponselnya


betapa terkejutnya Nindy saat seseorang memegang bahunya dari belakang


Nindy seketika menjerit ketakutan


" Aaaaaaaaa" teriak Nindy


Nindy berjongkok menutup wajahnya dengan tangan handphone yang di pegangnya pun terjatuh


Bryan yang baru keluar begitu terkejut mendengar teriakan Nindy yang berasal dari parkiran


Bryan berlari menghampiri Nindy yang sedang berjongkok dan di hadapannya ada seorang laki-laki yang dia kenal


Bryan berlari dan tidak sengaja menyenggol bahu lelaki tersebut


" Nin Lo kenapa? ini gue Bryan" ucap Bryan


Mendengar nama Bryan Nindy mengangkat kepalanya dan berhambur kepelukan Bryan yang ikut berjongkok di hadapannya


" Gue takut " ucap Nindy menangis tersedu


"Gak apa apa gue ada disini" Bryan menenangkan Nindy dan membalas pelukan Nindy


Bryan masih memeluk Nindy membawanya berdiri


Bryan mengelus rambut panjang Nindy


menatap seseorang yang sedari tadi belum juga pergi hanya menyaksikan Nindy dan Bryan


" Apa yang Lo lakuin sama Nindy" tanya Bryan


"Gue gak ngapa ngapain, gue cuma mau nyapa dia tapi dia malah teriak" ucap Hendrico


Bryan tidak menjawab dia masih memeluk Nindy


Hendrico yang sedari tadi melihat mereka dengan hati geram kini pergi tanpa sepatah kata pun seraya mengepalkan tangannya


" Udah gak apa apa, kita pulang ya" ucap Bryan


Nindy yang mulai tenang mengangkat kepalanya menyeka air mata


lalu Bryan memasangkan helm pada Nindy


mereka melanjutkan perjalanan ke rumah


di saat Bryan mengendarai motornya lagi lagi dia di buat terkejut ada sebuah motor melaju dari arah belakang hampir menyerempet motor bryan


Bryan yang terkejut membuat motor yang dia kendarai tidak seimbang


hampir motornya terjatuh tapi dapat bryan tahan menggunakan kakinya


membuat kaki Bryan terluka terkena trotoar


" Lo GK apa apa Nin? " ucap Bryan seraya turun dari motornya


Nindy terlihat bengong tidak berkedip Bryan mengguncang guncangkan bahunya


Nindy terkesiap mengejap matanya berkali kali


"Nin Lo GK apa apa? " tanya Bryan seraya mengguncangkan bahu Nindy


" Kita belom mati kan Bryan" tanya Nindy


" Lo udah di surga" jawab bryan seraya duduk memeriksa kakinya


" Iisshh rese Lo, Lo kenapa?" tanya Nindy turun melihat apa yang terjadi pada Bryan


" Kaki gue perih, gue mau cek dulu" ucap Bryan menggulungkan celananya


" Bryan kaki Lo luka, Lo masih bisa bawa motor GK?" tanya Nindy yang cemas melihat luka di pergelangan kaki Bryan lumayan besar


" Aadduuhhhh kaki gue sakit banget kayaknya patah deh" ucap bryan yang berpura pura kesakitan


" Ya ampuunnnn gimana dong, kita kerumah sakit ya" ucap Nindy lalu langsung memapah Bryan, Bryan hanya senyum senyum sendiri melihat Nindy yang khawatir


"Gue gak apa apa, kita pulang aja" ujar Bryan


" Kita pulang naik taksi aja, biar nanti motornya Reno yang ambil" lanjut Bryan


" Gue aja yang bawa gue bisa kok" ucap Nindy membuat Bryan tidak yakin


Nindy membantu Bryan naik ke motor lalu dia duduk di depan mengendarai motor


sepanjang jalan Bryan mencuri kesempatan memeluk Nindy dan menyandarkan kepalanya di bahu Nindy


sebenarnya Nindy merasa risih tapi mengingat bryan kesakitan Nindy terpaksa membiarkan Bryan


" Bryan bangun dong berat ni pundak gue" ucap Nindy


Bryan lalu mengangkat kepalanya tapi masih memeluk Nindy


Bryan memiliki ide untuk menjahili Nindy


" Nin... Nindy" panggil Bryan tapi Nindy masih tidak menoleh


" Nin kaki gue sakit" membuat Nindy langsung menoleh


tiba tiba Bryan mencium pipi Nindy


ccuupp

__ADS_1


Nindy terkejut sampai motor yang mereka kendarai sempat oleng


lalu menghentikan motornya


" Bryaaaaannn, bahaya tau" ucap Nindy marah


" Sorry" ucap Bryan nyengir kuda menggaruk tengkuknya


Nindy melanjutkan perjalanannya


sesampainya di rumah Nindy memapah Bryan masuk rumah


di kamar bryan mengurut kakinya


Nindy membawa p3k dan air hangat untuk mengobati luka Bryan


Nindy masih diam sepertinya dia marah karena bryan menciumnya


"Nin jangan manyun terus dong, gue jadi pengen cium" goda Bryan


Nindy yang geram mendengar Bryan menekan lukanya membuat bryan mengaduh kesakitan


Nindy masih diam membungkus luka Bryan dengan kasa


lalu Nindy meninggalkan Bryan sendiri


lama setelah Nindy keluar Bryan merasa jenuh dia memanggil Nindy tapi Nindy tidak juga kembali


" Nin.. Nindyyy... Nindyyy sini dong" ucap Bryan manja


Nindy yang bosan mendengar Bryan memanggilnya akhirnya menghampiri Bryan


Bryan menepuk tempat tidur menyuruh Nindy duduk disampingnya


" Apa sih Bryan " tanya Nindy malas


" Sini dong masa suami sakit ditinggal sendirian" jawab Bryan manja seraya mengedip ngedipkan matanya


" Iihh jijik Lo hahaha" Nindy tertawa terbahak mendengar Bryan berbicara manja


karena nindy tidak menyangka seorang bryan yang dingin dan galak di sekolah ternyata bisa sehumor itu


" Nin gue pengen buang air, cepetan nin GK tahan gue GK kuat berdiri kaki gue sakit banget" ucap Bryan


"GK usah akting ya Lo gk percaya gue" ujar Nindy yang duduk di kursi belajar


" Suer nin, ya udah gue kencing disini aja entar Lo bersihin" ujar Bryan akan membuka resletingnya


"Bryaaaaannn Lo gila ya, gak malu apa?" ucap Nindy menutupi matanya menghampiri Bryan


"Lo sendiri yang gak percaya, liat nih kaki gue bengkak" ucap Bryan


Nindy melihat kaki Bryan yang bengkak


lalu memapahnya ke kamar mandi


belum sempat Nindy keluar


Bryan menggenggam tangan Nindy


" GK mau bukain apa pegangin gitu?" goda Bryan


" dasar gilllaaa" teriak Nindy seraya membanting pintu, Bryan tentu saja dia sedang tertawa terbahak bahak


" Nin udah nih" teriak Bryan


Nindy menghampiri Bryan dengan malas


dia membawa Bryan ke tempat tidur


lalu mengambil selimut dan bantal dari lemari hendak tidur di sofa


ketika hendak membaringkan tubuhnya di sofa tiba tiba bryan memanggilnya


" Nin, tidur disini gue kayaknya meriang deh" ucap Bryan


"Bryan please deh gue ngantuk jangan ngerjain gue Mulu" ujar Nindy yang kesal membelakangi Bryan lalu menutup wajahnya dengan bantal


Nindy kini terlelap tapi karena rasa haus yang teramat sangat


Nindy bangun hendak mengambil air ke dapur


saat Nindy baru saja membuka matanya terdengar Bryan bergumam tidak jelas


Mengguncang pelan bahu Bryan tapi Bryan tak kunjung bangun


Nindy memegang kening Bryan ternyata Bryan sedang demam


Nindy bergegas mengambil air hangat untuk mengompres Bryan


karena terlalu mengantuk Nindy tertidur di samping Bryan dengan posisi terduduk


Bryan membuka mata menatap Nindy yang masih duduk di ranjang di sampingnya memejamkan matanya


Bryan memeluk kaki Nindy dan kepalanya diletakkan di pangkuan Nindy


Nindy yang merasakan panas badan Bryan pun terbangun


" Ya ampun Bryan gue kaget" ucap Nindy


" Udah gini aja ya nin biar gue agak baikan" ucap Bryan


" Lo modusin gue ya?" Nindy curiga


"Gak nin gue kalo sakit sama bunda suka gini di belai belai biar enakan" ucap Bryan seraya menuntun tangan Nindy agar mengelus kepalanya


" Summpaahh demi apa gue kira Lo tuh cool ternyata anak mama" ucap Nindy dengan gelak tawa


Bryan hanya diam saja memejamkan matanya di pangkuan Nindy


padahal itu hanya akal akalan Bryan saja agar menempel pada Nindy


Nindy masih mengelus kepala Bryan


tanpa Nindy sadari senyumnya terukir indah di wajah manisnya


entah apa yang dia pikirkan dia lalu menggelengkan kepalanya


" Bryan Lo makan dulu ya?" ucap Nindy membuat Bryan menengadah


" Gak mau" singkat bryan


" Lo harus minum obat abis itu entar siang kita ke dokter" ucap Nindy lagi


" Cium dulu" ujar Bryan memajukan wajahnya


" Sumpah Lo nyebelin banget" ujar Nindy hendak bangkit dari duduknya


"Ya udah gue GK mau makan biar nanti bunda marah sama Lo" ancam Bryan


membuat Nindy mau tidak mau menciumnya


ketika Nindy akan mencium pipi Bryan


Bryan memiringkan wajahnya menghadap Nindy


dan akhirnya ciuman Nindy mendarat di bibir Bryan


cuupp


membuat mata Nindy melebar sempurna


Nindy buru buru melepas ciumannya


dengan gelagapan dia berdiri hendak pergi


" Gu..gu gue bikinin Lo bubur dulu atau Lo mau beli aja?" ucap Nindy tergagap


" Di bikinin istri pasti lebih enak" ucap Bryan membuat pipi Nindy bersemu merah


Nindy langsung memalingkan wajahnya menyembunyikan wajahnya yang kini kemerahan


dengan langkah cepat Nindy keluar kamar nutup pintu lalu memegang kedua pipinya


" Huuuhhhhh kenapa jadi panas dingin gini" ucapnya masih memegang pipi kini mejamkan mata lalu menggeleng geleng dengan senyun yang mengembang


Kini Nindy sedang memasak bubur untuk Bryan


dia juga sudah izin sekolah untuknya dan Bryan pada Wina dan Dara

__ADS_1


Nindy sudah menyiapkan bubur untuk Bryan dan membawanya ke kamar


sebelum masuk dia menghela nafas panjang mengumpulkan keberaniannya


" Ini bryan makan dulu" ucap Nindy menyodorkan mangkuknya


" Suapin nin" ucap Bryan


"Bryan yang sakit itu kaki bukaan tangan Lo" ucap Nindy


"Gue lemes nin" ucap Bryan membuat Nindy mau tidak mau melakukan


Di sekolah Meira yang mengetahui bryan tidak masuk merasa aneh karena Nindy juga sama tidak masuk sekolah


waktu istirahat tiba Meira menanyakan Nindy pada Wina dan Dara


" Eehh si Nindy kenapa GK sekolah" tanya Meira yang menghampiri Wina dan Dara


" Nindy sakit" jawab Wina


" Terus kenapa Bryan izin bilangnya sama kalian berdua" ucap Meira


" Ya mana gue tau kan nin....." ucapan Wina terpotong karena Dara membekap mulutnya


" Tanya aja sama Bryan sendiri" ucap Dara lalu mengajak Wina pergi


" Tadi Wina mau ngomong apa ya ? pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan" gumam Meira


karena penasaran kini Meira menghubungi Bryan via video call


Bryan malas mengangkatnya tapi di biarkan juga berisik


akhirnya dia menjawabnya


Meira


..." Hai Bryan Lo sakit apa?"...


Bryan


..." Gue jatuh dari motor"...


Meira


..." Astaga kasihan banget entar pulang sekolah jenguk kerumah Lo ya"...


Bryan


..."Gk usah deh, makasih"...


" Bryan mandi dulu sana" ucap Nindy yang baru saja keluar kamar mandi


" Iya sayang" jawab Bryan lalu mematikan sambungan videonya


membuat Nindy mengerutkan keningnya


" Barusan Lo telponan sama siapa?" tanya Nindy


" Meira" singkat Bryan


" Dia denger dong gue ngomong" ucap Nindy takut Meira mengetahui hubungan mereka


" Biarin aja, biar dia tau biar gk gangguin gue lagi" ucap Bryan


" Kita masih sekolah gue gak mau mereka tau hubungan kita" ucap Nindy


" Iya iya, bantuin gue mandi" ucap Bryan


" Gue anterin sampai kamar mandi aja ya Lo mandi sendiri" ujar Nindy takut Bryan minta macam macam


" Iya iya" jawab Bryan


Di sekolah Meira bertanya tanya siapa yang sedang bersama Bryan


dia seperti mengenal suara wanita tadi


tapi kenapa mereka bisa satu rumah


"Apa benar itu suara Nindy?" gumam Meira


Nindy membawa Bryan ke dokter


ternyata Bryan demam karena kakinya yang terkilir


untung saja cepat di bawa ke dokter


karena lukanya bisa di bilang cukup serius


Nindy dan Bryan sudah pulang dengan taksi


di depan rumah sudah ada bunda


" Bunda kesini kok gk bilang, lama ya nunggu kita" ucap Nindy setelah menyalami ibu mertuanya


"Gak kok sayang bunda baru datang, bunda mendapatkan kabar dari sekolah katanya Bryan sakit" ucap bunda


Mereka lalu masuk dan membaringkan Bryan di bantu bunda


kini bunda sudah ada di meja makan


menunggu Nindy sedang memasak


selesai memasak Nindy menghidangkannya


" Wah sayang enak sekali masakan kamu" puji bunda


" erimakasih bunda, Nindy masih belajar


" Belajar saja sudah seenak ini apalagi kalau sudah pintar ya" ucap bunda


" Aah bunda bisa aja" ucap Nindy malu


Nindy selesai mencuci piring menghampiri ibu mertuanya di ruang tamu


mereka berbincang tidak ada kecanggungan


karena Nindy gampang berbaur dan bunda juga orang yang ramah


"Maaf ya Bryan sakit nyusahin kamu" ucap bunda


"Eehh enggak kok Bun, kan sudah kewajiban Nindy sebagai istri" jawab Nindy


"GK salah bunda jodohin Bryan sama kamu sayang, istri yang baik jago masak lagi" puji bunda


" Bunda bisa aja Nindy jadi malu" ucapan Nindy membuat bunda tertawa


"Oohh iya Bun emang kalo kak Bryan sakit suka tidur di pangkuan bunda ya?" tanya nindy membuat bunda semakin tertawa


" Kamu di kerjain Bryan sayang" jawab bunda di sela tawanya


" Gitu ya Bun" jawab Nindy pelan


" Mungkin dia pengen manja manjaan sama kamu" ucapan bunda membuat pipi Nindy memerah karena malu


" Gak apa apa kan dia suami kamu, tapi Bryan belum menyentuh kamu kan?" tanya bunda membuat Nindy semakin malu


" Emhh maksud bunda" tanya Nindy


" Gini sayang dengerin bunda ya, bunda nyuruh Bryan jangan dulu sentuh kamu sebelum kamu keluar SMA karena kalo sampai kamu hamil kan pemikiran teman teman dan orang lain tentang kamu pasti berbeda apa lagi kamu sekolah masih ada satu tahun lagi kan?" ujar bunda


" Bener juga ya" gumam Nindy pelan tapi masih di dengar bunda


" Apa Bryan meminta haknya?" tanya bunda pada Nindy yang sedang melamun membuatnya menjawab sekenanya


" Gak dia cuma suka maksa suruh peluk sama cium" ucap Nindy tanpa sadar dengan tatapan kosong sedang memikirkan bagaimana jika Bryan meminta haknya dan dia hamil


membuat bunda menggeleng


"GK apa apa masih wajar, atau kalau Bryan mau harus pake pengaman ya" ucapan bunda membuat Nindy terkesiap


" Eehh maa.. maaf bunda maksud Nindy.." ucapan Nindy dipotong bunda


"Ya sudah GK apa apa yang penting inget kata bunda, bunda mau pulang dulu yaaa" bunda pamit pulang


"Iya Bun hati hati" ucap Nindy menyalaminya


" Ehhemmmm.... ngobrolin apa sama bunda" ucap Bryan membuat Nindy terkejut melompat


" Apa sih Lo ngagetin aja" Nindy memarahi Bryan

__ADS_1


" Bunda bilang bolehkan? asal pake pengaman" goda Bryan


" Gak ya Bryan gak mauuuuuu" teriak Nindy sambil berlari


__ADS_2