Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Dijodohkan Dengan Ketos Galak
eps 41


__ADS_3

Pagi itu sekitar pukul 8 pagi Nindy dan Leo akan mengadakan meeting dengan para kliennya


Nindy dan Leo sudah ada di lift tapi Leo Melihat Bryan yang hendak masuk ke lift juga


dia menyuruh Nindy duluan ke atas dengan alasan akan ke kamar mandi


Saat Bryan masuk Leo keluar Nindy hendak ikut keluar karena ada Bryan tapi pintunya tertutup


Hening tidak ada pembicaraan bahkan mereka tidak saling melirik sedikit pun


tiba tiba kepala Nindy terasa berputar


dia memegangi kepalanya dan ambruk ke belakang


"Hei Nindy bangun" Bryan berpikir apakah Nindy pingsan atau berpura pura


Bryan mengetesnya dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Nindy


karena masih tidak ada pergerakan Bryan mencium sekilas bibir Nindy


Terdengar bunyi pintu lift akan terbuka Bryan segera mengangkat Nindy keluar


Bryan ini menyelam sambil minum air


hatinya mengutuk perbuatannya yang mengambil kesempatan saat Nindy pingsan


Karena sudah berada di atas Bryan membawa Nindy keruangannya


Leo yang sedang duduk terperanjat melihat Nindy di bopong oleh Bryan.


"Lo apain dia sampe pingsan gini?" Leo melotot menatap Bryan


"Mana gue tau di pingsan gitu aja"


"Bawa aja cewek Lo biar jelas dia kenapa" Bryan setengah teriak


"Eemmhh" Nindy terbangun memegangi kepalanya


"Gue dimana?" Nindy mengedarkan pandangannya


"Lo gak apa apa?" tanya Leo


"Gue gak apa apa" Nindy berusaha berdiri tapi tubuhnya oleng


Dengan sigap bryan menangkap tubuh Nindy yang terjatuh di dadanya


Nindy memeluk Bryan karena takut jatuh tapi ternyata tidak karena Bryan lebih dulu menangkapnya


Nindy mendongak mata mereka bertemu Entah apa yang ada di pikiran mereka masing masing


lama mereka saling tatap Leo hanya menonton duduk di sofa yang tadi di tiduri Nindy


"Ahh lepasin " Nindy mendorong Bryan


"Gak tau terimakasih" ucap Bryan lalu pergi keluar


"Gitu tuh kalo udah ketemu berantem, kenapa gak damai aja sih, Clear gitu semua masalah" gerutu Leo


"Clear udel mu" ucap Nindy lalu pergi


Leo menggelengkan kepalanya dia tidak habis pikir dengan keras kepala mereka berdua


tapi Leo juga enggan mendamaikan mereka


Tepat saat mereka sedang meeting sedari tadi Bryan menahan nafasnya


mencium bau parfum yang menurutnya sangat menyengat dan membuatnya mual


dia sudah berusaha sekuat mungkin tapi semakin lama baunya semakin kuat


"ooek ooeekk" Bryan muntah tapi tidak keluar apa pun


Dia berlari keluar mencari toilet jangan ditanya malunya sebesar apa


dihadapan para koleganya dia malah mual mual tidak jelas


Leo memberi isyarat dengan mata dan dagunya agar Nindy memeriksa Bryan


"Gak mau titik" bisik Nindy


"Kasihanlah Lo harusnya tau rasanya mual itu gimana saat Lo hamil" Nindy mendengus kesal


"Kan ada Reno"ucap Nindy


"Lo tega perusahaan Bryan gak ada yang wakilin" tegas Leo


Dengan sangat terpaksa Nindy mengikuti Bryan


Nindy menuju toilet terdekat disana terdengar suara Bryan yang muntah dari luar


sebenarnya Nindy kasihan dengan kondisi Bryan


Bryan sedang berusaha memuntahkan apa yang bergejolak di perutnya


tiba tiba ada seseorang yang memijat tengkuknya

__ADS_1


dia pikir itu Reno sehingga dia tidak melirik sedikit pun


"Kenapa Lo ninggalin meeting Ren? gue gak apa apa meeting ini penting lo balik aja deh" ucap Bryan


"Gue bukan Reno" Bryan terkejut mendengar suara yang tidak asing lagi di telinganya


Bryan melirik dengan senyum tipisnya


dia seolah canggung dengan Nindy tapi hatinya gembira mungkin kini hatinya sedang loncat loncat kegirangan


Bryan memiliki ide untuk berpura pura sakitnya parah


" Oeekk ooeekk"


"Lo pulang aja deh dari pada makin parah" Nindy tidak tega melihat wajah Bryan penuh keringat berusaha mengeluarkan muntahnya


"Gue minta tolong anter gue pulang? itu pun kalo Lo gak keberatan" lirih Bryan lemah


"Gue anterin ke rumah bunda biar Lo ada yang ngurus" ucap Nindy


"Jangan ke rumah bunda kasihan nanti bunda repot anter gue ke apartemen aja" ujar Bryan


Tidak mau berdebat akhirnya Nindy mengantar Bryan ke apartemennya


di perjalanan Bryan pura pura terlihat lemas dan duduk bersandar


sesekali di menatap Nindy yang tampak acuh mengemudi


sesampainya di depan apartemen Nindy keluar lebih dulu


Bryan nampak jalan tertatih keluar dari mobil


melihat Bryan yang seperti itu Nindy memapahnya sampai masuk apartemen


"Lo udah pulang sekarang gue harus pergi" ucap Nindy


"Jangan..." Bryan setengah berteriak Nindy mengangkat sebelah alisnya


"Gue mau minta bantuan lagi jagain gue sebentar sebelum Reno pulang" ucap Bryan


Nindy memutar bola matanya jengah


karena ide Leo sekarang dia terjebak disini


saat ini Nindy sedang menonton TV di ruang tengah


Bryan mengintipnya dari sela sela pintu yang sedikit terbuka


Bryan keluar berjalan tertatih dan pura-pura jatuh


Nindy yang terkejut berlari menghampiri Bryan


Namun nahas karpet yang di injak Nindy sedikit menyembul mengakibatkan Nindy terjatuh


Nindy terjatuh di atas tubuh Bryan dengan bibir merah saling bersentuhan


Nindy segera bangkit dan merapikan bajunya


"Sorry gue gak sengaja" ucap Nindy dengan cepat


"Iya gak apa apa " Nindy segera keluar kamar Bryan seraya memukul mukul pelan kepalanya


"Bodoh bodoh bodoh kenapa Lo ceroboh banget" berbeda dengan Nindy yang merutuki dirinya sendiri Bryan justru tengah tersenyum lebar saat ini dengan memegangi bibirnya


Lalu ia teringat sesuatu dan langsung mengirim pesan pada Reno


"Kalo gue telepon Lo harus bilang kalo ada kerjaan ke luar kota"


Setelah agak lama menghilangkan rasa malunya Nindy kembali ke kamar Bryan membawa makanan


Nindy membuka pintu dan duduk di sisi ranjang


"Gue tadi masakin ini tapi gue gak tau Lo bakal suka atau enggak"


"Apapun yang gue makan bakal enak kalo makannya sama Lo" Nindy yang awalnya menunduk kini mengangkat kepalanya menatap Bryan yang sedang makan


Dia teringat sesuatu dia punya janji dengan Cia untuk menjemputnya sekolah


dia benar benar lupa dan ini sudah dua hari Nindy tidak menemuinya


"Astaga gue lupa mau jemput Cia kesekolah"


"Kalo gitu pergi aja" ucap Bryan


"Tapi Reno belum kesini" Nindy tidak tega meninggalkan Bryan yang sedang pura pura sakit


"Reno gak bakal kesini dia ada kerjaan ke luar kota" ucap Bryan lemah


"Sebenarnya gue males disini tapi ahh sudahlah demi rasa kemanusiaan gue terpaksa nungguin Lo disini" ucap Nindy lalu pergi


Bryan tersenyum puas akhirnya dia akan berlama lama dengan Nindy


meskipun harus berakting sakit


dia juga tidak perlu menelpon Reno Karena Nindy sudah percaya

__ADS_1


Malam hari Nindy belum tidur masih berada di depan TV


Bryan keluar menghampiri Nindy dan duduk di sampingnya


"Kenapa belum tidur?" tanya Bryann


"Belum ngantuk aja" Nindy berbohong padahal sudah menguap dari tadi


"Kalo Lo takut Lo bisa tidur di kamar dan gue tidur disini" ucap Bryan


"Lo aja di kamar kan lagi sakit" Nindy menolak


"Gue udah baikan buktinya gak muntah lagi kan?" Bryan meyakinkan


Nindy tidak menjawab dia hanya menarik tangan Bryan masuk ke kamar


jangan ditanya lagi perasaan Bryan saat ini sudah seperti kembang api yang meletup letup


dia berpikir Nindy ingin tidur bersamanya


"Nah kasurnya kita bagi dua, ini bagian Lo dan ini bagian gue jangan lewatin pembatas ini" Nindy membuat pembatas dari guling dan bantal sofa yang di barisan


Nindy sudah terlelap di susul Bryan dengan tidur saling memunggungi


Matahari mulai menerobos celah celah ventilasi


tapi tidak menganggu kedua orang yang sedang tidur berpelukan


bantal dan guling yang di buat pembatas sudah tidak berada di tempatnya lagi


Mereka saling memeluk dengan wajah Bryan yang di benamkan di dada Nindy


dering ponsel membangunkan mereka berdua tanpa melepaskan pelukannya


sontak mereka terkejut saat mata keduanya benar benar membulat


"aakkhhh" teriak keduanya mendapati mereka berpelukan


Bug bug bug


Nindy berkali kali menimpa kepala Bryan dengan bantal


Bryan hanya menahannya dengan tangan


"Lo sengaja kan? Lo cari cari kesempatan biar bisa pegang pegang gue" hardik Nindy


"Gue gak sengaja gue lagi tidur mana sadar"


"Bohong Lo bohong"


"Empphh" Bryan menahan rasa mual kala pagi


"Oek oeekk" Bryan sudah berlari ke kamar mandi


Nindy segera berlari menghampiri Bryan memijat tengkuknya


kali ini Bryan benar benar memuntahkan semua isi di perutnya


"Lo gak apa apa?" tanya Nindy khawatir dengan kondisi Bryan yang pucat


"Gak apa apa, bisa tolong bikinin teh manis pake jahe?" pinta Bryan


"Sebentar gue bikin"


Secepatnya Nindy kembali ke kamar Bryan membawa teh manis jahe


Bryan meminumnya lalu dibantu berbaring oleh Nindy


"Makasih dan sorry gue udah ngerepotin" Bryan menatap Nindy dalam dalam membuat orang yang di tatapnya gelagapan


"Ohh ya itu sama sama" ucap Nindy seraya menggaruk kepalanya tak gatal lalu pergi


Lama Nindy meninggalkan Bryan dia kini mencium bau makanan


dia keluar menghampiri asal bau itu


terlihat Nindy sedang menata makanan di meja


"Eehh bau ya masakannya" ucap Nindy kala melihat Bryan menggosok hidungnya


"Gak sama sekali, gue kesini mau makan"


Mereka makan bersama tidak ada yang bicara hanya terdengar dentingan sendok yang beradu


selesai makan Bryan mengambil jasnya dan turun kembali menghampiri Nindy yang sedang menonton TV


"Mau kemana?" tanya Nindy


"Kita hari ini jemput Cia sekolah " jawab Bryan


"Bukannya Lo masih sakit?"


"Udah enggak" Bryan sudah keluar dari apartemen


Nindy mengerutkan alisnya kenapa Bryan sekarang terlihat baik baik saja padahal tadi wajahnya sudah pucat

__ADS_1


aahh dia harusnya senang bukan? sekarang Bryan sembuh itu artinya dia bisa pulang


Nindy mengikuti Bryan keluar untuk menjemput Cia


__ADS_2