
Sudah larut malam tapi Bryan belum juga membuka pintu kamar
Nindy sudah menggedor-gedornya tapi percuma tidak ada yang mendengarnya
Nindy hanya duduk di atas ranjang menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang
"Laper, apa dia sengaja mau bikin gue mati kelaparan" gumam Nindy
Tiba tiba pintu kamar di buka ternyata Bryan membawa nampan berisi makanan
dia mendekati Nindy dan menaruh nampamnya di kasur
"Makan" titah Bryan
"Gak mau gue mau pulang" ucap Nindy menyilangkan tangan di dadanya
"Tempat Lo disini, apa Lo mau balik ke rumah atau apartemen laki laki sialan itu?" bentak Bryan
"Dia gak seperti yang Lo pikir, dia baik kalo dia brengsek gak mungkin dia mau Nerima kerjasama sama Lo padahal udah gue larang" bentak Nindy tidak mau kalah
"Oohh jadi sedekat itu Lo sama dia? Lo masih istri gue gak pantes Lo deket sama cowok lain selain gue" ucap Bryan
"Kalo gue masih istri Lo kenapa Lo khianatin gue? apa salah gue sama Lo?" ucap Nindy
"Harus berapa kali gue bilang sama Lo kalo gue gak ngelakuin apapun sama Maria gue yakin itu" ucap Bryan mengguncang bahu Nindy
"Lo bilang yakin? itukan menurut Lo siapa tau Lo sembunyiin sesuatu kalo gak ada bukti gue gak percaya" ucap Nindy
"Lo juga gak punya bukti buat nuduh gue kalo cuma Poto bisa aja itu rekayasa" ucap Bryan mendorong tubuh Nindy lalu pergi
Nindy memakan makanan yang di bawa Bryan ternyata dia masih ingat makanan kesukaan Nindy
karena terlalu lelah berdebat dengan Bryan akhirnya Nindy tertidur
Bryan kembali ke kamar dia melihat wajah tenang Nindy saat tidur
dia mendekatinya dan mengecup keningnya
"Gue pengen balik kayak dulu lagi, sayangnya sampai sekarang gue masih belum punya bukti tentang kejadian malam itu" ucap Bryan merapikan anak rambut Nindy yang berantakan
Dia ikut berbaring dan memejamkan matanya memeluk Nindy
Bryan tau mengurung Nindy adalah hal yang salah
tapi bolehkah dia egois untuk kali ini saja hanya agar dia bisa bersama dengan Nindy
Leo kelimpungan mencari Nindy sudah ke panti Dan tempat tempat yang sering di kunjunginya tapi masih saja tidak
Leo sangat mengkhawatirkannya
Keesokan harinya Bryan ke kantor Leo
setelah menunggu beberapa saat di ruangan Leo
akhirnya Leo selesai dengan meetingnya
"Ada apa tuan Bryan apa ada masalah dengan pekerjaan anda sehingga pagi pagi sudah kesini?" tanya Leo
"Saya kesini untuk memberi tahu tentang keberadaan Nindy " ucap Bryan
"Apa anda tau dimana dia sekarang?" tanya Leo antusias
"Sepertinya anda bersemangat sekali dengan semua yang berhubungan dengan Nindy " sindir Leo
"Apa maksudmu?" tanya Leo heran
"Dia ada di rumahku karena memang dia masih istriku bukannya anda sudah tau hal itu dari dulu? jadi anda tidak perlu khawatir lagi
dan tentang kerjasama kita jika anda akan membatalkannya saya tidak masalah" ucap Bryan
Leo terdiam sejenak dia tahu Bryan sedang cemburu padanya
apapun yang di katakan Bryan adalah kebenaran
tapi jika harus membatalkan kerjasama itu Leo tidak mungkin melakukannya
dia tidak mau hidup adiknya kesusahan
"Sepertinya anda salah paham tentang saya dan Nindy, apapun masalah pribadi anda saya harap tidak mempengaruhi kerjasama kita" ucap Leo
"Baiklah tapi saya harap anda tidak pernah mengganggu Nindy lagi, saya permisi" ucap Bryan lalu pergi
"Cemburu bisa membutakan segalanya" gumam Leo seraya menggeleng
Di tempat lain seorang wanita terlihat tergesa gesa menuju rumah sakit
dia menerobos masuk ke ruangan dokter tanpa permisi
"Hai Meira" sapanya
"Ada apa lagi Lo kesini? gue udah gak mau ikut permainan Lo lagi udah cukup gue hancurin hidup seseorang" ucap Meira yang seakan tau maksud dan tujuan Maria menemuinya
Ya sekarang Meira adalah seorang dokter di salah satu rumah sakit
semenjak kejadian enam tahun lalu ketakutan selalu menghantuinya
juga rasa bersalah yang tak pernah hilang
sampai dia tidak berani bertemu dengan Nindy dan Bryan karena rasa bersalahnya
"Apa? Lo berani sekarang sama gue?" bentak Maria sambil menggebrak meja
"Gue udah lelah terserah Lo mau lakuin apa aja sama gue meskipun Lo harus bunuh gue, gue akan anggap itu sebagai penebus dosa gue sama Nindy " ucap Meira
"Oke, lo berurusan sama gue sekarang" ancamnya lalu pergi
"Gue gak peduli apa pun yang akan Lo lakuin ke gue yang pasti gue gak mau nambah rasa bersalah gue" gumam Meira
"Bu mama kok gak kesini ya?" Tanya Cia pada ibu Ambar
"Mungkin mama Nindy lagi sakit atau ada urusan nanti juga pasti kesini lagi" jawab ibu Ambar
"Apa mama juga akan ninggalin Cia?" tanya Cia sedih
__ADS_1
"Sayang gak boleh bilang begitu mama pasti kesini nemuin kamu lagi, sekarang main sama kakak kakak yang lain dulu ya" ucap ibu Ambar Cia menurut dan pergi menghampiri kakak kakaknya
"Kenapa Nindy tidak bisa di hubungi kemana dia" gumam ibu Ambar dalam hati
Di kamar Bryan Nindy sedang melamun menatap keluar jendela
dia merasa jenuh bahkan bunda pun tidak bisa menemaninya
dia teringat pada Cia karena hari ini mereka tidak bertemu
"Mama kangen sama kamu" lirih Nindy
Hari sudah gelap tapi Bryan belum kelihatan batang hidungnya
meskipun makanan sudah ia siapkan sedari pagi di kamar untuk Nindy
tapi Nindy mulai merasa sepi jika tidak ada Bryan
"Gue kenapa sih, jangan sampe rasa itu tumbuh lagi" ucap Nindy memukul mukul kepalanya
Pintu kamar terbuka Nindy tidak menyadari itu dia masih menatap keluar jendela
Bryan menutup pintu dengan keras membuat Nindy terlonjak kaget
"Lo apaan sih?" tanya Nindy
"Lo lagi ngapain? pasti lagi mikirin gue ya" ucap Bryan dengan pedenya
"Gue lagi males debat, gue lagi mikirin Cia" ucap Nindy wajahnya menjadi murung
"Gue mau ngomong serius sama Lo tapi apapun yang terjadi Lo gak boleh menyela omongan gue" ucap Bryan
"Oke tapi gue ada satu permintaan " ucap Nindy
"Apa?" tanya Bryan
"Setelah Lo ngomong semuanya gue minta Lo lepasin gue, gue gak bisa sehari aja gak ketemu Cia" ucap Nindy
"Cia atau yang lain?" tanya Bryan
"Udah deh gak usah mulai, kalo kita debat kapan ngomongnya gue jadi lama lagi keluar dari sini" ucap Nindy
"Apa Lo gak mau lebih lama disini?" tanya Bryan
"Entahlah tapi gue rasa semuanya gak sama lagi" ucap Nindy
"Oke gue ngomong sekarang, setelah itu Lo bisa pertimbangkan selanjutnya gimana" ucap Bryan
"Hari itu setelah gue meeting di salah satu cafe gue niatnya mau nyamperin Lo tapi tiba tiba ada yang bekap gue dari belakang dan gue gak sadar setelah itu, bangun bangun gue ada di kamar hotel dan disitu Maria ninggalin surat seolah olah gue udah ngelakuin sesuatu sama dia"
"Tapi gue yakin gak terjadi apa apa malah gue rasa gak ada bekas apapun" ujar Bryan
"Lo yakin sama cerita Lo?" tanya Nindy
"Jadi Lo gak percaya?" Bryan balik bertanya
"Gue gak percaya kalo cuma denger dari satu pihak" tegas Nindy
"Jadi menurut Lo gue bohong?" tanya Bryan
"Jadi sekarang gue bisa pergi kan?" lanjut Nindy
"Apa Lo gak bisa tinggal disini" ucap Bryan sudah berkaca kaca
"Tapi.." Nindy belum menyelesaikan perkataannya Bryan berlutut dihadapannya
Entah apa yang dipikirkan Bryan dia begitu labil saat dihadapan Nindy
Nindy ikut duduk di hadapan Bryan dia dengan ragu ragu menyentuh bahu Bryan
"Gue butuh waktu biarin gue cari sendiri kebenarannya, banyak luka yang harus gue sembuhin bahkan setelah lama kita berpisah gue kira Lo akan merenungi kesalahan Lo tapi sebaliknya Lo malah hakimin gue untuk hal yang sama sekali gak pernah Lo tanya kebenarannya" jelas Nindy seraya melepaskan tangannya dari bahu Bryan
"Maaf.. maafin gue maafin semua kebodohan gue, gue lakuin itu karena gue cemburu gue gak suka Lo sedekat itu sama cowok lain " ucap Bryan menangis menggenggam tangan Nindy
"Gue udah maafin tapi untuk kembali seperti dulu gue butuh waktu, sekarang buka pintunya gue harus pulang" ucap Nindy
"Gue minta malem ini aja Lo temenin gue tidur besok Lo bisa pulang" pinta Bryan
Nindy ragu sebenarnya dia merasa risih kembali satu kamar dengan Bryan
mungkin karena terlalu lama mereka berpisah
setelah berpikir panjang Nindy akhirnya menganggukkan kepalanya
"makasih" ucap Bryan seraya merentangkan tangan hendak memeluk Nindy
Nindy refleks mendorongnya
"Baru di kasih hati udah minta jantung" ucap Nindy seraya meninggalkannya menuju ranjang
"Gitu aja pelit, dosa nolak suami" ucapan Bryan membuat Nindy mematung
Kata kata itu membuatnya kembali ingat kenangannya dulu bersama Bryan
dulu Bryan sering menggunakan kata kata itu saat Nindy tidak menurutinya
tidak terasa air matanya menetes Bryan yang melihat itu segera menghampiri Nindy
"Hey kenapa nangis?" tanya Bryan mengusap air matanya
"Gak apa apa cuma sedih aja inget Cia, dia pasti nungguin gue Dateng " ucap Nindy
"Besok Lo bisa pulang dan temui dia" ucap Bryan
Saat sedang berbincang asisten rumah tangga menelpon Bryan
di bawah sedang ada keributan Bryan segera turun khawatir dengan bundanya
dia lupa mengunci pintu hingga Nindy ikut turun melihat apa yang membuat Bryan panik
"Anak gadis yang tidak punya malu, apa kamu masih punya muka di hadapan saya?" ucap bunda
"Apa maksud Tante harusnya anak Tante yang dimarahi bukan saya kita melakukan itu atas dasar suka sama suka kok, untuk yang kita lakukan sudah sepantasnya dong saya meminta pertanggungjawaban" ucap Maria
__ADS_1
"Perempuan tidak tahu malu, kamu mau merebut suami wanita lain? kamu wanita rendah" ucap bunda dengan marah
"Apa Tante bilang? saya perempuan rendah? Tante tidak tau berterima kasih orang tua saya yang membantu Bryan memajukan kembali perusahaan disaat om di.." ucap Maria
"Maria" bentak Bryan sontak membuatnya diam
Maria malah dengan sengaja menghampiri Bryan dan memeluknya
bunda memegangi dadanya dengan wajah yang tampak kesakitan
"Bunda..." teriak Nindy lalu menangkap bunda yang lemas
Bryan menarik paksa tangan Maria untuk keluar
lalu menghempasnya sampai dia tersungkur
"Apa ini balasan untuk semua yang udah aku berikan buat kamu?" tanya Maria dengan lantang
"Sekarang pergi dan jangan kembali lagi diantara kita udah gak ada hubungan apa apa lagi" tegas Bryan
"Semua saham orang tua Lo udah gue kembaliin, jadi sekarang Lo udah gak bisa ngancem gue lagi" ucap Bryann
"Lo bakal nyesel, Lo sama ****** itu akan hancur tunggu pembalasan gue" teriak Maria lalu pergi
Bryan kekamar bundanya yang sedang di bantu minum obat oleh Nindy
Bryan duduk di dekat bunda dan menggenggam tangannya
"Jangan dengerin apa pun yang dia bilang Bun, Bryan bersumpah gak punya hubungan apa apa sama dia kecuali terpaksa memenuhi permintaannya untuk jadi pacarnya Bun" ucap Bryan
"Tinggalin bunda sendiri" ucap bunda melepaskan tangannya
Nindy dan Bryan kembali ke kamarnya
sebenarnya Nindy mengintip perdebatan Bryan dan Maria
dia berpikir tidak mungkin Bryan mencintai Maria jika dia saja sepertinya benci dengan Maria
"Kenapa bengong" ucap Bryan dengan wajah berjarak sangat dekat dengan Nindy
"Apa sih?" ucap Nindy mendorong kening Bryan dengan telunjuknya
"Tidur yuk?" ajak Bryan
"duluan aja" ucap Nindy
"Nindy..." panggil Bryan
Saat Nindy berbalik tiba tiba Bryan mencium pipinya dari samping
Nindy mematung wajahnya kini memerah
"Sialan" umpat Nindy memukul lengan Bryan
"Tapi suka kan?" goda Bryan
"Gue mau tidur bye" ucap Nindy menyelimuti seluruh tubuhnya hingga kepala
"Mau di peyuk gak" goda Bryan
"Udah tidur atau gue tonjok" ucap Nindy dalam selimut
"Hhahha ciee yang salting" ledek Bryan lalu berbaring memeluk Nindy walau terhalang selimut
Semalaman Bryan tidak dapat tidur dia menahan hasratnya
bagaimana tidak dia tidur berdekatan bersama istrinya
dan dirinya tidak pernah menyentuh wanita manapun termasuk Maria
Hubungannya dengan Maria hanya sebatas status tidak lebih
bahkan Bryan sering menolak ajakan Maria untuk bertemu
karena dia memang tidak pernah bisa menggantikan Nindy di hatinya
Nindy mengigau sampai tidurnya tidak beraturan
Bryan sedang menatap langit langit dengan tangan yang digunakan sebagai bantal
tiba tiba kaki Nindy melayang dan mendarat tepat di juniornya yang sedang bangun sedari tadi
"Aaarrrggghhhhh" teriak Bryan membuat Nindy langsung bangun
"Kenapa sih ngagetin aja" ucap Nindy
"Kaki Lo nendang junior gue" ucap Bryan setengah teriak
Nindy melirik kebawah dan benar saja lututnya tepat berada di ************ Bryan
Nindy membulatkan matanya langsung menarik kakinya
"Lo harus tanggung jawab" ucap Bryan
"Sorry gue gak sengaja" ucap Nindy panik
"Arrrrrrrggghhhhh sakit banget" gerutu Bryan
"Terus gue harus gimana dong, duuhh sorry" ucap Nindy sudah panik mengguncang guncangkan kaki Bryan
"Arrrrrrrggghhhhh sakit tau maen tabok aja" ucap Bryan mengelus pipinya
"Rasain nih nih nih" ucap Nindy kesal seraya membekap wajah Bryan dengan bantal
Nindy langsung menutup kembali tubuh dan kepalanya dengan selimut memeganginya dengan erat
...***Vote karya aku ya aku lagi ikut lomba nih biar tambah semangat...
caranya klik warna biru pada gambar yang bertuliskan
"LOMBA UPDATE TIM" dan vote karya aku
Terimakasih sudah membaca 😍😍😘😘***
__ADS_1