
Damar mengerjapkan matanya berkali kali kepalanya terasa pusing
dia meraih handphone dan langsung terduduk dari tidurnya
dia panik melihat jam di handphonenya sudah menunjukkan pukul 9 pagi
"Mampus papa pasti ngamuk" Damar bergegas mandi lalu segera pergi ke kantor
Sesampainya di kantor benar saja papa Damar sedang mencak mencak sambil melihat hasil kerja Damar
Damar yang hendak kembali pergi berhenti di depan pintu saat mendengar teriakkan papanya
"Damaaaarrrrr" suara papa Damar menggelegar
"Hehe iya pa, gak usah teriak teriak dong" Damar menghampiri papanya sambil nyengir kuda
"Kerjaan macam apa ini Damar? kamu gak mikir kerja sama ini bisa merugikan perusahaan kita? " bentaknya
"Pa sabar dulu dong pa"
"Seusia kamu tidak bisa mengelola perusahaan? lihat Leo bahkan dia bisa mendirikan perusahaannya sendiri hingga bercabang sekarang" ucap papa Damar dengan nada tinggi
"Bukan seperti kamu tinggal meneruskan saja banyak gagal, kamu terlalu banyak main ke club dan minum minum gak jelas" lanjutnya
" Leo juga dulu sama kan? bahkan kehidupannya lebih bebas karena tinggal di luar, apa papa tidak membandingkan buruknya Leo dan Damar? sudahlah papa memang hanya melihat sisi baik orang lain sementara anak sendiri hanya terlihat sisi buruknya" ucap Damar lalu pergi
"Dasar anak kurang ajar" hardik papa Damar
Damar segera keluar dari ruangannya karena takut papanya terlanjur marah
Damar melewati ruang kerja staf dan mereka membungkuk memberi hormat
"Wina" panggil Damar
"Ya pak? " jawab Wina
"Nanti makan siang saya ada perlu sama kamu"
"Baik Pak"
"Bikin masalah apa tuh anak baru? " bisik staf di meja lain
"Tau tuh.. tapi kayaknya mereka udah kenal gue pernah lihat Wina di anter pak Damar pulang" seru yang lain
Waktunya makan siang
Damar kembali ke meja kerja Wina untuk mengajaknya makan siang
semua karyawan kembali berbisik bisik
papa Damar juga melihat itu dari ke jauhan dia baru melihat Wina di perusahaannya
__ADS_1
"Win ayo cepet" ucap Damar berdiri di belakang Wina
"Bentar pak ini belum beres sedikit lagi" jawab Wina tetap fokus
"Gini aja gak bisa" Damar mengetik sesuatu dengan posisinya di belakang Wina mencondongkan tubuhnya ke depan
Jantung Wina berdebar saat Damar begitu dekat dengannya
bahkan wajah mereka sangat dekat membuat Wina gugup tidak sanggup memalingkan wajahnya dia hanya menatap lurus kedepan
"Selesai" ucap Damar lalu berdiri di samping Wina
"Ayo Wina laper nih" memang sebelum kekantor Damar belum sarapan
Tidak ada jawaban dari Wina akhirnya Damar mengambil tangan Wina dan menariknya untuk berdiri
berjalan menuntun tangan Wina
yang di genggam tangannya hanya melongo menatap pada tangannya yang di genggam Damar
"Kenapa sih win kaki banget? " tanya Damar menoleh pada Wina
"Gak tau cuma canggung aja" jawab Wina
"Bukannya dulu kita berteman baik sering jalan dan makan bertiga sama Dara setelah Nindy keluar dari sekolah? " memang setelah kepergian Nindy mereka bertiga berteman baik
"Iya ya tapi gak tau kenapa jadi beda aja" jawab Wina
"Bedanya? " tanya Damar bingung
"Mungkin karena gue tampan" goda Damar
"Mungkin" tanpa di sadari Wina mengiyakan ucapan Damar
"Eehh enggak bukan gitu aduuhh apa ya" ralat Wina
Damar tertawa lalu merangkul bahu Wina membuat Wina semakin gugup
"Kamu semalem pergi kemana? " tanya Damar seraya berjalan merangkul bahu Wina
"Ada di kostan"
"Pacar kamu? " tanya Damar
"Gak tau dia bilang lembur"
"Oohh..... " Damar hanya manggut manggut
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
Dara membawa bekal ke kantor Leo meskipun Leo sudah melarang tapi Dara bersikukuh ingin makan siang di kantor
__ADS_1
sedari tadi dia menunggu di depan pintu ruangan Leo karena di dalam sedang ada meeting
Pintu ruangan terbuka orang orang keluar satu persatu sampai akhirnya Leo sendiri yang keluar
Leo terkejut melihat Dara berdiri di dekat pintu membawa rantang makanan
"Astaga... dari kapan kamu disini? kenapa gak masuk? " tanya Leo mendekap tubuh Dara
"Aku tadi udah mau masuk tapi kamu lagi meeting jadi aku tunggu di luar aja" jawabnya
"Kamu pasti pegel berdiri terus, udah lama nunggu? " tanya Leo membawa dara duduk di sofa
"Gak baru aja" bohong Dara padahal dia berdiri disana hampir satu setengah jam
"Nah sekarang kita makan" Dara membuka setiap wadah
Leo mengambil piring Dara dan mulai menyuapinya makan
"Aku makan sendiri aja, kamu makan punya kamu" Dara tidak mau Leo fokus menyuapinya dan tidak kunjung makan
"Baiklah" Leo menumpahkan makanan ke piring Dara dan makan satu piring berdua
Setelah makan dan membereskan bekas makannya Dara tertidur di sofa
Leo yang sedang bekerja sesekali menatap istrinya yang tidur meringkuk seperti bayi
sudut bibirnya tertarik tersenyum manis menatap istrinya yang sedang menggeliat
"Eemmhh... " Dara duduk mengucek matanya
"Kamu tidur nyenyak banget" ucap Leo
"Masa sih? "
"hhmm.. sini" Leo melambaikan tangannya
"Apa? " Dara berkata sambil berjalan mendekat
"Duduk disini" Leo menepuk pahanya
"Malu ahh nanti ada yang masuk"
"Mereka gak akan masuk kalo aku gak suruh" Leo menarik lembut tangan Dara menuntunnya duduk di pangkuannya
"Lihat, ini dekorasi kamar buat bayi kita nanti kamu suka yang mana? " Leo menunjukkan beberapa konsep
"Apa perlu pilih sekarang kita belum tahu jenis kelaminnya" ucap Dara mengelus dagu dan rahang leher dan dada Leo yang di tumbuhi bulu
"Jangan sembarangan sentuh" ucap Leo
"Kenapa? " tanya Dara dengan terkekeh
__ADS_1
"Sentuhan kamu kayak listrik bisa bangunin yang lain" bisik Leo menyusuri wajah dan leher Dara dengan hidungnya
"Kamu nakal" Dara menahan kepala Leo dengan menangkup kedua sisi wajahnya