
Di mansion Bryan Nindy tampak sedang sibuk membangunkan makhluk yang masih tertidur seperti mayat
amarahnya sudah di ubun ubun pasalnya hari ini adalah hari pernikahan kakaknya tapi san suami malah malas malasan
"Sayang cepat bangun, kalo telat gak lucu" Nindy mengguncang tubuh Bryan
"Lima menit lagi aku benar benar ngantuk" ucap Bryan membelakangi Nindy
"Gak bisa cepet bangun " Nindy membalikan tubuh Bryan hingga terlentang
"Kamu cerewet banget " ucap Bryan masih menutup matanya
"Kamu bilang aku cerewet? kamu yang apa apa susah lelet wajarlah aku cerewet, sekarang bangun atau aku akan menarikmu dengan paksa ke kamar mandi" ancam Nindy
"Hhmm" singkat Bryan
"Baiklah sepertinya aku harus menggunakan cara lain" gumam Nindy
Nindy naik ke atas Bryan dan mulai membuka kancing piyamanya perlahan lahan
menyentuh dada Bryan dengan lembut dan menciuminya
"Ng.. sayang apa kamu gak mau bangun" bisik Nindy melukis abstrak di dada Bryan
Bryan mengerutkan dahinya melihat Nindy yang turun dari tubuhnya
tapi secepat kilat Bryan mengejar dan menarik Nindy
lalu menjatuhkannya ke ranjang dan menindihnya
"Kamu pikir bisa kabur setelah bermain main? " Bryan menyeringai nakal
"Sayang ini sudah siang, aku sudah mandi bisa telat kita ke nikahan kakak" ucap Nindy
"Sebentar saja sayang"
"Sebentar dalam kamus kamu apa aku? dalam kamus kamu sebentar kamu itu bisa sampe satu jam" gerutu Nindy membuat Bryan terkekeh
"No no no"
"Kamu cerewet sekali"
Tok tok tok
"Maaaa... Cia udah mandi bajunya mana" teriak Cia membuat Nindy terduduk Bryan pun mengacak rambutnya frustasi
"Diem, selesaikan ini aku janji sebentar" pinta Bryan menutup mulut Nindy dan kembali merebahkannya
"Mamaaa Cia kedinginan cuma pake handuk " teriak Cia otomatis Nindy menggulingkan Bryan kesamping dan membenahi pakaiannya
"Cepet mandi 30 menit lagi kita udah harus disana" ucap Nindy lalu pergi
"****... ini sangat sangat menjengkelkan" gerutu Bryan lalu masuk ke kamar mandi
.
.
30 menit
40 menit
Satu jam mereka kini sedang di perjalanan menuju gedung pernikahan
Bryan nampak masam tapi Nindy tidak memperdulikannya
"Pa.. " ucap Cia
__ADS_1
"Kenapa sayang? " jawab Bryan menatap Cia dari kaca
"Mama sama papa lagi marahan? " tanya Cia dengan polosnya
"Enggak sayang, kok Cia nanya gitu? " Nindy berbalik menatap Cia yang duduk di belakang
"Kenapa diem dieman? mama sama papa kan kalo diem dieman pasti lagi berantem" tanya Cia sambil mengayun ngayunkan kakinya
"Enggak kok iyakan pa?" Nindy memegang bahu Bryan
"Iya sayang, papa cuma lagi fokus nyetir"
"oohh bagus deh" Cia tersenyum lalu kembali memainkan handphone Nindy
Sesampainya disana kebetulan di parkiran bertemu dengan keluarga Damar lalu Nindy menitipkan Cia pada mereka
"Sayang jangan marah" Nindy membetulkan jas Bryan dan dasinya
"Gak biasa aja" Bryan membuang pandangannya
"Aku janji nanti malam " Nindy menangkup wajah Bryan dan mengecup bibirnya menjadi objek foto para wartawan yang di undang Leo
"Oke, aku tunggu janji itu" bisik Bryan menggandeng tangan Nindy dan tersenyum ke arah kamera
.
.
''Dimana kak Leo? " Nindy mencari Leo ke ruang rias pengantin
Dara tampak sudah cantik menggunakan gaun pengantin tapi wajahnya tampak gusar
pasalnya ijab kabul akan di gelar sebentar lagi tapi Leo belum juga muncul
sudah di telepon beberapa kali tapi handphonenya mati
"Gimana atuh ini teh udah mau di mulai" ucap Ibu Dara ikut panik karena ini pernikahan pertama untuk anak semata wayangnya
Tring tring
Sebuah pesan dari handphone Dara
Dara langsung mengambilnya dan membuka pesan itu
ternyata pengirimnya adalah Meira dia mengizinkan sejumlah foto
Leo tertidur di tutupi selimut tapi nampaknya tidak memakai pakaian dan berhadapan dengan pay*d**a seseorang yang tidak di foto wajahnya
"Brengsek" gumamnya mencengkram erat handphonenya lalu pergi dari ruangan itu
"Neng mau kemana neng? " teriak ibunya melihat Dara menjauh
"Ibu sama ayah tunggu sebentar Dara ada urusan" melihat Dara yang tergesa gesa Nindy mengejar Dara keluar
Saat Nindy tiba di luar Dara sudah pergi dengan taksi
Jika memberi tahu orang lain akan membutuhkan waktu Nindy mengambil kunci mobil dari dompetnya dan mengejar taksi Dara
"Rumah Meira" gumam Nindy saat tiba disana
Dara masuk terburu buru di ikuti Nindy yang berlari dari belakangnya
mencari kamar Meira satu demi satu di dalam rumah itu
Saat membuka kamar yang berpintu merah muda itu Dara dan Nindy di kejutkan dengan dua sosok makhluk yang tidur berhadapan
Dara segera ke kamar mandi Meira membawa wadah dan mengguyur mereka di tempat tidur
__ADS_1
Sontak saja keduanya terkejut dan langsung bangun
Leo memijat tengkuknya sesekali meringis saat dia membuka mata di hadapannya sudah ada Dara dengan gaun pengantin tapi air matanya membasahi pipinya dengan bibir bergetar
Nindy hanya mematung mungkin dia shok melihat kejadian ini begitu pun Meira yang masih dalam mode bingung
"Sayang kamu disini" Leo tersenyum manis belum menyadari situasinya
"Hei, kenapa menangis? " Leo turun dari ranjang hanya menggunakan celana pendek bajunya berserakan di lantai
Plak plak plak plak
Dara menampar wajah Leo bolak balik membuat Leo hanya menganga memegangi pipinya
"Sayang kenapa? " pertanyaan Leo menggantung kala melihat Meira di ranjang dan dia melihat tubuhnya yang tidak memakai pakaian
"Astaga" gumamnya
"Kenapa Leo? kenapa harus hari ini? kenapa gak dari awal kamu bilang kalo kamu gak pernah cinta sama aku"
"Pantas selalu ada dia dimana kita selalu berdua, aku mundur Leo aku mundur" perlahan Dara menanggalkan gaunnya menyisakan kemben dan celana pendek ketatnya membuat jakun Leo naik turun
"Ambil baju ini Meira, kalian cocok, pengkhianat sama penggoda sama sama cocok semoga kalian dapat melebur bersama" hardik Dara air matanya terus mengalir dengan derasnya
"Makasih buat semuanya, aku kembalikan semua yang bukan milik aku" Dara melepas cincinnya dan menjatuhkannya di hadapan Leo
"Sayang ini gak seperti yang kamu bayangin, subuh aku udah berangkat ke gedung tapi di jalan tiba tiba.. " perkataan Leo terpotong saat Meira menyela
"Gimana nasib gue kedepannya, siapa yang mau menerima gadis yang udah gak suci lagi" ucap Meira menangis
"Diam lo brengsek gue yakin dan gue tau pasti kalo gak ada yang terjadi diantara kita" teriak Leo
"Tapi kita udah lakuin itu aauw" Meira nampak kesakitan
"Leo mungkin kita emang gak berjodoh gue harap setelah ini kita gak perlu ganggu hidup satu sama lain, mulai hari ini lo hanya serpihan kenangan buat gue" ucap Dara sebelum benar benar pergi
Dara melangkahkan kakinya keluar kamar dan Leo mengejarnya lalu memeluknya erat dari belakang
Dara memejamkan matanya berusah melepas pelukan Leo
"Dara Dara cepet pake baju gue di luar udah banyak orang" Nindy berlari dari arah luar mengambil baju yang dia bawa dari mobil
Bergegas Dara melepas tangan Leo dan segera memakai baju setelan tidur milik Nindy
benar saja saat Dara selesai memakai baju warga dan awak media memaksa masuk berbondong-bondong
"Ada apa ini? " Nindy panik menyembunyikan Dara di belakangnya
"Seseorang memberitahu kami bahwa orang yang punya rumah ini kumpul kebo" ujar salah satu pria yang bisa di pastikan itu adalah ketua RT
"Ini perempuannya di dalam pak" teriak warga masuk ke kamar Meira
"Kalian harus di nikahkan atau kalian akan di serahkan ke kantor polisi"
"Nikahkan saja pak, mereka saling mencintai" Dara keluar dari punggung Nindy lalu pergi begitu saja
"Dara.. Dara " Leo berusaha mengejar tapi tangannya di pegang oleh warga
"Gue kecewa sama lo Meira bisa bisanya lo bikin hal sepicik ini, mulai sekarang anggap kita gak pernah saling mengenal" Nindy keluar kamar Meira dan membawa baju pengantin Dara
"Satu lagi gaun ini gak akan pernah pantes buat wanita licik" Meira meneteskan air mata mendengar kata kata Nindy
Dia tidak merencanakan ini tapi ini sudah terjadi dia bisa memanfaatkannya untuk mendapatkan Leo
Nindy mengejar Dara tapi tidak dia ke hilangan jejak
Dia segera menelpon Bryan dan menyuruh acara di bubarkan sementara Nindy akan pulang menjelaskan semuanya pada kedua keluarga
__ADS_1