
Hari ini Nindy sedang membantu bunda di dapur
meskipun bunda sudah melarang Nindy tapi dia bersikeras ingin membantu akhirnya bunda hanya memperbolehkannya mengiris sayuran
"Bun kalo temen temen Nindy main ke sini boleh gak?" tanya Nindy
"Boleh dong sayang biar kamu gak kesepian mau nginep juga boleh" jawab bunda
"Makasih Bun nanti sore mereka mau Dateng" ucap Nindy dengan wajah yang terlihat senang
"Kamu istirahat aja ya biar ini bunda yang kerjain" ucap bunda
"Tapi Bun.." ucap Nindy terpotong saat bunda lebih dulu bicara
"Kalo kamu kenapa Napa nanti Bryan bawa kamu pergi bunda kesepian dong" ucap. bunda
"Ya udah Nindy nonton tv aja ya Bun " ucap Nindy
"Iya sini bunda bantu" ucap bunda memapah lalu membenarkan posisi duduk Nindy agar nyaman
"Ini non cemilan sama jusnya, nyonya udah pastiin makanannya sehat" ucap bibi
"Makasih ya bi" ucap Nindy
Di tempat lain Bryan sedang berada di kampus
dia sedang berbincang dengan Reno dan temannya yang lain
tiba tiba datang seseorang yang membuatnya kesal
"Gimana kabar Nindy?" tanya Leo
"Kenapa Lo nanyain Nindy? kayaknya peduli banget Lo sama dia?" ujar Bryan sewot
" Kalem bro gue yang nemuin dia kemaren, gue juga temennya jadi wajarlah gue nanya sama Lo" ucap Leo
"Gak wajib kan gue jawab pertanyaan Lo? cabut Ren" ucap Bryan lalu pergi
"Takut banget kayaknya gue Deket sama Nindy , mmhh menarik" ucap Leo mengusap dagunya tersenyum miring
"Gila gak Damar gak Leo kenapa sih deketin Nindy Mulu" gerutu Bryan
"Lo cemburu? bukannya Lo udah dapet dia seutuhnya jadi gak perlu khawatir lagi dong" ucap Reno
"Tetep aja gue gak suka kalo mereka Deket Deket" ucap Bryan menyandarkan tubuhnya di kursi
"Jangan benci benci banget lah entar anak Lo mirip mereka lagi" ledek Reno
"Sialan Lo " ucap Bryan melempar kertas ke wajah Reno
Sore hari seperti biasa Bryan membantu ayah di kantor
dan sekarang Nindy sedang tertawa dan bercanda dengan sahabatnya di kamar
bunda kekamar Nindy menatap Nindy dari pintu yang setengah terbuka
Bunda ikut senang melihat tawa lepas Nindy
Nindy tidak sengaja melihat bunda yang tersenyum kearahnya
lalu dia turun menuntun tangan bunda masuk
"Gabung sini dong Bun " ucap Nindy mendudukkan bunda di ranjangnya
"Aahh bunda malu sayang bunda kan udah tua" ucap bunda
"Gak apa apa Bun biar awet muda" celetuk Wina
"Asal jangan ketularan lemotnya Wina aja Bun" ucap Dara membuat mereka tertawa
Saat sedang asyik mengobrol tiba tiba ponsel Nindy berdering
awalnya Nindy mengabaikan karena nomornya tidak dia kenal
tapi karena terlalu berisik akhirnya dia menjawab teleponnya
Nindy
Hallo ini siapa?
Apaaa? iya saya kesana sekarang
Tuutt
Bunda melihat khawatiran di wajah Nindy dan langsung memeluknya
tanpa Nindy bicara pun bunda sudah tau ada sesuatu yang membuatnya sedih
kedua sahabatnya hanya saling pandang
"Bun Nindy harus kerumah ibu" ucap Nindy seraya menangis
"Iya iya nak bunda akan antar" ucap bunda lalu mereka bergegas
Ternyata yang menelpon adalah tetangga dekatnya
memberi tahu bahwa di rumah ibunya terdengar suara keributan
Sesampainya disana Nindy langsung bergegas masuk kerumahnya
dia melihat ibunya yang terduduk lemah di lantai memegangi dadanya
Nindy langsung terduduk memeluk erat ibunya
"Ada apa ini? kenapa kalian membuat keributan?" tanya bunda
"Maaf nyonya kami tidak ada urusan dengan anda" ucap Tamara dengan sombongnya
" Tapi yang anda perbuat itu salah, membuat ribut di rumah orang bisa di laporkan polisi " ucap bunda
"Jangan ikut campur, rumah ini dan seluruh harta Dessy sudah menjadi milik kami" ucap suami Tamara melempar surat surat ke hadapan bunda
"Dia sendiri yang menanda tangani semua surat itu, kalian bisa liat sendiri" lanjut suami Tamara
Ibu Dessy hanya menggeleng seraya menangis tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun karena dadanya terasa sesak
"Kalian serakah kenapa kalian lakuin ini sama ibu, apa salah ibu sama kalian" teriak Nindy
__ADS_1
"Diam kamu anak pungut, penyebab perpisahan Dessy dan suami saya itu kamu" ucap Tamara
Duaarrr
bagai tersambar petir Nindy mematung mendengar perkataan Tamara
Nindy melirik ibunya yang menggelengkan kepalanya
"Apa bener Bu?" tanya Nindy tapi ibunya hanya diam dan menangis
"Pantas saja ayah tidak pernah suka sama aku" ucap Nindy
"Sekarang semuanya sudah jelas bawa ibu pungut kamu ini keluar" ucap Tamara lalu menyuruh body guard menyeret mereka keluar
Bunda menangkap tubuh Nindy hingga Nindy duduk di pangkuan bunda
bunda tidak peduli lututnya yang terluka
sahabat Nindy dan ibunya tersungkur ke tanah
"Sayang kamu gak apa apa?" ucap bunda membantunya berdiri
"Gak apa apa Bun, lutut bunda yang berdarah" ucap Nindy
"Gak apa apa sayang ayo kita bawa ibu ke rumah sakit" ucap bunda lalu mereka di bantu tetangga Nindy mengangkat tubuh ibu Dessy ke mobil
Dara mengemudi sementara bunda dan Nindy di kursi belakang menjaga ibu Dessy yang semakin drop
ibu memejamkan matanya dengan tangan yang dingin
Nindy semakin panik menggosok tangan ibunya
sesampainya di rumah sakit ibu Dessy langsung mendapat perawatan
saat siuman ibu Dessy meminta Nindy menemuinya pada perawatan
"Apa diantara kalian ada yang bernama Nindy? ibu Dessy ingin bertemu" ucap perawat
"Saya sus" ucap Nindy lalu di bawa masuk oleh perawat
Perlahan Nindy mendekati ibu Dessy yang juga membuka matanya mendengar suara langkah kaki
ibu Dessy tersenyum meskipun memakai alat bantu pernapasan
"Maafin ibu nak" lirih ibu Dessy
"Gak Bu ibu gak salah, Nindy bersyukur punya ibu" ucap Nindy menggenggam tangan ibunya dan berkali kali mengecupinya
" Simpan ini nak, suatu saat pasti keluargamu akan menemukanmu hanya ini yang ada saat ibu menemukanmu" ucap ibu Dessy menyerahkan kalung yang di pakainya
Kalung yang berbentuk liontin botol dengan Cristal di dalamnya
ibu Dessy menaruh di tangan Nindy dan menggenggam tangannya
"Ibu sayang sama kamu" ucap ibu Dessy sebelum menghembuskan nafas terakhirnya
"Bu bangun Bu, ibuuuuu jangan tinggalin Nindy Bu ibuuuuu " teriak Nindy mengguncang tubuh wanita yang begitu ia sayangi
"Maaf nona sebaiknya anda keluar dulu biar dokter menangani ibu anda" ucap perawat memapah Nindy
Bunda segera menghampiri Nindy dan memeluknya begitu pula sahabatnya
Nindy menangis sejadi jadinya di pelukan orang orang yang menyayanginya
Bunda mengisyaratkan Dara untuk menelepon Bryan
saat ini Nindy pasti sangat membutuhkan Bryan
tidak butuh waktu lama setelah Dara menelpon Bryan pun langsung datang
"Sayang yang sabar ibu pasti baik baik aja" ucap Bryan berjongkok di hadapan Nindy seraya mengelus kepala Nindy
"I.. ibu hiks hiks gimana kalo terjadi sesuatu sama ibu " ucap Nindy
"Ibu wanita kuat pasti baik baik aja" ucap Bryan memeluk Nindy
Nindy terisak di pelukan Bryan wajahnya di sembunyikan di dada Bryan
karena hari sudah gelap bunda menyuruh kedua sahabat Nindy pulang diantar supir
meskipun awalnya menolak akhirnya mereka pulang
tidak lama setelah kedua sahabatnya pergi dokter keluar dari ruangan
Nindy segera berdiri menghampiri mengelap semua air mata di wajahnya
"Gimana ibu saya dok? apa ibu baik baik saja?" tanya Nindy tapi dokter hanya diam melirik bunda dan Bryan bergantian
"Ada apa dok?" tanya Bunda
" Ibu Dessy tidak dapat di selamatkan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin" ucap dokter
Nindy merasa tidak puas dengan jawaban dokter
dia mencengkram baju dokter dan mengguncangnya
"Dokter pasti bohongkan? ibu saya baik baik aja kan?" ucap Nindy seraya menangis dan tertawa bersamaan
Bryan melepaskan tangan Nindy dari baju dokter
dia menangkup wajah Nindy menghadapkan pada wajahnya dengan jarak yang begitu dekat
"Lihat aku kalo kamu kayak gini ibu gak akan tenang, ikhlasin ibu sayang" ucap Bryan
"Tapi itu ibu aku, aku gak punya siapa siapa lagi selain ibu" teriak Nindy
Bryan memeluk Nindy erat mengusap kepalanya dengan lembut
"Ada aku sayang, ada bunda, ayah, sahabat sahabat kamu, ada orang orang yang menyayangi kamu disini" ucap Bryan
Perlahan isakan tangis itu mereda seiring dengan nafas yang teratur dan tubuh Nindy melemas
Bryan terkejut saat wanita yang di peluknya terkulai lemas
Setelah di periksa dokter akhirnya Nindy dan jenazah ibunya di bawa pulang ke rumah Bryan
__ADS_1
tetangga yang menelpon Nindy pun di beritahu jika ibu Nindy sudah tiada
membuat semua tetangganya melayat kerumah Bryan keesokan harinya
Nindy belum juga sadar dari semalam sampai pagi menjelang
Nindy membuka matanya perlahan memijat pelipisnya yang terasa pening
Orang yang pertama ia lihat adalah Bryan dengan senyum manisnya
Nindy juga ikut tersenyum merentangkan kedua tangannya lalu Bryan berhambur kepelukannya
"Sayang aku mimpi buruk" ucap Nindy meletakkan kepalanya di bahu Bryan
Bryan tidak menjawab dia hanya diam entah apa yang harus dia katakan
Nindy masih memeluk Bryan terdengar samar samar seperti orang mengaji
Nindy menajamkan pendengarannya lalu melepaskan pelukannya berjalan menuju keluar kamar
Bryan setia mengikuti langkah Nindy sampai di atas tangga Nindy mulai menitikkan air mata
tubuhnya terseok seperti tulang kaki nya lemas
Bryan menahannya dari belakang memapah Nindy berjalan menuruni tangga
Semua menatap Nindy iba air mata terus mengalir tanpa bersuara
dia duduk bersimpuh di hadapan jenazah ibunya
tangisnya semakin pecah saat dia membuka kain yang menutupi wajah ibunya
"Ibuuuuu... kenapa ibu ninggalin Nindy Bu, ibu janji akan selalu ada buat Nindy tapi kenapa ibu ninggalin Nindy secepat ini bahkan ibu belum menimang anak Nindy Bu" ucap Nindy dalam Isak tangisnya
"Biarkan ibu tenang sayang ikhlasin ibu kamu, jangan malah Bebani dia nak.. doakan saja agar semua dosa ibu diampuni dan di beri tempat terbaik disisinya" ucap bunda membelai lembut Nindy yang memeluk jenazah ibunya
"Nindy gak punya siapa siapa lagi, Nindy mau ikut ibu" ucap Nindy
"Jangan seperti ini sayang, ayo bangun lihat sekeliling kamu ada banyak orang yang menyayangi kamu" ucap bunda membangunkan Nindy
Bunda dan kedua sahabatnya memeluk Nindy dan Bryan menghapus air mata Nindy, ayah membelai rambutnya
membuatnya sadar ternyata banyak orang yang peduli padanya
Nindy mengusap air matanya sendiri membersihkan sisa tangisnya dan merapihkan rambutnya
"Sekarang kita bisa kuburkan jenazah ibu" ucap Nindy
Setelah di pemakaman orang orang sudah pulang kecuali keluarga Bryan dan sahabat Nindy
Nindy masih duduk di pinggir pusara ibunya
mengusap batu nisan
"Ibu yang tenang ya Bu disini Nindy sama orang orang yang baik yang menyayangi Nindy " ucap Nindy seraya mengusap air matanya
" Sayang kita pulang ya kamu butuh istirahat" ucap Bryan mengelus kedua bahu Nindy
"Ya udah " ucap Nindy di bantu Bryan untuk berdiri
Hari ini adalah hal terberat untuk Nindy hari ini dia tau kenyataan bahwa dia bukan anak ibu Dessy juga harus kehilangan sosok ibu yang menjadi cintanya, penyelamatnya, juga pelindungnya
Bryan menggenggam tangan Nindy tersenyum saat Nindy menatapnya
lalu membawa Nindy kepelukannya
disana Nindy bisa merasakan kenyamanan selain dari ibunya
Di tempat lain mantan suami ibu Dessy merasa bersalah mendengar kematian ibu Dessy
bagaimana pun dia wanita yang pernah mengisi hatinya bertahun tahun
dia melamun di ruang kerjanya dengan sejuta kenangan yang terngiang di pikirannya
"Pah kenapa sih ngelamun terus? masih mikirin si Dessy yang udah metong itu?" tanya Tamara sinis
"Apa kita gak keterlaluan ya ? kita menyebabkan orang lain kehilangan nyawa" ucap suaminya
"Pah asal papa tau ya dia mati karena penyakitan bukan karena kita, jadi gak usah di pikirin orang mati mah mati aja" ucap Tamara
"Tapi mah..." ucap suaminya terpotong saat Tamara menggebrak meja
"Kalo papa masih mikirin mantan istri papa itu kenapa papa gak ikut mati aja" bentak Tamara lalu pergi membanting pintu
Di satu tempat Maria sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar
dia sedang menyusun rencana agar Nindy dan Bryan benar benar berpisah kali ini
"Kita biarkan mereka tenang dulu untuk sekarang, tapi nanti boom mereka akan hancur berkeping tak bersisa" ucap Maria pada Meira
Mendengar tawa Maria Membuat Meira merinding tawanya sudah seperti psikopat
Meira terjebak dalam permainannya sendiri
kini dia sudah tidak dapat keluar dari permainan yang dia buat sendiri
Dia sudah ikut terjun terlalu dalam jika dia berani keluar dari peraturan Maria maka dia sendiri yang akan menjadi korbannya
yang akhirnya apapun yang Maria katakan harus dia lakukan
"Apa yang akan Lo rencanain?" tanya Meira
"Lo gak perlu tau yang Lo perlu lakuin cuma turutin semua perintah gue" ucap Maria sinis
"Kalo gak Lo tau sendiri akibatnya" lanjut Maria lalu pergi meninggalkan Meira
"Gila gimana caranya gue keluar dari rencana Maria bisa bisa gue jadi kriminal kalo terus ngikutin maunya Maria" gumam Meira seraya mengacak rambutnya frustasi
Nindy baru sampai di rumah Bryan dia mendapat pesan yang bernada ancaman
tapi Nindy tidak mempedulikannya hari ini sudah cukup berat untuknya dia tidak ingin menambah beban pikirannya
Dia hanya mematikan handphonenya agar tidak ada gangguan dan dia bisa istirahat dengan tenang....
***Haii para pembaca yang aku cintai... maaf ya akhir akhir ini aku jarang up karena baru sembuh dari sakit
jangan lupa support terus ya biar tambah semangat up nya
__ADS_1
👇👇👇
like komen and vote ❤️❤️❤️***