
Keesokan harinya Nindy dan Leo benar benar pergi ke rumah sakit tempat dimana ibu mereka di rawat
wanita paruh baya itu terbaring dengan selang infus di tangan dan di ikat tangan serta kakinya
Nindy meneteskan air mata begitu pun Leo
Bryan memeluk dan mengusap kepala Nindy dengan Cia yang memeluk kaki sang ibu dan Dara memeluk Leo dan bersandar di dadanya
"Kak masuk lebih dulu"
Leo masuk sendiri terlebih dahulu berdiri di samping bangkar ibunya
tangannya dengan ragu terulur untuk menyentuh tangan itu
matanya perlahan terbuka merasa ada seseorang di sampingnya
"Gerald maafkan aku" lirih Carolina menatap sendu wajah Leo
Aku tidak bisa menjaga Marcello dengan baik, aku bukan ibu dan istri yang baik maaf aku telah menghianatimu" air matanya mengalir deras
"Mom" satu suara dari Leo membuat Carolina membeku
"Aku anakmu " lanjut Leo membuat tangis Carolina semakin kencang menggelengkan kepalanya
"Jangan bohong pria itu bilang anakku sudah meninggal" pria yang di maksud adalah Mark
"Aku Marcellomu mom, daddy Dion menyelamatkanku saat kecelakaan itu" Carolina terdiam sejenak dia mengingat nama Dion
"Gerald kau berbohong" ucapnya seraya menggelengkan kepala
"Aku Marcello mom dan hari ini aku bawa Cecilia kesini"
"Be.. benarkah kau anakku? " ucapnya dengan wajah sumringah
"Ya aku anakmu"
"Kemari sayang aku merindukanmu, maafkan mommy selama ini tidak mencarimu mommy takut kalau kamu masih hidup dan menjadi target Mark saat itu" Leo memeluk Carolina dan melepas ikatan tangannya
Carolina menangis sejadi jadinya meraung raung memeluknya dan mencium wajahnya
begitu pun Leo air matanya tak henti henti mengalir
merasa suasana cukup baik Nindy Bryan dan Dara masuk
membuat pelukan itu melonggar
"Ini Cecilia mom bayi cantik itu" Leo menuntun tangan Nindy membawanya mendekat
"Maafkan mommy sayang, mungkin karena mommy banyak luka di dalam hidup kamu mommy memang bukan ibu yang baik" Carolina memeluk erat Nindy dan keduanya menangis haru
"Grandma" panggil Cia seraya mendekat
"Gadis kecil ini pernah Mark bawa kemari, sini sayang" Nindy mendudukan Cia kepangkuan Carolina
"Ini anakku mom dan ini suamiku, ini istri kakak" Nindy mengenalkan mereka satu persatu
"Kalian tumbuh tanpa kasih sayang mommy membuat mommy semakin merasa bersalah" lirihnya
"Mommy jangan pikirkan lagi yang terpenting kesehatan mommy sekarang" ucap Nindy kemudian Nindy dan Leo memeluk Carolina begitu pun Cia
Sebenarnya dari dulu Carolina hanya pura pura gila untuk menghindari Mark
__ADS_1
Nindy dan Dara duduk di kedua samping bangkar Carolina
Nindy menyuapinya sambil bertukar cerita
"Mommy bagaimana selama disini? apa mommy merasa tertekan? " tanya Nindy
"Disini setidaknya lebih baik dari pada di luar di incar Mark" jawabnya
"Jangan takut lagi Mom sekarang daddy sudah jadi orang baik bahkan dia mempertanggung jawabkan perbuatannya di penjara" ucap Nindy
"Kau memanggilnya apa? "
"Daddy, dia ayahku sudah sepatutnya bukan aku memanggilnya demikian? " ucap Nindy seraya tersenyum
"Kau tidak marah pada kami? " lirihnya
"Marah sudah pasti tapi apa kita akan selalu hidup di masalalu, tidak bukan? hidup harus terus berjalan mom dan aku harus bisa menerima setiap kejadian yang hadir dalam hidupku entah itu senang atau pun menyakitkan dan harus selalu ada kata maaf untuk semua orang dan diri kita sendiri"
"Orang tua yang membesarkanmu sukses mendidik anakku menjadi wanita yang tangguh dan lembut aku harus berterima kasih padanya" ucap Carolina menggenggam tangan Nindy
"Sayangnya dia sudah tiada 7/8 tahun yang lalu" jawab Nindy
"Maafkan mommy sayang"
"Tidak apa apa mom itu sudah lewat"
"Lalu bagaimana menantu mommy ini bisa menaklukkan si keras kepala? " ucapnya dengan kekehan
Nindy menceritakan sikap Leo yang keras kepala dan semaunya sendiri
apa yang dia katakan tidak ingin di bantah bahkan sering kali memaksa orang lain bahkan dirinya untuk melakukan apapun yang dia perintahkan
"Banyak kejadian mom yang jelas pada awalnya aku pernah sangat marah padanya karena menyekapku di mansionnya" tutur Dara
"Kalian sudah lama menikah? "
"Sudah mom dan aku sekarang sedang mengandung" jawab Dara
"Ya Tuhan cucuku bertambah satu lagi" ucapnya dengan berkaca kaca
"Bukan satu mom bahkan tiga" ucap Nindy membuat Carolina terkejut
"Ti.. tiga? "
"Iya kakak ipar mengandung anak kembar dan aku juga sedang mengandung" cicit Nindy
"Ya Tuhan hal baik apa yang aku lakukan dulu hingga saat ini mendapatkan kebahagiaan yang bertubi tubi, semoga keluarga kalian bahagia sayang" Carolina memeluk kedua wanita di sampingnya mendaratkan kecupan di pucuk kepala keduanya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wina kembali bekerja seperti biasanya dan lebih semangat karena selalu mendapatkan vitamin dari suaminya saat masuk keruangannya
Kali ini Wina berjalan ke ruangan Damar dengan wajah yang tampan bersinar senyum mengembang tidak pernah pudar
"Hai Wina sepertinya sedang bahagia" sapa sekretaris Damar
"Hai kak, bukannya setiap hari aku selalu bahagia" jawabnya membuat sekretaris itu terkekeh
"Damar ada? " tanya Wina
"Ada sepertinya nenek sihir sedang di sidak di dalam" jawab sekretaris menyebut nenek sihir pada karyawan yang nyinyir dan suka membuat masalah dengan Wina
__ADS_1
"Aku pergi dulu kak, bye" Wina melambaikan tangannya
Wina membuka pintu ruangan Damar dan pemandangan tidak mengenakan dilihatnya
si nenek sihir itu berdiri di samping Damar bahkan tubuhnya menempel di lengan Damar namun Damar tetap cuek
sepertinya Damar sedang menjelaskan sesuatu padanya
"Sayang" panggil Wina manja lalu duduk di pangkuan Damar
"Hai sayang baru saja aku akan memanggilmu" ucap Damar mendaratkan satu kecupan di pipinya
si nenek sihir mematung seperti obat nyamuk
Wina mengalungkan tangannya di leher Damar dan mengecup berkali kali bibir Damar
Damar hanya tersenyum memeluk tubuh Wina
"Apa kau akan tetap berdiri disana seperti CCTV? " suara tinggi Damar membuatnya tersentak
"Maaf tuan saya permisi" ucap nya seraya tersenyum namun tatapannya berbeda saat melihat Wina
"Aku kangen sama kamu" Damar merangsek leher Wina dengan wajahnya
"Aku enggak" ucap Wina seraya berdiri dan hendak pergi
"Hei mau kemana? " Damar menahan tangan Wina
"Mau pergi, aku tidak suka ada wanita menempel seperti tadi" ucap Wina
Damar berdiri memeluk Wina dari belakang seraya tangannya mengelus perut Wina
Wina menyentak tangan Damar namun Damar kembali memeluk dan memagut bibirnya
"Akkhh aku tidak tahan" Damar menggendong Wina memasukkanmu ke kamar istirahat di ruangannya lalu menguncinya
"Sayang"
"Kenapa? " tanya Wina
"Merah"
Wajah Wina merah padam mengambil selimut dan menutupi tubuhnya
"Maaf sayang aku datang bulan" ucap Wina tersenyum kikuk
"Akkhh ****"
"Terus aku gimana? ini sangat menyiksa sayang" rengek Damar
"Aku tidak bisa sayang, maaf" lirih Wina
Sekejap Damar terdiam lalu terbersit ide gilanya membuat dia menyeringai
"Bisa sayang" Sesaat kemudian Wina menggerutu dengan bibir cemberut
"Lagian siapa suruh godain aku" ucap Damar kembali membenarkan pakaiannya
"Jangan cemberut gitu dong" goda Damar menyentuh dagu Wina tapi Wina menipisnya
Wina kembali memakai pakaiannya sepertinya sekarang wanita ini yang marah
__ADS_1
Damar hanya cengengesan terus menerus menggoda wina