
"Ma.... mama.. mama.. " panggil Cia sambil melambaikan tangannya
Nindy menoleh ke arah Cia yang sedang bergandengan tangan dengan seorang pria yang membelakanginya
Nindy berlari menghampiri Cia namun Cia seperti menjauh seiring majunya langkah Nindy
"Cia sini nak" Nindy berlari sambil meneriaki Cia
"Cia sama grandpa ma"
"Pulang nak ayo sini" teriak Nindy
"Ini kakek Cia, kakek ajak Cia ketemu grandma sampai ketemu lagi ma.. dadaaaaa" Cia tersenyum melambaikan tangannya di bawa pergi pria itu
"Cia sini nak.. Cia pulang" Nindy berteriak mengejar Cia namun bayangannya semakin menghilang
"Ciiiaaaaa" teriak Nindy yang terbangun dari tidurnya
"Sayang kenapa? " Bryan yang masih mengotak atik laptopnya di sofa terlonjak kaget dan menghampiri Nindy
"Aku.. aku mimpi Cia dia.. dia... " Nindy nampak ngos-ngosan dengan keringat bercucuran
"Minum dulu" Bryan memberi Nindy satu gelas air dan langsung di teguk habis
"Kenapa? kamu mimpi? " tanya Bryan membawa Nindy kedalam pelukannya dan mengelus kepalanya
"Aku mimpi Cia di bawa orang dia bilang grandpa mau ajak dia ketemu grandma" Nindy terisak di pelukan Bryan
"Itu cuma mimpi" Bryan menenangkan Nindy
"Tapi Daddy aku udah meninggal dan mommy gak tau masih hidup atau.... aku takut terjadi sesuatu dengan Cia"Nindy menjeda kalimat tentang ibunya
"Cia pasti akan baik baik aja, kamu cuma mimpi"
"Tapi kalo Cia.. " Nindy menggantung Kalimatnya saat Bryan memotong perkataannya
"Ssttt.... percaya sama aku bentar lagi Cia ketemu Leo udah mulai menemukan titik terang dimana Cia "
"Kamu serius? kita.. kita bisa ketemu Cia lagi? " Nindy keluar dari pelukan Bryan dan duduk menghadapnya seraya mengusap air matanya
"Iya, sabar dulu ya kita lagi berusaha lacak keberadaan Cia "
"Akhirnya semoga Cia bisa pulang secepatnya" Nindy yang merasa senang menubruk tubuh Bryan memeluk leher Bryan
Bryan juga merasa lega melihat istrinya bisa tersenyum meskipun masih dengan linangan air mata
Bryan membawa Nindy tidur dengan posisi Nindy masih memeluknya
Bryan memasang selimut lalu tidur memeluk Nindy
"Terlalu bertubi-tubi cobaan yang menimpa kamu" Bryan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Nindy yang sudah tertidur
"Semoga ada kebahagiaan buat kita kedepannya" Bryan menciumi pipi, dahi dan bibir Nindy bertubi tubi lalu beranjak dari tempat tidur menuju sofa kembali
Masih mengerjakan sesuatu di laptopnya
sesekali dia memijat keningnya, menguap, melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 02:00 malam
Karena terlalu lama mengabaikan kantor dan bisnis cafenya Bryan disibukkan dengan berbagai laporan
sampai dia harus membawanya pekerjaannya kerumah
karena terlalu lelah dan mengantuk Bryan tertidur dengan posisi duduk bersandar di sofa serta laptop yang menyala di pangkuannya
......Nindy terbangun saat subuh dia meraba Bryan yang tidak ada di sampingnya......
Nindy bangun dan melihat Bryan tidur di sofa
merasa kasihan dengan Bryan Nindy bangun dari ranjang dan menyimpan laptop ayang berada di pangakuan Bryan
Membetulkan posisi Bryan agar berbaring di sofa
merasa terganggu Bryan hanya membuka sedikit matanya lalu membaringkan dirinya sendiri
setelah memakaikan selimut pada Bryan dia pergi mandi dan melakukan ibadah layaknya umat muslim pada umumnya
.
.
"Ketemu" seru Roy membuat Leo yang sedang bermain handphone terlonjak dan mendekat ke arah Roy
Roy menunjukan CCTV yang memperlihatkan Cia di gendong oleh Mark masuk ke sebuah mobil
disana terpampang nomor plat mobil yang di kendarainya
namun bukannya takut Cia malah terlihat memeluk tengkuk Mark dengan sebelah tangan dan sebelah tangannya memainkan jenggot Mark
"Apa ini? kenapa mereka terlihat akrab? " Roy terheran heran memperbesar gambarnya
"Mark sama sekali tidak bersikap jahat, anak ini juga nampak nyaman" Lanjut Roy
"Apa yang sebenarnya terjadi? " Leo berpikir keras melihat rekaman CCTV itu
__ADS_1
"Retas rekaman CCTV lain kemana arah mobil itu pergi" ujar Leo
Sudah jam 5 pagi namun rekaman CCTV lain belum di temukan
Roy sampai heran sebenarnya kemana mobil itu pergi tidak ada jejak lain selain rekaman yang pertama
bahkan dari sore sampai subuh hanya rekaman itu yang Roy dapat
"Bagaimana? " tanya Leo yang baru bangun dari tidurnya
"Tidak ada rekaman lain hanya itu" jawab Roy
"Aneh sekali sebenarnya kemana mobilnya pergi" pikir Leo
"Bos aku harus tidur ini sangat melelahkan hhuuaaammm" Roy menguap tidak bisa lagi menahan rasa kantuknya
"Kau ini begitu saja merasa lelah" gerutu Leo seraya pergi ke kamar mandi
"Apa dia bilang? begitu saja merasa lelah? " gumam Roy pelan
"Apa dia buta bahkan aku tidak tidur untuk meretas rekaman CCTV dari sore sampai subuh, dia hanya asyik teleponan dengan pacarnya lalu tidur" lanjutnya lalu tidur di ranjang Leo
"Anak buah tidak tau sopan santun" Leo melempar bantal sofa kearah Roy yang tidur di ranjangnya selesai Leo keluar dari kamar mandi
.
.
.
Meira sedang berada di dalam mobil sambil tersenyum sendiri melihat sapu tangan yang di berikan Leo
siang ini dia berniat mengembalikan sapu tangan Leo serta membawakan makan siang sebagai tanda Terima kasih kemarin memperbaiki mobilnya
setibanya kantor Leo tidak ada sekretaris di tempat kerjanya
Meira memutuskan mengetuk pintu ruangan Leo
Tok tok tok
Pintu terbuka muncul sosok sekretaris Leo dengan senyum yang ramah
"Maaf nona ada yang bisa saya bantu? " tanyanya
"Apa Leo sedang sibuk? " tanya Meira
"Tuan sedang meeting, sebentar saya beritahu dulu kalo boleh tahu dengan nona siapa? " tanya sekretarisnya
"Meira" lalu Sekretaris kembali masuk membisikan sesuatu kepada Leo
Meira masuk seraya tersenyum membawa sebuah paper bag di tangannya
Leo membalas senyum Meira membuat hatinya seperti di taburi bunga dan kupu kupu bertebaran
'indah' itu pikirnya saat melihat senyum Leo
"Meeting hari ini saya pikir sudah selesai" ujar Leo saat melihat wajah Dara yang sudah berubah masam
Leo meeting dengan perusahaan Bryan yang di wakilkan pada Reno dan Dara
saat Reno dan Dara bangkit hendak keluar Leo meraih tangan Dara dan menyuruhnya duduk kembali
"Apa kamu tidak mau kembali ke kantor? " tanya Reno saat melihat Dara kembali duduk
"Dia aku yang antar nanti" Leo yang menjawab pertanyaan Reno
Melihat Leo yang bersikap seperti itu pada Dara membuat kening Meira berkerut
Apa yang sebenarnya Leo rencanakan
dia yang biasanya dingin dan judes pada Meira hari ini tersenyum dengan manis nya
"Ada perlu apa lo kesini? " tanya Leo
"Gue cuma mau ngembaliin ini sama ini sebagai ucapan terimakasih gue kemaren lo udah benerin mobil gue" Meira bangkit dari duduknya dan memberikan sapu tangan dan paper bagnya ke meja Leo tepat di hadapan Dara
"Oke terimakasih sebelumnya, sebaiknya lo pulang habis ini gue banyak kerjaan" ucap Leo seraya tersenyum
"Oke, Dara mau ikut sekalian? " ajak Meira
"Gak dia masih ada kerjaan disini" jawab Leo
"Ini makan" Leo mengeluarkan isi paper bagnya dan memberikannya pada Dara setelah Meira keluar
"Gak" ketus Dara
"Kenapa? Kalo gak mau aku aja yang makan" Leo kembali menarik wadah makanannya tapi Dara tidak kalah cepat menarik wadahnya membuat Leo menahan senyumnya
"Aku lebih gak ikhlas kalo kamu yang makan" ucap Dara masih dengan nada ketus
"Apa panda aku lagi cemburu? " goda Leo
"Apa panda? emang aku gendut? " Ucap Dara melebarkan matanya
__ADS_1
"Gak, kamu cuma bulat" Leo beranjak dari duduknya dan beralih kebelakang Dara
Menopangkan dagunya di bahu Dara yang sedang duduk cemberut
"Cari aja yang langsing, Kayak Meira tuh langsing putih bening" ucap Dara sambil tangannya memeragakan postur tubuh ramping
Leo menangkap tangan Dara dan menggenggamnya
Leo tertawa melihat Dara yang sedang di bakar api cemburu
"Aku gak mau, lebih enak peluk panda empuk " ujar Leo sambil tertawa
"Awas, aku masih banyak kerjaan" Dara menyingkirkan tangan Leo yang memeluknya dari belakang dan mendorong wajah Leo dari bahunya
Dara berdiri hendak pergi namun Leo lebih dulu menarik tangan Dara
yang akhirnya punggung Dara membentur dada bidang Leo
Leo memeluknya membenamkan wajahnya di ceruk leher Dara
"Awas geli" Dara mendorong dorong kepala Leo tapi tidak bergerak sama sekali
"Kamu makin cantik kalo lagi marah" ujar Leo mencium pipi Dara
Bluusss
Pipi Dara memerah dia tidak menjawab apapun
Leo memutar tubuh Dara menghadapnya
Leo menyingkirkan anak rambut di wajah Dara menyapu dengan jarinya ke belakang telinga
dengan memeluk pinggang dari dengan sebelah tangannya
Tangannya yang sudah merapihkan rambut beralih mengelus pipi Dara lalu turun ke dagunya
mengangkat wajah Dara dan mendekatkan wajahnya perlahan
Dara refleks memejamkan matanya
Cuuppp
Satu kecupan mendarat di bibir Dara
"Manis" bisik Leo membuat mata Dara membulat menyadari apa yang sudah terjadi
"A.. ak.. aku harus kembali ke kantor" Dara melangkah pergi sampai pintu ruangan Leo
Leo menahan tawanya melihat Dara yang salah tingkah
setelah sampai di pintu ruangan Dara lupa membawa tas nya hingga dia kembali ke arah Leo dengan senyum kikuk mengambil tasnya di meja
Dara hendak kembali pergi tapi Leo kembali menarik tangannya
membawanya kedalam dekapan Leo, Leo sungguh membuat Dara selalu salah tingkah
"First kiss? " bisik Leo dengan masih memeluk Dara
"Eemm.. aku.. aku" Dara tidak bisa menjawab
"Aku udah tau" Leo menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Dara
Leo tertawa tanpa suara tubuhnya bergetar membuat Dara kesal sekaligus malu
Dara memukul bahu Leo dari belakang membuat Leo mengangkat wajahnya
"Kenapa? " tanya Leo menahan tawanya menatap Dara
"Kamu ngeledek ya? " wajah Dara memerah entah marah atau malu
"Haahaa kamu lucu" Leo tidak bisa menahan tawanya Dara menatap Leo dengan kesal
Leo menempelkan keningnya dengan Dara tangannya masih melingkar di pinggang Dara
Ekspresi Dara masih menatap Leo kesal
Leo memajukan wajahnya hendak mencium Dara kembali
tapi Dara yang kesal menepuk pipi Leo agak keras
Plak
"Kok di tampar? " Leo memegangi pipinya
"Di tampar apaan, pelan kok, sakit ya? " Dara menarik tangan Leo yang menutupi pipinya
"Sakitlah, kalo memar gimana? " tanya Leo
"Masa sih orang pelan kok, mana liat" Dara menarik tangan Leo
"Duh sakit nih kayaknya kalo di cium bakal sembuh" Bukannya menjawab Dara memukul bahu Leo kesal
"Tau ah " Dara pergi keluar dari ruangan Leo
__ADS_1
Leo tertawa sambil mengejar Dara yang menggerutu sepanjang keluar dari ruangan Leo