Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Dijodohkan Dengan Ketos Galak
eps 87


__ADS_3

Bi sumi membantu Dara berpakaian karena melihat tubuh Dara yang tampaknya lemas


dia juga menyuruh inem membawa sarapan ke kamar Dara


karena setelah mandi dia memutuskan untuk berbaring


"Neng makan dulu ya? '' sumi menyuapi Dara


" Gak usah bi aku gak laper, aku lemes banget rasanya badanku sakit semua" lirih Dara


"Makanya di makan neng biar ada tenaganya" ucap sumi


"Hah salah aku apa ya bi" lirih Dara dengan raut wajah sedih


"Neng yang sabar ya, bibi gak bisa bantu kali ini dan neng sebaiknya jangan coba lari lagi saya takut tuan berbuat aneh aneh lagi" bi sumi kembali menyuapi Dara


"Apa mati lebih baik? aku malu untuk hidup bi, pernikahanku batal dan sekarang aku di perkosa mantan pacarku yang berstatus suami orang, apa nanti akan ada orang yang mau menerimaku jika Leo sudah mencampakkan aku? " setiap perkataan Dara ribuan jarum yang menghantam hati bi sumi


Hatinya ikut sakit bahkan kini dia sedang mengusap air matanya


"Neng jangan patah semangat ya, ada bibi yang akan menjadi pendengar setia tapi bibi gak bisa bantu banyak neng" sumi kembali menyuapi Dara tapi Dara menahan tangannya


"Cukup bi aku udah kenyang, mau tidur lagi" Dara kembali tidur menatap ke arah luar jendela


"Bahkan hidup seekor burung terlihat lebih menyenangkan di banding hidupku" Dara bergumam sendiri lagi lagi air matanya mengalir


Di kantor Leo juga tidak tenang dia mengingat Dara terus menerus


Apa yang dia lakukan semalam samar samar dia mengingatnya


betapa bejatnya dia tidak mendengar jeritan Dara bahkan dia menjadi penjahat dengan merampas hal berharga dalam hidup Dara


Leo mengambil ponselnya dan menekan sebuah nomor


"*hallo bi gimana nyonya udah bangun? "


"Sudah tuan


"Apa dia mau makan? "


"Anu tuan nyonya Dara menangis terus dia juga bilang tubuhnya sakit dan lemas, bibi mau panggil dokter tapi nyonya gak mau, malu katanya*"


Leo tidak menjawab hanya terdengar membuang nafas berat


sesaat kemudian mematikan teleponnya


Leo merapihkan semua pekerjaannya dan memilih pulang lebih awal


Sesampainya di rumah leo segera berlari ke kamar melihat keadaan Dara


hatinya mencelos menatap tubuh wanita itu terbaring memejamkan mata


dia mendekat dan berbaring di samping Dara mengusap wajah Dara dan mendaratkan ciuman di wajahnya


"Jangan.. aku mohon" lirih Dara mengernyitkan wajahnya tetapi matanya terpejam


Bagai di tusuk ribuan jarum Leo sakit mendengar rintihan Dara


dia memeluk tubuh gadis itu erat membenamkan wajahnya di dada bidangnya


"Ng... " Dara melenguh kala tubuhnya yang terasa ngilu di peluk erat Leo


"Sayang maafin aku, aku udah lakuin hal bodoh sama kamu, andai aja malam itu aku gak pulang" rasa bersalah menghantui Leo

__ADS_1


tiba tiba tubuh Dara terasa bergetar dan pundaknya naik turun menandakan ia sedang menangis


"Udah bangun sayang? " Leo memundurkan wajahnya menatap wajah Dara


"Kenapa Leo kenapa? kenapa harus kamu yang memberikan kesan buruk dalam hidup aku" lirih Dara


"Aku gak rela kalo orang lain yang memberikan kesan buruk itu, aku akan tanggung jawab" ucapan Leo yakin


"Jangan berbuat yang aneh aneh lagi Leo, cukup kamu membuat begitu banyak luka di hati aku" Dara berbalik membelakangi Leo


"Aku akan nikahin kamu setelah semuanya selesai, aku mohon kamu jangan pergi lagi" Leo hendak memeluk Dara namun di tepis


Leo menatap punggung Dara yang bergetar menandakan dia sedang menangis


Leo hendak kembali memeluk namun handphonenya berdering


Dia mencium belakang kepala Dara sebelum pergi menjawab teleponnya


"*Nak Leo mama udah masak banyak kamu pulangkan? " tanya Tamara


"Tergantung saya masih banyak kerjaan"


"Ya sayang dong makanannya" lirih Tamara membuat Leo tidak tega


"Bentar lagi saya pulang*" ucapan terakhir Leo sebelum mematikan teleponnya


Bagaimana Leo akan tega melihat kondisi Tamara yang semakin kurus dan bahkan rambutnya rontok membuatnya hampir botak


tanpa memberi tahu Dara dia pergi ke rumah Meira


Beberapa saat kemudian Dara turun meskipun tertatih


"Neng kenapa gak panggil bibi" bi sumi segera memapah Dara dan mendudukkannya


"Langsung pergi setelah mendapatkan telepon, kata tuan neng makan aja gak usah nunggu tuan" ucap bi sumi


"Oh ya" Dara menyandarkan tubuhnya di sofa


Menyalakan TV tapi pandangannya kosong dia tidak sedang menontonnya tapi sedang melamun


Inem melihat Dara melamun mendekatinya


"Nyonya mau di bawakan cemilan atau minuman? " tanya Inem


"ehh Inem gak usah, mau ikut nonton nem sini" Dara menepuk sofa di sebelahnya


"Maaf nyonya jika saya lancang tapi apa nyonya sudah merasa baikan? " tanya Inem ragu


"Cukup baik sekarang gak lemes lagi cuma sedikit perih" ucap Dara berbisik di akhir kata lalu terkekeh


Dara kembali menatap layar televisi


Inem menatap wajah nyonya nya dia selalu tidak menunjukan rasa hancurnya di depan orang lain


mungkin kadang dia mengeluh dan bersedih tapi itu tidak bertahan lama


Dara biasanya akan terlihat baik baik saja setelah hal buruk menimpanya


"Nyonya hebat, nyonya kuat" celetuk Inem tiba tiba membuat Dara menatapnya lalu tersenyum


"Jangan terlalu meratapi kesedihan nem, hidup harus tetap berlanjut sedih boleh jangan kelamaan" ucap Dara lalu kembali menatap televisi


'Inem tau hatinya pasti sedang rapuh tapi dia pura pura tegar' gumam inem dalam hati

__ADS_1


"Neng makan malam udah siap" ucap Sumi


Dara ke meja makan melihat begitu banyaknya makan di meja itu


mustahil dia menghabiskan makanan sebanyak itu


tidak mau membuang buang makan Dara menyuruh Inem memanggil seluruh penjaga di rumahnya


"Ada yang bisa di bantu nyonya? " ucap kepala penjaga


"Temani aku makan malam" ucapan Dara membuat mereka saling pandang


"Kalian keberatan? hah aku akan sedih makan sendirian" wajah Dara pura pura kecewa


"Baik baik nyonya, apapun perintah nyonya akan kami laksanakan" ucap semua penjaga yang beranggotakan 10 orang itu


Bagaimana bisa menolak melihat wajah nyonya nya bersedih


mereka takut Leo mengamuk karena membuat sedih nyonya nya


Dara menurunkan piring dari meja ke lantai membuat semua orang melarangnya


"Jangan nyonya" Dara tersenyum menatap penjaga dan pelayannya berjajar disana


"Kalian sangat kompak" ucap Dara seraya tersenyum


"Apa kalian akan melihat tanpa membantu? " tanya Dara membuat mereka berhambur membantu Dara menurunkan piring piringnya dari meja


"Kita makan lesehan aja ya kayaknya lebih enak" ucap Dara membagi piring kosong pada mereka


Mereka duduk membuat lingkaran tidak ada seorangpun yang berani menyendok makanan sebelum Dara memerintah mereka


"Ya ampun kenapa kalian diam? ayo ambil makanan kalian" ucap Dara selesai mengambil makanannya


Dari jauh Leo tersenyum kembali melihat senyum Dara meskipun bukan dengannya


dia tidak yakin Dara akan memaafkannya dengan cepat


malam itu memberikan kesan buruk bagi Dara


bahkan Leo terkejut saat melihat Darah yang keluar cukup agak banyak mengingat dia melakukannya dengan kasar dan bukan hanya sekali melainkan lima kali membuat Dara kehilangan kesadarannya


Leo tersenyum menatap laptopnya Meira yang sedang berada di sampingnya sedikit mengintip layar handphone Leo


'video apa itu? ' gumamnya dalam hati


"Leo dimana Dara sekarang? " tanya Meira tiba tiba


"Jangan kepo jadi orang, gue tau lo gak sebaik itu semalam lo berniat jebak gue? tapi sayang lo gagal" Leo menatap tajam pada Meira yang langsung diam mengatupkan bibirnya


"Kenapa diam? apa lo kira karena gue mabuk lo bisa memanipulasi gue? lo tau apa yang lo lakuin malam itu membuat Dara kehilangan hal berharga dalam hidupnya, setelah nyokap lo berangkat gue akan nikahi Dara" pernyataan Leo membuat Meira begitu terluka ternyata dengan menikahi Leo dia masih tidak bisa mendapatkan sedikitpun cinta Leo


"Gimana sama gue? apa lo gak bisa coba buka hati buat gue? " tanya Meira dengan tidak tau malunya


"Dokter Meira gue pikir gelar dokter akan membuat otak lo pintar tapi ternyata, kita menikah terpaksa dan gue dengan sangat terpaksa ada disini meninggalkan Dara yang masih kesakitan cuma demi nyokap lo gak lebih, ini cuma rasa kemanusiaan" lagi lagi hati Meira hancur bak di timpa batu besar bertubi tubi


Leo kemudian turun dari ranjang menuju sofa dan memilih tidur disana


tidak memperdulikan tangisan Meira dia malam membelakanginya dan mulai menutup mata


.


.

__ADS_1


__ADS_2