Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Dijodohkan Dengan Ketos Galak
eps 114


__ADS_3

Nindy dan Dara baru saja pulang membawa banyak barang belanjaan


mereka tertawa cekikikan entah apa yang mereka bicarakan


Leo dan Bryan bangkit dari duduknya menghampiri istri mereka yang baru masuk ke dalam rumah


"Kalian dari mana? " tanya Leo dengan nada tinggi


"Cari angin segar" jawab Dara santai


"Haruskah kalian pergi begitu lama tidak memberi kabar, apa kalian tau kami disini kelabakan mencari kalian hingga mengerahkan banyak anak buah? " bentak Leo


"Berisik banget sih orang baru dateng juga" ketus Nindy


"Lo pasti yang bawa Dara keluyuran kan? " Leo memarahi Nindy


"Iya lo kan tau sendiri dia pergi sama gue, santai aja dong " Nindy tak kalah sengit


"Nindy stop" ucap Bryan dingin


"Kalian kenapa sih? kecewa tadi double date gak jadi? " sindir Nindy Dara hanya diam saja dia tahu dimana tempat dia sekarang


"Kalian yang kenapa kayak anak kecil tau gak ngilang ngilang gitu aja, kalian cuma salah paham" bentak Leo


"Gak usah bentak bentak Leo, lo gak merasa salah sama sekali, kenapa kalian gak berpikir pergi aja dari pada diem disana membuat kesalahan pahaman" Nindy menunjuk nunjuk dada Leo yang berdiri di hadapannya


"Nindy masuk " titah Bryan


"Gak kalian aja yang masuk" mendengar ucapan Nindy Bryan menarik paksa tangannya hingga belanjaannya terjatuh


Dara ingin mencegah tapi dia juga di tarik Leo masuk ke dalam kamar


mereka berdua di kunci di kamar berbeda dengan Nindy Dara hanya memilih diam


Nindy beradu mulut dengan Bryan di kamarnya


perkataan Nindy yang semakin menjadi jadi mengungkit setiap kesalahan Bryan membuat Bryan pusing


Bryan mengacak rambutnya frustasi ingin sekali dia mengikat bibir istrinya itu


"Kamu selalu berpikir kamu benar, jangan pikir aku gak tau ya kelakuan kamu di belakang aku" gerutu Nindy


"Apa maksud kamu? " sungut Bryan


"Kamu pernah ke club malam minum minum gak jelas, diam aja ketika di goda klien wanita itu di raba raba , kamu sering pergi keluyuran bilangnya ke kantor kamu masih mau nyangkal? "


"Kalo kamu emang mau bebas silahkan pergi.. Sstt aaww" Nindy meringis memegangi perutnya


"Sayang kamu kenapa? " Bryan menyentuh tangan Nindy namun di tepisnya


"Gak usah pegang pegang" Nindy yang masih meringis berusaha berjalan ke arah ranjang dan merebahkan dirinya


Wajahnya pucat dengan keringat bercucuran


Nindy memejamkan matanya menggigit bibir bawahnya merasakan sakit


Bryan yang panik mendekati Nindy dan duduk di sebelahnya

__ADS_1


"Kita ke dokter"


"Gak perlu, ini gak apa apa"


"Jangan keras kepala kamu bisa bahayakan diri kamu sendiri"


"Udahlah cukup kamu pergi dari sini aku udah baikan, pusing aku liat kamu" ujar Nindy membuat Bryan menganga tak percaya dirinya di usir


Sementara Leo yang di diamkan oleh Dara sudah putus asa, dia bicara kesana kemari namun Dara hanya diam tidak menanggapi atau pun berniat menjawab


"Dara jawab aku" Leo mengguncang bahu Dara


"Aku capek" Dara menepis tangan Leo dan memilih tidur


"Arrrggghhh, cewek sama aja bikin pusing" Leo mengacak rambutnya sendiri


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Wina keluar dari kamar berpapasan dengan Damar yang akan masuk


"Sayang mau kemana" tanya Damar


"Mau ke bawah"


"Udah malem tidur aja " Damar menuntun tangan Wina tapi Wina menepisnya


"Aku mau tidur sama mama" ucap Wina


"Loh kamu kan istri aku masa tidur sama mama"


"Ayo masuk" Damar menubrukan dirinya pada Wina dan membawanya masuk


"Gak mau, aku mau lepasin kalo kamu maafin aku" Damar mengusak leher Wina dengan wajahnya


"Lepas Damar geli" pekik Wina


"Maafin gak "


"Iya iya lepas dulu" ujar Wina


Damar melepaskan pelukannya Wina hendak lari namun pintunya dia kunci,nWina menoleh ke arah Damar yang menyeringai menggantung kunci dengan telunjuknya


"Sini" ucap Damar dengan terpaksa Wina melangkah kembali ke arah Damar


"Kamu mau kemana? " tanya Damar mendudukan Wina di ranjang


"Gak kemana mana"


"Dengerin aku mau ngomong serius sama kamu, kamu cukup dengar aja" Damar berhadapan dengan Wina menggenggam kedua tangan wanita itu


"Maafin masa lalu aku yang buat kamu ilfil sama aku, bukannya yang terpenting kesetiaan saat aku udah sama kamu? walaupun masalalu aku brengsek tapi sekarang aku akan berusaha menjadi laki-laki terbaik buat kamu"


"Aku janji tidak akan mengecewakan kamu dan akan selalu menyayangi kamu hari ini, besok dan seterusnya.. kamu mau kan maafin aku? " ucap Damar penuh kelembutan


"Aku... aku... " Wina gugup di tatap Damar


"Apa aku pernah ngecewain kamu? " mendengarkan pertanyaan Damar Wina hanya menggeleng

__ADS_1


"Aku pernah nyakitin kamu? " Wina kembali menggeleng


"I love you and only you not others" Damar mencium tangan Wina


"Maafin aku kan? " kemudian Wina tersenyum dan memeluk Damar


"Aku yang harusnya minta maaf"


"Kamu gak salah sayang, mungkin kamu kecewa denger masa lalu aku... Aku mau jujur sekarang sama kamu dulu aku sering ke club minum minum main wanita sekarang udah ada kamu aku janji gak bakal ulangin itu lagi" ucap Damar


"Janji? " ucap Wina mendongak


"Aku janji" kemudian Damar mencium bibir Wina sekilas"


"Sekarang boleh kan? " pertanyaan ambigu Damar seraya menaik turunkan alisnya


"Boleh apa? " Tanpa menjawab Damar memulai serangannya pada Wina


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nindy tidak keluar kamar membuat Bryan dan yang lain khawatir


Bryan membuka pintu namun pintunya terkunci dari dalam


Bryan kembali turun menanyakan kunci cadangan pada Leo


Nindy tergeletak di dekat pintu kamar mandi saat mereka masuk


Segera mereka membawa Nindy ke dokter untuk segera dapat penanganan


tidak berselang lama akhirnya Nindy sadar dia sudah di kelilingi keluarganya


"Kamu gak apa apa? " tanya Bryan memberikan segelas air


"Gak apa apa cuma sedikit pusing" jawab Nindy meminum setengah airnya


"Kata dokter.... " ucapan Bryan terpotong saat Dara menepuk pundaknya dan menggeleng


"Hah aku tau.. tapi aku akan pertahankan anak ini biarpun nyawa aku taruhannya" Nindy menghela nafas sebelum bicara


"Tapi bagaimana dengan kita? kamu mau lihat aku dan Cia kehilangan kamu? " tanya Bryan air matanya sudah menggenang


"Aku akan lebih menyesal saat hidup di bayang bayangi rasa bersalah, itu sama aja kan kita bunuh anak sendiri.. beri kesempatan dia hidup aku yakin kalian bertiga akan bahagia walaupun tanpa aku nantinya" Bryan tak kuasa menahan tangisnya memeluk erat istrinya dan menyembunyikan wajahnya yang sedang menangis di ceruk leher Nindy


"Gue yakin adik gue adalah wanita yang kuat, lo bisa lewatin semuanya dengan selamat dan baik baik aja" Leo mengusap punggung kedua orang yang sedang berpelukan itu


Dara mengusap air matanya melihat pemandangan di hadapannya


kemudian Leo berpindah memeluk Dara


"Aku mau ketemu mommy" ucap Nindy


"Ya kita akan ketemu mommy besok kalo lo udah kuat" ucap Leo tidak lagi menolak keinginan adiknya


"Gue udah kuat kok"


"Besok, kita harus tanya kondisi lo sama dokter"

__ADS_1


"Oke"


__ADS_2