
Setelah melakukan ritual itu Leo dan Dara masih di tempat tidur di tutupi selimut
Dara menyandarkan kepalanya ke dada bidang Leo sementara Leo memainkan rambut Dara
"Kenapa kamu paksa aku malem itu? " tanya Dara tiba tiba
"Aku cemburu lihat kamu sama Reno, aku dan Roy pergi ke club malam untuk minum tapi saat aku sudah mabuk aku bertemu Meira sepertinya dia memberi sesuatu di minumanku, karena saat aku mulai mengeluh dengan sisa kesadaranku aku menolak saat dia membawaku kesebuah kamar" penjelasan Leo membuat Dara bangun dan menjauh dari Leo
"Kenapa sayang? " tanya Reno kembali menarik Dara tapi Dara menolak
"Kamu ke club sama Meira? " tanya Dara dengan tatapan tajam
"Aku ke sana sama Roy tapi Meira ada disana sama temannya"
"Jangan jangan kamu juga lakuin sesuatu sama dia? " bentak Dara
"Enggak sayang aku langsung telepon Roy dan pulang, aku kira di perjalanan akan membaik tapi semakin parah, maafin aku udah siksa kamu malam itu" ucap Leo terlihat penyesalan di wajahnya
"Aku udah bilang jangan mabuk mabukan itu gak baik" gerutu Leo
"Tapi malam itu pengaruh obat sayang"
Tok tok tok
"Sial" gerutu Leo
"Tuan di depan ada tamu" ucap bi Sumi
"Siapa? "
"Gak tau tuan tapi perempuan" ucapan bi sumi langsung membuat Dara melotot ke arah Leo
"Usir aja bi"
"Tapi tuan... "
"Usir aja bi bilang saya lagi sibuk"
"Dia bilang dia is... " bi sumi ragu meneruskan perkataannya takut Leo dan Dara ribut
"Teruskan bi" Dara menyela ketika Leo akan bicara
"Dia mengaku istri tuan" lirih bi sumi
"Kamu kasih tau dia soal rumah ini? " tanya Dara
"Gak sayang, kalo gak percaya kita bisa tanya langsung"
Dara dan Leo sudah berpakaian lalu turun bersama
ternyata benar yang datang Meira dan ibunya membawa bebrapa tas pakaian
awalnya Leo senang mengira sandiwaranya akan berakhir
"Nak Leo kenapa meninggalkan istrinya begitu lama? " tanya Tamara membuat Leo jengah
"Dari mana kalian tau rumah ini? " tanya Leo
"Mama selalu nanyain kamu mas jadi aku sengaja ikutin kamu buat bawa mama kesini" jawab Meira
"Sekarang sudah ketemu jadi sebaiknya kalian pulang" usir Leo
"Kenapa punya rumah sebesar ini tidak mengajak istri tinggal disini? " tanya Tamara tapi Leo tidak menjawab
__ADS_1
"Wanita ini kenapa ada di sini? bukannya kalian batal menikah? Tamara menatap tajam pada Dara
" Rumah ini saya beli sebelum menikah dan ini rumah kami berdua jadi mau saya ataupun dia tidak mungkin saling mengusir" jawaban Leo membuat Tamara tidak mengerti
"Jadi kalian tinggal satu atap? kenapa kamu gak bawa serta istri kamu? " tanya Tamara mulai emosi menantunya tinggal bersama wanita lain
"Ma udah ma jaga emosi mama" Meira menahan Tamara saat tubuhnya mulai terhuyung
"Kalian bisa bersikap baik sama mama? gue mohon" ucap Meira pelan penuh ke khawatiran setelah mendudukan Tamara di sofa
"Kalian boleh tinggal disini sementara sebelum mama lo pergi" ucap Leo di angguki Dara
Bukan Leo, kurang tegas atau plinplan semua ini adalah ide Dara
Leo sudah mengatakan hal terburuk jika mereka tinggal disini akan selalu ada kesalah pahaman
tapi Dara ingin mengikuti permainan mereka hingga mereka sendiri malu dan memilih pergi dengan sendirinya
"Terimakasih Leo" Meira menyentuh tangan Leo tapi Dara menepisnya
"Bi bawa mama Tamara ke kamar tamu" Leo memerintahkan pelayannya
"Ikut ke kamar gue" ucap Leo membuat Meira wajahnya memerah sekaligus senang
Meira mengikuti Leo dari belakang
sesampainya di kamar Meira memeluk Leo dari belakang membuat Leo refleks menepis dan mendorong Meira
"Jaga batasan lo" bentak Leo, Meira mengira Leo akan meminta haknya sebagai seorang suami
"Sini sayang" Meira mengikuti arah pandangan Leo dan ternyata Dara ada di belakangnya
"Meira gak perlu basa basi lagi, gue sama Leo udah nikah" ucap Dara membuat Meira tercengang
"Hari ini detik ini gue talak lo, kita gak punya hubungan apapun lagi gue ngasih izin lo tinggal disini karena istri gue kasihan sama nyokap lo" lanjut Leo
"Tapi.. tapi.. gue" sulit untuk Meira berkata kata
"Kalo lo mau bilang coba jalani dulu sorry Meira hati gue cuma buat Dara dan kita udah sah secara agama dan negara" seperti tau kemana arah pembicaraan Meira Leo menunjukkan buku nikah mereka
Tanpa menjawab Meira pergi dari sana mengusap air matanya lalu asal masuk ke kamar tamu dan menguncinya
hatinya begitu sakit dia di talak setelah mengetahui suaminya sudah menikah bersama orang yang dia cintai
"Apa kita gak berlebihan" tanya Dara
"Ini yang terbaik, setelah ibunya pergi kita jadi tidak punya beban tidak perlu sembunyikan hubungan kita lagi" ucap Leo seraya mencuil hidung Dara
"Sayang lanjut yang tadi"
"Kamu gak kasihan sama aku? " wajah Dara mengiba mengerjapkan matanya kala Leo melepas pagutannya
"Mmhh kamu gemesin " Leo mengangkat tubuh Dara dan membawanya tidur
"Kamu yakin gak bisa satu kali lagi? "
Bi sumi tersenyum saat melihat Dara berteriak keluar dari kamar tapi wajahnya terlihat bahagia
sepertinya kesalah pahaman antara mereka sudah selesai
Bi Sumi teringat anak perempuannya yang kini sudah di bawa oleh suaminya saat melihat Dara
"Sifat mereka memang sama" gumam bi sumi mengembangkan senyumnya
__ADS_1
.
.
Saat malam hari mereka baru selesai makan malam
Dara duduk di karpet dengan ketiga pelayannya sedang menonton TV sedangkan Leo di ruang kerjanya
Tamara dan Meira berada di belakang mereka duduk di sofa
"Sayang kamu harus segera memiliki momongan agar memperkuat pernikahan kalian agar tidak ada wanita lain yang menganggu hubungan kalian" ucap Tamara yang jelas jelas menyindir Dara
"Bi liat deh kenapa pemeran antagonis suka ngehalu dan terlalu percaya diri ya? apa sutradaranya orang yang sama sampe sampe perannya selalu seperti itu, iyakan surti inem? " tanya Dara masih menonton TV
"Iya ya kok bisa ya nya" ucap mereka bersahutan
"Disini berisik mama mau ke kamar aja" Tamara pergi ke kamarnya
"Bi bikinin jus dong haus nih" ucap Meira yang sedang membenahi kuteks di kukunya
"Bi" suara Meira mulai meninggi tapi ketiga pelayannya masih tidak merespon
"Bi tamu minta jus" ucap Dara lembut
"Layanin gak nya? " tanya inem menyenggol lengan Dara
"Selama masih dalam batas wajar layanin aja nem, kalo kelewatan cuekin aja" jawab Dara masih menonton TV
"Siap nyonya" inem hormat ke arah Dara membuatnya terkekeh
Meira agak dongkol dengan tingkah ketiga pelayan itu yang mendukung Dara
"Ohh ya nona Meira jangan bentak mereka, aku saja tidak pernah membentak dan biasakan jika minta sesuatu sematkan kata tolong dan akhiri dengan terimakasih" ucap Dara
Meira semakin kesal dia hanya memilih diam sampai pesanannya datang
inem memberikan gelas jusnya tapi Meira masih diam
"Makasih nem" ucap inem menyindir Meira lalu kembali duduk di samping Dara
"Pembantu aja songong jangan biasain di baikin nanti ngelunjak" Meira berbicara lantang
"Waw kedok asli dokter Meira terungkap, perlakukan mereka layaknya keluarga bayangkan kalo gak ada mereka bisa kerepotankan, jadi orang tuh jangan maen tunjuk tunjuk aja dia bawahan saya atasan dia harus nurut gak gitu konsepnya, saling menghargai dan menghormati lebih baik iya kan? " ucap Dara membuat Meira kembali bungkam
"Bijak sekali istriku" ucap Leo yang baru saja datang
"Kita tidur" Leo memeluk Dara dari belakang sambil celingukan takut dilihat Tamara
Cup cup cup
Leo mencium pipi Dara bertubi-tubi lalu membisikan sesuatu
"Tapi jangan macem macem lagi langsung tidur ya" rengek Dara langsung mendapatkan cubitan di pipinya
"Iya kalo gak khilaf" lanjut Leo menuntun Dara pergi
"Baper ya liat nyonya sama tuan" ucap inem
"Iya apalagi kalo aku inget yang waktu itu nem nyonya ampe pingsan karena keganasan tuan" ucap surti sengaja agar Meira mendengar
Benar saja Meira langsung berdiri dan pergi ke kamarnya dan menutup pintu cukup keras
bi sumi hanya menggeleng melihat tingkah laku ke dua pelayan yang umurnya tidak jauh dari Dara
__ADS_1
"Kalian itu nyinyir banget" bi sumi menjewer pelan telinga keduanya membawa mereka ke kamar masing masing