Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Dijodohkan Dengan Ketos Galak
eps 24


__ADS_3

Nindy semakin menangis karena perlakuan Bryan


dia sadar dia memang salah tapi dengan sikap Bryan yang seperti itu sulit untuk Nindy menceritakan yang sebenarnya


" Bodoh banget kenapa gue gak jujur aja kemaren" gumam Nindy di sela Isak tangisnya


Nindy memunguti satu persatu pecahan piring di lantai


tanpa di sadari Nindy menginjak pecahan beling kecil


kakinya terluka mengeluarkan cukup banyak darah


"Kenapa hari ini gue sial banget" ucap Nindy mengambil p3k di dapur


Setelah membersihkan lukanya dan memperbannya


Nindy pergi ke sekolah mengendarai motornya


sesampainya di depan gerbang sekolah Bryan melihat Leo yang tersenyum padanya


Bryan yang juga melihat itu semakin di bakar api cemburu


dia sengaja mengobrol dengan Maria dan Meira berniat membuat Nindy cemburu


tapi Nindy hanya meliriknya sekilas lalu pergi masuk ke sekolah


melihat aksinya gagal Bryan menepis kasar tangan Maria yang memeluk lengannya


sikapnya kini berbeda dari sebelumnya


membuat 2wanita itu heran


" Lo kenapa sih bry..." ucap Maria terpotong


" Minggir sana, awas aja kalo Lo terbukti sebagai orang yang menyebarkan gosip di sekolah Nindy" ucap Bryan lalu pergi


"pagi zeyeng" ucap Dara dan Wina


"pagi" singkat Nindy lalu berjalan mendahului mereka


'' Lo kenapa jalannya pincang gitu?" tanya Dara


"gak apa apa, tadi gue kena pecahan piring" ucap Nindy


Dara dan Wina berinisiatif memapah Nindy masing masing berada di sampingnya


Nindy memutar matanya jengah dengan tingkah sahabatnya


"Lo pada kenapa sih? gue gak apa apa guys gue masih bisa jalan" ucap Nindy menurunkan tangan mereka yang memegang lengannya


"gue khawatir sama Lo dan baby" bisik Wina


Nindy tersenyum dengan perhatian kedua sahabatnya


Nindy menggandeng pundak keduanya merapatkannya ke tubuhnya


"kalian sayang banget ya sama gue?" tanya Nindy seraya menaik turunkan alisnya


"Ya iyalah bege" ucap Wina menoyor kepala Nindy


"Masuk yuk ah " ucap Dara menarik ke dua sahabatnya


Sesampainya di kelas Nindy melihat Damar yang sedang berbincang dengan teman sekelasnya


Nindy berjalan mendekati meja Damar dan berhenti di dekat mejanya


"Damar gue boleh minta waktunya bentar gak?" tanya Nindy


"Sama gue aja nin gue juga gak kalah ganteng sama Damar" ucap teman lelakinya


"Awas entar viral lagi" sindir murid lain


"Gak apa apa viral sama yang ono masih di lindungin sama pihak sekolah kalo sama yang lain bisa bisa di DO" sindir yang lain


Tanpa bicara lagi Nindy langsung kembali ke tempat duduknya


dia merasa kesal dengan apa yang dia alami saat ini


bagaimana cara agar dia tidak di rundung lagi di sekolah


Waktu jam istirahat Nindy tidak ikut ke kantin bersama sahabatnya


dia lebih memilih duduk di bawah pohon yang ada di belakang sekolah


Damar yang mencari cari keberadaan Nindy kemana mana akhirnya menemukannya


"Hei nin, boleh gak gue duduk disini?"tanya Damar


" Mending Lo pergi aja gue gak mau jadi bahan omongan lagi" ucap Nindy


" Tapi bukannya ada yang mau Lo omongin?" tanya Damar tapi Nindy tidak menjawab


Damar lalu duduk di balik pohon di belakang Nindy


jarak duduk mereka terhalang pohon jadi mereka tidak berdekatan


Nindy tersenyum karena ide Damar yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Nindy


"Nah kalo gini kan gak Deket Deket coba sekarang mau tanya apa?" tanya Damar


"Lo sodaranya kak Leo kan?" tanya Nindy


"Iya, emang kenapa? Lo suka sama dia?" tanya Damar


"Enggak bukan gitu, gue mau tanya emang iya orang tuanya hilang dan dia di rawat sama orang lain?" tanya Nindy


"Iya jadi dia anak angkat paman Dion, gue kurang tau juga sih gimana ceritanya soalnya dia dulu di luar negeri baru pindah waktu masuk kuliah aja" jawab Damar


"Ooh gitu" ucap Nindy seraya manggut-manggut


" Iya Lo tau dari mana?" tanya Damar


"Kemarin dia cerita katanya gue mirip nyokapnya, tapi emang iya sih gue udah liat potonya" ucap Nindy


" Yang mirip kan banyak Nindy, kenapa Lo jadi sepenasaran ini?" tanya Damar


"Eeh iya kenapa ya? kok gue jadi kepo" gumam Nindy


bel berbunyi Nindy dan Damar segera pergi dari sana


mereka masuk kekelas sahabatnya menunggu di kursi setelah mencari cari Nindy


"Lo kemana aja sih?" tanya Wina saat Nindy duduk


" Gue tadi nyari angin di belakang sekolah" jawab nindy


" pantesan gue cariin gak ada" ucap Wina


Waktu belajar sudah selesai Nindy terlihat kesusahan saat memarkir motor


tiba tiba motornya terasa di tarik kebelakang Nindy melirik ternyata Leo menarik motornya seraya tersenyum manis


"Kak Leo ngapain disini?" tanya Nindy


"tadi gue lagi nongkrong di depan liat Lo kesusahan gue bantuin deh" ucap Leo

__ADS_1


"Thanks ya kak" ucap Nindy


"Ya, kenapa Lo kesusahan gitu waktu parkir?" tanya Leo


"Kaki gue sakit kak kena pecahan piring" ucap Nindy


" Udah di bawa kedokter? mau gue anterin?" tanya Leo panik


"Gak usah kak udah di obatin kok, tinggal sakit bekasnya aja" ucap Nindy


Saat sedang mengobrol tiba tiba ada yang menarik tangan Nindy


Nindy yang terkejut hampir terjengkang tapi tubuhnya menubruk dada bidang seseorang


Nindy mendongak menatap siapa yang ada di belakangnya


"Ngapain Lo disini? pergi sana jangan ganggu cewek orang" ucap Bryan


"Cewek orang? apa artinya sebuah status kalo Lo gak pernah ada buat dia, Lo malah dekat sama cewek lain menjijikkan" ucap Leo tersenyum miring


Saat Bryan akan melayangkan pukulan Leo menangkisnya


Leo mencengkram erat kepalan tangan Bryan


pertarungan diantara mereka terasa semakin sengit


Nindy melerai melepaskan tangan Bryan dan Leo


"Udah udah kalian apaan sih kayak anak kecil tau gak" ucap Nindy


" Kalo ada apa apa hubungin gue" ucap Leo seraya mengacak pelan rambut Nindy lalu pergi setelah tangannya di tepis kasar oleh Bryan


setelah menepis tangan Leo Bryan merangkul kepala Nindy ke dadanya


Nindy mendorong pelan tubuh Bryan


"Awas aku mau pulang" ucap Nindy hendak duduk di motornya tapi Bryan mengambil kuncinya


"Jadi kamu lebih suka dekat sama dia?" tanya Bryan


"Seenggaknya dia memperlakukan aku dengan baik, dia percaya sama aku gak kayak kamu yang dengerin penjelasan aku aja enggak" ucap Nindy seraya berbalik pergi


Nindy jalan teerpincang pincang Bryan baru menyadari terjadi sesuatu pada Nindy


dia segera mengejar Nindy yang sudah keluar gerbang sekolah


"Kaki kamu kenapa?" tanya Bryan


''Bukan urusan kamu, lepas aku mau pulang" ucap Nindy melepas Cengkraman tangan Bryan di lengannya


"Keras kepala" ucap Bryan menarik paksa tangan Nindy ke mobilnya


Karena Bryan menariknya kaki Nindy yang luka mengeluarkan darah kembali


Nindy yang meringis kesakitan tidak Bryan pedulikan


dia sudah di kuasai amarahnya Nindy terisak merasakan kakinya yang sakit


Sudah tidak ada orang di sekitar sekolah dan universitas


semua orang sudah pulang termasuk Leo hingga tidak ada yang membantu Nindy


Bryan memasukan Nindy ke mobilnya


Dengan nafas yang memburu sudah di kuasai amarah


Bryan menatap Nindy yang terisak bercucuran air mata


Bryan akhirnya sadar dia sudah menyakiti Nindy


Bryan meraih tangan Nindy mengecup berkali kali seraya meminta maaf


menatap keluar jendela seolah enggan menatap Bryan


Tanpa berkata apa-apa Bryan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi


Nindy berpegang dengan wajah yang sudah pucat


sesampainya di apartemen Bryan menggendong Nindy


Sekarang Nindy hanya diam tanpa melawan atau mengeluarkan kata


dia sudah sangat ketakutan hingga tidak bisa berbicara lagi


Bryan tidak mempedulikan tatapan semua orang padanya


dia masuk ke apartemen lalu menurunkan Nindy ke ranjang dengan kasar


Nindy meringis membuka sepatunya Bryan hanya melihat tanpa melakukan apapun


dia berdiri dengan tangan menyilang di dadanya


dia terkejut melihat darah yang memenuhi sepatu dan kaos kaki Nindy


Bryan berlutut di hadapan Nindy memegangi kaki Nindy yang terluka


dia mengacak rambut frustasi lalu pergi mencari p3k untuk membersihkan luka Nindy


Bryan membersihkan darahnya dan mengganti perban pada kaki Nindy


Nindy meringis dengan air matanya yang tidak berhenti mengalir


setelah selesai mengobati lukanya Bryan berdiri dihadapan Nindy memeluk Nindy yang menangis sedari tadi


Bryan merasa bersalah sudah menyakiti Nindy


dia menangkup wajah Nindy mengusap air matanya dan mengecup sekilas bibirnya


Nindy hanya diam tidak menolak atau berbicara dia takut akan salah lagi dan Bryan marah padanya


" Maaf" ucap Bryan kembali memeluk Nindy


Tidak ada jawaban dari Nindy dia hanya menangis membuat Bryan semakin merasa bersalah


Bryan mengecupi setiap inci wajah Nindy dan mengusap air matanya


Dia lalu duduk di samping Nindy menyandarkan kepala Nindy di dadanya


seraya mengelus rambut Nindy


"Kaki kamu kenapa?" tanya Bryan


"Gak apa apa, tadi cuma gak sengaja nginjek pecahan piring" jawab Nindy pelan


D****eeegggg


Bryan semakin merasa bersalah karena dia ingat piring yang dia lempar pecah


Bryan mengambil tangan Nindy dan memukul mukulkannya ke wajahnya


Nindy menarik tangan mengepalkannya di sembunyikan di pangkuannya


"Pukul aku, aku udah nyakitin kamu berkali kali bahkan aku gak bisa jadi suami yang baik" ucap Bryan tapi Nindy hanya menggeleng


Bryan memeluk erat Nindy dia benar benar merasa bersalah dia sudah membuat Nindy terluka bukan hanya tubuhnya tapi juga hatinya

__ADS_1


"Hukum aku sayang hukum aku, aku bukan suami yang baik" ucap Bryan yang kini sudah meneteskan air mata


Nindy mendongak menghapus air mata Bryan


Nindy juga mengecup lama bibir Bryan mereka berdua memejamkan matanya


lalu Nindy melepaskan ciumannya and kembali memeluk Bryan


"Jangan marah lagi aku takut" ucap Nindy membenamkan wajahnya di dada bidang Bryan


"Maaf sayang aku janji gak akan marah marah lagi" ucap Bryan memeluk erat Nindy


"Aku ngantuk" ucap Nindy


"Sini aku peluk" ucap Bryan membaringkan tubuhnya dan Nindy


Bryan memeluk Nindy menjadikan tangannya bantal untuk Nindy


terdengar deru nafas Nindy yang teratur sepertinya dia sudah tidur


Bryan mengusap lembut rambut Nindy mengecupi pucuk kepalanya


"Maaf aku udah nyakitin kamu" ucap Bryan kemudian ikut terlelap memeluk Nindy


Di tempat lain Meira dan Maria sedang mencari informasi tentang Nindy


Meira pernah melihat Nindy masuk ke ruangan dokter kandungan


tapi hasilnya tetap sama tidak menemukan fakta apapun


Mereka sedang merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan Nindy


tiba tiba Meira ingat sesuatu Hendrico sangat menyukai Nindy


Meira menghubunginya agar datang menemuinya di cafe tempat mereka berkumpul sekarang


Tidak butuh waktu lama Hendrico datang menemui mereka


Maria sudah antusias menyambut Hendrico yang belum tentu mau bergabung dengan mereka


"Apa bener Lo suka banget sama Nindy?" tanya Maria


"Ya tapi dia gak pernah anggap gue serius dia gak pernah liat cinta gue buat dia" jawab Hendrico


"Gue ada penawaran buat Lo, gimana kalo kita kerja sama Lo bisa dapetin Nindy dan gue bisa dapetin Bryan" ucap Maria


"Apa Lo yakin? apa ide Lo buat mereka pisah?" tanya Hendrico


" Itu dia kenapa gue hubungin Lo gue mau tanya tentang Nindy, Lo kan cinta banget sama dia masa Lo gak tau apa apa tentang Nindy" ucap Maria


" Gue emang gak tau apa pun" ucap Hendrico


"Termasuk Lo buat Nindy ketakutan waktu di lorong sekolah?" tanya Meira membuat Hendrico terdiam


"Maksud lo? tanya Maria


"Gue pernah liat dia nakutin Nindy di sekolah, masa dia takut sama orang yang cuma pake Hoodie mana histeris banget lagi pasti ada sesuatu yang kita gak tau" ucap Meira


"Lo mau bilang atau gue kasih tau sama Nindy dan Bryan biar Lo di kasih pelajaran" ucap Maria


"Oke tapi awas kalo Lo bawa bawa nama gue kalo suatu saat Lo ketauan" ucap Hendrico


" oke deal" ucap Maria menjabat tangan Hendrico


" Lo bisa liat video ini" Hendrico memberikan rekaman video saat Nindy di lecehkan sekumpulan pemuda


" Wwoooww, ini ini hahahaha akhirnya gue bisa hancurin Lo" ucap Maria tertawa seperti orang gila


" Tapi gue gak mau ke bawa bawa kalo suatu saat kalian dapat masalah" ucap Hendrico


"oke, tapi satu lagi gue mau minta Hoodie yang Lo pake kemaren" ucap Maria


Hendrico setuju dia memberikan semua bukti kejahatannya


karena dia juga berniat pindah dari kota itu dengan begitu mereka tidak akan bisa melacak keberadaannya


"Inget satu hal jangan seret nama gue kalo suatu saat Lo punya masalah dengan ini" ucap Hendrico


"Lo tenang aja" ucap Maria tersenyum miring


Malam sudah sangat larut sepasang mata mulai terbuka


Nindy merasa sangat lapar dia bangun merapihkan rambutnya


Bryan yang terusik dengan pergerakan Nindy pun ikut bangun


"Kenapa bangun?" tanya Bryan mengucek matanya


"Aku lapar" jawab Nindy lalu Bryan melihat jam di handphonenya


"Ya ampun kita belum makan dari sore" ucap Bryan


"Kamu mau makan apa? kita makan di luar ya?" lanjut Bryan


" Gak usah, makan disini aja" ucap Nindy


" Kita pesan dulu kamu mau apa?" tanya Bryan


" Kalo pesan lama kita masak aja ya" ucap Nindy


Mereka memeriksa kulkas tapi tidak ada apa apa selain telur dan mie instan


"Aku lupa belum belanja" ucap Nindy


" Kita beli aja ya" ucap Bryan


"Aku mau makan mie instan tapi kamu yang buatin ya" pinta Nindy


"Aku gak setuju itu gak sehat aku masakin telor aja gimana?" tanya Bryan


"apa aja deh terserah, yang enak ya" ucap Nindy


"Siap sayang kamu duduk dulu aku mau masak" ucap Bryan mendudukkan Nindy


Bryan tampak serius dengan pekerjaannya dia sepertinya terampil dalam memasak


saat sedang memasak konsentrasinya buyar saat handphone Nindy berdering


Bryan terus memperhatikan Nindy yang sedang berbicara di telepon


"Iya gue lupa, besok gue bawa" ucap Nindy lalu menutup teleponnya


"Siapa yang telepon malem malem gini?" tanya Bryan dengan nada mengintimidasi


" Si Wina dia nanyain novelnya yang aku pinjem" jawab Nindy menyerahkan ponselnya pada Bryan


"Nih liat aja kalo gak percaya" ucap Nindy


"Aku percaya" ucap Bryan menaruh handphone di meja


Dia teringat telur yang sedang ia masak meskipun apinya ia kecilkan tapi dia lupa membaliknya sampai telurnya gosong sebelah


Bryan akan memasak yang baru tapi telurnya tinggal satu terpaksa dia memberikan telur gosong itu pada Nindy


Nindy hendak menyantapnya tapi saat di balik Nindy terkejut melihat telur yang berbeda di kedua sisinya

__ADS_1


" Ini kenapa gosong begini?" tanya Nindy tapi Bryan tidak menjawab dia hanya cengir kuda seraya menggaruk tengkuknya


Karena telurnya tidak dapat di makan akhirnya Nindy tetap makan makanan yang di pesan Bryan lewat ojol


__ADS_2