
Dara dan Leo masih sarapan sebelum Leo pergi ke kantor
sedari tadi Dara hanya memanyunkan bibirnya karena tidak berhasil membujuk Leo untuk pulang
"Orang tua aku gimana? " tanya Dara
"Udah pulang Nindy udah urus"
"Aku anak macam apa orang tua pulang gak nganter sama sekali" lirihnya
"Gak usah di pikirin" jawab Leo santai membuat Dara mendengus
"Aku gak pulang beberapa hari, jangan nungguin aku pulang ya" lanjut Leo
"Meira? " tanya Dara ambigu namun Leo tidak menjawab
"Oke, gak pulang selamanya juga gak masalah" ucap Dara tersenyum senang
"Bibi ada nemenin kalo perlu apa apa bilang aja" ucap Leo mengusap pipi Dara tapi Dara menghindar dan pergi ke kamar
"Sayang.. aku janji gak macem macem " Leo mengikuti Dara dan mengetuk pintu kamar yang terkunci
Dara sedang ada di balkon sebuah mobil telah pergi dan bisa di pastikan itu Leo
Dara duduk bersandar di besi pembatas balkon memeluk kakinya
sesekali air matanya ia usap namun terus mengalir
"Beneran pergi" lirih Dara
"Jangan nangis, aku gak akan pergi kalo kamu gak bolehin" Leo tiba tiba muncul lalu duduk menghadap Dara menghapus air matanya
"Kalo mau pergi pergi aja aku nangis bukan karena itu" Dara mengusap air matanya kasar lalu membelakangi Leo
"Tadi bilangnya 'beneran pergi' " Leo mengulangi ucapan Dara tadi
"Mending kamu pergi aku gak mau ngomong lagi" ucap Dara tapi bukan pergi Leo malah memeluknya erat meletakkan kepalanya di punggung Nindy
"Kita nikah ulang ya sayang" mendengar perkataan Leo otomatis Dara langsung menepis tangannya dan berdiri
"Jangan buat aku malu lagi dan lagi Leo, Aku cukup punya harga diri buat jadi istri kedua, aku mau pulang" Dara pergi meninggalkan Leo sendiri
Leo memutuskan untuk pergi setelah Dara meninggalkannya entah kemana
Dara duduk di ayunan di taman belakang
seorang pelayanan tersenyum mendekati Dara membawa sebuah nampan berisi jus dan cemilan
"Nyonya saya bawa cemilan siapa tau bisa memperbaiki mood Anda" ucap seorang pelayan paruh baya
"Bibi gak usah panggil nyonya panggil aku dengan nama saja, aku bukan siapa siapa Leo" jawab Dara terlihat sedih
"Nyonya... "
"Bi panggil nama aja" Dara menyela perkataan bibi pelayan
"Baiklah aku panggil nak, anggap aku seperti ibumu"
"Sepertinya tuan Leo menyayangimu terlihat dari perhatiannya saat kamu pingsan semalam" lanjutnya
"Masa sih" Dara merasa penasaran
"Kalau kamu lihat wajahnya yang sedang cemas kamu pasti percaya, tuan gak berhenti berhentinya menggenggam tanganmu dan menciuminya, apa kamu masih gak yakin sama tuan? " tanyanya
"Entahlah bi, semua terlalu cepat terlalu mendadak hati saya rasanya kaku" jawab dara
"Gimana perasaan bibi saat pernikahan bibi batal karena hari itu calon suami bibi sedang tidur bersama wanita lain? " Dara balik bertanya
"Pasti sakit nak, tapi bibi yakin ini ada kesalahan pahaman tuan tidak mungkin menyembunyikanmu disini dan melarangmu pergi jika tuan tidak benar benar menyayangimu, dia takut kamu pergi" jawab bibi
__ADS_1
"Tapi dia udah punya istri bi, aku gak mau di sebut perebut suami orang"
"Tuhan punya rencana terbaik, yakinlah jika kalian memang berjodoh sekuat apapun orang memisahkan tetap kalian akan bersama"
.
.
Sepulang kerja Leo langsung pulang kerumah Meira
dan drama pun dimulai Meira tampak seperti istri pada umumnya menyambut suaminya pulang kerja
mengambil tas dan jasnya lalu mencium tangan suaminya tapi ekspresi Leo dingin dia tidak bisa berpura pura baik pada Meira
"Sayang mau teh atau kopi? " tanya Meira membuntuti Leo dari belakang
"Teh antar ke kamar" jawab Leo
Leo bertemu Tamara dan sekedar basa basi berbincang sedikit
lalu pamit kekamar untuk mandi
"Iya nak, pengantin baru selalu saja tidak jauh dari kamar" goda Tamara membuat Meira tersipu malu
Tapi tidak dengan Leo dia pergi langsung ke kamar tidak lagi mendengar ocehan ibu anak itu
setelah Leo mandi dan baru saja keluar Meira terlihat menatap Leo dengan heran
"Kenapa? apa lo berharap gue keluar pake anduk doang kayak di film film atau novel? bangun jangan mimmpi" ucap Leo melewati Meira yang mematung di hadapannya
Leo keluar balkon dia duduk di sebuah kursi dan menyalahkan sebatang rokok
Meira membawa tehnya dan duduk di kursi lain yang bersebrangan dengan Leo
"Jangan kebanyakan merokok Leo gak baik" ucap Meira
"Dara juga bilang gitu, awalnya gue mau berhenti tapi kepala gue terlalu pusing sekarang" jawaban Leo membuat Meira menunduk sedih
" Gue gak minum atau makan apapun dari orang asing" jawaban Leo semakin menyakitkan Meira
Dia pergi meninggalkan Leo dengan air matanya yang menggenang di pelupuk matanya
Malam telah tiba pekatnya langit malam dengan hujan dan petir yang saling bersahutan
Ada menatap sekeliling kamarnya yang luas sekarang dia merasa takut benar benar takut
dia ingin keluar tapi keberanian menghilang mendengar menggelegarnya petir
"Bi.... bibi... aku takut" teriak Dara
Cletak Duuuuaarrrrrrrr
"Bibiiiiiiii tolong aku takut" teriak Dara membuat 3 pelayan berlari ke arah kamar Dara yang berada di lantai atas
"Nyonya.. nyonya.. " ucap mereka berbarengan mengetuk pintu
"Bi kesini aku takut"
Mereka masuk melihat Dara berjongkok di pojokan tempat tidur menutup telinga dengan kedua tangannya
pelayan tertua yang akrab dengannya mendekati dan memeluk Dara serta mengusap punggungnya
"Gak apa apa kami disini" ucapnya menepuk nepuk punggung Dara
"Bi kita turun aku takut disini terlalu tinggi suara petir terdengar seperti di atas kepalaku" ucap Dara beringsut turun dari ranjang
Mereka berempat turun dan Dara meminta 3 pelayan itu menemaninya tidur
mereka saling pandang satu sama lain mereka takut jika sewaktu waktu Leo pulang dan melihat mereka tidur satu ranjang dengan nyonya mereka
__ADS_1
"Ya bi ya please" Dara memegang tangan mereka bertiga
"Kami takut tuan tiba tiba datang" ujar pelayan yang masih agak muda
"Dia gak akan pulang dia di rumah istrinya" ucapan Dara membuat dua pelayan saling pandang lalu menatap biji pelayan tertua yang mengedipkan kedua matanya menyuruh mereka jangan bertanya
"Ya bi... ayo cepet bibi tidur di sisi sebelah sini dan kalian berdua di sisi sebelah sini
Mereka tidur berdempetan di kamar tamu yang ranjangnya cukup menampung empat orang dengan posisi kepala di sisi ranjang
para pelayan itu baru pertama tidur di ranjang senyaman itu dan tidur lebih dulu mungkin juga karena terlalu lelah
beberapa jam kemudian Dara juga terlelap memeluk guling
.
.
Meira tidur di ranjang yang sama dengan Leo namun Leo masih fokus dengan laptopnya
Meira tidur dengan posisi yang sengaja mendekatkan diri dengan Leo
Leo yang merasa terusik dengan Meira yang terus bergerak di bawah sana akhirnya turun dan duduk di sofa membuat Meira sedikit kecewa
Meira tidak kehabisan akal dia turun dari ranjang melepas kimono tipisnya meninggalkan dress tipis yang belahan dadanya sangat turun hingga dadanya hanya tertutup di bagian anggur coklatnya saja
dia berlajan melenggok ke kamar mandi dengan genit
Leo hanya melirik sekilas lalu kembali mengerjakan sesuatu
Cletak Duuuuaarrrrrrrr
Meira yang baru saja keluar kamar mandi melompat ke samping Leo dan memeluk lengan Leo karena terkejut
namun Leo menepis tangannya dan segera berdiri
" Dara" terdengar gumamannya menyebut nama Dara lalu melangkah menjauhi Meira
"Leo jangan lupa kita sepakat selama ada mama kita bersikap baik baik aja layaknya suami istri" Meira menahan tahan Leo
"Dan lo jangan lupa kita akan cerai setelah ibu lo kembali ke luar negeri, tidak ada kontak fisik dan jangan ikut campur masalah gue, jadi lo gak usah berusaha goda gue dengan baju yang menjijikan seperti ini" Leo menepis kasar tangan Meira memasukkan laptopnya ke dalam tas menyambar jasnya lalu melenggang keluar kamar
"Leo" teriak Meira memanggil Leo
Meira jatuh duduk di lantai menangis memegangi dadanya yang terasa sesak
'Kenapa Leo gak bisa buka sedikit hatinya bahkan dia menolak mentah mentah gue sebagai istrinya' begitu pikir Meira
Leo melajukann mobilnya dengan kencang pikirannya kini tertuju pada Dara takut dia ketakutan di mansion dan tidak berani meminta di temani pelayannya
sesampainya di Mansion Leo langsung naik ke kamar tapi pintunya tidak di kunci seperti biasanya
Kamar itu kosong Leo segera turun dan melihat kamar tamu sedikit terbuka
Leo membuka lebar lebar pintu kamar dan melihat Dara tertidur pulas diantara pelayanan
mendengar suara pintu terbuka para pelayan bangun dan segera turun dari ranjang seraya membungkuk
"Maaf tuan kami lancang" ucap pelayan tertua
"Tidak apa apa Terimakasih sudah menemani istri saya, kembali ke kamar kalian" Mendengar perintah Leo mereka segera keluar
Leo membawa Dara ke kamarnya menggendongnya alasan bridal style
Meletakkannya perlahan dan membuang anak rambut nakal yang menutupi wajahnya
"Kamu cantik dan akan selalu menjadi wanita tercantik di hati aku" Leo mendaratkan kecupan di seluruh wajah Dara terakhir di bibirnya melum*tnya dengan sangat lama
Dia tidak peduli besok dia akan mendapat cacian dan tabokan dari Dara
__ADS_1
yang pasti dia senang has**tnya pada Dara tersalurkan meskipun tidak lebih dari sekedar mengecup tapi baginya itu sudah lebih dari cukup