
di sebuah tempat dua orang wanita sedang bertemu dengan sekumpulan preman
siapa lagi kalau bukan Maria dan Meira yang berada di tempat kumuh dan jauh dari keramaian
Meira bergidik ngeri di tempat itu dia takut preman itu malah macam macam dengan mereka
berbeda dengan Meira Maria tampak begitu santai
Maria menyerahkan amplop berisi uang yang cukup banyak
Di kediaman Bryan seseorang sedang menonton TV dengan cemilan yang cukup banyak di dekatnya
ya.. siapa lagi kalau bukan Nindy
semakin besar kehamilannya dia semakin susah untuk apapun dia hanya diam di rumah dan terus mengunyah
*T**riinnggg*
Sebuah pesan masuk ke handphone dengan malas dia meraihnya di meja
dia membuka pesan seraya senyum senyum sendiri
*S**uamiku*
nanti malam aku tunggu di cafe seafood jam 8 malam
istriku
mau ngapain emang?
*S**uamiku*
Aku cuma mau dinner aja
Nindy mengacak semua baju yang ada di lemari
semua sudah dia coba tapi tidak ada satu pun yang cocok menurutnya
bunda yang kebetulan lewat melihat pakaian berserakan di lantai
bunda membuka pintu menggeleng menatap Nindy di hadapan cermin
Bunda masuk memunguti pakaian di lantai
Nindy yang menyadari bunda memunguti pakaian dia pun bergegas memungutinya juga
"Gak apa apa Bun biar Nindy aja" ucap Nindy
"Kamu lagi apa sih sayang, kok berantakan banget?" tanya bunda
"Nindy di ajak kak Bryan dinner Bun jadi bingung mau pake baju apa" ucap Nindy tersipu
"Kamu itu cantik sayang pake baju apa aja bagus" ucap bunda bantu pilihkan baju
"hehe bunda bisa aja " ucap Nindy tersipu malu
"Pake ini aja sayang simpel tapi elegan" ucap bunda menenteng gaun
"Apa ini bagus Bun?" tanya bunda setelah memakainya
"Tentu saja" ucap bunda
"Nindy berangkat dulu ya Bun" pamit Nindy mencium tangan mertuanya
"Gak bareng aja sama Bryan nak?" tanya bunda khawatir
"Sekarang diantar supir dulu nanti pulangnya bisa bareng sama kak Bryan Bun" ucap Nindy
"Ya sudah hati hati ya" ucap bunda
Nindy memeluk bunda lama lalu mencium pipi mertuanya itu sebelum pergi
bunda tersenyum seraya menggeleng melihat tingkah laku Nindy
mungkin dia terlalu senang sampai sampai kelakuannya seperti itu pikir bunda
Sesampainya ditempat tujuan Nindy duduk menunggu Bryan
dia memesan minuman terlebih dahulu untuk menemaninya menunggu Bryan
lama Nindy menunggu Bryan tak kunjung datang
Nindy berusaha menelponnya tapi handphone Bryan sepertinya mati
Nindy menunggu sekitar 2 jam di restoran seafood tempatnya janjian
Bryan yang tak kunjung datang membuat Nindy bosan menunggu dan hendak pulang
Baru saja Nindy sampai pintu keluar sebuah pesan masuk ke handphonenya
pesan itu berisi Poto Bryan dengan seorang wanita bertelanjang dada memeluk wanita yang juga sepertinya sama
Nindy meneteskan air mata melihat Poto itu dia tahu betul siapa wanita yang di peluk Bryan sembari tertidur
Nindy menelpon bunda untuk sekedar mengadukan sikap anaknya yang telah mengkhianatinya
"Halo Bun, hiks hiks" ucap Nindy menangis tersedu
"Kenapa sayang? apa yang terjadi?"tanya bunda
"Kak Bryan selingkuh Bun hiks hiks, kak Bryan ternyata gak beneran sayang sama Nindy " ucap Nindy
"Gak mungkin sayang Bryan cinta banget sama kamu" ucap bunda
"Nindy gak bohong Bun, maafin Nindy kalo Nindy ada salah sama bunda, Nindy gak bisa pulang Nindy gak mau ketemu kak Bryan " ucap Nindy seraya mematikan teleponnya
"Halo sayang halo" teriak bunda
Bunda berusaha menelpon keduanya tapi tidak ada jawaban
Nindy malah mengirimkan Poto tak senonoh Bryan
bunda lemas sampai terjatuh dan menangis sejadi jadinya
Ayah yang baru masuk kamar terkejut melihat bunda menangis tersedu
terduduk di lantai mencengkram karpet
ayah segera menghampiri bunda dan memeluknya
"Bunda sayang bunda kenapa?" tanya ayah bunda memberikan handphonenya dengan tangan gemeteran
Ayah tidak kalah terkejutnya dengan bunda
sekarang ayah sedang murka apalagi saat mereka berdua tidak dapat di telepon
__ADS_1
Di tempat lain Nindy berjalan entah kemana arah dan tujuannya sekarang
dia mematikan handphonenya karena tidak ingin di telepon siapapun
Tanpa dia sadari sedari tadi ada yang mengikutinya sampai jalan yang begitu sepi
motor mereka mengelilingi Nindy membuatnya teringat kejadian dulu saat dia masih SMA
Di kejauhan Maria baru saja datang menghampiri Meira
setelah memotret dirinya dan Bryan dia bergegas pergi ingin melihat Nindy mati malam ini
flashback on
Bryan baru selesai meeting mewakili ayahnya saat semua orang pergi Bryan juga keluar dari tempat itu
tapi siapa sangka dia di bius dan di bawa ke hotel oleh Maria dan menjebaknya Maria membuat beberapa tanda merah di leher Bryan agar saat dia pulang dia terlihat habis melakukan sesuatu dengannya
lalu memotretnya
flashback off
Nindy terjatuh memegangi perutnya tapi preman itu tidak memiliki rasa kasihan
mereka turun dari motor mendekati Nindy
mereka menyentuh Nindy sesuka mereka
Nindy menjerit menangkis tangan mereka
tapi kekuatannya kalah dengan para lelaki itu yang bahkan berjumlah lima orang
Nindy sebisa mungkin melawan saat mereka melecehkannya
bahkan Nindy menendang salah satu diantara mereka membuatnya marah
dia menendang perut Nindy hingga darah segar mengalir dari pahanya
Nindy menjerit kesakitan tapi mereka tidak menghentikan aksinya sama sekali
Nindy meludahi mereka membuat mereka sangat murka
sreeetttt
Sebuah pisau menancap di paha Nindy membuatnya semakin kesakitan
Sekarang bukan hanya perutnya tapi sekujur tubuhnya juga sudah terasa remuk redam
"To..tttollooonng hentikan aku mohon hiks hiks" lirih Nindy memegangi perutnya
Nindy hendak mengambil handphonenya yang terjatuh tapi preman itu menendang handphonenya dan menginjak tangan Nindy
"Aaakkkkhhhhhh... tolong maafkan aku jika aku punya salah sama kalian" ucap Nindy
"Hiks hiks kalo kalian ingin nyawaku setidaknya tolong se..selamatkan anakkuuh" ucap Nindy
"Ya Allah lindungilah aku dan anakku, selamatkan kami ya Allah" ucap Nindy dalam hati
Kini baju putihnya sudah di penuhi dengan darah
dia memegangi perutnya berusaha bergeser dari duduknya tapi preman itu tidak membiarkan Nindy
mereka menyiksanya habis habisan
Meira yang melihatnya merasa iba mendengar jeritan pilu Nindy
"Mau kemana Lo? mau bantuin dia? Lo mau jadi sasaran selanjutnya?" ancam Maria membuat Meira tidak bisa berkutik
"Tolong hen.. ttii.. kkaann" ucap Nindy terbata dengan menghela nafas susah payah
Saat akan kembali memukuli Nindy tiba tiba sebuah tembakan melesat ke kaki salah satu preman
membuat mereka semua kabur termasuk preman yang tertembak
"Hei kembali kalian" ucap segerombolan pria bertubuh kekar
Mereka memeriksa keadaan Nindy yang sudah tergeletak tak berdaya
keadaannya yang sudah acak acakan dengan gaun yang robek dan dipenuhi darah membuat siapa saja yang melihat akan merasa iba
"Dia masih hidup bos" ucap bawahannya
"Kita bawa kerumah sakit" ucapnya lalu bergegas pergi dengan mobilnya
Maria membuntuti kemana pria itu membawa Nindy
Di hotel Bryan sudah mulai siuman dia melihat keadaannya tanpa sehelai benang pun merasa aneh
kepalanya begitu sakit tapi dia tidak bisa mengingat apa pun
hanya ada sebuah surat di meja kemudian dia meraihnya
"*Lo jahat Bryan kenapa lolakuin ini sama gue, Lo udah jebak gue renggut kehormatan gue
gue emang cinta sama lo tapi bukan ini yang gue mau
gue bukan cewek murahan, gue minta pertanggung jawaban dari lo.
Maria* "
Kurang lebih seperti itu surat yang di tinggalkan Maria
Bryan memijat pelipisnya dia masih memahami semuanya
kepalanya masih terasa berat dan pusing
dia mencari handphonenya dan ternyata mati saat dia aktifkan handphonenya dia melihat banyak panggilan dari orang tuanya dan Nindy
mengingat Nindy dia segera memakai bajunya dan pergi ke restoran tempat dia janjian
Tapi disana tidak ada Nindy dia menelpon tapi tidak di angkat
dia mengabaikan panggilan orang tuanya yang sedang khawatir karena Nindy belum juga pulang
Bryan menanyakan kepada para pelayan dan seorang pelayan melihat saat dia buang sampah Nindy pergi ke arah berlawanan dengan jalan pulang
Bryan segera mengikuti arah yang di tunjuk pelayan tersebut
Mobilnya melaju pelan berharap dia dapat bertemu Nindy di jalan
jalan yang di laluinya semakin sepi dan mengarah ketanah lapang tidak ada rumah sama sekali
bahkan sepertinya jarang di lewati orang
Bryan berhenti saat melihat sesuatu menyala dia turun dari mobil dan mengeceknya
ternyata itu adalah handphone Nindy
__ADS_1
setelah mengambil handphonenya dia berjalan maju tidak jauh dari sana masih ada darah segar menggenang dan jejaknya hilang begitu saja
Bryan menjadi tidak tenang melihat handphone Nindy yang rusak dan banyak darah
pikiran Bryan sudah kacau dia tau Nindy tidak baik baik saja
dia mencari sekeliling tapi tidak menemukan Nindy
Dia teringat orang tuanya yang sedari tadi menelpon
mungkin Nindy sudah di bawa pulang oleh orang tuanya
Bryan menelpon mereka tapi bukan Nindy yang dia temukan tapi dia mendapat amukan dari ayahnya
"Halo Bun apa Nindy '' ucap Bryan
"Pulang kamu brengsek, saya tidak pernah mengajarkan kamu berbuat seperti itu, kamu bertingkah layaknya binatang kamu tidak bisa bilang baik baik kalau kamu sudah tidak mencintai istrimu? saya tidak pernah mengajarkan kamu untuk semena mena pada perempuan, pulang sekarang atau saya akan menyuruh orang untuk menyeret kamu" bentak ayah
Tanpa pikir panjang Bryan Langsung pulang dengan kecepatan tinggi
sesampainya di rumah baru saja dia masuk dan menutup pintu
tapi sebuah tamparan membuatnya tersungkur
"Akhirnya pulang juga kamu anak brengsek" maki ayah
"Ada apa ini yah? kenapa ayah memarahiku?" tanya Bryan
"Ada apa katamu? kamu ini bodoh atau pura pura bodoh? apa tanda merah di leher kamu itu tidak menyadarkan apa yang sudah kamu perbuat?" ucap ayah otomatis Bryan langsung menyentuh lehernya
"Lihat sendiri dan jelaskan pada Nindy saat dia pulang nanti" ucap ayah melempar handphonenya ke wajah Bryan
Bryan mengambil handphonenya dia terkejut dengan Poto di handphonenya
dia segera naik ke kamar bundanya untuk bertanya
tanpa mengetuk pintu Bryan masuk menghampiri bunda yang sedang menangis di tenangkan ayah
Bryan bersimpuh di hadapan bundanya memegang kedua tangan bundanya
meskipun ayahnya sudah menjauhkan Bryan tapi Bryan terus berusaha mendekatkan dirinya
"Jangan sentuh istri saya" ucap ayah tegas Bryan memeluk kedua kaki bunda yang menjuntai di ranjang
"Bun Bryan gak tau apa pun Bun tolong percaya sama Bryan, Bryan yakin Bryan di jebak" ucap Bryan bersimpuh
"Tolong kembalikan Nindy Bun, Bryan gak bisa hidup tanpa Nindy " ucap Bryan mulai menangis
"Bunda tidak tau Nindy ada dimana?" ucap bunda tanpa menatap Bryan
"Bunda pasti bohongkan? kalian sembunyikan Nindy kan?" tanya Bryan menangis bunda menggeleng
"Jadi handphone dan darah itu'' ucap Bryan
"Handphone? darah? apa maksudnya Bryan? kemana Nindy?" tanya bunda histeris mencengkram kedua sisi kerah baju Bryan
Bryan menyerahkan handphone Nindy yang kacanya pecah
bunda langsung tidak sadarkan diri dia syok melihat handphone Nindy dengan keadaan tidak baik dan lagi Bryan menambahkan ada kata darah
Bryan menangis gemetar dia khawatir dengan dua wanita yang dia cintai
juga merasa bersalah dia juga bingung sebenarnya apa yang terjadi padanya
Bryan kembali mengambil kunci mobilnya dan pergi
Bryan kembali ke tempat dimana dia menemukan handphone Nindy
dia mencari Nindy kesana kemari tapi tidak menemukan Nindy juga
dia hanya menemukan potongan baju Nindy di tempat yang berlumuran darah
"Aaarrrggghhhhh sayang jangan main main, aku bersumpah sayang aku gak tau apa apa aku di jebak" teriak Bryan jatuh berlutut
Bryan menangis sejadi jadinya semua perkataan Nindy terngiang ngiang di kepalanya
"Kalo kamu berani selingkuh aku bakal tinggalin kamu, aku bawa baby sama aku biar kamu gak bisa ketemu kita lagi"
"Nindyyyyyyy , sayang kamu dimana? jangan tinggalin aku aaarrrggghhhhh" teriak Bryan dengan bercucuran air mata
Di rumah sakit Nindy masih kritis dia di pisahkan dari bayinya
seseorang terlihat sedang menungguinya di luar sesekali dia hanya melihatnya dari kaca
tiba tiba handphonenya berdering
" *Halo... apa kamu sudah menemukannya?'' tanya seseorang di sebrang telepon
"Belum bos kita lagi tolongin seorang wanita" ucapnya
"siapa? memangnya dia kenapa?" tanyanya
"Dia di siksa Sam preman bos, keadaannya mengkhawatirkan bos apa lagi dia lagi hamil" ucap pria tersebut
"Kirim saya alamat rumah sakitnya, besok saya kesana" ucapnya
"Baik bos*"
Ternyata masih ada orang baik di dunia ini
meskipun mereka tidak mengenal Nindy tapi mereka membantu bahkan menjaga Nindy selayaknya mereka sudah mengenalnya
Bryan kembali kerumah mengecek keadaan bunda
tapi kata bibi bunda sudah sadar dan sedang tidur membuatnya lega
Bryan ke ruangan kerja ayahnya dia mendengar ayahnya sedang menelepon
"Baik saya tunggu kabar baik secepatnya, tolong temukan menantu saya dalam keadaan baik baik saja" ucap ayah
Bryan mengetuk pintu lalu masuk
ayah masih tidak bicara tapi tiba tiba Bryan bersimpuh di kaki ayahnya
dia menangis bersumpah bahwa dia tidak melakukan apapun
Bryan memeluk kaki ayahnya meminta bantuan untuk menemukan Nindy
dia juga memperlihatkan robekan baju Nindy yang berlumuran darah
membuat ayah juga semakin khawatir
"Jangan kasih tau bunda soal ini, ayah akan cari tau apa yang sebenarnya terjadi" ucap ayah
"asal kamu benar benar tidak pernah melakukan seperti yang di tuduhkan ayah akan memaafkanmu jika terbukti kamu tidak bersalah" ucap ayah
"Terimakasih ayah" ucap Bryan bangkit memeluk ayah seraya menangis
__ADS_1
*Like komen and vote**😍*😍😍