Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Dijodohkan Dengan Ketos Galak
eps 23


__ADS_3

Nindy pulang sekolah sepanjang melewati lorong setiap murid menggunjingnya bahkan ada yang menyindirnya juga terang terangan memojokkan Nindy


Nindy hanya cuek saja dengan omongan mereka sesampainya di parkiran Nindy kembali di buat kesal melihat ban motornya kempes semua


" **** kurang ajar banget mereka, sumpah demi apapun apes gue hari ini" ucap Nindy seraya mengecek ban motornya


Nindy menelpon Bryan berkali kali tapi tidak juga di jawab


dia hanya bisa menggerutu mendorong motornya keluar gedung sekolah


" Yah kasian banget udah di campakin ya neng? makanya jadi cewek jangan gampangan" ucap siswi yang tidak di tanggapi oleh Nindy


" mau cari baru gak entar gue kenalin sama om om hahahaa" sahut yang lain


Nindy masih tidak menanggapi dia terus mendorong motornya menyusuri jalan


tiba tiba motornya terasa ringan Nindy menoleh kebelakang ternyata ada yang ikut mendorong motornya


" Kak Leo ngapain disini?" tanya Nindy


" Bantuin Lo lah, gue lihat Lo kayaknya kesusahan jadi gue bantuin" ucap Leo


" Gak usah kak gue gak mau ngerepotin, entar jadi bahan omongan anak anak lagi kalo mereka lihat" ucap Nindy


"emang kenapa biarin aja, orang niat bantu masa di larang" ucap Leo


Nindy sampai di tempat tambal ban yang agak jauh dari sekolah


Leo masih setia menemani Nindy meskipun tidak ada perbincangan diantara mereka


Nindy yang sibuk dengan game di handphonenya tidak memperhatikan sekitarnya


" Mas sama mbaknya sodara ya?" tanya tukang tambal


" Bukan" ucap mereka berbarengan


" Kompak bener, pacaran ya? kata orang kalo pacaran wajahnya mirip katanya jodoh" ucap tukang tambal


"Tuh denger nin jangan jangan kita jodoh" ucap Leo menyenggol lengan Nindy


" Aaarrrggghhhhh kak Leo sih pake senggol senggol jadi kalah kan aahh" ucap Nindy mematikan handphonenya


" Diihh pake nyalahin orang, makanya jangan fokus game terus" ucap Leo mengacak pelan rambut Nindy


""Ihhh kak Leo apaan sih jadi berantakan nih" ucap Nindy berkaca pada handphone merapihkan rambutnya


" udah neng" ucap tukang tambal


Nindy membayar dan hendak naik ke motornya


tapi Leo lebih dulu naik membuat Nindy mendelik malas


Nindy mematung ditempatnya dia bingung harus melakukan apa


" Ayo cepat naik" ajak Leo


"Kak Leo pulang aja deh gue mau ketemu Bryan " ucap Nindy


" Lo tega banget gue udah bantuin Lo tapi gue gak dianter pulang" ucap Leo


" Siapa suruh bantuin, cepetan turun kak gue mau pulang" ucap Nindy


" Gue mau pulang naek apaan dompet gue ketinggalan" ucap Leo


" Yaudah terserah deh cepetan" ucap Nindy yang sudah naik di belakang Leo


Leo menjalankan motornya sepanjang jalan Nindy hanya dia


sampai di sebuah cafe Nindy mengernyitkan dahi


apa mungkin rumahnya di cafe ini tanya Nindy dalam hatinya


" Masuk " ucap Leo membuyarkan lamunan Nindy


''Mau ngapain? udah gue mau pulang" ucap Nindy membelokkan motornya


" Gue belum sampe rumah maen tinggal aja" ucap Leo


" Yaudah ayok pulang, nanti Bryan nyariin" ucap Nindy


"Takut banget di tinggalin Bryan" sindir Leo


"tau aahh kelamaan ngomong sama kak Leo jadi pusing" ucap Nindy hendak memutar kunci motornya


Sreeetttt


sekilas Leo langsung mengambil kunci dari motor Nindy


lalu masuk ke cafe tanpa bicara sepatah kata pun


Nindy yang sudah bosan berdebat akhirnya mengikutnya ke dalam


Leo menatap Nindy yang terlihat sudah sangat jengkel pada Leo


dia sengaja mengulur waktu agar bisa berduaan bersama Nindy


Leo lalu memesan makannya dan memesankan untuk Nindy tanpa memberi tahunya


"Selamat menikmati tuan nona" ucap pelayan menata makanan di meja


" Gue kan gak pesen kenapa di pesenin gak bilang dulu lagi" ucap Nindy jutek


" Cobain dulu itu enak favorit nyokap" ucap Leo


" Emang yakin gue bakal suka?" tanya Nindy sinis


" Anggap aja Lo menghormati nyokap gue kalo Lo makan itu" ucap Leo membuat Nindy mau tidak mau menyantap makanannya


Leo melihat raut wajah Nindy yang berubah cerah


dia yakin Nindy akan menyukai makanannya


pandangan Leo tidak pernah lepas dari Nindy


Nindy yang merasa di perhatikan pun menoleh


"Apaan sih liatinnya gitu banget" ucap Nindy


" Deket Lo rasanya nyaman, gue ngerasa ada di Deket nyokap gue.. yaaa meskipun gue gak tau gimana rasanya Deket nyokap" ucap Leo


" Kak Leo tau gak?" tanya Nindy

__ADS_1


"Apa?" jawab Leo


" Gue ngerasa Deket buaya kalo denger kakak ngomong gitu" ucap Nindy seraya tertawa


" Gue serius Nindy, Lo mirip nyokap gue" ucap Leo


" Aahh masa sih" ucap Nindy meraba pipinya


"Nih liat potonya" Leo menyodorkan foto seorang wanita dengan bayi dan balita berusia 2/3tahunan


" Ini mama kak Leo? kalo yang ompong ini siapa uuhh gemeeeshhh hhahaa" ucap Nindy tertawa


" Lo malah ngeledek, biar dulu gue ompong tapi sekarang gue ganteng kan?" tanya Leo


" Ya lumayan lah gak bikin sepet yang liat" lagi lagi Nindy tertawa


" Gue suka senyum Lo, jangan berhenti tersenyum dalam keadaan apapun lengkungan bibir Lo kayak pelangi... indah" ucap Leo wajahnya serius membuat Nindy tidak ingin menjawab karena takut salah moment


"Lo masih punya orang tua?" tanya Leo


" Punya, tapi mereka pisah" ucap Nindy


"kalo kak Leo? pasti kakak punya orang tua lengkap, duitnya banyak punya adik yang bisa jadi teman ya kan?" lanjut Nindy bertanya


" kenapa bisa Lo berpikir gitu?" Leo balik bertanya


" kayaknya kak Leo bahagia terus aja , kayak gak ada beban" ucap Nindy membuat Leo tersenyum miring


" Lo mau tau sesuatu?" tanya Leo dan Nindy pun mengangguk


" Gue gak tau keberadaan orang tua gue sejak usia 3 tahun, adik gue juga ilang dan gue di urus sama papa Dion, meskipun gue gak pernah ngerasain Deket sama orang tua tapi liat Lo yang mirip nyokap gue bisa rasain seolah ada nyokap di sisi gue" lanjut Leo


"Sorry ya kak gue pikir Lo cuma becanda doang" ucap Nindy merasa bersalah


"Gak apa2, thanks ya udah mau nemenin makan" ucap Leo


"Sama sama kak, jadi mau pulang sekarang apa gimana?'' tanya Nindy


" Lo pulang aja udah sore, sekali lagi thanks ya udah mau nemenin" ucap Leo


" tapi nanti pulang gimana? katanya gak bawa dompet?" tanya Nindy


"Kan ada hp gue bisa hubungin sopir gue" ucap Leo


" Ya udah gue pulang ya takut kemalaman" ucap Nindy lalu berlari keluar


"Bye " teriak Nindy saat sudah dekat pintu membuat Leo menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Nindy


Nindy melajukan motornya, untung saja jarak cafe dan apartemennya lumayan dekat


dia harus sampai disana sebelum Bryan pulang


Nindy melihat jam di pergelangan tangannya


"Masih jam 5 sore kayaknya belum pulang deh" gumam Nindy


Sesampainya di apartemen Nindy membuka kunci lalu celingukan ke dalam


tidak ada siapa siapa lalu Nindy masuk dan membuka sepatu lalu menutup pintu dengan kakinya tanpa menoleh


saat hendak melangkahkan kakinya suara seseorang mengejutkannya


" Kenapa baru pulang?" tanya Bryan yang ternyata ada di balik pintu


" Ta.. tttadi ban motornya kempes jadi aku tambal dulu" jawab Nindy


"Apa selama itu? jangan bohong" ucap Bryan


"Aku sudah jujur, terserah kalo gak percaya hari ini aku lelah benar benar lelah" ucap Nindy marah marah lalu pergi ke kamarnya


" Aneh kenapa dia yang marah" gumam Bryan


Bryan mengikuti Nindy kekamar Nindy sedang berbaring merentangkan tangannya


Bryan duduk disampingnya menatap wajah Nindy yang sedang memejamkan mata


" Mandi dulu nin" ujar Bryan


" Males" singkat Nindy


" Kamu kenapa sih? kamu yang pulang telat kamu yang marah marah" ucap Nindy membuat Nindy langsung bangun dan duduk menghadapnya


" Kamu gak tau kan aku di sekolah di hujat gara gara Poto ini?" ucap Nindy melempar handphonenya


" Tapi siapa yang sebar Poto ini?" tanya Bryan


" siapa lagi kalo bukan Meira sama Maria" jawab Nindy


" Jangan asal nuduh deh Maria kan di rumah sakit, kemaren baru keluar, aku gak yakin kalo dia pasti Meira " ucap Bryan


"Iya belain aja terus, kamu gak tau kan dia tadi maki maki aku di sekolah, bukannya kemaren kamu juga liat dia hampir celakain aku?" bentak Nindy


" Dia ngelakuin itu karena merasa di bohongin, kan kamu juga yang bohongin dia aku udah suruh jujur jadi jangan salahin siapa siapa kalo dia marah sama kamu" ucap Bryan membuat Nindy semakin marah


" Iya aku yang salah semuanya aku yang salah.. puas " bentak Nindy lalu pergi ke kamar mandi


Bryan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Nindy yang jadi pemarah sekarang


sekarang dia harus membereskan masalah Nindy sebelum semuanya semakin rumit


Nindy keluar dari kamar mandi menggosok rambutnya dengan handuk


melewati Bryan yang masih duduk di posisi tadi


Nindy langsung tidur tanpa mengatakan apapun


" Sayang" panggil Bryan


" Diam..." bentak Nindy dan Bryan pun langsung terdiam


"Ya Allah galak banget istriku, terpaksa deh tidur tanpa belaian" ucap Bryan membuat Nindy hampir tertawa


"Marahnya jangan lama lama ya" ucap Bryan mengecup kepala belakang Nindy


mereka terlelap bersama sampai matahari menampakkan sinarnya Lewat celah jendela


Nindy terlihat sedang memeluk Bryan yang tidur terlentang


wajahnya di sembunyikan di ketiak Bryan


Nindy perlahan membuka matanya mendongak menatap wajah tenang Bryan yang sedang tidur

__ADS_1


tangannya masih melingkar di perut Bryan dia kembali membenamkan wajahnya di ketiak Bryan


mengusek wajahnya


"Enak banget ya?" suara serak Bryan membuat Nindy terdiam tidak bergerak


"Kenapa berhenti? nih cium lagi" ucap Bryan mengangkat ketiaknya lebih tinggi


"Iihh ogah bau" ucap Nindy lalu pergi ke kamar mandi


"Ciihh bau tapi nyium Ampe segitunya" kata Bryan sengaja mengeraskan suaranya


Nindy tidak bisa menahan diri jika sudah dekat Bryan


aroma tubuhnya seperti memabukkan untuk Nindy


dia selalu ingin mencium tubuh Bryan yang wangi meskipun bangun tidur


" bodoh banget sih Lo, jadi malu kan" ucap Nindy pada pantulannya di cermin


Nindy sudah mandi dan keluar dari kamar mandi


di melihat Bryan sudah tidak ada di ranjang ternyata dia sedang menelpon. di balkon


Nindy menguping di dekat jendela


"Lo kenapa ngelakuin itu sama Nindy?" ucap Bryan pada seseorang di sebrang telepon


.


.


"Kalo bukan Lo siapa lagi? oke kalo gitu gue bisa selidikin itu sendiri tapi kalo Lo ada hubungannya sama masalah itu gue gak akan. mau ketemu atau kenal sama Lo lagi" ucap Bryan lalu mematikan teleponnya


Bryan masuk ke kamar membuat Nindy gelagapan


Bryan menoleh ke arah Nindy yang sedang meraba gorden jendela pura pura mencari sesuatu


"Lagi ngapain di situ?" tanya Bryan membuat Nindy semakin salah tingkah


"Cari jarum pentul " jawabnya lalu segera pergi ke lemari karena sedari tadi dia belum berpakaian


" Yang" ucap Bryan manja memeluk Nindy menaruh kepalanya di pundak Nindy


setiap hembusan nafas Bryan menyapu leher Nindy


membuatnya memejamkan mata bulu kuduknya meremang


Bryan mengelus perut Nindy lembut membuatnya semakin nyaman


tiba tiba Bryan membalikkan tubuh Nindy kini wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja


nafasnya saling menyapu wajah mereka


Bryan mengecup bibir Nindy membuatnya memerah


Bryan tersenyum membelai pipi Nindy dengan ibu jarinya


Nindy hanya diam merasakan setiap sentuhan Bryan


Bryan kembali memeluknya membuka kaitan handuk Nindy membuat sesuatu di bagian depan Nindy menyembul


Nindy langsung mengangkat kembali handuknya


melilitkannya dan menjauhkan tubuhnya dari Bryan


"Sayang aku mau..." ucapan Bryan terhenti dia mengusap lembut lengan Nindy


"Aku gak mau, aku dingin mau pake baju takut kesiangan sekolah" ucap Nindy menyela ucapan Bryan


"Emang aku mau apa? aku cuma mau pake handuk kamu handuk aku basah kecemplung, emang tadi gak liat di gantung di kamar mandi " ucap Bryan membuat Nindy sangat malu dengan pikirannya yang mesum


"Ehh oo iya bentar aku mau ganti baju dulu " ucap Nindy berlari ke kamar mandi


Bryan menahan tawanya melihat Nindy yang wajahnya memerah menahan malu


Bryan berhasil mengerjai Nindy


"**** dia ngerjain gue, ini otak kenapa sih eror banget" gumam Nindy memukul kepalanya


Nindy keluar melewati Bryan begitu saja


baru Nindy membuka pintu terdengar Bryan yang memanggilnya membuatnya berhenti


" Sayang, handuknya udah" ucap Bryan seraya tertawa


Nindy yang merasa malu keluar dengan membanting pintu


sekarang Nindy sudah selesai masak dan sedang sarapan


Bryan yang baru datang duduk di hadapan Nindy menatap wajah Nindy membuat Nindy salah tingkah


"Kemarin enak makan di cafe sama cowok?" tanya Bryan membuat Nindy tersedak


"Maa.. mmaksudnya?" jawab Nindy


" Kamu mulai berani bohong ya sekarang?" ucap Bryan, Nindy semakin panik


"Siapa yang bilang?" tanya Nindy


"Kamu gak lihat hp kamu banyak notifikasi pesan dari Leo?" ucap Bryan membuat Nindy mematung


"Kenapa kamu bohong? apa itu temen yang kamu maksud pengen diizinin jalan sama mereka?'' bentak Bryan


"Yapi dia beneran temen aku" ucap Nindy tidak mau kalah


"Oohhh jadi aku juga bebas jalan sama temen cewek aku?" tanya Bryan


"Gak gitu aku bisa jelasin" ucap Nindy pelan


" Coba jelasin apalagi yang kamu perbuat di belakang aku? apa kamu sering keluar sama temen temen cowok kamu? dulu Damar sekarang Leo besok besok siapa lagi?" bentak Bryan seraya menaruh sendok dengan keras di meja


Setetes air mata lolos dari wajah Nindy dia takut jika Bryan sudah marah dan tidak bisa mengontrol emosinya


Bryan menatap kesal Nindy yang malah menangis


"Dah lah hilang selera makan gue" ucap Bryan seraya mendorong piring di mejanya dengan keras sampai terjatuh


praaannngggg


piring pecah berhamburan di lantai tapi Bryan tidak berbalik sedikit pun dan malah pergi dengan mobilnya......

__ADS_1


__ADS_2