
Leo membawa Dara ke mansion barunya dan menelpon dokter untuk memeriksa keadaan Dara
tidak lupa Leo juga menelpon Nindy dan mengatakan bahwa Dara sudah bersama dirinya
namun saat Nindy bertanya dimana mereka Leo tidak ingin siapa pun tau
"Sayang enaknya gimana ya ngomong sama ayah dan ibu Dara? " tanya Nindy pada Bryan
"Bilang saja Dara pergi liburan karena merasa kacau balau, dan kita harus meyakinkan orang tuanya agar kembali ke kampung supaya tidak ada pertanyaan lagi tentang Dara.. aku yakin Leo gak akan lepasin Dara" jawab Bryan
"Kamu bener kak Leo orang yang keras kepala" lirih Nindy
"Besok antar aku ke rumah Dara" lanjut Nindy
"Dengan senang hati sayang" Bryan memeluk dan mencium pipi Nindy
.
.
Di kediaman Meira
Tamara segera pulang setelah mendengar kabar tentang putrinya
Meira yang terkejut Tamara sudah ada di hadapannya hanya bisa bengong saat di tanya dimana suaminya
"Dimana Leo? apa kalian benar benar melakukannya? " tanya Tamara
"Entahlah ma sebaiknya mama jangan banyak bertanya, ayo istirahat" Meira menggandeng ibunya masuk
"Kamu malu ya? gak usah malu malu, besok mama mau bikin jamu buat kalian berdua" Tamara sangat senang mendapatkan menantu seorang Sultan
"Terserah mama sekarang mama istirahat, aku juga mau tidur dan jangan tanya Leo dia lagi lembur" ucap Meira lalu pergi
"Akhirnya anakku bisa mendapatkan suami yang kaya, meskipun merebut hak orang lain" bukannya menasehati tamara malah bangga dengan anaknya
Di kamar Meira menelpon Leo
"Hallo, Leo kamu dimana? "
"Gak usah sok akrab" ketua Leo
"Gue mohon besok lo kesini temuin mama gue"
"Apa yang menjadi alasan kuat supaya gue nemuin nyokap lo? "
"Dia lagi sakit leukemia langsung pulang dari Singapura saat tau kita nikah"
"Gue gak mau paling cuma akal akalan lo doang"
"Please Leo gue bersumpah demi mama dia sakit, gue mau lakuin apapun asal lo pura pura jadi suami yang baik di depan mama" Meira mengira Leo akan meminta haknya sebagai seorang suami
"Apa omongan lo bisa di pegang? "
"Gue janji"
"Oke.. syarat pertama setelah nyokap lo kembali kita cerai
kedua gak ada kontak fisik
ketiga jangan campurin urusan pribadi gue" ucapan Leo membuat Meira mematung tidak terasa air matanya lolos begitu saja
__ADS_1
Meira diam mendengar permintaan Leo
"K*alo lo gak mau gak apapa gue juga gak bakal pura pura di depan nyokap lo"
"Oke gue setuju, kalo emang lo gak pernah bisa buka hati lo buat gue"
"Jangan mimpi*" kalimat terakhir Leo lalu mematikan teleponya
.
.
Leo senantiasa menggenggam tangan Dara saat dokter sedang memeriksa Dara
menatap wajah Dara yang terlihat pucat
"Dia belum makan dari pagi dan angin pantai yang cukup kuat juga membuat tubuhnya menjadi sangat lemah, setelah ini mungkin akan ada demam saya beri obat penurun panas, juga obat maag dan vitamin"
"Ini obatnya saya juga tulis dengan dosis yang harus di berikan, ada yang ingin di tanyakan lagi tuan? " tanya dokter
"Tidak sudah cukup, nanti saya transfer biayanya" jawab Leo
"Baik tuan, saya permisi"
Setelah dokter pergi Leo kembali mengecek sedikit pekerjaanya di sofa
satu jam kemudian terdengar suara lenguhan Dara
"Ng.. mhh " Leo segera mendekati Dara dan menyentuh dahinya yang terasa panas
"Demam" gumam Leo
Leo mengompres kening Dara dengan air hangat
ide gilanya muncul teringat dulu dia sering di perlakukan seperti itu oleh daddy Dion
Matahari mulai menampakan sinar indahnya masuk melalui ventilasi udara dan celah celah jendela
Dara mengerjapkan matanya berkali kali tubuhnya terasa berat dan hangat
saat dia membuka mata betapa terkejutnya Dara Leo memeluknya tanpa menggunakan atasan tubuhnya polos
Dara melirik tubuhnya sendiri yang kancing piyamanya sudah terbuka menempel di tubuh Leo
Plak
"Awww kok pagi pagi maen tampar aja sih? " Leo langsung bangun memegang pipinya
"Apa ini leo? jelasin? " teriak Dara
"Semalem kamu pingsan terus demam, udah di kompres gak turun turun makanya aku pakai mode skin to skin"
"Jangan bohong Leo" teriak Dara
"Aku gak bohong liat itu ada obat semalem dokter periksa kamu, mau di kasih obat tapi gak bangun bangun"
Bughhhhh
Dara kembali memukul Leo kali ini dengan bantal lalu pergi ke kamar mandi
setelah mandi dan ganti baju Dara mengemas bajunya hendak pergi dari mansion Leo
__ADS_1
melenggang pergi dengan kopernya
sesampainya di depan pintu Dara melihat beberapa orang berjaga di depan
"Maaf nyonya mau kemana? " tanya penjaga dengan tubuh besar
"Mau pulang mau apa lagi" jawab Dara
"Tuan tidak memperbolehkan nyonya pergi, silahkan kembali ke dalam"
Dara tidak mengindahkan perkataan penjaga tersebut dan memaksa keluar
tanpa diduga penjaga itu mengangkat Dara seperti karung beras dan membawanya kembali masuk
Dara mendengus kesal menatap pintu yang kembali tertutup
"Mau kemana sayang? " tanya Leo yang baru saja turun hanya memakai celana pendek selutut tanpa baju
Dara menelan salivanya melihat otot otot Leo membuat Leo menyeringai
tanpa Dara sadari kini Leo sudah berada di hadapannya
"Fyuuhh" Leo meniup wajah Dara membuatnya tersadar dari lamunannya
"Kamu mikir mesum ya? " goda Leo
"Gak, aku mau pulang Leo gak baik kita tinggal satu atap kamu suami orang" ucap Dara
"Kamu istri aku selamanya cuma akan menjadi istri aku" jawab Leo semakin berjalan mendekati Dara
"Jangan main main aku gak mau di cap wanita perebut suami orang" Dara mundur seiring dengan majunya langkah Leo
"Kamu harus tetep disini sama aku, baik baik atau aku akan melakukan sesuatu yang gak pernah kamu pikir sebelumnya" Leo meraba pinggang Dara lalu menekan pinggang belakangnya memepetkan tubuhnya
"Jangan lakuin sesuatu yang akan buat aku benci sama kamu seumur hidup" ancam Dara namun sepertinya Leo tidak mendengarkannya wajahnya semakin mendekat malah sekarang sebelah tangannya perlahan mengusap wajah dan menekan tengkuk Dara memberikan ciuman yang semakin lama semakin menuntut
Dara memukul dada Leo tapi Leo tidak menggubris nya
"Jangan pernah macam macam atau aku bisa berbuat lebih " kemudian Leo mengusap bibir Dara
"Dasar gila" hardik Dara menabrak bahu Leo kembali ke kamar
Drrttttt drrttttt
Handphone Leo berbunyi di atas nakas Dara sempat mengintip ternyata itu panggilan dari Meira
Leo yang baru keluar dari kamar mandi segera menyambar handphonenya
"*hallo"
"Iya"
"Iya" Leo dengan malas menjawab telepon Meira
"Leo aww" suara Dara saat dia menatap sebal Leo yang menjawab telepon
Leo mendorong tubuh Dara dan menindih nya serta menggigit kecil leher Dara
"Leo itu siapa? tanya Meira
" Bukan urusan lo*" Leo kemudian mematikan teleponya
__ADS_1
"Dara" gumam Meira setelah Leo memutuskan teleponya