
"Kakak sengaja ya?" tanya Nindy marah
"Sengaja apaan sih gak jelas banget deh" jawab Leo seraya masuk menggendong Cia
"Kenapa beli disini?" tanya Nindy
"Emang kenapa?" tanya Leo yang mendudukan Cia di sofa
"Lo tau? apartemen yang di depan kita itu punya Bryan " ucap Nindy
"Terus kenapa? Lo kan cuma tinggal di depan apartemennya gak serumah, ribet deh" jawab Leo seraya menyandarkan tubuhnya di kursi
"Kalo gak mau gak apa apa, tapi gue gak akan beliin apapun lagi kalo Lo nolak ini" lanjut Leo membuat Nindy semakin kesal
"Mama sama Dady berantemin apa sih?" tanya Cia
"Tau nih mama kamu minta apartemen udah di kasih masih aja ngeluh" ucap Leo sengaja mengeraskan suaranya
"Mama gak boleh gitu mama kan bilang apa yang kita punya hari ini itu yang wajib kita syukuri" ucap Cia membuat Nindy malu
"Hehehe iya Alhamdulillah, makasih kakak tersayang" ucap Nindy seraya memeluk Leo
"Cia laper gak?" tanya Nindy dan Cia hanya mengangguk
"Mau makan apa?" tanya Nindy lagi
"Gue mau pizza beliin " ucap Leo manja
"Dih udah tuir juga sok manja, gue gak nanya elu" ucap Nindy membuat Cia tertawa melihat tingkah Leo yang selalu membuat Nindy kesal
"Kita cari makan di luar aja yuk?" ajak Nindy yang di jawab antusias oleh Cia
"Asyiiik Cia mau" jawab Cia
"Gue lagi males keluar panas lagian gak laper juga" ucap Leo tiba tiba
"Buodo amaat" ucap Nindy lalu pergi menggandeng tangan Cia
"Eemmhh udah lama gak kesini, apa gue jual aja ya apartemen nya toh gak kepala juga" gumam Bryan yang menatap ke bangunan apartemen
Dia melangkahkan kakinya menuju kamar apartemennya
baru saja dia keluar lift wajahnya berubah menjadi tidak bersahabat
"Hai sayang" sapa Maria
"Ngapain Lo disini?" tanya Bryan sinis
"Mau ketemu kamu dong" jawab Maria memeluk lengan Bryan
"Tau dari mana lo gue ke sini?" tanya Bryan yang juga berusaha menjauhkan Maria dari tubuhnya
"Dari Reno " ucap Maria
"Sial si Reno " gumam Bryan
"Mending sekarang Lo pergi, gue ada kerjaan gak mau di ganggu" ucap Bryan menepis tangan Maria dan berjalan menjauh
Maria mengejar Bryan dia berlari lari kecil seperti anak anak
di juga terus memanggil nama Bryan membuatnya muak
saat Bryan menoleh ke arah Maria untuk memarahinya dia tidak sadar di belakangnya ada seseorang
Bryan membalikkan tubuhnya dan dia menabrak tubuh seseorang
hingga orang itu terjengkang ke belakang dan Bryan jatuh di atasnya
"Awwwww" pekik Nindy memejamkan mata memegangi pinggangnya
Ketika matanya perlahan terbuka mata mereka saling bertemu
bukannya berdiri Bryan terus menatap wajah Nindy dan Nindy seolah tidak sadar dia hanya diam saling menatap
Nindy tersadar kala Cia menggoyang tangannya seraya memanggil namanya
Nindy buru buru bangun dan tanpa aba aba Bryan juga masih di posisi yang sama otomatis kepala mereka terbentur
"Awwwww... Bryan kenapa Lo diem aja" bentak Nindy memegangi keningnya
" Ohh sorry " ucap Bryan menyentuh kening Nindy dan memeriksanya
"Gue gak apa apa " Nindy langsung menepis tangan Bryan
"Masih aja caper sama tunangan orang dasar ganjen" sindir Maria
"Mama ayo" ucap Cia menarik tangan Nindy
Nindy pun pergi dengan Cia tanpa berbicara apapun
Bryan mematung menatap kepergian mereka sementara Maria mendengus kesal
"Tuh kan dia udah punya anak ngapain masih ngarep sama dia" ucap Maria
" Lo GK tau apa apa mending diem" ucap Bryan lalu masuk ke apartemennya mengunci pintu
Maria terus mengetuk pintu apartemen Bryan tapi Bryan tidak kunjung membukanya
dengan tidak tau malunya dia menunggu di depan pintu apartemen Bryan
karena sudah lama disana sampai sampai Nindy yang mencari makan pun sudah kembali ke apartemen
Nindy berjalan bersama Cia mereka tertawa karena lelucon yang Nindy ceritakan
sesampainya di pintu apartemen Nindy membuka kunci maria yang ada di sebrangnya langsung mencecar Nindy
"Ngapain Lo disini?" tanya Maria seraya menarik tangan Nindy yang hendak masuk
"Apaan sih" jawab Nindy ketus menepis tangan Maria
" Lo sengaja pindah kesini biar Deket sama Bryan kan? Lo gak tau malu banget sih dia tunangan gue sekarang jadi jangan pernah Lo deketin dia apalagi berpikir dapetin dia lagi" ancam Maria menunjuk wajah Nindy
"Ambil aja bekas gue" ucap Nindy dengan nada menyindir
Plakkk
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Nindy
Maria yang kesal menampar Nindy di hadapan Cia
Cia yang panik menjerit memanggil Leo
"Dady.. Dady.... ada orang jahat" teriak Cia
Leo yang terkejut mendengar teriakannya langsung berlari menghampiri mereka
Leo melihat Nindy memegangi pipinya dan menatap Maria yang menatap nyalang pada Nindy
Leo menggendong Cia lalu menghampiri Nindy
"Are you okay?" ucap Leo membelai pipi Nindy yang memerah
"Dadd.. Dady? " gumam Maria
" Sekali lagi Lo berani sentuh mereka gue gak segan segan buat patahin tangan Lo" ucap Leo dengan garang nya membuat Maria sedikit gemeteran
Nindy menghentikan Leo yang sudah mendekati Maria
Nindy menahan dada Leo dengan satu tangannya dan maju membuat Leo berada di belakangnya
dia tau Leo orang yang keras dia bisa tempramen pada siapa saja kecuali dirinya
"Gue gak akan ganggu Lo sama tunangan Lo itu, gue udah punya kehidupan sendiri gue udah bahagia punya anak dan suami yang sayang sama gue, jadi Lo tenang aja tunangan Lo cuma buat Lo" ucap Nindy lalu pergi menggandeng tangan leo yang menggendong Cia
"Meskipun anak itu bukan anak kandung Lo dan Lo lupain gitu aja anak Lo yang hilang?" ucap Maria
mendengar kata kata itu amarah Nindy memuncak
__ADS_1
dia bisa menerima tamparan itu tapi dengan. kata kata seperti itu dia bisa sangat marah
Nindy kembali menghampiri Maria, Leo yang seperti tau akan terjadi apa selanjutnya segera membawa Cia masuk dan menutup pintunya
"Lo gak berhak komentari hidup gue dan perlu Lo inget sampai kapan pun gue gak akan pernah lupa sama anak gue" bentak Nindy dengan sorot mata tajam
"Dengan Lo punya kehidupan baru yang kata Lo bahagia itu gue gak yakin Lo masih inget sama anak Lo" ucapan Maria terus mengomporinya
" Diiaaammmm" teriak Nindy
plakkk plakkk plaakk
Nindy menampar keras pipi Maria bertubi tubi hingga dia tersungkur
Nindy mendorong tubuh Maria hingga terlentang dan dia menduduki perutnya
Nindy memukuli wajah Maria
Bryan yang baru saja keluar di buat terkejut oleh kejadian di depannya
"Stooppppppp" teriak Bryan seraya menarik tubuh Nindy agar menjauh
Bryan memeluk Nindy agar dia tenang awalnya Nindy berontak tapi Bryan tidak melepaskannya sampai Nindy benar benar tenang
Maria beringsut duduk bersandar di dinding dia kesal bukannya memeluknya yang babak belur Bryan malah memeluk Nindy
"Ada apa ini?" tanya Bryan melepaskan pelukannya
"Dia selalu bilang gue lupain anak kita tapi itu semua gak bener sampe Sekarang pun gue masih cari dia" ucap Nindy berapi api
Mendengar kata kita Bryan senang dia merasa Nindy tidak bisa melupakan anak dan dirinya
Bryan kembali memeluk Nindy membuat Nindy mengerutkan keningnya
"Gak usah peluk peluk" ucap Nindy mendorong tubuh Bryan
"Gue yang luka Bryan kenapa dia yang Lo peluk?" tanya Maria di bawah tapi Bryan tidak menggubrisnya
Tiba tiba pintu apartemen di belakang Bryan terbuka muncul Leo yang bersandar di pintu
Nindy segera memeluk Leo dia tau ini drama Nindy karena Bryan ada disana
Bryan yang tadi merasa bahagia sekarang merasa harapannya di patahkan begitu saja
dia melihat Nindy memeluk erat Leo dengan Leo yang mengelus rambutnya
hatinya menjadi panas
Bryan menarik paksa tangan Nindy yang memeluk Leo
menyeret ke apartemennya Leo hanya membiarkannya dia tahu Bryan sedang cemburu
berbeda dengan Leo Maria justru merasa aneh kenapa Leo tidak marah Nindy di bawa oleh Bryan
"Kenapa Lo gak marah?" tanya Maria yang masih duduk memegangi sudut bibirnya yang berdarah
"Bukan urusan Lo, biarin aja mereka selesaikan urusan yang belum kelar" ujar Leo
"Mbak sini tolong bawa orang ini dan obati lukanya" ucap Leo pada orang yang bersih bersih lalu dia pergi masuk
"Sial kenapa hidupnya bikin gue penasaran" gumam Maria dalam hati
" Biar saya bantu nona" ujar cleaning servis
Bukannya menjawab Maria malah menepis tangannya dan berlalu pergi
"Mama kemana?" tanya Cia
"Mama ada urusan dulu, Cia bobo aja" jawab Leo seraya menyalakan TV
Di apartemen Bryan saat dia menyeret Nindy masuk dan menghempaskannya ke lantai
mata Bryan sudah merah di liputi amarah
Nindy berdiri mundur menjauhi Bryan
Nindy melawan menunjukkan sedikit bela dirinya
membuat Bryan terkesan karena kemampuan Nindy
"Ohh hebat sekarang bisa bela diri rupanya" ucap Bryan seraya bertepuk tangan
"Sebenarnya apa mau Lo?" tanya Nindy
"Gue mau Lo lakuin kewajiban Lo sebagai istri" jawab Bryan
"What?" Nindy setengah berteriak
Glekk
Nindy dengan susah payah menelan salivanya
dia benar benar takut Bryan akan meminta haknya
ketika Nindy terdiam diam diam Bryan mendekatinya membuat Nindy terkejut
"Kalo orang lain dengan mudah Lo peluk dan tinggal bersama lalu apa susahnya buat Lo layanin gue seperti suami istri pada umumnya" ucap Bryan memeluk pinggang Nindy dari belakang
"Lepas " Nindy berusaha melepaskan tangan Bryan
"Lawan gue kalo gue menang Lo bebas kalo Lo kalah turutin kemauan gue" ucap Bryan melepaskan pelukannya
"Gak mau, gue mau pergi" ucap Nindy seraya berlari ke arah pintu
Nindy menarik narik pintu tapi ternyata di kunci
Nindy berbalik menatap Bryan yang bersandar pada dinding menggantung gantungkan kunci di tangannya
Nindy dengan malas kembali menghampirinya
mau tidak mau dia mencoba menerima tantangan dari Bryan
setiap serangan Nindy dapat di tangkis oleh Bryan
Bryan tidak sedikit pun menyerang Nindy
Nindy kelelahan dia duduk di sofa tanpa mendengarkan ocehan Bryan
"Jadi nyerah nih? ngaku kalah dong?" ucap Bryan menghampiri Nindy
Nindy hanya diam tidak menanggapinya dengan nafas ngos-ngosan
Bryan memberikan segelas air dingin bukannya diambil Nindy malah memandangi gelas itu
"Gak gue racun kok, nih liat" ucap Bryan seraya meneguknya
"Nih minum" lanjut Bryan mengulurkan gelasnya
"Gue harus minum bekas Lo gitu?" tanya Nindy
" Bukannya dulu Lo paling suka minum di gelas yang sama? atau mau langsung dari mulut gue?" goda Bryan
"Gak usah di bahas" ucap Nindy mengambil gelas dan menengguknya sampai habis
"Jadi mulai hari ini ikutin semua perintah gue" ujar Bryan
"Ya ampun gue lupa di apartemen gue ada Cia " ucap Nindy lalu berdiri untuk pergi
"Kalo alesan Lo pergi buat menghindar dari gue jangan harap" ucap Bryan yang sudah tau akal Nindy untuk pergi
"Tapi Cia..." ucapan Nindy terhenti
"Gue bakal bawa dia kesini" akhirnya Nindy tidak bisa pergi kemana pun
Di negara lain Roy menemukan petunjuk tentang hilangnya ibu Leo dan Nindy dulu
mereka kini sedang mengintai di sebuah bangunan yang terbengkalai
__ADS_1
Mereka tidak bisa masuk dan mencari informasi lebih lanjut karena penjagaan yang sangat ketat
dia hanya di beri tahu orang suruhan mereka yang tertangkap saat memata matai rumah Dion
flashback on
Roy dan Dion sedang membicarakan sesuatu di teras rumah
mereka duduk menikmati secangkir teh mereka selalu membicarakan sesuatu dengan santai agar tidak di curigai orang
Roy melihat bayangan di bawah dari balik dinding yang menuju ke belakang
Dia segera mengirim pesan mengintruksikan agar semua pintu di tutup
semua anak buahnya mengepung rumah itu
tanpa sepengetahuan si pengintai
"Paman ada seseorang yang mengintai kita, tepat di belakang paman" pesan yang di tulis Roy untuk Dion
Setelah mengetahui hal itu mereka berbincang seperti biasa agar orang itu lengah dengan mendengarkan percakapan mereka
ketika orang itu sedang fokus mendengarkan dari belakang dia di ringkus oleh anak buah Roy
mereka mengikat dan menyeretnya kehadapan Roy
wajahnya tidak memancarkan rasa ketakutan sedikit pun padahal dia sudah tertangkap basah
"Siapa yang mengirimmu kesini?" tanya Roy
"Tidak ada, apa kau tidak lihat seragamku? aku bekerja disini" ucap orang itu
"Ohh masih tidak mau mengakuinya? apa aku harus mematahkan jarimu satu persatu?" bentak Roy
Orang itu masih tidak mau mengaku dia berpikir Roy tidak akan berani melakukan apa pun padanya
dia menganggap Roy hanya bagian keluarga itu saja padahal mereka tidak mengetahui bahwa Leo memiliki banyak anak buah yang terbilang kejam
Kretakk
Roy mematahkan jari telunjuk orang itu membuatnya menjerit kesakitan
kini Roy sudah memegang jari jarinya yang lain
dengan pertanyaan yang Roy lontarkan dia memegang seluruh jarinya satu persatu
ketika dia menolak menjawab maka dia akan mematahkan jarinya
"Aaarrrggghhhhh ampun... ampuni saya tuan" teriaknya kesakitan
"Minta ampun sekarang ya hmmm? kemana keberanian dan keangkuhan yang tadi kau tunjukkan?" cecar Roy tapi dia tidak menjawab dia merintih kesakitan
"Sekarang katakan apa yang kau cari disini?" tanya Roy
"Sssa.. ssaya di suruh memata matai rumah ini tuan" ucapnya
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Roy
"Saya ti.. ttidak tau tuan" jawabnya
"Bohong, kau mau aku patahkan semua tulang mu?" bentak Roy
"Ssu.. sssungguh tuan, saya hanya di bawa ke gedung terbengkalai dan di tawari pekerjaan untuk memata matai tuan Dion tapi saya tidak tau siapa dia kami hanya berbicara lewat telepon" jelasnya
"Dimana alamat gedung yang kau maksud?" tanya Roy
Orang itu menjawab setiap pertanyaan Roy dengan jujur
dia tidak sanggup menahan sakit akibat beberapa jarinya di patahkan oleh Roy
anak buah Roy membawanya ke penjara bawah tanah setelah di obati oleh dokter
Flashback off
Setelah mengetahui letak gedung yang di maksud Roy kembali pulang kerumahnya
kondisi tidak memungkinkan untuk mereka masuk akhirnya mereka memutuskan kembali
Roy menghubungi Leo tentang kabar ini
Sontak Leo terkejut dengan kabar ini dia yang sedang bermain dengan Cia pun menyerahkan Cia pada Nindy
yang sekarang di tahan di apartemen Bryan
Ting tong ting tong
Leo memencet bel apartemen Bryan dengan menggendong Cia dan barang bawaannya
ketika Bryan membuka pintu Leo dengan tergesa gesa menyerahkan Cia ke gendongan Bryan
Bryan yang tidak tau apa apa pun hanya menerima dengan raut wajah bingung
"Kak keluarin aku dari sini" ucap Nindy manja melihat ada Leo
"Udah disini aja dulu gue ada urusan penting, gue titip Cia ya" ucapnya pada Bryan
"Tapi gue.." ucapan Bryan terhenti saat Cia memanggil Leo
"Dady.. Cia ikut Dady mau kemana?" rengek Cia
qa
"Sayang Dady titip disini dulu ya jangan nakal nurut sama mama, Dady pasti cepet cepet balik lagi ya, daahhh " ucap Leo mengelus kepala Cia lalu pergi
"Dady.. mama?" gumam Bryan heran menatap Nindy
"Kalian udah?" pertanyaannya tergantung saat Nindy mengambil alih Cia
" Mama Dady mau kemana? tadi Dady janji mau ngajarin gambar" ucap Cia memeluk leher Nindy dan membenamkan wajahnya disana
"Lain kali aja ya Dady kerja dulu cari uang buat kita" ucapan Nindy semakin membuat Bryan terbakar api cemburu
"Lo udah nikah sama dia di saat Lo masih berstatus istri gue?" bentak Bryan
Nindy mengisyaratkan Bryan agar diam dengan mengacungkan lima jarinya
lalu dia menyuruh Cia agar tunggu di kamar dan jangan keluar
"Kalo ngomong itu liat situasi ada anak kecil kalo dia ngikutin kebiasaan buruk bentak bentak orang itu gak bagus" ucap Nindy
Bryan yang kesal menarik Nindy kedapur agar menjauh dari kamar yang di tempati Cia
Bryan mendorong Nindy ke kulkas dan memepetkan tubuhnya
Nindy hanya menggerakkan wajahnya ke kiri dan ke kanan karena wajah Bryan terus mendekati wajahnya
"Jadi sedekat apa Lo sama Leo?" tanya Bryan yang hidungnya kini sudah menempel dengan hidung Nindy saking dekatnya
"Gu.. ggue gue " tenggorokan Nindy terasa tercekat dia tidak bisa mengeluarkan kata kata yang sudah dia siapkan
Jantung mereka berpacu bahkan mereka bisa mendengar detak jantung satu sama lain
wajah Bryan semakin mendekat bahkan kini dia memiringkan wajahnya seperti akan. mencium Nindy
dengan refleks Nindy memejamkan matanya
Bryan melihat mata Nindy sudah terpejam dia mempunyai ide untuk mempermalukan Nindy
dia berbelok ketelinga Nindy dan berbisik membuat bulu kuduk Nindy meremang
"Kenapa gak bisa jawab?" bisik Bryan lalu pergi
Nindy mengerjapkan matanya setelah mendengar kalimat itu
kini dia sedang merutuki kebodohannya dia berbicara dalam hati seraya memukul mukul pelan kepalanya
***Like komen dan vote
__ADS_1
kasih aku semangat ya 😍😍***