
Matahari sudah meninggi cahayanya yang masuk ke celah celah jendela pun tidak dapat membangunkan Dara yang tertidur pulas
tiba tiba dia tersentak dari tidurnya karena selimutnya di lepas paksa
"Ada apa? " tanya Dara yang masih dalam mode setengah sadar
"Ini udah jam berapa kenapa masih tidur? " tanya Leo
"Sebentar lagi aku ngantuk" Dara kembali memejamkan matanya
"Aawwww" Dara tiba tiba menjerit saat Leo tidur di atas tubuhnya
"Kamu berat awas menyingkirkan " Dara mendorong tubuh Leo
"Aku gak mau bangun sebelum kamu bangun" ucap Leo
"Oke oke aku bangun, awas aku bisa mati sesak nafas" Dara bicara terengah
"Sekarang bangun dan mandi, kita jemput ibu di pasar kasihan jalan kaki" ucap Leo
"Iya, ya udah keluar"
"Aku mau ikut mandi" ucap Leo sambil menaik turunkan alisnya
"Jangan gila" Dara melempar Bantal ke wajah Leo lalu lari ke kamar mandi sambil tertawa cekikikan
"Awas ya aku balas nanti"
Sekarang mereka sedang berada di mobil hendak menjemput ibu Dara
setelah sampai di pasar ternyata ibu Dara sudah menunggu kendaraan di pinggir jalan
"Meira? pantesan aja dari pagi gak keliatan" gumam Dara
"Cewek tuh harusnya bangun pagi, masa kamu kalah sama Meira yang bantuin belanja ibu kamu" celetuk Leo tiba tiba membuat Dara menatapnya horor
"Iya karena aku bukan cewek jadi bangunnya siang" ucap Dara dengan segala kekesalannya lalu memalingkan wajah ke luar jendela
Leo berhenti di depan ibunya Dara dan membantu memasukkan belanjaannya
sementara Dara masih dalam mode kesalnya yang hanya duduk di dalam mobil
"Kamu itu jadi perempuan kok bangunnya siang banget, gimana nanti jadi istri? liat neng Meira aja bangunnya subuh bantuin ibu juga di rumah" ucap Ibu Dara
"Biarkan bu mungkin Dara sedang lelah, toh nanti kalau sudah jadi istri dia gak akan saya biarin cape cape " pungkas Leo
"Terimakasih nak Leo sudah memaklumi Dara, tapi anak perempuan itu harus berbakti sama suami jangan mentang mentang nanti ada art dia jadi keenakan gak ngurus suami" ibu Dara mulai berceramah
"Iya bu nanti saya yang akan ingatkan" ucap Leo karena Dara hanya diam dengan wajah yang tidak sedap di pandang mata
Sesampainya di rumah Dara turun lebih dulu dari mobil dan membawa seluruh belanjaannya sendiri
__ADS_1
"Gitu nak Leo kalo di nasehatin pasti ngambek "
"Biarkan saja bu nanti saya yang bicara" Leo menggandeng ibu Dara masuk dan menyuruhnya istirahat di kamar
Dara langsung memasak dengan wajah cemberut
bahkan memotong sayuran dengan kasar
dia kesal dengan ibunya yang menyamakannya dengan Meira karena telat bangun hari ini saja
biasanya Dara membantu ibunya tapi entah kenapa pagi ini dia begitu lelah
"Gue bantu ya Dara" ucap Meira
Bukannya menjawab Dara malah dengan kasar menancapkan pisaunya pada talenan
membuat Meira tersentak kaget Dara menatap tajam pada Meira membuat Meira melepaskan sayuran yang di pegangnya
"Gue gak perlu bantuan, gue udah biasa masak sendiri" Dara menekankan kata biasa karena memang dia suka memasak di rumah berbeda dengan Meira yang di masakkan art atau beli di luar
"Sayang " Leo baru saja datang melewati Meira dan memeluk Dara dari belakang
"Sayang "
"Sayang"
"Sa yang" Leo memanggil Dara tapi dia masih tidak menjawab dan tidak menghiraukan Leo
Dia masih sibuk dengan pekerjaannya tanpa memperdulikan dua makhluk di belakangnya
Meira pergi dari dapur hanya tinggal Leo dan Dara di sana
Leo membalikan tubuh Dara mencium bibir Dara bertubi tubi
Dara hanya menatapnya datar dan kembali berbalik memotong sayuran
"Apa sih? "
"Akhirnya bersuara aku kira kamu lagi bisu" ucap Leo lalu menggigit pipi Dara
"Awww, kamu kenapa sih " Dara memandang Leo dengan kesal
"Kamu yang kenapa tiba tiba mukanya gak enak di pandang gitu"
"Muka yang enak di pandang itu yang kayak gimana? yang bangunnya pagi pagi? yang bantuin dari subuh? come on aku baru kesiangan hari ini Seolah aku gak pernah berguna di rumah" Dara meluapkan kekesalannya
"Sayaang kamu gak perlu sekesal ini, nanti kalo kamu jadi istri aku gak perlu bangun pagi, gak perlu cape cape beres beres, kamu cuma perlu layanin aku di ranjang" Leo berbisik di akhir kalimatnya dan langsung dapat tabokan di lengannya oleh Dara
"kenapa? emang bener aku gak mau kamu cape dengan urusan rumah kamu cuma boleh cape urusan... mpphh" Ucapan Leo terpotong saat Dara membekap mulutnya
"Diem.. kamu mesum mulu'' Dara berlari memukul Leo yang kabur dari Dara
__ADS_1
"Kamu berani ya sekarang, aku bikin perhitungan nanti tentang ini" Dara berhenti lalu melanjutkan masaknya
Meira hanya tersenyum sendiri melihat Leo dan Dara
dia berpikir 'coba yang ada di posisi Dara itu aku'
tapi dia kembali sadar itu mustahil
Meira pergi dari persembunyiannya ke kamar
.
.
Di kantor Bryan sepasang suami istri sedang ribut
entah apa yang mereka ributkan sampai sampai para pekerja yang hendak laporan jadi kembali ke tempatnya karena mendengar perdebatan mereka dari luar
"Kamu bohong sama aku? " tanya Nindy
"Aku gak bohong sama sekali, itu cuma klien sayang" jawab Bryan
"Klien macam apa yang berani duduk deket deketan sampai pegang pegang? " teriak Nindy
"Aku gak tau kenapa dia lakuin itu"
"Terus kenapa kamu diem aja? kamu suka di raba raba wanita lain? atau kamu berniat selingkuh? " ucap Nindy dengan nada tinggi
"Ini di kantor sayang jangan marah marah malu di dengar orang"
"Terus kalo aku marah marah kamu mau apa? aku harus biarin cewek lain raba raba suami aku? kalo aku gak datang mungkin kamu udah lakuin hal lain sama dia" teriak Nindy Bryan memijat keningnya tidak menjawab perkataan Nindy
Ya hari ini Nindy berniat membawa makan siang untuk Bryan
namun saat sampai di ruangannya dia melihat klien Bryan dengan pakaian yang super seksi sedang duduk berdekatan dan terlihat memainkan kancing kemeja Bryan
Nindy juga dapat melihat wanita itu menggesek gesekan kakinya ke kaki Bryan
Dan entah kenapa Bryan sepertinya menikmati hal itu
dia hanya diam saja membaca dokumen kerja sama yang di ajukan pihak kantor wanita itu
Nindy yang sudah mendidih ubun-ubunnya langsung mengusirnya tanpa basa basi dan mengintrogasi Bryan seperti penjahat yang di tangkap polisi
"Aku juga gak Terima kerja samanya, aku gak bakal ketemu dia lagi" ucap Bryan menarik Nindy yang berdiri di sampingnya lalu memeluknya
"Terus dengan begitu memangnya aku udah maafin kamu? Jangan sentuh sentuh najis aku di sentuh tangan yang udah nyentuh cewek lain" Nindy menepis kasar tangan Bryan lalu pergi
"Sayang mau kemana? bekalnya kenapa di bawa lagi" Bryan mengejar Nindy yang benar benar marah kali ini
"Bos kita sedang dalam masalah" ujar salah satu karyawan ke karyawan yang lain
__ADS_1
***Like, komen dan voteππ
Kasih dukungan author biar otaknya fresh cari inspirasi buat nulis π***