
"Halo kak ada apa?" saat Nindy baru menjawab teleponnya
"Masih di apartemen Bryan?" tanya Leo
"Gak, gue lagi di rumah sakit nganter Cia" jawab Nindy
"Gue lagi ngurusin soal bokapnya Bryan, Lo mau kesini gak?" tanya Leo
"Tapi Cia lagi sakit gue suruh Bryan kesana aja" jawab Nindy
"Yaudah terserah"
Bryan sudah kembali membawa soto yang sedari tadi di inginkan Nindy
dia menaruh bungkusannya di samping Nindy
Nindy memeriksa bungkusannya wajahnya tidak bisa berbohong tampak raut wajah gembira
"Thanks" ucap Nindy pelan
Bryan tidak menjawab dia berbalik membelakangi Nindy dan berjalan ke sofa karena Nindy duduk di sisi brangkar Cia
sudut bibirnya tertarik membuat lengkungan indah di wajahnya
"Ohh iya Leo lagi ngurusin kasus ayah katanya ayah gak bersalah " ucap Nindy dengan mulut penuh soto
"Apaaa?" Bryan benar benar terkejut dia mencari bertahun tahun kenapa justru sangat mudah bagi Leo menemukan bukti
"Kwenapha? " tanya Nindy seraya mengunyah
"Gimana bisa dia menemukan bukti secepat itu? bahkan gue aja yang cari bertahun tahun gak pernah Nemu bukti apapun" Bryan masih tidak percaya
"Ya udah tanya langsung aja sama kak Leo, udah untung juga dia mau bantu padahal perlakuan Lo ke dia buruk banget" gerutu Nindy
Tanpa mendengarkan ocehan Nindy Bryan pergi begitu saja
'manusi macem apa sih dia, bener bener gak bisa di pahami' Nindy membatin
Baru saja Nindy selesai makan tiba tiba pintu ruangan terbuka
tampak seorang dokter yang berjalan menuju brangkar Cia
Nindy kenal betul dengan dokter itu tapi sebaliknya dia belum menyadari kehadiran Nindy karena Nindy membuang bungkusan ke tempat sampah yang berada di samping sofa pojok kamar
Dia mulai memeriksa Cia, Cia yang merasa ada pergerakan di tubuhnya akhirnya bangun
terlihat senyuman tulus di wajah dokter itu
Nindy mendekat dan berdiri persis di samping dokter
"Sepertinya demamnya sudah turun Bu besok sudah bisa di bawa pulang" ucap dokter masih sibuk memeriksa Cia
"Meira" sapa Nindy
Meira mematung raut wajahnya terlihat panik
Nindy memegang bahu Meira membuatnya terkesiap
Meira kembali menetralkan raut wajahnya dia tersenyum
" Mmhh Nindy apa kabar" Meira mengulurkan tangannya
"Baik, sekarang Lo jadi dokter disini?" tanya Nindy
"Ahh ya kebetulan dokter yang kemaren tanganin anak ini lagi keluar kota, kalo gitu gue permisi" Meira berusaha menyembunyikan kegugupannya
"Tunggu" ucap Nindy membuat langkah Meira menghentikan langkahnya
"Kabar ayah gimana sekarang?" lanjut Nindy
Meira mulai berkaca kaca mendengar pertanyaan Nindy
dari apa terbuatnya hati perempuan ini
mungkin itu yang di ucapkan Meira dalam hati
__ADS_1
Berapa kali keluarganya membuat Nindy menderita dan menghancurkan hidup Nindy
tapi setelah sekian lama Nindy malah menanyakan kabar ayahnya
itu membuat rasa bersalah di diri Meira semakin besar
"Apa Lo bisa maafin kesalahan gue dan keluarga gue?" tanya Meira tanpa berbalik
"Untuk apa gue menyimpan dendam toh semua yang hilang gak akan pernah bisa kembali, gue ikhlas gue udah maafin kalian" bukannya menjawab Meira malah pergi begitu saja
Sebenarnya ingin sekali rasanya Meira mengucapkan maaf dan terimakasih sudah memaafkannya
tapi lidahnya terasa kelu penyesalan yang amat besar membuaatnya menjadi malu bertemu Nindy
"Haahh kenapa semua orang suka banget ninggalin gue tanpa bicara" keluh Nindy kemudian duduk di kursi samping brangkar
"Cia udah baikan? kata dokter besok Cia boleh pulang"
"Asyiiik jadi jalan jalan dong" seru Cia
"Itu bisa diatur sekarang Cia bobo lagi" ucap Nindy
"Cia mau mama bobo disini sama Cia"
Nindy mengikuti kemauannya Cia dia tidur di brangkar dengan memeluk Cia
..
Di tempat lain
Leo sudah berhasil membuat ayah Bryan dinyatakan tidak bersalah dan tinggal menunggu sidang
sedangkan orang yang telah menjebaknya sedang di buru oleh polisi dan anak buah Leo
"Kenapa bisa dengan mudah anda menemukan bukti tuan Alexander yang terhormat?" tanya Bryan sinis
"Karena saya pintar" singkat Leo
"Ohh anda merasa pintar? jika anda pintar anda tidak akan mau serumah dengan istri orang lain bukan?" tanya Leo sinis
"Anda harusnya berterima kasih bukannya malah mengumpat, anda sebagai anak tidak bisa membantu apapun bukan?" ucap Leo lalu pergi dengan mobilnya
Bryan mengepalkan tangannya kuat kuat hingga kuku jarinya terlihat pucat
tadinya dia ingin bertanya lebih banyak bagaimana bisa Leo menemukan bukti-bukti itu
tapi karena egonya dia malah bicara yang bukan bukan pada Leo
..
Di sebuah ruangan seorang dokter sedang menangis
dia benar benar merasa memiliki beban berat karena menyimpan rahasianya sendiri
"Apa pun yang terjadi gue harus kasih tau Nindy yang sebenarnya" ucapnya pada dirinya sendiri
Tiba tiba pintunya dibuka dengan keras membuat Meira terkejut
seseorang menatap nyalang padanya begitupun Meira
"Apa Lo gak punya sopan santun?" tegur Meira
"Gue kesini cuma mau peringatin Lo, jangan bicara apapun atau keluarga lo..." Maria menaruh tangannya di leher memperingatkan agar Meira tidak macam macam
"Apa maksud Lo? gue gak bicara apapun sama siapapun" ucap Meira
"Lo kira gue orang bodoh? gue udah mata matain Lo sejak lama jadi... Lo jangan macam macam" Maria mengitari Meira dengan memegang bahunya dan setelah bicara dia mendudukannya dengan menekan keras bahu Meira
Sebenarnya Maria sudah memasang alat cctv yang di sembunyikan di ruangan Meira
tanpa sepengetahuan Meira tentunya
dia mengecek dari handphonenya setiap hari
dan hari ini dia mendengar Meira berbicara pada dirinya sendiri bahwa dia akan memberi tahu semuanya pada Nindy
__ADS_1
"Gue gak peduli, apapun yang mau Lo lakuin sama gue kalo pun gue harus kehilangan nyawa gue, gue akan anggap itu sebagai penebus dosa gue"
"Bukan masalah besar buat gue singkirin Lo, bahkan lebih susah membunuh seekor lalat dari pada bunuh Lo" Maria mendekat meraih gunting di meja
Maria perlahan mendekati Meira yang juga mundur seiring majunya langkah Maria
Meira tersudut di tembok, Maria mencekik leher Meira dengan gunting yang berada di atas kepalanya
Sekuat tenaga Meira melawan namun tidak ada gunanya
Maria sudah seperti kesetanan matanya melotot dengan senyuman yang mengerikan
saat hendak menikam Meira kedua tangan Maria di cekal guntingnya di ambil dan dia di seret keluar oleh scurity
"Lepas Kep*r*t, dasar bajing*n urusan kita belum selesai" Maria menunjuk kearah Meira
Setelah kepergian Maria yang di seret
Meira merosot duduk bersimpuh di lantai dia benar benar di buat ketakutan. tubuhnya gemetar
bagaimana bisa scurity datang tanpa di panggil
tapi Meira tidak memikirkan itu sekarang pikirannya sedang kacau
Sore harinya Leo menjenguk Cia di rumah sakit
saat tiba ternyata di ruang rawat Cia sudah ada Bryan
Leo tidak menghiraukannya dia mendekat kearah Cia dan membawa buket coklat
"Cia udah sehat sayang?" ucap Leo mengelus pucuk kepala Cia
"Waaahhh coklatnya banyak banget,, kalo gini Cia langsung sehat Dady " ujar Cia dengan mata berbinar
"Lo mending pulang aja biar Cia gue yang jagain" Leo melihat Nindy sepertinya kurang baik
"Gak gue disini aja"
"Lo ada masalah? cerita sama gue, apa cowok itu yang buat Lo murung kayak gini?" tanya Leo menunjuk kearah Bryan
"Jangan nunjuk nunjuk, gue patahin baru tau Lo" gertak Bryan
"Gue ragu sama kemampuan Lo" hardik Leo
"Udah udah gue pusing dengerin kalian" ucap Nindy
"Kak pulang aja lah biar gue yang nungguin Cia disini" lanjut Nindy
"Gue ikut nungguin disini biar bisa jaga kalian" ucap Leo
"Eehh gak bisa Lo kurang ajar banget sih gak ngehargain suaminya banget " Bryan tidak rela Leo dekat dekat dengan Nindy
"Suami cuma modal status aja apaan mending gue bukan siapa siapa tapi selalu ada dan ngelindungin" ucap Leo
"Lo bener bener mau gue hajar ya" Bryan benar benar kesal sekarang
"Stooppppppp disini ada anak kecil bisa gak sih kalian berantem" Cia sudah ketakutan memeluk Nindy
"Sayang maaf ya kalo gitu Dady pulang dulu, jagain mama jangan sampai om itu gangguin mama" ucap Leo membelai pipi Cia
"Sono pergi bikin rusuh Lo" ucap Bryan saat Leo sudah akan keluar
"Sekarang Cia bobo besok kita udah bisa pulang" ucap Nindy
"Cia maunya mama bobo disini sama Cia"
Nindy tidur di ranjang sempit dengan Cia
dia hanya bisa tidur menyamping agar tempat Cia tidur lebih luas
mereka terlelap, Bryan mendekati mereka melihat wajah polos merek saat tidur
Bryan tidur di kursi dengan kepala yang menempel di punggung Nindy
agar tidak jatuh
__ADS_1