
Nindy terus saja mondar mandir menunggu kepulangan Leo
sebuah mobil berhenti di halaman Nindy segera menghampiri
"loh kak Leo mobilnya mana? " tanya Nindy
"Mogok, cepet masuk " Leo merangkul bahu Nindy
"Gue pamit ya nin" ucap Meira yang pindah ke tempat pengemudi
"Mampir dulu kita ngeteh atau ngobrol gitu" ajak Nindy
"Kapan kapan aja ya, gue masih ada perlu"
"Ya udah sana " usir Leo
Meira hanya tersenyum masuk kedalam mobil
setelah kepergian Meira Leo dan Nindy masuk dan Leo langsung membawa Nindy ke kamarnya
"Kenapa kesini? " tanya Nindy
"Tadi di jalan Roy ngirim email katanya bukti bukti kejahatan Mark"
Mereka melihat semua bukti bukti kejahatan Mark kematian kakek dan ayah mereka adalah perbuatan Mark
Juga kecelakaan yang menimpa mereka bahkan Roy memprediksi sebenarnya ibu mereka masih hidup dan di sembunyikan
"****" Leo menggebrak meja
"Ini udah jadi bukti kuat kak, gimana nasib Cia dia pasti di culik Mark" Nindy mulai panik
"Aakkkhhh" Nindy memegangi perutnya
"Kenapa? " Leo yang panik segera membopong Nindy keranjangnya
"Perut gue" Nindy menggigit bibir bawahnya serta mencengkram erat seprei
"Tunggu" Leo berlari keluar mencari pertolongan dan menelpon dokter
Mama Damar mendengar ribut ribut segera menghampiri Leo
setelah mengetahui apa yang terjadi dia kembali ke bawah untuk mengambil air hangat di dapur
"Tenang ya tenang rileks jangan tegang kamu lagi hamil" Mama Damar meminumkan teh hangat pada Nindy
"Tapi Cia tante, gimana Nindy bisa tenang Nindy takut" Nindy terisak di pelukan Mama Damar
"Bryan udah ke kantor polisi, kita juga punya Leo dan anak buahnya Cia pasti di temukan kita berdoa saja"
Bryan yang baru saja keluar dari mobil sepulang dari kantor polisi berpapasan dengan dokter yang di telepon Leo
merasa ada yang tidak beres Bryan mempercepat langkahnya
Dia menuju kamar Leo yang terbuka
"Sayang, hei kamu kenapa? " Bryan duduk di samping Nindy setelah Mama Damar pergi
"Cia aku.. aku takut Cia kenapa napa" Nindy kembali terisak
"Dia akan baik baik saja dia anak yang hebat"
"Selamat sore, Maaf saya sedikit terlambat" ujar dokter langsung memeriksa Nindy
"Kemarin saya sudah bilang bu jangan setres, apa ibu Nindy tidak pernah cerita bahwa kandungannya bermasalah? " tanya dokter membuat semua orang yang ada disana terkejut
"Kandungan ibu Nindy lemah, dia tidak boleh kecapekan dan terlalu setress berlebihan, saya resepkan obat penguat kandungan... apa yang kemarin masih ada? " Nindy hanya diam sesekali mengusap air matanya
"Obat? dimana obatnya? " tanya Bryan Nindy hanya menunjuk laci disamping ranjang
"Obatnya masih utuh, Kenapa kandungan istri saya bisa lemah dok kita pernah memiliki anak tidak pernah terjadi apapun" ucap Bryan
"Itu dia pak ketika melahirkan anak pertama rahim ibu Nindy jadi bermasalah juga ada trauma, menurut cerita ibu Nindy kelahiran anak pertamanya karena sebuah insiden jadi janinnya terpaksa harus di keluarkan karena sudah pendarahan dan itu mempengaruhi rahim ibu Nindy sampaisekarang, kita lihat kedepannya jika kandungan dan ibunya baik baik saja kita bisa mempertahankannya tapi jika masalah berlanjut kita terpaksa harus mengeluarkannya" dokter pamit setelah memberikan tambahan obat
Deeegggg
__ADS_1
Bryan memijat keningnya dia merasa begitu bersalah ternyata kejadian dulu sangat berpengaruh untuk hidup Nindy
Bryan duduk di samping Nindy memeluknya erat sesekali mencium kepalanya
Leo yang mengerti mereka butuh waktu berdua segera keluar menutup pintunya
"Gak apa apa, kamu ibu yang kuat aku percaya kamu bisa jaga anak anak kita" Bryan mengelus kepala Nindy
"Tapi... tapi gimana kalo.. "
"Ssssttt jangan bicara lagi, kita punya Tuhan kita hanya harus berdoa" Nindy mengeratkan pelukannya
.
.
Di tempat Mark Cia duduk termenung di tempat tidur
tidak ada tangan terikat atau mulut di lakban dia hanya di kurung di tempat yang kedap suara
di dalamnya sudah terdapat beberapa cemilan dan minuman di dalam kulkas
"Ini dimana sih? aku mau pulang" rengek Cia
Tiba tiba pintu terbuka Mark masuk dengan anak buahnya yang selalu menerjemahkan bahasa
"Om lagi om lagi, mau apa sih? " gerutu Cia
"Hai manis, kamu suka tempat barunya? "
"Aku mau pulang aku kangen mama"
"Sebentar lagi oke, kita akan bermain main sebentar"
"Main apa om? " tanya Cia
"Duduk disini sebentar"
Cia menuruti duduk di sebuah kursi dan di ikat serta mulutnya di lakban
kemudian Mark membuat video seolah olah dia berniat mencelakai Cia
"Jadi kapan Cia pulang? " tanya Cia
"Nanti mama kamu jemput sekarang makan lalu tidur" ucap Mark mengacak pelan rambut Cia lalu pergi
"Om itu siapa sih"
.
.
Handphone Nindy berdering dia membukanya sebuah video yang di kirim nomor tidak di kenal
tangan Nindy bergetar saat membuka video tersebut
dia berteriak membuat semua orang di bawah berhambur naik ke kamar Nindy
"Ada apa sayang? " tanya Bryan
"Ci.. Cia " dengan gemetar Nindy memberikan handphonenya
"B*ngs*t " Leo meninju dinding
" Ini gak bisa di biarin kita harus cari dia malam ini juga" ucap Bryan mengambil kunci mobil bergegas pergi
"Titip Nindy tan" ucap Bryan sebelum pergi
Leo, Bryan dan anak buahnya sudah berkumpul sedang mencari keberadaan markas Mark
Roy meretas CCTV dari sekolah Cia dan beberapa cctv lain mengikuti arah mobil itu pergi
CCTV terakhir mengarah ke sebuah hutan disana tidak ada CCTV lain lagi
"Kita cari kesana, telusuri semua hutan itu panggil lebih banyak anak buah bila perlu minta bantuan preman yang kalian kenal" titah Leo pada Roy
__ADS_1
Disaat mereka sedang meretas CCTV dan membutuhkan waktu agak lama Nindy kembali di kirimi pesan oleh nomor yang berbeda
sebuah alamat dan dia di minta kesana sendiri
tanpa pikir panjang Nindy diam diam pergi dari rumah
Di perjalanan Nindy mengemudi dengan cepat seseorang melihat itu dan mengikutinya dari belakang
melihat raut wajah Nindy yang panik dan sedang menangis dia berinisiatif mengikutinya
Sesampainya di sebuah gedung tua Nindy tanpa ragu masuk kesana
sepi tidak ada satu orang pun
"Hei keluar" teriak Nindy dengan lantang
Prok prok prok
Seseorang keluar sambil tertawa dia duduk di sebuah meja usang
Nindy menatap nyalang kemarahannya memuncak melihat siapa yang ada di balik semuanya
"Hai Nindy apa kabar? " ucap Maria dengan nada menyindir
"Dimana anak gue" bentak Nindy
"Uuhhh takut, lo kayak macan kehilangan anaknya"
"Lo mungkin gak akan bisa ketemu dia lagi buat selama lama lamanya hahahaa" Maria tertawa jahat
"B*ngs*t" Nindy berlari menendang Maria sampai terjungkal
Maria terkejut melihat Nindy yang sekarang tapi dia berusaha menetralkan keterkejutannya
dia tidak menunjukan kelemahannya dia semakin merendahkan Nindy untuk menjatuhkan mentalnya
" Gimana rasanya beberapa kali kehilangan anak? "
"Bukannya sekarang lo lagi hamil? relain aja anak sulung lo toh bentar lagi ada gantinya"
"Diam brengsek lo gak tau gimana rasanya jadi seorang ibu, atau mungkin lo gak pantes jadi seorang ibu"
"Lo itu munafik, kenapa lo masih mau sama Bryan padahal jelas jelas dia udah maen gila sama gue" ucap Maria
"Bohong gue udah tau semuanya, lo sengaja jebak Bryan lo juga sengaja bikin gue biar celaka dan gue lebih gak Terima lo pisahin gue sama anak gue lagi dan lagi" terlihat kemarahan di mata Nindy
" Lo tau dari mana? dari Meira? kalo mereka sekongkol gimana lo juga taukan busuknya Meira "
"Gak dia udah berubah, gue yakin dia orang yang masih punya hati nurani"
"Hati hati dengan musuh dalam selimut" Maria berusaha menggoyahkan keyakinan Nindy
"Gak gak mungkin gue percaya sama mereka"
"Dasar bodoh hahaa" Maria tertawa
Nindy yang geram menyerang Maria bertubi tubi
karena Maria tidak bisa bela diri dia kalah telak
dia beringsut duduk bersandar di dinding mengelap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah
"Dimana anak gue" bentak Nindy
"Dia di bawa Mark tapi gue gak tau sekarang markasnya dimana uhuk uhuk" Maria terbatuk bibirnya terus mengeluarkan darah
"Bedebah seperti kalian pantas mati" hardik Nindy berbalik hendak pergi
Maria bangkit mengambil balik kayu hendak memukul Nindy dari belakang
Maria berjalan tertatih mengendap endap
"Nindyy... awas"
Bughhhhh
__ADS_1
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Jangan lupa like komen dan Vote beri dukungan buat author 😍😍😍