
Pagi ini Bryan sedang ada pertemuan dengan pihak perusahaan Mark
setelah menandatangani kontrak mereka sedikit berbincang bincang
di tengah perbincangan handphone Bryan berdering dia pun izin untuk menjawab teleponnya
"Hallo.. ada apa?" tanya Bryan
"Tes DNA nya udah keluar? oke nanti sebentar lagi kita ambil sama sama"
Di balik pintu Mark mendengarkan pembicaraannya
baru saja dia hendak berbalik Bryan sudah membuka pintunya
"Tuan" ucap Bryan
"Ahh saya baru saja mau keluar, ada urusan lain yang harus saya kerjakan" ucap Mark
"Iya baiklah saya juga harus mengantar istri saya, senang bekerja sama dengan anda" Mereka berjabat tangan
Setelah Mark pergi Bryan bergegas menjemput Nindy dan akan berangkat ke rumah sakit
di lorong rumah sakit Nindy dan Bryan melangkahkan kakinya dengan cepat
"Hasilnya udah keluar, semoga ada kabar baik " Meira bergegas menggandeng Nindy
Mereka bersama mengambil hasil tesnya
tiba saatnya mereka membuka amplop
tangan Nindy bergetar matanya sudah mengembun
besar harapannya untuk anaknya dia tak henti hentinya berdoa saat membuka amplop itu
Amplop sudah di buka namun suratnya masih di lipat
Bryan melihat tangan Nindy bergetar saat hendak membukanya
Bryan memeluk bahu Nindy menguatkannya
Amplop pertama hasil dari Astri ternyata hasilnya negatif
Nindy semakin ragu membuka surat kedua
Nindy tidak ingin membacanya Nindy menyerahkan suratnya pada Bryan
Meira menuntun Nindy agar duduk juga menyuruh suster untuk membuatkan teh untuk Nindy agar lebih rileks
Suster menyimpan teh di meja kerja Meira
Setelah membaca suratnya Bryan bercucuran air mata
dia berkali kali mengucapkan syukur dan bersujud
melihat itu Nindy bangkit menghampiri dan membangunkan Bryan yang masih sujud serta menangis sesenggukan
"Terimakasih ya Allah terimakasih" lirih Bryan
"Ada apa?" tanya Nindy
Bryan tidak kuasa berbicara dia menyerahkan suratnya lalu memeluk Nindy menangis di pelukannya
Tangan Nindy bergetar saat membaca suratnya air matanya mengalir deras
Nindy menangis serta tertawa bersamaan
Meira membiarkan mereka menumpahkan segala beban mereka
dia duduk memperhatikan mereka
air matanya ikut mengalir melihat Bryan dan Bryan berpelukan sepertinya mereka menangis bahagia
dan itu mengingatkan Meira pada kesalahannya di masa lalu pada Nindy
"Ternyata anak kita selama ini ada bersama kita, huuu.. " tangis Nindy
"Makasih Lo udah bantu kelancaran tesnya" Nindy memeluk Meira
"Ini belum seberapa Nindy , dosa gue masih banyak sama Lo" lirih Meira
"Jangan bahas masa lalu yang penting kita sudah saling memaafkan dan menjalani hidup dengan damai"
"Kita harus ke ruangan Cia , dia anak gue ternyata selama ini dia Deket banget sama gue" Nindy menggenggam tangan Meira dengan wajah sumringah
"Iya ayo, tapi minum dulu jangan biarkan Lo dehidrasi Lo lagi hamil"
Meira mengangkat piring tatakannya dan sesuatu jatuh dari sana
Nindy mengambilnya dan mengacungkannya memutar benda tersebut
"Ini perekam yang sama yang pernah Maria sembunyiin di bawah meja gue" ucap Meira panik
"Apa? Cia dalam bahaya sekarang ayo cepat kita keruangannya"
Mereka bertiga berlari keruangan Cia karena ada di lantai bawah mereka menggunakan lift
tapi kebetulan pintu lift rusak jadi mereka memakai tangga darurat
sesampainya di kamar Nindy membuka pintu dengan tidak sabar dan ternyata kamarnya kosong
__ADS_1
"Ciiiaaaaaa, nak dimana kamu nak" Nindy mulai kalut mencari seisi kamar
"Nak ...... huuuuaaaa Cia ini mama nak kamu dimana? jangan tinggalin mama lagi " tubuh Nindy mulai merosot di lantai
Bryan memeluk Nindy menenangkan sedangkan Meira kelabakan melapor satpam dan memeriksa cctv rumah sakit
setelah itu Nindy tidak sadarkan diri
Bryan menelpon Leo dan anak buahnya untuk menjemput mereka dan mengatakan semuanya
Leo datang dan membawa Nindy pulang Meira juga ikut membawa peralatan rumah sakit untuk merawat Nindy
"Ini udah gak bisa di biarin kita harus bertindak" ucap Leo pada Roy yang berada di sampingnya
"Jangan gegabah keponakanmu sedang berada di tangannya, jangan memancingnya berbuat lebih jauh kita butuh strategi yang cukup matang" jawab Roy
.
.
Di kantor Bryan menelpon Reno agar membawa Dara ke Damar
Nindy sudah sadar tapi tidak bisa di ajak bicara dia terus menangis Bryan mengkhawatirkan kondisinya dan calon. anaknya
"Dara keruangan saya sekarang" Reno memanggil lewat telepon
Dara berjalan cepat keruangan Reno dia takut di hukum karena telat sedikit saja Reno bisa menghukumnya habis habisan
"Iya pak ada apa?" tanya Dara
"Kamu ikut saya sekarang" jawab Reno
"Tapi kemana ya pak? bapak gak lagi ngerjain saya kan?" tanya Dara
Dia takut Reno hanya mengerjainya karena Reno pernah menurunkan Dara si tengah jalan tanpa belas kasihan
Dara takut semuanya terulang kembali
"Kamu anggap saya main main?" bentak Reno
"Eng..enggak pak"
"Cepet beresin barang kamu" baru saja Reno selesai berbicara Dara sudah tidak ada di tempatnya
"Dasar gak sopan" gumam Reno
D perjalanan Reno mengemudi dengan kecepatan tinggi
Dara sudah berpegang pada jendela dia terus menggerutu tapi Reno tidak menghiraukannya
Setelah sampai di rumah Damar Reno turun lebih dulu membiarkan Dara yang masih ngos-ngosan memegangi dadanya
Belum selesai keterkejutannya Reno mengetuk kaca mobil dengan keras membuat Dara terlonjak
Reno benar benar ingin membuat Dara mati jantungan
Di dalam rumah Dara di buat takjub dengan rumah Damar
apalagi disana banyak bule bule memakai seragam hitamnya
"Ganteng ganteng banget" mata Dara tidak berkedip saat menatap sekelilingnya lelaki lelaki tampan juga gagah
Taaakkk
Reno menjitak Dara karena mendengar ucapannya
Dara hanya memanyunkan bibirnya mengusap kepalanya
"Mereka gak bakal selera sama cewek kayak kamu penampilan aja cewek dalemannya kuli" hardik Reno
"Siapa tau dapet keberuntungan" ucap Dara asal
"Kalian disini ikut saya" ucap Leo
Leo membawa membawa mereka kesebuah kamar
saat membuka pintu kamar terlihat Nindy yang sedang meringkuk
di temani Bryan dan Meira yang sedang mengelus kepalanya
Dara menghampiri mereka
"Ngapain Lo disini?" tanya Dara sinis
"Gue dokter yang menangani Nindy " jawab Meira
"Gue gak percaya jangan jangan Lo punya rencana lain"
"Udah jangan ribut" ucap Bryan membuat mereka semua terdiam
Meira bangun dan Dara duduk di tempatnya
Dara mengelus kepala Nindy berbicara panjang lebar bercerita tentang dia yang selalu di suruh suruh Reno dan sering di suruh melakukan hal yang tidak masuk akal
meskipun mendapat pelototan dari Reno dia meneruskan ucapannya
"Gue capek Nindy tapi gue gak bisa bantah karena gue butuh duit" ucap Dara
Bryan, Meira dan Leo berusaha menahan tawanya saat Dara bercerita
__ADS_1
Reno menahan kekesalannya wajahnya sudah memerah karena malu
Nindy bangun mengusap air matanya memeluk Dara
Dara mengisyaratkan mereka agar pergi dengan tangannya yang di kibas kibaskan
"Tenang ada gue disini , sekarang cerita apa yang bikin Lo sedih" ucap Dara
Nindy menceritakan semuanya dengan tersedu sedu
Dara ikut menangis mendengar curhatan sahabatnya
"Gue berusaha keras mencari dia bertahun tahun tapi setelah ketemu dia malah dia hilang lagi, hu huuuu"
"Gue gak pernah punya anak dan gue gak pernah kehilangan siapapun tapi gue bisa rasain kesedihan Lo, gue yakin anak Lo anak kuat dia bahkan hidup tanpa mama papanya bertahun tahun, kita berdoa aja semoga Allah melindunginya dimana pun dia berada" ucap Dara mengelus kepala Nindy
"Gue mau dia secepatnya di temukan"
"Kita berdoa aja semoga ada keajaiban" ucap Dara
Setelah cukup lama akhirnya Dara keluar dan turun
mereka menatap Dara yang menuruni anak tangga
"Gue berasa jadi Miss universe kalo di liatin gini" gumamnya sambil cekikikan sendiri
"Gimana Nindy udah tenang?" tanya Bryan
"Sudah pak, saya juga mau ngambil makan dan susu untuk Nindy " ucap Dara
"Kaku banget di luar kantor juga" sindir Reno
"Udah kebiasaan " jawab Dara
Ketika di dapur Leo menghampiri Dara yang sedang menyiapkan makan Nindy
dia tiba tiba muncul membuat Dara terkejut dan piring yang di pegangannya hampir jatuh
tapi Leo sigap menangkapnya
"Maaf kamu kaget ya?" ucap Leo
"Iya.. gak apa apa pak" jawab Dara
"Jangan pak dong kesannya saya kayak udah tua" ucap Leo membuat Dara tersenyum canggung
"Panggil nama aja"
"Panggil kak aja gimana?" ucap Dara ragu
"Bolehlah, ini buat Nindy?" tanya Leo
"Iya dia belum makan dari pagi"
"Baiklah saya titip dia" Leo memberikan piringnya lalu pergi
Sebelum pergi dia tersenyum manis ke arah Dara
membuat Dara jadi gugup jantungnya berpacu lebih cepat
"Ampun senyumnya mana ganteng banget lagi" Dara tersenyum senyum sendiri
Sedari tadi Reno sebenarnya memperhatikan mereka
setelah Leo pergi Reno menghampiri Dara
"Kenapa gila? senyum senyum sendiri" ucap Reno
"Kepo " timpal Dara lalu pergi meninggalkan Reno
.
.
Di tempat lain Cia terbaring di sebuah brangkar dengan tangan terikat
dia belum sadarkan diri disana juga ada dokter yang memeriksanya juga
"Bagaimana dok apa dia baik baik saja" ucap Mark
"Sepertinya sebentar lagi dia akan sadar, lukanya sudah sembuh'' ucap dokter
"Baiklah anda boleh pergi" ucap Mark
"Mama.. mama.." ucap Cia
"Hei anak manis kamu sudah sadar?" ucap Mark, Cia ketakutan dia juga tidak mengerti bahasa Mark
Mark menghembuskan nafas kasar bagaimana cara berbicara dengan anak ini dia tidak mengerti bahasanya begitupun Cia tidak mengerti bahasanya
Dia memanggil salah seorang anak buahnya yang bisa berbahasa Indonesia
"Tenang anak manis kita gak jahat kok, kamu mau makan?" ucap anak buah Mark
"Aku mau mama, aku takut" Isak Cia
"Apa katanya?" tanya Mark
"Dia ingin mamanya dia ketakutan"
__ADS_1
"Kau tenangkan dia aku harus pergi" ucap Mark