
Berbulan bulan telah berlalu Nindy menjalani hari harinya yang begitu berat
kini kandungannya sudah menginjak 7 bulan
Nindy sudah tidak sekolah sejak 3bulan yang lalu
Karena kehamilannya telah di ketahui oleh semua murid di sekolahnya
Nindy terpaksa belajar di rumah dan Bryan pun kena omel bunda karena tidak mendengarkan perkataannya membuat Nindy harus meneruskan sekolahnya di rumah
Kejadian 3 bulan yang lalu membuat Nindy tidak bisa melupakannya
Dan membuatnya malu jika bertemu dengan teman teman sekolahnya
mereka selalu mengolok Nindy karena Maria menyebarkan video yang dia dapat dari Hendrico
Maria juga menyebarkan berita bohong tentang kehamilan Nindy
meskipun keluarga Bryan sudah menjelaskan pada mereka namun tetap mereka tidak percaya begitu saja
sampai mereka mendesak pihak sekolah untuk mengeluarkan Nindy
"Bosen banget di rumah terus" gumam Nindy menatap keluar jendela
"Keluar yuk kita nonton" ajak Bryan
"Aku males, malu rasanya kalo ketemu temen sekolah" ucap Nindy lesu
"Hei gak usah denger kata mereka, kita gak seperti yang mereka bicarakan kalo pun mereka tidak percaya tapi Allah tau semuanya" ucap Bryan menangkup dagu Nindy
"Tapi..." ucap Nindy terpotong saat Bryan menempatkan jari telunjuk di bibirnya
" Jangan ngomong apa apa lagi pokoknya hari ini kita jalan jalan" ucap Bryan memaksa Nindy
Nindy akhirnya setuju ikut Bryan keluar jalan jalan
dia memakai setelan ibu hamil dan Hoodie milik Bryan tidak lupa memakai masker
sesampainya di mall Bryan sedang membeli tiket dan Nindy hanya mengekor pada Bryan
Ketika hendak masuk ke bioskop Bryan menabrak seorang wanita
lalu wanita itu tersenyum meminta maaf begitu pun Bryan
Nindy hanya mendelik menganggap Bryan kegatelan
" Senyum aja terus sampe kering tuh gigi" ucap Nindy lalu pergi mendahului Bryan
" Cieee cemburu nih ceritanya" ucap Bryan menggandeng tangan Nindy
" Diihh siapa juga yang cemburu kepedean banget" ucap Nindy ketus
" Oohh jadi kalo suami yang ganteng ini di godain cewek lain gak apa apa dong" ucap Bryan seraya merapihkan rambutnya dengan genit
Nindy menginjak kaki Bryan dengan kesal lalu pergi begitu saja
Bryan tertawa mengejar Nindy yang memberengut kesal
mereka kini sudah duduk di kursi bioskop
"Sayang kok marah marah sih?" ucap Bryan
"Perasaan ada yang ngomong tapi dimana ya?" ucap Nindy berlagak mencari sesuatu
" Aku separuh nafas kamu" ucap Bryan terkikik
"Aku mencium bau bau buaya" ucap Nindy tetap fokus ke depan
Bryan memeluk Nindy gemas membuat Nindy memukul mukul lengan Bryan
setelah film selesai Bryan menggandeng tangan Nindy sepanjang mereka berjalan
"Hai Bryan apa kabar?" sapa Maria yang tidak pernah di pedulikan lagi oleh Bryan
Bryan tidak menjawab sapaan. Maria dia memilih pergi dengan Nindy
Maria mengepalkan tangannya merasa malu sapaannya bahkan tidak di jawab di depan umum
Maria mengikuti kemana Bryan dan Nindy pergi
__ADS_1
ternyata Bryan dan Nindy pergi ke sebuah tempat makan
dia membayar seorang pelayan untuk menumpahkan minuman ke baju Nindy
Byyurrr
segelas jus tumpah di baju Nindy pelayan meminta maaf lalu pergi begitu saja
Bryan hendak memanggilnya kembali tapi Nindy melarangnya
"Udah gak apa apa, kasian nanti dia di pecat" ucap Nindy
" Aku bersihin dulu ya" lanjut Nindy lalu pergi ke toilet
Terlihat senyum jahat di wajah Maria lalu dia mengikuti Nindy
setelah selesai Nindy baru saja keluar pintu toilet dia melihat sekelebat bayangan
kini Nindy merasa ketakutan saat dia menengok kebelakang ada seseorang dengan sweater yang sama dengan orang jahat itu
Belum selesai keterkejutannya orang itu memukul tengkuk Nindy hingga pingsan
Bryan yang sudah lama menunggu Nindy pun menyusul ke toilet
Bryan melihat tubuh Nindy Nindy di gendong seseorang membuatnya naik pitam
" Lo apain Nindy brengsek" ucapnya mengepalkan tangan
"Gue gak apa apain tadi gue nemuin dia tergeletak di depan toilet" ucap Leo dan Bryan langsung merebut Nindy dari tangan Leo
" Gue gak percaya Lo pasti mau macem macem kan? sampe Lo terbukti berniat buruk sama Nindy gue gak bakal lepasin Lo" ucap Bryan lalu pergi membawa Nindy yang masih pingsan
Setelah Nindy siuman di rumah sakit Bryan terus menciumi tangan Nindy
dia tidak pernah melepaskan genggaman tangannya
"Kamu kenapa sih? lepasin dong tangan aku keringetan nih" ucap Nindy
"Kamu belum jelasin yang sebenarnya, atau jangan jangan kamu nutupin kalo sebenarnya Leo yang buat kamu pingsan" ucap Bryan
"Kamu apaan sih nuduh orang sembarangan, aku udah bilang orang yang pake Hoodie itu" ucap Nindy
"Kamu gak liatkan wajahnya, kalo itu dia gimana? terus dia pura pura baik sama kamu" ucap Bryan
" Apaaa? oohh kamu udah tau postur tubuh Leo? apa jangan jangan kamu udah liat badannya tanpa sehelai benang pun?" tanya Bryan marah
" Kamu kok jadi marah marah, bukan gitu maksudnya kak Leo tingginya sama kayak kamu, kalo cowok Hoodie itu agak pendek tapi yang tadi lebih pendek dan kecil kayak bukan cowok " ucap Nindy
" Gak Sudi aku di samain sama si kampret itu" ucap Bryan seraya pergi dari ruangan Nindy
Nindy menghela nafas kasar sekarang Bryan salah paham dan pergi
Nindy memutuskan untuk tidur tapi baru saja dia memejamkan mata
ada suara pintu di buka
"Kamu belum makan, tadikan gak jadi" ucap Bryan lalu duduk di kursi samping tempat tidur Nindy
Bryan menyuapi Nindy tapi tidak ada percakapan sama sekali diantara mereka
Bryan tau Nindy sedang takut padanya saat ini sehingga dia tidak berani bicara
"Apa ini masih sakit" ucap Bryan meraba tengkuk Nindy yang hanya mengangguk
Bryan memeriksanya ternyata tengkuknya memar
Bryan benar benar sangat marah dia tidak terima wanita yang di cintainya disakiti seperti ini
"Sayang kita tinggal di rumah bunda aja ya" ucap Bryan
"A..a..aakku " ucap Nindy takut untuk berbicara
"Sayang ini untuk kebaikan kamu sebelum aku menemukan siapa yang berniat celakain kamu, disana lebih aman" jelas Bryan
"Di rumah ibu aja, aku gak mau ngerepotin bunda" ucap Nindy
" Dengerin aku bunda pasti seneng kalo kamu mau tinggal disana bunda kesepian di rumah sendiri, lagian di sana keamanan terjamin kalo di rumah ibu kan gak seaman di rumah bunda
"Iya deh iya yang banyak scuritynya" ucap Nindy mencebikkan bibirnya
__ADS_1
Bryan yang gemas mencium bibir Nindy lalu seluruh wajahnya
Nindy yang merasa geli memukul pelan bahu Bryan
"Jadi nanti kalo pulang langsung ke rumah bunda ya" ucap Bryan
"Tapi baju kita?" tanya Nindy
"Aku yang bawain nanti, ohh iya nanti aku bakal lebih sibuk karena harus kuliah dan bantuin ayah juga di kantor belum lagi urusan cafe, kamu gak apa apa kan?" tanya Bryan
"Iya gak apa apa, kamu kan cari uang buat kita juga yang penting tetap jaga hati dan jaga kesehatan" ucap Nindy
"Oke sayang jangan lupa kamu juga harus jaga kesehatan kamu sama Baby, sekarang harus lebih waspada oke" ucap Bryan mencuil hidung Nindy
"Iya kalo bisa aku gak mau keluar dari rumah lagi aku takut terjadi sesuatu sama Baby" ucap Nindy
"Kalo mau kemana mana harus sama aku" ucap Bryan yang di angguki Nindy
Nindy sudah di perbolehkan pulang dan benar saja Bryan membawanya kerumah bunda
rumah yang besar dan mewah dengan orang orang yang ramah
membuat siapa saja akan merasa betah di sana
"Assalamualaikum" ucap Bryan saat masuk
"Waalaikum salam, eeh anak anak bunda"ucap bunda lalu mereka menyalaminya
" Gitu dong Bryan istrinya jangan di taruh di apartemen terus dia kan juga butuh di ajak jalan jalan" lanjut bunda menuntun Nindy ke sofa
"Kita mau tinggal disini Bun" ucap Bryan
"Yang bener kamu? bunda seneng banget ada temennya" ucap bunda menggenggam tangan Nindy
"Iya Bun tapi pengawasan harus lebih ketat" ucap Bryan
"Loh emang kenapa?" tanya bunda
"Ada yang mau celakain Nindy Bun, ini aja kita abis dari rumah sakit tadi Nindy pingsan sama orang jahat" jelas Bryan
"Kok bisa kamu kecolongan? kamu gimana sih jadi suami harus siaga dong dalam keadaan apapun" omel bunda
" Bunda jangan marah dulu" ucap Bryan
"Kamu gak bisa jagain istri kamu apalagi kalo anak kamu udah lahir tanggung jawab kamu double" ucap bunda masih marah marah
" Bukan salah kak Bryan Bun, orang itu nyerang Nindy waktu di toilet " bela Nindy
"Tetap saja sayang dia tidak bisa menjaga kamu sampai sampai kamu disakiti orang" ucap bunda masih kekeh
" Ayo bunda antar ke kamar saja kamu istirahat, jangan banyak pikiran kasihan Dede bayinya ya" ucap bunda memapah Nindy ke kamar Bryan
"Bunda emang gokil anak sendiri aja di omelin, belum selesai ngomong udah di omelin " gumam Bryan
"Sayang kalo butuh sesuatu bilang sama bunda atau asisten rumah tangga ya" ucap bunda
"Iya Bun, terimakasih" ucap Nindy pada ibu mertuanya yang sedang membantunya berbaring lalu menyelimutinya
"Bun ada..." ucap Bryan tiba tiba membuka pintu dengan keras membuat Nindy terperanjat
ucapan Bryan terpotong saat bunda memelototinya
Bryan hanya cengir kuda
"Kamu bisa gak sih gak usah teriak teriak" ucap bunda
"Ya maaf Bun , Bryan cuma mau ngasih tau ayah udah pulang nyariin tuh" ucap Bryan
"Ya udah kamu istirahat ya" ucap bunda membelai rambut lalu mencium kening Nindy
Bryan hanya mencebikkan bibirnya melihat perhatian bundanya pada Nindy
sebelum keluar bunda menatap tajam Bryan
"Jangan di ganggu biarin Nindy istirahat" ucap bunda melihat Bryan semakin mendekati Nindy
"Iya iya bawel banget udah sana nanti ayah nyari istri baru lagi karena bunda lama" ucap Bryan
"Bocah gendeng" ucap bunda menutup pintu
__ADS_1
"Bunda baik ya" ucap Nindy
"Iya baiknya sama kamu doang sama aku ngomel ngomel terus" ucap Bryan yang sudah berbaring dan memeluk Nindy