Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Dijodohkan Dengan Ketos Galak
eps 106


__ADS_3

"Sayang tunggu dong kamu jangan marah Damar bohong sayang" Leo mengejar Dara yang sedang marah sesampainya dirumah


"Kamu bisik bisik apa tadi sama Damar hah?" bentak Dara sambil melotot


"Enggak ada aku gak bisik bisik" sangkal Leo


"Kamu bohong, aarggh" Dara memukuli Leo lalu pergi menuju kamar


"Sayang aku bersumpah dia bohong aku gak bilang gitu" Leo mengejar Dara hingga ke pintu kamar namun


Bruugg


Dara menutup pintunya saat Leo hendak masuk dan menguncinya


Leo mendesah berat susahnya membujuk sangat istri


seseorang terkekeh di bawah mendengar sang tuan yang biasanya galak ternyata kalah dengan istrinya di rumah


Leo menatap ke bawah dimana orang itu berdiri merasa tuannya menatap tajam dia mengulum senyumnya


"Apa kau menertawakanku? " ucap Leo menuruni anak tangga


"Tidak tuan" jawabnya dengan tegas


"Ada apa? " tanya Leo


"Saya mendapatkan telepon dari Mark dia bilang mommy anda sakit" ucap Roy


"Apa? lalu bagaimana keadaannya sekarang? " tanya Leo


"Nyonya masih di rawat di rumah sakit jiwa, dia selalu memanggil nona Cecilia"


"Apa hanya Nindy yang kau ingat mom? apa artinya aku di hidupnya" batin Leo


"Baiklah kau boleh pulang aku akan bicarakan ini dengan Nindy besok"


"Baik tuan, saya pamit"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kamar Nindy sedang berbaring dia merasakan sakit di punggung dan perutnya


hanya saja dia tidak mengatakan hal itu pada Bryan dia takut Bryan akan menyuruhnya melakukan sesuatu pada kandungannya


dia bangun dengan perlahan menuju meja riasnya


Dia mematut dirinya di cermin wajahnya pucat dia segera mengambil lipstik dan bedak untuk menutupinya


Nindy memakai lipstik berwarna menyala dan sedikit blushon


"Sepertinya enggak kelihatan" gumamnya


Tiba tiba pintu kamar terbuka Bryan baru saja kembali setelah menemani Cia tidur


Bryan berjalan mendekat ke arah Nindy seraya tersenyum


memeluk Nindy dari belakang dan mencium pucuk kepalanya


"Kenapa belum tidur? " tanya nya


"Aku nunggu kamu" jawab Nindy


"Kenapa memakai riasan tidak biasanya" ucap Bryan


Memang Nindy tidak pernah memakai riasan saat akan tidur


dia lebih suka tidur dengan keadaan wajah fresh selalu mencuci muka sebelum tidur


Nindy berdiri menahan sakitnya tidak menunjukan wajah kesakitan


Nindy mengalungkan tangannya di leher Bryan dan mencium bibirnya sekilas


"Kamu menggodaku? " tanya Bryan namun Nindy hanya senyum genit


"Baiklah kita akan tuntaskan ini"


"Apa ada yang sakit? " tanya Bryan yang sedang memeluk pinggangnya


"Enggak cuma sedikit kesemutan" jawabnya


Bryan menggendong Nindy dan membaringkannya

__ADS_1


dia memijat kaki Nindy membuatnya sedikit nyaman meski tidak menghilangkan rasa sakitnya


"Eemmhh pelan pelan" ucap Nindy sebelum Bryan melakukannya


"Aku tau" jawab Bryan mencium kedua mata lalu bibir Nindy


Selesai melakukannya Bryan berguling kesebelah Nindy


dia mengecupi bibir Nindy dengan gemas dan mulai memagutnya kembali


merasakan ada yang tidak beres dengan Bryan Nindy segera melepaskan pagutannya


"Aku capek" ucap Nindy


"Sekali lagi"


"No.. aku benar benar lelah" Nindy memohon


"Baiklah.. aku minta nanti pagi" ucap Bryan


"Iya pagi saja, good night" ucap Nindy lalu memalingkan tubuhnya membelakangi Bryan


"Night" Bryan memeluk Nindy dan mengecupi tengkuknya


Nindy menggigit bibir bawahnya mencengkram ujung bantalnya Bryan mengelus perut


"Sayang jangan nakal ya, jangan ngerepotin mama" ucap Bryan


Nindy memegang tangan Bryan dan mengelusnya


tangan Nindy terasa dingin dengan tubuh berkeringat


Bryan merasa curiga dan membalikkan tubuh Nindy yang sudah bercucuran berkeringat


"Kamu sakit? " tanya Bryan


"Enggak aku cuma kepanasan" jawab Nindy


"Gak mungkin kepanasan AC nya menyala, tangan kamu juga dingin banget" Bryan mengenggam tangan Nindy


"Kamu berlebihan, aku berkeringat jadi tangan dingin cuma karena keringat" bohong Nindy


"Benar kamu gak apa apa? "


"Beneran aku baik baik aja kalo sakit aku gak mungkin sanggup layanin kamu kan?" ucap Nindy


"Aku cuma takut kamu kenapa napa" Bryan memeluk Nindy dan mengelus punggungnya


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah seharian di nasehati oleh orang tuanya Wina selalu memikirkan perkataan orang tuanya


Damar sekarang adalah suaminya dan bagaimana pun sudah kewajibannya melayani Damar dalam segala hal


tapi lagi lagi perasaan ragu dan takut itu muncul


Damar yang baru saja mandi hanya menggunakan handuk duduk di tepi ranjang mengeringkan rambut dengan handuk kecil


"Tolong keringkan" ucap Damar membuyarkan lamunan Wina


"Ahh iya" Wina bergeser meraih handuk dari tangan Damar


Untuk memudahkan Damar pindah duduk di lantai


dari atas Wina melihat tubuh Damar yang atletis dengan bahu kekar


Wina menelan salivanya dengan susah payah saat pandangannya turun ke handuk di bawah sana


Pikirannya jadi kemana mana dia bergidik sendiri


merasa tangan Wina berhenti Damar mendongak dan menegur Wina


namun Wina tidak bergeming Wina malah melanjutkan menggosokkan handuk kecilnya namun bukan ke rambut namun ke wajah Damar yang sedang mendongak


"Hei berhenti aku bisa mati" pekik Damar


"Ya ampun Damar maaf" Wina melepaskan handuknya


"Kamu mau jadi janda muda? " cerutu Damar


"Bukan gitu" Wina menggaruk tengkuknya

__ADS_1


"Kamu lagi mikirin laki-laki itu lagi? " tanya Damar dengan nada tinggi


"Damar bukan gitu, aku gak... "


"Udah lah balik aja kalo kamu masih sayang sama dia" ucap Damar lalu kembali ke kamar mandi membawa bajunya


"Hah Damar marah ya" lirih Wina


Tok tok tok


Wina mengetuk pintu kamar mandi Damar membukanya


Damar sudah memakai bajunya dan berlalu begitu saja membiarkan Wina mematung di depan pintu


"Kalau kamu kelamaan gak layani dia dengan benar dia bisa saja selingkuh bahkan ninggalin kamu" ucapan ibunya terngiang ngiang di kepalanya


"Damar"


"Hmm" singkat Damar


"Kalo aku gak bisa senengin kamu dengan benar apa kamu akan mencari kesenangan di luar? " pertanyaan Wina membuat Damar mengernyitkan keningnya


"Seseorang akan mencari kesenangannya sendiri Wina, bukankah kamu juga gak akan sebodoh itu mempertahankan sesuatu yang membuat kamu gak senang? " Wina hanya mengangguk


Damar tidak mengerti kemana arah pembicaraan Wina tapi dia hanya menjawab sekenanya saja


"Apa kamu akan ninggalin aku kalo aku gak bisa memenuhi kebutuhan kamu? " lirihnya


"Seseorang punya batas kesabaran, aku... " ucapan Damar terpotong saat Wina mendahuluinya


"Aku akan jadi istri yang patuh asal kamu janji gak ninggalin aku" Wina duduk di hadapan Damar sambil menunduk


Awalnya Damar akan bilang sabar untuk menunggunya


siapa sangka Wina menyerahkan dirinya sendiri


"Kenapa kamu bilang gitu? " tanya Damar


"Ibu bilang seorang laki-laki kalo gak terpenuhi kebutuhannya dia bisa selingkuh atau bahkan ninggalin istrinya" lirihnya pelan sambil menunduk, Damar mengulum senyum mendengar jawaban Wina


"Ya memang apa lagi kalo masalah kebutuhan berhubungan in**m itu sangat mempengaruhi rumah tangga" ucap Damar membuat Wina semakin gusar


"Eemmhh.. kamu.. kamu.. " Wina bicara kemudian menggelengkan kepalanya


"Ya.. kenapa? " Damar menunggu Wina bicara


"Kamu.. kamu.. iisshh" Wina menggaruk kepalanya


"Iya kamu mau bilang apa? "


"Kamu mau tidur sekarang apa enggak? " ucap Wina dengan lantang seraya memejamkan matanya


"Ya aku emang mau tidur sekarang" jawab Damar


"Ya udah ayo" Wina masih memejamkan matanya


Lama Wina memejamkan matanya akhirnya dia mengintip sedikit membuka matanya


dia membuka lebar lebar matanya saat melihat Damar berbaring membelakangi dirinya


Wina lalu memutari ranjang dan tidur di hadapan Damar dengan mengerucutkan bibirnya


sebenarnya Damar tau apa maksud Wina tapi dia sengaja menggodanya


"Kenapa bibirnya manyun gitu? " tanya Damar


"Gak" singkat Wina membelakangi Damar


Damar benar benar menahan rasa ingin tertawanya


tangan Damar terulur memeluk pinggang Wina menyembunyikan wajahnya di punggung Wina


merasakan tubuh Damar bergetar dan terdengar kekehan Wina merasa sangat kesal pada Damar


Wina mencubit tangan Damar yang memeluknya


"Hhahaaaa" suara tawa Damar akhirnya pecah sambil menarik tangannya


Wina merasa di permainkan dan malu menutup wajahnya dengan bantal


masih memunggungi Damar yang belum berhenti tertawa

__ADS_1


__ADS_2