
Terlihat sosok seorang pria yang gagah dengan wajah bulenya
langkahnya menyusuri lorong rumah sakit
setiap mata yang memandang di buat takjub oleh parasnya
Dia membuka pintu ruangan yang didalamnya terlihat seorang wanita terbaring lemah
dia mendekatinya betapa terkejutnya dia ternyata orang yang di tolong bawahannya adalah wanita yang selama ini menjadi teman baiknya
"Nindy"lirih Leo seraya mengelus kepala Nindy
"Bos kenal?" tanya Roy bawahannya
"Dia teman saya" ucap Leo masih memandangi wajah lebam Nindy
Entah apa yang dirasakan Leo hatinya tersayat melihat kondisi Nindy sekarang
air matanya menggenang di pelupuk mata
dia menggenggam erat tangan Nindy
"Dimana anaknya?" tanya Leo
"Di ruang bayi bos masih di inkubator dia lahir sebelum waktunya" ucap Roy
"Saya kesana dulu kalian jaga disini" ucap Leo
"Baik bos" ucap Roy
Langkah demi langkah Leo jejaki sampai tiba di sebuah ruangan yang di huni bayi bayi mungil
Leo melihat dari kaca di luar dia tidak tau bayi Nindy ada di sebelah mana
"Maaf sus saya mau tanya tentang bayi yang baru lahir semalam" tanya Leo
"Maaf tuan yang lahir semalam ada banyak lebih tepatnya atas nama siapa?" tanya suster
"Atas nama Nindy " ucap Leo
"Maaf tidak ada tuan" ucap suster
Leo lupa Roy tidak mengenal Nindy dia juga tidak tau Roy mendaftarkan nama siapa untuk Nindy
"Apa anda cari bayi yang semalam ibunya diantar dalam keadaan di aniaya tuan?" tanya suster ragu
"Iya sus bisa tolong tunjukkan?" ucap Leo
"Anda siapanya?" tanya suster
"Saya saudaranya pasien wanita itu namanya Nindy " ucap Leo
"Mari saya antar" ucap suster membuka ruangan
Suster menuju sebuah inkubator yang berada di pojok ruangan
ketika suster hendak menggendong bayi mereka terkejut
bayi disana sudah tidak ada Leo mengumpat dia bersumpah akan mencari siapa yang sudah melukai Nindy
"Bagaimana bisa rumah sakit kehilangan bayi? apa kalian tidak menjaganya dengan benar?" bentak Leo
"Maaf tuan kita akan berusaha mencari siapa orang yang mengambil bayinya" ucap suster
Leo melihat ada cctv di ruangan itu dia memutuskan untuk melihat lewat cctv
''Dimana ruangan cctv?" tanya Leo
"Maaf tuan hanya para staf rumah sakit yang bisa masuk kesana" ucap suster takut karena Leo seperti macan yang siap menerkam
"Baiklah saya akan melaporkan kasus ini pada pihak yang berwenang" ucap Leo membuat suster itu semakin takut
Akhirnya suster mengantar Leo ke ruangan cctv
disana sudah ada yang menjaga Leo meminta rekaman di putar kembali saat Nindy masuk hingga hari ini
Leo melihat Nindy di bawa oleh Roy dan anak buahnya
tapi di belakang mereka ada dua orang yang menguntit
mereka memakai pakaian serba tertutup Hoodie sarung tangan masker dan kaca mata
membuat mereka sulit di tebak
"****" umpat leo saat mereka diam diam membawa kabur bayi Nindy
Ternyata suster itu tertidur saat berjaga membuat mereka leluasa melakukan aksinya
Leo benar benar marah pada suster itu karena tidur saat bertugas
"Apa kau sudah gila haahh? lihat saja kau akan di pecat " ucap Leo
"Tuan maafkan saya, saya tidak akan melakukannya lagi" ucap suster menahan tangan Leo tapi Leo menepisnya dan pergi
Leo kembali ke ruangan Nindy saat dia kembali Roy pamit untuk mencari kembali adik Leo yang hilang
Leo menelpon Bryan tapi tidak ada jawaban akhirnya dia hanya mengirimkan pesan
08xxxxxxxxxx
Nindy ada di rumah sakit xx segera kesini dia kritis dan anak kalian hilang
Setelah mengirim pesan Leo kembali menghampiri Nindy
dia menggenggam tangan Nindy dengan sebelah tangan mengelus kepalanya
"Maaf kami gak bisa jaga anak lo dengan baik, kalau aja malam itu gue segera datang mungkin bayi malang itu tidak akan hilang" ucap Leo
Perlahan tangan Nindy bergerak Leo menghapus air matanya
Leo merasa lega akhirnya Nindy sadar
dia membuka matanya perlahan
"Kak Leo bilang anak gue hilang?" tanya Nindy
"Lo tenang dulu, kita lagi berusaha cari" ucap Leo
"Aaarrrggghhhhh kenapa semua terjadi sama gue? kenapa harus anak gue kenapa aaarrrggghhhhh hiks hiks" teriak Nindy
__ADS_1
Nindy mencabut infus yang menancap di tangannya
dia melangkahkan turun tapi dia terjatuh karena lemas
dia meringis kesakitan hingga luka di paha dan perutnya kembali mengeluarkan darah
"Gue udah bilang Lo harus sembuh dulu" ucap Leo menggendong Nindy kembali ke tempat tidur
"Gue harus cari anak gue, dia satu satunya yang gue punya" teriak Nindy menangis tersedu sedu
"Tenang Nindy gue janji bakal cari bayi Lo" ucap Leo tapi Nindy masih tidak bisa tenang
Akhirnya Leo memanggil dokter untuk menenangkan Nindy
karena terus berontak luka Nindy kembali mengeluarkan darah yang cukup banyak
dokter akhirnya menyuntikkan obat bius
Nindy terkulai lemas dan hampir jatuh ke bawah tapi Leo menahannya
Nindy tertunduk yang membuat kalung yang di pakainya menjuntai
Leo menyentuh liontinnya betapa bahagianya Leo sekarang
dia bertemu dengan adiknya kembali setelah belasan tahun tidak bertemu
dia menidurkannya lalu mengelus kepala dan mencium keningnya
Leo kembali menelpon Bryan tapi handphonenya malah tidak aktif
ketika sedang fokus menelpon Nindy menyentuh tangan Leo membuatnya berbalik
"Udah bangun, mau minum atau makan?" tanya Leo
"Kak Leo nelpon siapa?" tanya Nindy
"Bryan tapi handphonenya gak bisa di hubungi sama sekali" ucap Leo
"Gak usah kak dia gak akan peduli lagi sama gue" ucap Nindy
"Apa Bryan yang udah pukuli. Lo?" tanya Leo dengan marah
"Bukan kak gue juga gak kenal" ucap Nindy
"Gimana bayi gue kak udah ketemu?" tanya Nindy dengan berlinang air mata
"Belum sabar dulu ya anak buah gue lagi berusaha" ucap Leo
"Harusnya papanya yang nyari dia harusnya dia yang ada buat gue tapi dia malah..." ucapannya terputus seakan tidak sanggup lagi mengatakannya
" Malah apa ngomong sama gue? " ucap Leo mengguncang bahu Nindy
Sambil terisak Nindy menceritakan semuanya Leo yang mendengar cerita Nindy mulai dikuasai amarah
dia hendak pergi memberi pelajaran kepada Bryan tapi Nindy menahannya
"Udah kak gak akan ada gunanya lagi, kalo pun dia kembali mungkin hanya raganya aja tidak dengan hatinya" ucap Nindy tertunduk
"Gue harus cari anak gue kak, gue takut dia kehausan, dia pasti lapar" ucap Nindy
"Lo fokus sembuh dulu gue udah kerahkan semua anak buah gue buat nyari bayi Lo, Lo tau? anak Lo di culik sama dua orang tapi pakaian mereka tertutup tidak bisa dikenali" ucap Leo membuat Nindy kembali menangis sesenggukan
Nindy masih terus saja menangis tidak makan dan minum dari semalam
Leo khawatir dengan keadaan Nindy meskipun dokter sudah menanganinya tapi tetap saja Leo merasa cemas
"Gue mau tanya boleh?" tanya Leo pada Nindy yang masih menangis dan Nindy hanya mengangguk
"Darimana Lo punya kalung itu?" tanya Leo
"Hidup gue gak beruntung, gue di buang orang tua gue sejak bayi dan kata ibu cuma ini petunjuk yang bisa bawa gue ke orang tua kandung gue, mungkin gue aib buat mereka" ucap Nindy mengelap air matanya
Bukan berbicara lagi Leo malah memeluknya membuat Nindy tertegun
tidak ada yang berbicara diantara mereka Nindy merasakan bahunya basah
dia tau Leo sedang menangis sekarang
Nindy membiarkan Leo memeluknya hingga dia tenang
Nindy hanya mengelus punggung Leo
sepertinya kesedihannya lebih berat darinya
"Mereka bukan buang Lo tapi orang brengsek itu yang udah memisahkan kita" ucap Leo
"Kita? maksudnya?" tanya Nindy lalu Leo pun mengeluarkan kalungnya
Deegggggg
Nindy mematung sesaat dia tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya sekarang
Leo menangkup kedua pipi Nindy dan menghapus lelehan air mata yang mengalir di pipinya
"Kak Leo kakak gue?" tanya Nindy dan Leo hanya tersenyum dan mengangguk
Nindy memeluk erat Leo dan dia pun melakukan hal yang sama
meskipun ada kesedihan yang bertubi-tubi tapi dia bersyukur dapat bertemu dengan keluarganya
ketika Nindy hendak bertanya handphone Leo berbunyi
"Siapa kak?" tanya Nindy
"Bryan dia baru hubungin sekarang, gue udah kasih tau dia Lo di rawat disini mungkin dia diperjalanan kesini" ucap Leo
"Gue harus pergi" ucap Nindy mencabut kembali infusnya
"Jangan gini, Lo belum sembuh" ucap Leo
"Gue gak mau ketemu Bryan, gue harus pergi sebelum dia kesini" ucap Nindy histeris
"Iya oke tunggu kakak bayar administrasi dulu" ucap leo
Setelah membayar administrasi Leo membawa Nindy pergi sesuai permintaannya
ketika Bryan kesana dan menanyakan kepada resepsionis ternyata Nindy sudah pulang
dia menelpon Leo tapi handphonenya tidak bisa di hubungi
__ADS_1
"****, sebenarnya siapa yang hubungin gue tadi" umpat Bryan
"Istri gue dan anak gue pergi, kemana gue harus cari mereka aaarrrggghhhhh ini gak adil buat gue" teriak Bryan didalam mobil seraya memukul mukul stir
Nindy terus menangis saat di pesawat dia memutuskan untuk ikut pulang dengan Leo
tidak ada yang dapat Leo lakukan dia hanya bisa menemani dan menyemangati Nindy
anak buahnya dan polisi masih belum bisa menemukan bayi kecil itu
Karena terlalu lelah Nindy akhirnya tertidur
Leo menatap wajah lelah Nindy yang masih penuh luka memar
kenapa disaat dia bertemu kembali dengan adiknya dia malah merasakan kehilangan kembali sosok bayi kecil
Waktu terasa berputar kembali meskipun Leo tidak ingat bagaimana dulu ia bisa kehilangan keluarganya
tapi rasa sakit yang dia rasakan saat ini sama persis dia bisa merasakan rasa sakit yang Nindy rasakan
Leo mengelus kepala Nindy juga menggenggam erat tangannya
pesawat sudah mendarat Leo membangunkan Nindy dan memindahkannya ke kursi roda
supir sudah menjemputnya di bandara
Sesampainya di halaman rumah Nindy sangat takjub melihat rumah yang begitu besar dengan halaman yang luas dan para asisten rumah tangga yang begitu banyak menyambut mereka
Nindy mendongak menatap Leo di belakangnya
Leo tersenyum mengelus bahu Nindy lalu mendorongnya masuk
"Selamat datang di rumahmu nak" sapa seorang pria yang usianya sekitar 50th tapi masih tampak gagah
"Apa kabar dad?" ucap Leo merangkul Dadynya
"Baik nak, bagaimana keadaan kalian?" tanya Dion mengusap pucuk kepala Nindy
"Baik sangat baik Dad" ucap Leo
"Mari masuk, para maid akan membantumu berganti pakaian" ucap Dady Dion
Leo mengantar Nindy kekamar dan di ikuti 2art yang akan membantunya
awalnya Nindy menolak tapi Leo memaksa dia khawatir Nindy akan terluka lagi
"Dari mana aku harus memulai hidupku apa yang harus aku tata terlebih dulu
cinta.. aku sudah tidak mempercayainya lagi
bagaimana bisa aku percaya cinta jika dalam satu hari aku bisa kehilangan semua cintaku
cinta suamiku dan buah cinta kami
aku tidak berguna, seorang ibu macam apa aku menjaga anaknya saja tidak bisa
bahkan seekor singa pun bisa menjaga anak mereka" gumam Nindy dalam hati
Dia sedang berendam di bathtub sambil menangis
ingatannya bersama Bryan terngiang ngiang di telinganya
semua kata kata manis nya bagaikan putik bunga yang mengundang lebah
Dia tersenyum sinis mengingat semuanya bahkan dia menyesal pernah mencintai lelaki seperti Bryan
Nindy mulai menenggelamkan dirinya perlahan-lahan
para maid yang menunggu lama di depan pintu kamar mandi mengetuk pintunya
"Nona apa anda baik baik saja?" tanya seorang maid sebut saja Patricia
tidak ada jawaban dari dalam hanya ada suara keran air yang di nyalakan
seorang maid pergi memanggil Leo karena pintu kamar mandinya terkunci
Leo yang baru saja datang segera mendobraknya
Mereka terkejut melihat Nindy tenggelam di bathtub yang kerannya menyala
Patricia menutup tubuh Nindy lalu Leo mengangkatnya ke ranjang
"Pakaikan dia baju lalu panggil dokter" ucap Leo lalu keluar
Nindy membuat Leo ketakutan karena ulahnya
Leo tidak mau kembali kehilangan adik semata wayangnya
saat dokter datang dia langsung memeriksa Nindy
Di kediaman Bryan
dia masuk ke ruangan kerja ayahnya untuk memberi tahu sesuatu tentang Nindy
Bryan bercerita tentang Nindy yang di rawat di rumah sakit karena mengalami luka penganiayaan dan bayinya yang hilang lalu Nindy juga pergi entah kemana
Bunda yang tidak sengaja mendengar itu pun langsung terjatuh pingsan
kepala membentur meja cukup keras mengakibatkan luka yang besar mengeluarkan darah
Saat ini Bryan sedang mondar mandir di depan ruangan bunda
berbeda dengan ayah dia hanya duduk menyangga kepalanya dengan tangan dari depan
dokter keluar membuat mereka segera menghampirinya
"Gimana keadaan bunda dok?" tanya Bryan
"Maaf tuan nyonya mengalami syok berat di tambah benturan yang sangat keras di kepalanya membuat nyonya tidak dapat membuka matanya, nyonya koma dan entah kapan nyonya akan sadar itu tergantung kemauan dan kemampuan kerja otaknya" ucap dokter membuat Bryan terduduk lemas dengan pandangan kosong
Hari ini dia kehilangan sosok yang amat sangat dia cintai bundanya juga istri dan anaknya
Bryan benar benar hancur dia menangis tapi tidak bersuara tatapannya kosong dengan tubuh yang di sandarkan di kursi
"Sebaiknya kamu pulang istirahat biar bunda ayah yang jaga" ucap ayah tapi Bryan menggeleng
"Kalo kamu gak istirahat kamu bisa sakit siapa yang akan mencari Nindy dan bayimu, bunda akan sangat marah kalo dia bangun Nindy dan cucunya belum kembali" ucapan ayah seperti menyadarkan Bryan dia mengelap air matanya lalu pamit pulang untuk beristirahat....
Like komen dan vote ya 😍😍😍
__ADS_1
selamat membaca, semoga suka