
Sepulang dari kantor Nindy menghubungi Dara untuk bertemu di cafe biasa
Nindy lebih dulu sampai disana dia sudah memesan minuman untuk menemaninya menunggu Dara
Nindy sedang memperhatikan seseorang yang sepertinya dia kenal
Nindy menghampirinya yang terhalang hanya beberapa kursi
"Meira, apa kabar?" tanya Nindy mengulurkan tangannya
"Nin.. Ninnndy" jawab Meira dengan wajah gugup
"Lagi nungguin siapa?" tanya Nindy
"Gggak ada, sorry gue harus pergi" ucap Meira lalu pergi meninggalkan Nindy yang melongo
"Dia kenapa sih? kayak takut liat gue" tanya Nindy pada dirinya sendiri
Nindy kembali ke kursinya tidak lama setelah itu Dara datang
dengan keringat yang menetes sepertinya lelah
"Kenapa Lo?" tanya Nindy mengangkat sebelah alisnya
"Capek gila kerjaan gue numpuk mana naek taksi macet panas banget padahal udah sore" ucap Dara ngos-ngosan
""Kirain abis ngejar maling" ucap Nindy terkekeh
"Bagi gue haus" ucap Dara menengguk habis minuman Nindy
"Masih aja celamitan ni anak" ledek Nindy
" Gue kangen ngabisin makanan Lo sama Wina" ucap Dara
"Ohh iya Wina sekarang dimana?" tanya Nindy
"Surabaya di suruh lanjutin pabrik bapaknya" jawab Dara
"Gue pesen makan entar Lo yang bayar ya gue belum gajian" lanjut Dara tidak tau malunya
"Pesen aja sepuas Lo" ucap Nindy
"Asyik orang kaya sekarang " ucap Dara
Nindy hanya melihat dara yang makan dengan lahapnya
dia hanya memesan minuman
selesai makan Dara menyandarkan tubuhnya ke kursi seraya mengusap ngusap perutnya
"Kenyang banget gue" ucaapnya
"Penampilan feminim makan masih kayak kuli" ujar Nindy seraya tertawa
"Biarin gue makan banyak tapi gak gendut gendutkan? Lo sering ngiri sama badan gue" ucap dara memeletkan lidahnya
"Iya sih, gak kayak badan gue sama Wina harus banget jaga makan" ucap Nindy
"Gue mau tanya tapi Lo harus jawab jujur" ucap Dara
"Oke tapi gue jawab cuma yang harus Lo tau aja" jawab Nindy
"Oke, pertama kenapa Lo bisa di perusahaan kak Leo dan apa hubungan Lo sama dia?" tanya Dara
"Gue ada hubungan yang gak bisa gue ceritain sama orang lain, dan untuk perusahaan gue gantiin kak Leo dulu karena dia pulang"" jawab Nindy
" Lo pacaran sama dia? bukannya Lo masih istri pak Bryan?" tanya Dara
"Gue gak pacaran sumpah, hubungan ini bukan hubungan asmara pokoknya gue gak bisa jawab detail" jelas Nindy
"Oke., pertanyaan kedua kemana Lo selama ngilang bertahun tahun?" tanya Dara
"Gue di tolong anak buahnya kak Leo dan gue ikut sama dia sampe sekarang" jawab Nindy
"Jadi hubungan Lo sama dia karena merasa hutang Budi?" tanya Dara
"Bisa di bilang gitu" Nindy terpaksa berbohong dia takut Dara akan menceritakan lagi pada Bryan
"Yang ke tiga Lo sering ketemu sama pak Bryan tapi kenapa kalian gak ngomong dari hati ke hati gitu biar semua kelar?" tanya Dara
"Kalo itu gue juga gak paham kita sering ketemu awalnya sih baik baik aja tapi setelah itu ada aja hal yang ngebuat kita ribut, gue juga gak tau gak ngerti" jawab Nindy
"Kalian gak coba sama sama ngalahin ego?" tanya Dara
"Mungkin gue yang terlalu keras kepala, tapi jujur saat gue sama Bryan rasa sakit yang udah gue lupain muncul lagi gue inget anak gue yang udah gak ada" jawab Nindy
"Apa? anak Lo udah gak ada? sorry nin gue gak bermaksud" ucap Dara
"Gak apa apa udah lama juga" jawab Nindy
"Terus selanjutnya Lo mau gimana? " tanya Dara
"Gue udah minta udahan tapi dia gak mau, dia kekeh kalo dia gak salah" jawab Nindy
"Gue mau cerita tapi Lo harus dengerin gue tanpa memotong pembicaraan gue oke?" ucap Dara
"Oke" singkat Nindy
"Pak Bryan juga menderita sejak Lo pergi ibunya koma bertahun tahun membuat ayahnya harus bolak balik kantor rumah sakit, saat itu pak Bryan juga minta agar kuliahnya di berhentikan untuk mengurus ibunya tapi ayahnya nolak"
"Perusahaannya terbengkalai sampai sampai ayahnya kena fitnah atas penggelapan dana perusahaan, upah karyawan gak ke bayar sampai ada orang tua Maria yang tadinya hanya investor datang membantu membayar semua ke rugian kantor sampai pak Bryan memiliki kantor hanya 1/4 nya saja"
"Itu juga gak gratis pak Bryan harus mau menikahi Maria tapi dia mengulur waktu jadi gak nikah nikah, dan Lo tau ayahnya pak Bryan di penjara karena tuduhan itu
pak Bryan belum ada bukti atau pun uang untuk tebusan"
"Untung dia ngajak kerjasama dengan Alexandercorp untungnya lebih gede dari perusahaan mana pun dan Lo tau kak Leo bantuin kembaliin uang orang tuanya Maria sekarang kantor milik pak Bryan lagi"
"Apa ? kak Leo bantuin Bryan kok gue gak tau?" tanya Nindy
"Kak Leo baik ya udah ganteng baik idaman banget bener kata Wina" ucap Dara
"Lo suka sama kak Leo?" tanya Nindy
"Lo cemburu yaaaa?" tanya Dara seraya menaik turunkan alisnya
"Kagak " singkat Nindy
"Lo tinggal dimana sekarang? masih tempat dulu?" tanya Nindy
"Gue udah beli rumah sendiri nin walau kecil tapi ya enak lah punya rumah sendiri bebas" Jawab Dara
"Di perumahan mana?" tanya Nindy
__ADS_1
"Perumahan apaan gue beli di kompleks biasa cari yang murah" ucap Dara
"Alhamdulillah apapun yang kita punya wajib di syukuri" ucap Nindy
"Bener banget" ucap Dara
"Gue pulang dulu ya capek nih, thanks ya makannya jadi gue gak perlu masak" lanjut Dara
"Gue anterin aja biar tau kapan kapan gue bisa main" ucap Nindy
" Boleh banget sekalian ngirit ongkos" ucap Dara yang hanya cengengesan
"Dasar penikmat gratisan" ucap Nindy menoyor kepala Dara yang malah tertawa
Di kantornya Bryan masih disana berdiri menatap keluar jendela
dia membayangkan bagaimana semalam dia seperti pria brengsek
dia menyesali perbuatannya yang semakin menjauhkannya dengan Nindy
"Aaarrrggghhhhh sial bodoh bodoh bodoh" teriak Bryan meninju tangannya ke tembok
Dia berdiri menempelkan tangannya ke tembok dengan kepala yang di tekuk kebawah
tiba tiba dari belakang sepasang tangan memeluk pinggangnya
dengan kata kata lembut yang terdengar mengayun di telinga
"Udah makan belum?" ucapnya Bryan membalikkan badan menggenggam tangannya
Bryan memeluknya penuh kerinduan perempuan itu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bryan karena itu kesukaannya
Bryan memejamkan matanya merasakan pelukan itu
"Jangan tinggalin aku lagi" ucap Bryan tapi tidak ada jawaban
Bryan membuka matanya tapi tidak ada siapapun disana dia memeluk dirinya sendiri
ternyata perempuan itu adalah bayangannya tentang Nindy
Dia menatap kursi kerjanya dia seperti dapat melihat masa lalunya
ketika Nindy masih mengenakan baju sekolah
duduk di pangkuannya di kursi itu
Bryan melihat sofa yang bias dia bercumbu dengan Nindy ketika ayahnya sedang tidak di kantor
Semua bayangannya dan Nindy berputar di otaknya
Bryan duduk di kursi kerjanya mengambil sebuah foto di meja
yang terdapat foto dirinya memeluk Nindy dengan perut yang buncit
"Papa kangen sama kalian" ucap Bryan meneteskan air mata
Setelah mengantar Dara Nindy langsung pulang ke rumah Damar
dia tidak ikut makan malam dia hanya diam di kamar memainkan laptopnya
"Mar Nindy mana gak ikut makan?" tanya mama Damar
"Gak tau dari tadi pulang gak keluar kamar" jawab Damar seraya menyuap makanan ke mulutnya
"Iya, ini Damar udah mau cuci tangan dulu" ucapnya pergi ke wastafel
Damar berjalan naik ke kamar Nindy
setelah mengetuk pintu Nindy membukanya dan Damar masuk begitu saja
Nindy hanya memakai kaos lengan pendek dan celana training
Nindy lupa tidak menutupi bagian dada dan lehernya
"Wiihhh ada macan tutul nih" ucap damar seraya tidur di ranjang Nindy
"Macan tutul apaan?" tanya Nindy yang sedang makan di sofa pojok kamar
"Onoh leher udah kayak macan tutul belang belang" jawab Damar santai
Ucapan Damar membuat Nindy tersedak dia terbatuk-batuk
bukannya menolong Damar malah tertawa
sontak Nindy melempar bantal sofa ke arah
"Di kasih tanda cinta sama siapa lu?" tanya Damar Masih tertawa ngakak
Nindy menghampiri Damar dan membekap mulutnya
Damar menepis tangan Nindy
"Diem lo awas kalo ngomongin sama orang orang" ancam Nindy
"Tangan lo panas kena pipi gue anjim" ucap Damar
"Hhahaa gue lupa abis makan sambel mar" Nindy tertawa
"****** Lo panas nih aakkhh" gerutu Damar
"Kalo Lo bilang sama orang lain gue bakal templokin tuh sambel kemata lo" ancam Nindy
"Tenang aja ngapain juga gue sebar sebar aib orang" ucap Damar
"Tapi itu siapa yang buat nafsu banget kayaknya" ledek Damar
"Damaarrrrrr gue pites Lo ya" teriak Nindy melihat Damar lari keluar
Keesokan harinya Nindy bersiap untuk ke kantor
dia memakai baju turtleneck untuk menutupi kissmark nya
dia turun menyapa semua keluarga Damar dan ikut duduk untuk makan
"Ma kemaren Damar liat macan tutul jadi pengen pelihara" ucap Damar membuat Nindy tersedak
"Uhuk uhhuukk"
"Kenapa sayang ini minum dulu" ucap mama Damar mengulurkan segelas air
"Damar mama gak setuju ya kamu pelihara hewan di rumah apa lagi hewan buas" ucap mama Damar
"Tapi ini jinak ma bisa di bawa ke kamar" ucap Damar tersenyum penuh arti
__ADS_1
"Gak Damar gak mama tetep gak setuju" ucap mama Damar
"Yaudah deh, ehh Nindy kok paku bajunya tertutup banget emang gak gerah?" goda Damar
"Iya sampe keringetan loh itu" ucap mama Damar
"Gak gerah kok Nindy meriang aja jadi kena angin gak enak" sangkal Nindy
"Ohh kalo gitu gak usah ke kantor istirahat aja minum obat" ucap mama Damar
"Gak apa apa beneran deh, Nindy pergi dulu ya Tan" ucap Nindy tersenyum canggung
Nindy menyalami mama Damar sambil sengaja lewat di belakang Damar
tepat di belakangnya Nindy dengan sengaja mengayunkan tangannya ke depan damar sampai kepalanya terbentur tas yang di tenteng Nindy
"Aduuhh sorry mar gue mau ambil apel" ucap Nindy cengengesan
Damar mengusap ngusap kepalanya seraya menatap Nindy yang sudah menghilang masuk mobil
mama Damar menggeleng melihat Damar dan Nindy yang tidak pernah akur
Saat ini Leo sedang menelepon anak buahnya
dia baru saja mendapat informasi bahwa terlihat Mark yang tidak lain adalah adik dari ayahnya masuk kesana
entah apa yang dia lakukan disana
Setau Leo Mark sibuk mengelola perusahaan ayahnya Leo yang tidak kalah besar dari perusahaannya
Mark juga menyuruh anak buahnya untuk mencari keluarga Alexander yang hilang tapi apa hubungannya dia dengan tempat itu
Leo turun mencari Dadynya untuk menanyakan sesuatu
"Dad.. Dady.." teriak Leo
"Kenapa teriak teriak" ucap Dady Dion
"Sini Dad" ucap Leo sambil menuntun tangan Dion untuk duduk
"Ada apa ini?" tanya Dion
"Begini dad apa Mark itu adik ayahku?" tanya Leo
"Iya, tapi hanya adik tiri" jawab Dion
"Ceritakan tentang keluargaku" ucap Leo
"Jadi mereka itu...." Dion mulai bercerita
Flashback on
Ibu Leo bernama Carolina dan ayahnya Gerald Alexander
mereka keluarga bahagia pada awalnya tapi ketenangan mulai hilang saat kedatangan Mark yang mengaku sebagai anak dari ayah Gerald
dia membawa serta ibunya yang di yakini sebagai simpanan ayahnya
Ibu Gerald jatuh sakit saat mereka sudah masuk ke dalam rumah itu
dan meninggal tidak lama setelahnya
baru saja keluarga mereka berduka sebulan kemudian ayah Gerald jatuh sakit parah
Ayahnya sudah membuat surat wasiat yang berisi semua aset perusahaan jatuh ke tangan Gerald dan Mark hanya mendapat perkebunan kecil
"Kenapa ayah memberikan seluruh aset pada Gerald sementara aku hanya perkebunan kecil?" tanya Mark
"Yang membuatnya sangat pesat seperti sekarang adalah Gerald dia pantas mendapatkannya, kau kesini sudah besar bahkan tidak tahu seluk beluk perusahaan itu" lirih ayah Gerald
"Baiklah ayah" ucap Mark
"Dion kau sebagai saksi, jaga keluarga ini" itu ucapan terakhirnya sebelum meninggal
Bertahun tahun hidup mereka tentram hingga memiliki dua anak kecil yang lucu lucu sampai pada akhirnya Gerald jatuh sakit
cukup lama Gerald menderita sakitnya
sampai di akhir hayatnya dia menitipkan keluarganya pada Dion
Duka menyelimuti keluarga kecil ini
beberapa bulan kemudian bayi Nindy sakit dan Carolina menyuruh Dion mengantarkannya kerumah sakit
di perjalanan mereka di ikuti pengendara motor yang ugal ugalan mobilnya hilang kendali dan remnya blong
Mobil yang mereka tumpangi terguling ke sungai
di kegelapan malam Dion tersadar dari pingsannya dengan berlumuran darah keluar dari mobil yang sudah terbalik
dia melihat Leo meminta tolong di tengah sungai lalu Dion meraih dan memeluknya
Tidak memperdulikan lukanya dia menggendong Leo mencari Carolina dan bayinya tapi tidak ketemu
di tepi sungai Dion menemukan sebuah topi bayi dan jejak kaki beberapa orang
dia yakin Carolina dan bayinya di bawa orang yang memang berniat mencelakainya
Dion membawa Leo ke gubug di tengah hutan dengan berjalan tertatih menahan luka yang perih
mereka bermalam disana sampai sebelum matahari terbit Dion sudah membawa Leo pergi dari sana
Setelah mengamankan Leo dia kembali ke rumah Carolina untuk mengatakan pada Mark dan ibunya bahwa mereka mengalami kecelakaan dan Carolina bersama kedua anaknya hilang
Mark dan ibunya menangis meraung Raung
mereka memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Carolina sampai sekarang Mark pun masih mencari Carolina
Mark mengambil alih perusahaan sebelum anak anak Gerald di temukan
Dan yang Leo jalankan itu adalah perusahaan peninggalan ayah Carolina yang awalnya perusahaan itu kecil
setelah di pegang oleh Leo perusahaan itu semakin pesat bahkan mempunyai cabang di Indonesia sekarang
Flashback off.
"Begitu memangnya kenapa?" tanya Dion
"Aku mencurigai Mark yang telah menyabotase keluargaku" ucap Leo
"Jangan berburuk sangka sebelum ada bukti yang kongkrit, mereka baik buktinya sampai sekarang mereka masih mencari kalian" ucap Dion
"Ini membuatku bingung, lalu apa yang dia lakukan di gedung kosong itu" gumam Leo
__ADS_1
Like komen dan votemu jadi motivasi aku buat up kasih semangat terus ya 😍😍😍