
Like dulu sebelum membaca 😍😍😍
"Hai nin" sapa Meira yang baru saja datang membawa makanan dan parcel buah
"Meira" Nindy tersenyum meskipun dengan wajah yang lelah
"Gue bawa makanan buat lo, lo yang sabar ya gue tau lo kuat" Meira memeluk Nindy mengelus punggungnya
"Thanks ya, lo tau dari mana gue ada disini? " tanya Nindy
"Dara tadi kita makan siang di kantor Leo"
"Lo ke kantor kak Leo? " Nindy tidak percaya
"I.. iya"
"Apa lo punya perasaan sama kak Leo? " tanya Nindy
"Entahlah, mungkin gue cuma kagum sama dia"
"Lo udah tau Dara pacaran sama kak Leo? " Nindy membawa Meira duduk di sofa berhadapan
"Sepertinya mereka emang pacaran" Meira menekuk wajahnya
"Jangan sampai kisah kita yang dulu terulang lagi, gue gak mau kedua teman baik gue berselisih apalagi Dara bilang kak Leo ngajak dia nikah" ucapan Nindy membuat Meira murung
Dia merasa kecewa pantas saja Meira tidak pernah mendapatkan sedikit pun perhatian dari Leo
ternyata cintanya Leo sudah berlabuh di lain hati
"Gue yakin lo bakal dapet cowok yang lebih baik dari kak Leo, gue cuma gak mau buat salah satu dari kalian terluka" Nindy menggenggam tangan Meira
"Gue gak akan lagi cari perhatian Leo, gue bener bener mau berubah sekarang" Meira mengangkat wajahnya dan tersenyum
.
.
Dikantor Bryan Dara tidak bisa konsentrasi bekerja
dia memikirkan Leo yang sedang bersama Meira
dia tidak tau saja kalo Leo mengusirnya setelah Dara pergi
"Saya sudah membawa dokumennya pak, nona Dara.. nona Dara" Reno memanggil manggil Dara yang melamun saat meeting
"Kau membuatku malu" kata Reno pelan mengambil dokumen di hadapan Dara
"Maafkan saya, saya sedang tidak enak badan"
Meeting akhirnya selesai Reno terus saja menggerutu sepanjang keluar dari ruangan meeting
namun Dara lagi lagi diam seperti pikirannya sedang tidak bersama raganya
"Apa yang sedang kamu pikirkan? " bentakan Reno membuat Dara tersentak
"Astaga, kenapa mengagetkanku" Dara memegangi dadanya
"Semoga saja setan tidak tertarik merasuki mu" ujar Reno seraya berjalan meninggalkan Dara yang kebingungan
"Apa maksudnya? dasar aneh" gumam Dara
Sore hari saat Dara hendak pulang menunggu taksi onlinenya
mobil Reno berhenti di hadapannya dan membuka jendela mobilnya
"Mau sekalian gak? " tanya Reno dengan wajah juteknya
"Gak usah ini lagi nunggu taksi " jawab Dara
"Ngajak kok mukanya gak enak di pandang ya males lah mau ikut" gumam Dara
"Kamu mengatakan sesuatu? " tanya Reno dengan tatapan mengintimidasi
"Tidak tidak" Dara dengan senyum cengir kudanya
Tiiiiidddddd
__ADS_1
Sebuah mobil berhenti di belakang mobil Reno menekan klakson berkali kali
Leo keluar menghampiri Dara bersamaan dengan itu Reno pergi melajukan mobilnya dengan kencang
"Ada masalah apa dia? " tanya Leo
"Dia emang gitu, gak pernah jelas" jawab Dara
.
.
Cia menangis meronta ingin bertemu Mark yang sedang berada di luar rumah Damar
namun di tahan oleh keluarga Damar karena Nindy berpesan untuk menjauhkan Mark dari Cia
"Cia mau ketemu grandpa" rengek Cia meronta ingin di turunkan
"Sayang mama kamu gak bolehin" Mama Damar masih memeluknya erat
Cia berhenti berontak dia memutar badannya menghadap mama Damar
menatap mama Damar meminta belas kasihan menunjukkan tatapan paling tidak berdaya
Mama Damar menghela nafas melihat Cia
"Kamu sama seperti mamamu" tatapan Cia sama seperti Nindy jika menginginkan sesuatu membuat mama Damar selalu mengalah
"Damar.. maarr sini" teriak mama Damar pada anaknya yang sedang menahan Mark bersama papanya
"Suruh masuk aja deh, pastikan tidak ada senjata atau apapun"
"Mama yakin? kalo niatnya jahat gimana? " tanya Damar
"Makanya kamu periksa dulu, awasin juga nanti "
"Nambah kerjaan " keluh Damar
Mark di biarkan masuk setelah di periksa oleh Damar dan papanya
dia juga begitu mengawasi mark hinga mereka bertiga sekeluarga
"Apa harus mereka berlebihan seperti itu" gumam Mark dalam hati mengingat dia itu adalah kakeknya Cia
"Cia kangen" cia memeluk leher Mark
"Grandpa juga"
"Grandpa bisa bahasa Cia? " Cia terkejut mark lancar berbahasa Indonesia
"Demi cia grandpa belajar"
"Apa kalian harus terus memelototi aku seperti itu? " tanya Mark pada keluarga Damar yang terlihat konyol
"Bisa saja saat kami lengah kau menyakiti keponakan kami" jawab Damar
"Keponakanmu? dia juga cucuku"
"Jangan bernegosiasi tuan Mark beruntung kau masih bisa bertemu dengan Cia saat Nindy tidak ada" hardik Damar
"Grandpa Cia mau menggambar lagi sama grandpa" pinta Cia
Karena permintaan Cia akhirnya mama Damar membawa alat menggambar Cia ke halaman belakang
menggelar karpet untuk mereka layaknya sebuah keluarga yang sedang piknik
tentunya keluarga Damar masih memantau mark dan Cia bahkan sangat dekat
"ini sudah jadi" Cia meletakkan dua lembar kertas kehadapan mereka
"Ini mama, papa, Cia, daddy, grandpa, dan Granma lalu ini keluarga om Damar" cia menunjuk satu lembar kertas lagi
"Ini indah sekali, nanti oma pasang di kamar, terimakasih" Mama Damar mencubit gemas pipi Cia
"Apa grandpa bisa membawa yang ini pulang? " Mark menunjuk kertas yang satunya
Meskipun gambarnya berantakan tapi Mark sangat terkesan
__ADS_1
dia ingin membawanya pulang setidaknya dia punya potret keluarganya meskipun hanya sebuah gambar buatan anak kecil
"Boleh.. kalo grandpa suka nanti cia buatin yang buaanyaaaaakkkk" Cia merentangkan tangannya
Mark yang gemas memeluk Cia dan menghujaninya dengan kecupan
itu membuat satu keluarga merasa terharu melihat Mark berkaca kaca menciumi Cia
seseorang bersembunyi di balik pintu sambil memegangi dadanya
siapa lagi kalau bukan Nindy
Dia memutuskan untuk pulang sebentar melihat keadaan Cia
namun pemandangan di hadapannya membuatnya sesak
air matanya perlahan turun begitu saja dia bisa melihat rasa sayang Mark pada Cia
Nindy segera mengusap air matanya dan menetralkan kembali wajahnya untuk keluar dari persembunyian
Nindy berdehem membuat mereka serempak menoleh
"Cia ikut oma dulu ya" Nindy meminta mama Damar membawa Cia pergi
"Tapi Cia masih kangen grandpa" Cia berkaca kaca menahan tangisnya
"Cia ikut dulu nanti main lagi ya" Mama Damar menggendong cia dan membawanya pergi bersama Damar dan suaminya meninggalkan Nindy dan Mark berdua
Nindy duduk tanpa menoleh ke arah Mark tatapannya lurus
menghela nafas dalam saat hendak bicara namun Mark lebih dulu bicara
"Aku akan pergi tapi izinkan aku membawa gambar ini" ucap Mark hendak berdiri
"Tunggu, apa kau akan berubah? " tanya Nindy
"Tentu saja
" Apa kau menyayangi aku dan Cia? " tanya Nindy lagi
"Sangat"
"Aku akan berdamai denganmu tapi... " Nindy menggantung ucapannya
"Tapi apa? "
"Minta pengampunan kak Leo dan pertanggungjawabankan perbuatanmu aku yakin jika kau menyerahkan diri sukarela itu akan mengurangi masa hukumanmu, setelah itu aku berjanji kita akan menjalani hidup yang normal layaknya keluarga pada umumnya" ucap Nindy membuat wajah Mark berbinar meskipun berlinang air mata
"Sungguh? sungguh kau akan memaafkanku? " tanya Mark tidak percaya
"Kau ayahku bagaimana pun bentuknya kau aku tidak dapat menyangkalnya buKan? "
"Terimakasih.. " Mark menangis mengucapkan terimakasih
"Apa aku boleh memelukmu? " pinta Mark
Hening tidak ada jawaban dari Nindy membuat wajah Mark menjadi kecewa
Mark cukup sadar diri dengan semua kejahatannya mungkin saja Nindy merasa jijik
"Tentu saja" Nindy merentangkan tangannya seraya tersenyum samar
Mereka berpelukan mencurahkan kerinduan selama berpuluh puluh tahun lamanya
keduanya menangis tersedu sedu, meskipun hati Nindy masih mengganjal tapi tidak di pungkiri dia senang masih mempunyai orang tua
Mama Damar yang mengintip adegan ini juga meneteskan air matanya
"Ingin rasanya aku ikut berpelukan dengan bule itu" gumam mama Damar seraya mengusap air matanya
"Apa kau bilang? jangan macam macam kamu markonah" Papa Damar mendengar istrinya bergumam
Papa Damar menjewer telinga istrinya hingga menjerit jerit
Nindy dan mark melepaskan pelukannya dan menoleh kearah orang tua Damar
Nindy hanya menggeleng 'mereka memang konyol' pikirnya
__ADS_1
LIKE KOMEN DAN VOTE
KASIH HADIAH LAIN JUGA BOLEH 😊😊