Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Dijodohkan Dengan Ketos Galak
eps 99


__ADS_3

Hari berikutnya Nindy benar benar membeli minimarket tersebut


di rumah Nindy hanya menghabiskan waktunya untuk menikmati makanan dan cemilan yang di stok di rumahnya


"Sayang kamu gak mau jalan jalan atau shoping gitu? " ucap Bryan yang baru saja pulang bekerja


"Gak mau sayang aku gampang cape kalo jalan jalan, lagian beli apapun bisa online" jawabnya sambil terus mengunyah


"Apa kau mau menjadi atlet sumo? " gurau Bryan membuat Nindy langsung menghentikan kunyahannya menatap Bryan horor


"Kamu bilang aku jadi atlet sumo? memangnya aku udah segendut itu ya? kamu masih suka gak kalo aku gendut apa kamu akan cari lagi wanita yang cantik dan seksi? Bryan jawab" Nindy berbicara tanpa titik koma tapi Bryan tidak menjawab dia hanya mengulum senyumnya


"Aku gak bakal cari yang lain sayang aku cuma gak bisa jamin kehidupan kita kedepannya aku takut bangkrut dan gak bisa beliin kamu cemilan Segunung lagi" Bryan mencubit pipi Nindy sambil berlalu pergi


"Siap siap bentar lagi kita ke dokter" lanjut Bryan sebelum benar benar pergi


"Hah aku belum siap" gumam Nindy


Beberapa saat kemudian Bryan dan Nindy sudah bersiap meskipun dengan paksaan akhirnya Nindy mau ikut ke dokter


"Mama lama banget" ujar Cia yang sedari tadi menunggu di mobil


"Anak kecil cerewet" Nindy mencubit gemas pipi anaknya itu membuatnya memberangus kesal


"Inget nanti pulang beliin martabak" lanjut Nindy pada Bryan seraya memakai sabuk pengaman


"Iya kalo perlu satu gerobak kamu bawa pulang" jawab Bryan


Setibanya di rumah sakit seperti biasa para pasien mengantri untuk untuk di panggil


dengan hati berdebar Nindy meremas setiap jari jarinya


Bryan yang melihat itu menggenggam tangan istrinya yang sangat basah karena keringat


"Kamu gugup? " tanya Bryan


"Kalo bisa aku gak mau ada cek kandungan" lirih Nindy


"Mama sama baby pasti baik baik aja" Cia memeluk Nindy mengusap perutnya


Sebelah tangan Nindy memeluk Cia dan sebelah lagi di genggam Bryan


tiba panggilan untuk Nindy dia membuang nafas kasar sebelum masuk


dokter mulai meletakkan alat USGnya di atas perut Nindy


"Tuan dan nyonya seperti anda ketahui sebelumnya pasca kelahiran anak pertama yang menimbulkan robekan mulut rahim yang cukup besar dan tidak pulih seperti semula kandungan anda sangat rentan bahkan bisa saja sampai membahayakan nyawa keduanya" jelas dokter


"Lalu apa yang harus kita lakukan dok ? " tanya Bryan


"Aku akan tetap membiarkannya tumbuh dan akan menjaganya sebaik mungkin kejadian kemarin tidak akan terulang lagi" Nindy segera berkata sebelum dokter kembali bicara


Dokter menatap Bryan yang hanya mengangguk seolah berkata untuk dokter membiarkan apa yang di inginkan istrinya


"Baiklah jaga dengan hati hati saya akan meresepkan penguat kandungan dan jika terjadi tanda tanda seperti


Sensasi tekanan panggul


Sakit punggung


Kram perut ringan


Perubahan kep***han

__ADS_1


Pendarahan va***a ringan


segera periksa kembali"


"Baik terimakasih dok kalau begitu kami permisi"


Sepanjang perjalanan Nindy hanya diam meskipun Cia dan Bryan memancingnya


Bryan menggenggam tangan Nindy kemudian menatap Nindy dan tersenyum


"Semua akan baik baik saja" ucap Bryan kemudian


"Ya aku cuma terlalu khawatir" lirih Nindy


"Jangan terlalu di pikirkan, hari ini kita makan sepuasnya" seru Bryan


Sesuai janji Bryan membelikan martabak untuk Nindy


entah karena masih kenyang atau pikirannya yang membuat nafsu makannya berkurang


"Bang dua ya" seru Nindy


"Yakin gak mau nambah? " tanya Bryan


"Gak, ini aja satu buat Dara" jawabnya


"Kamu udah kenyang? "


"Cuma gak nafsu aja"


Setibanya di rumah Leo dan Dara


Cia langsung pergi ke kamar ditemani Inem


"Hey hati hati"pekik Bryan


" hah aku lupa" lirih Nindy


"Kenapa wajahnya di Tekuk gitu? " tanya Dara


"Susah buat gue sekarang hamil normal Ra" Nindy memijat keningnya


Saat Leo hendak bicara Dara memberi kode dengan kelima jarinya dan para lelaki itu memilih pergi ke ruang bekerja


"Gak ada yang mustahilkan kalo Tuhan sudah berkehendak? lo kembali di kasih kepercayaan bukannya itu tandanya lo orang yang dapat di percaya untuk menjaga titipan nya, lo ibu yang baik, lo ibu yang kuat, bahkan gue berpikir akan belajar mengurus anak dari lo" ucap Dara


"Gue cuma takut kehilangan untuk kedua kalinya Ra" kini air mata Nindy mulai menetes


"Semua sudah di atur yang maha Kuasa Nindy, berdoa agar semua di kuatkan dan di lancarkan dan di sehatkan pada waktunya melahirkan nanti, manusia cuma mampu berdoa dan berusaha sisanya urusan tuhan" Dara menghapus air mata Nindy bergantian


"Lo bener kenapa gue sebego itu" ucap Nindy kemudian terkekeh


"Martabak nih kayaknya enak" Dara membuka bingkisan yang di bawa Nindy


"Iya buat lo satu"


"Thanks adik ipar, ohh iya lo sekarang lebih berisi" ucap Dara


"Entahlah sekarang gue lebih suka makan gak tau berat badan gue nambah berapa sampe males gue mau nimbang berat badan" jawab Nindy mulai memakan martabaknya


"Gak apa apa, bukannya bagus? lo gak perlu cape muntah muntah setiap pagi itu akan bagus juga buat kandungan lo kalo lo makan dengan lahap, tapi kontrol juga mana yang baik buat kandungan dan mana yang enggak"


"Iya kakak ipar cerewet"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kantor Damar


Di tengah sibuknya aktivitas kantor hari itu Damar sedang melakukan interview dengan karyawan yang akan masuk ke perusahaannya


dia memang selalu memilih karyawannya sendiri agar lebih terjamin dan tidak ada kata the power of ordal yang akan membuat kinerja kantor buruk


"Loh kamu ngelamar kerja? bukannya kamu punya pabrik di kampung? " tanya Damar pada Wina yang menjadi canggung karena sudah lama tidak bertemu


"Ya.. itu heheee aku bangkrut makanya cari kerja" jawab Wina


"Lalu tunangan kamu bukannya dia juga pengusaha? " tanya Damar


"Aku cuma mau mandiri gak harus bergantung sama orang lain"


"Kayaknya sekarang kamu berbeda dari dulu"


"Emangnya aku gimana dulu? " tanya Wina seraya mengerutkan alisnya


"Gak, interview selesai kamu bisa kerja mulai besok" ucap Damar


"What? aku belum di tanya apa apa" pekik Wina


" bukannya tadi aku udah tanya kamu ya? " tanya Damar


"Ohh iya ya tapi... " Wina menggaruk kepalanya tak gatal


"Ternyata masih sama" gumam Damar mengulum senyumnya


"udah ketemu sama Nindy dan Dara? " tanya Damar


" Belum aku gak tau alamat rumah mereka" lirih Wina


"Aku telepon Leo dulu kali aja mereka ada di rumah"


"Bukannya Leo gagal nikah sama Dara? " tanya Wina


"Ya awalnya tapi gak ada yang bisa pisahkan mereka" jawab Damar


''Hubungan Dara sama Nindy dramatis ya pisah ujung ujungnya balik lagi kayak sinetron " ujar Wina


"Kamu juga mau kayak gitu? " goda Damar


"Gak, aku gak sekuat mereka aku takut gila" jawab Wina cekikikan


"Sebentar" ucap Damar kala teleponnya tersambung


"*Hallo Leo Dara ada di rumah gak? "


"Ohh Nindy juga di situ? "


"Suruh jangan kemana mana dulu gue punya kejutan buat mereka"


"oke gue otw kesana*"


"Kebetulan Nindy juga disana, ayo aku anter ketemu mereka" ucap Damar pergi mendahului Wina


"Waaahh pak bos baik banget mau nganterin bawahannya" pekik Wina mengejar Damar


***Hai para pembaca setia kangen nih beberapa hari gak up


disini kemarin sempat hilang signal beberapa hari semoga kedepannya bisa up setiap hari lagi ya

__ADS_1


jangan lupa like komen dan vote 😍😍***


__ADS_2