Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Dijodohkan Dengan Ketos Galak
eps 30


__ADS_3

Di kamar yang gelap tanpa cahaya lampu suasana kamar terasa sunyi


di dalam ada seseorang yang tengah memeluk kedua lututnya


menyembunyikan wajahnya di antara lutut


Seseorang membuka pintu dan memencet saklar


lampu sudah menyala tapi posisinya tidak berubah masih memeluk kedua lututnya


dia perlahan menghampirinya lalu mengelus kepalanya


"Udah jangan sedih terus kita sedang berusaha semoga aja cepet ketemu" ucap Leo


"kenapa semuanya harus terjadi sama gue, gue bisa kehilangan suami tapi berat buat gue harus kehilangan anak bahkan gue aja belum sentuh dia" ucap Nindy dalam Isak tangisnya


"Suuttt kita pasti temukan baby dalam keadaan sehat, oke" ucap Leo menenangkan


"Tapi sampai kapan? apa Gue bisa hidup tanpa memikirkannya?" ucap Nindy


"Bukan harus melupakan tapi Lo harus kontrol diri Lo, kalo Lo gini terus lalu jatuh sakit percuma juga kita cari baby kalo Lo nya sakit sakitan" ucap Leo


"Dengerin gue lo harus tetap hidup, lo harus baik baik aja berpikir positif demi baby, supaya lo juga bisa nunjukin ke Bryan kalo lo bahagia hidup tanpa dia" ucap Leo membuat Nindy mengangkat kepalanya yang tadi terus menunduk


"Apa gue bisa?" tanya Nindy


"Lo bisa pasti bisa, tunjukkin sama dia Lo bisa hidup maju tanpa dia tunjukkin perubahan Lo yang positif biar dia nyesel" ucap Leo


Nindy memeluk Leo yang sedari tadi berdiri dihadapannya mengelus kepala Nindy


perkataan Leo membuatnya semangat kembali


kini Nindy bisa menjalani hidupnya dengan normal


Meskipun terkadang dia menangis jika teringat bayinya dan penghianatan Bryan


tapi kini dia bisa lebih ceria dari sebelumnya


Enam tahun kemudian


Nindy menjadi pintar karena usahanya yang giat belajar


selama tiga tahun dia tidak pernah mengurus prihal pacaran meskipun banyak lelaki yang tertarik padanya


fokusnya hanya belajar belajar dan belajar


Dia menyelesaikan S2 nya hanya dalam waktu 6 tahun di ย Harvard Business School


Leo selalu mendampinginya mensupport apapun yang di lakukan Nindy


Hari ini Nindy sedang duduk di halaman depan rumahnya


dia memandangi air mancur dengan tatapan kosong


Leo tau betul dia sedang rindu anaknya yang belum ketemu sampai sekarang


Polisi sudah menutup kasusnya sekarang hanya anak buah Leo yang masih mencari


Leo menghampiri Nindy perlahan dia sengaja ingin mengagetkan Nindy


Perlahan dia berjalan mendekati Nindy dari belakang dan akan menyentuh bahunya


tapi tiba tiba Nindy berbalik meraih tangan Leo dan memutarnya


dia melompati kursi dan menyerang Leo yang tidak siap membuatnya terjengkang kebelakang


Leo bangun menepuki bokongnya yang sakit


Nindy hanya tertawa melihat wajah kesal kakaknya


"Lo apaan sih sakit nih" ucap Leo


"Gue kira orang jahat, ya udah itu karma Lo mau ngagetin gue kan?" tanya Nindy


"Hehe kok Lo tau" ucap Leo cengir kuda


"Tau lah siapa dulu Nindy " ucap Nindy berbangga diri


"Dih sombong ya sekarang mentang mentang udah jago bela diri" ucap Leo


"Hehehe kan kakak yang ajarin" ucap Nindy menggandeng tangan Leo


"Eeh apaan nih tiba tiba manja gini" ucap Leo karena Nindy menggandeng tangannya dan menggesek kepalanya ke bahu Leo


"Eemmhh biasanya kalo udah gini pasti ada maunya nih" ucap Leo


"Kita kembali ke Indonesia ya kak" ucap Nindy


"Kakak emang mau kesana tapi gak sama kamu" ucap Leo


"Kok kakak gitu sih" ketus Nindy melepaskan tangan Leo dan mendorong bahunya


Jelas saja tubuh Leo yang kekar tidak akan goyah hanya karena dorongan Nindy


Leo tidak menjawab pertanyaan Nindy dia masuk kedalam rumah


Nindy masih membujuk Leo dia mengekor di belakang Leo merengek agar Leo mau membawanya


"Please kak gue ikut" ucap Nindy seraya menarik kaos belakang Leo


"Sekali enggak tetep enggak" ucap Leo


"Tapi kenapa?" tanya Leo


"Ada apa kalian pagi pagi sudah ribut" ucap seseorang yang baru saja keluar dari kamar


"Ini Daddy bilangin sama kak Leo Nindy mau ikut ke Indonesia" ucap Nindy mendekati Dady Dion dan memegangi lengannya seperti anak kecil


"Apa susahnya turuti saja, dia sudah besar tidak akan merepotkanmu" ucap Daddy Dion


"Dady memang tidak pernah bisa menolak permintaan Nindy, aku kesana untuk urusan bisnis Daddy" ucap Leo membuat Nindy senang memeletkan lidah pada Leo


"Tapi aku bisa bantuin kakak iya kan Daddy?" ucap Nindy dihadapan dadynya mereka berbicara aku kamu


"Iya lagi pula dia sudah lulus dia bisa bantu kamu, gak mungkin kamu pegang 2 perusahaan sekaligus, suatu saat Nindy akan pegang salah satunya" ucap Daddy Dion


"Oke oke kalau Baginda sudah memaksa apalah daya diriku ini, saya pamit undur diri yang mulia" ucap Leo membungkuk di hadapan Daddynya


Seiring dengan Leo yang pergi ke kamarnya


Nindy juga mencium tangan Daddynya dengan sumringah lalu pergi juga ke kamarnya


Daddynya hanya menggeleng melihat tingkah kedua anaknya

__ADS_1


Nindy sudah packing baju ke koper Leo yang baru saja datang memperhatikan di ambang pintu


Nindy masih belum menyadari ada Leo disana karena membelakangi nya


"Mau kemana Lo bawa baju banyak banget?" ucap Leo


"Mau ikut lah" ucap Nindy


Berbeda dengan Nindy masa masa yang di hadapi Bryan juga tidak kalah berat


Bunda yang tak kunjung sadar ayahnya di penjara karena difitnah menggelapkan uang


kini dia di bantu orang tua Maria dengan catatan Bryan harus mau menikah dengannya


Bryan hanya mengulur ngulur waktu untuk menikahi Maria


karena sebenarnya memang dia tidak ingin menikahinya


bagaimana Bryan masih suami Nindy meskipun sudah bertahun tahun mereka berpisah


"Maaf tuan nona Maria ingin bertemu" ucap sekretarisnya


"Bilang saja sebentar lagi saya ada meeting tidak ingin di ganggu" ucap Bryan


"Oohh jadi kamu menghindar dari aku?" tanya Maria yang langsung masuk saat Bryan sedang bicara dengan sekretarisnya


"Aku cuma cape bentar lagi mau meeting aku pusing kamu boleh keluar" usir Bryan


"Kalo meeting ya meeting aja aku mau tunggu disini" ucap Maria kekeh


"Oke terserah Lo aja" ucap Bryan membereskan dokumen lalu pergi


"Sayang kok manggil Lo sih?" tanya Maria tapi tidak di gubris oleh Bryan


Saat meeting berlangsung Bryan sedang berdiskusi dengan rekan bisnisnya yang lain


sepertinya Bryan akan mengalami kendala dalam bisnisnya karena hadirnya perusahaan yang menawarkan keuntungan lebih besar


"Maaf tuan sepertinya kita kalah saing dengan perusahaan Alexander tuan, mereka menawarkan keuntungan yang lebih besar dari perusahaan mana pun kita harus memiliki inovasi dan gagasan baru untuk perusahaan kita" ucap asistennya


"Kenapa kita tidak mengajukan kerja sama saja dengan mereka?" tanya Bryan


"Pernah tuan tapi mereka menolak waktu itu sepertinya anda harus turun tangan sendiri, kebetulan mereka baru sampai dari Amerika" ucap Reno asistennya


"Buatkan janji bertemu dengan pihak mereka saya sendiri yang akan mengajukan kerja sama" ucap Bryan


Begitu meeting selesai Bryan tidak kembali ke ruangannya dia memilih pergi keluar


dia mengendarai mobilnya lalu berhenti di toko bunga


membeli bunga untuk bundanya di rumah sakit


Nindy yang kebetulan ada disana mengintip dari jauh


setetes air mata lolos dari mata indahnya dia mengira Bryan sudah melupakannya


Nindy mengikutinya Bryan sampai rumah sakit


setelah Bryan masuk Nindy mengintip dari pintu yang sedikit terbuka


"Bunda" gumam Nindy pelan dengan mata berlinang air mata


Nindy menghapus lelehan bening itu dan pergi dari sana


Nindy belum pergi dari rumah sakit dia menunggu Bryan pergi dulu


lalu masuk menemui bunda di ruangannya


Nindy mengusap kepala bunda membelai pipinya yang sangat tirus bahkan dia dapat merasakan tulangnya


Nindy menggenggam tangannya perlahan tetesan demi tetesan air mata tak dapat dia bendung


dia menciumi tangan bunda


"Bunda kenapa jadi seperti ini? maafin Nindy Bun Nindy gak nemenin bunda di saat seperti ini " ucap Nindy menangis


Perlahan jari bunda mulai bergerak satu persatu


menyadari itu Nindy segera memakai maskernya


saat hendak pergi tiba tiba sebuah tangan lemah menahan tangannya


"Jangan pergi nak, maafkan Bryan" ucapnya lemah nyaris tak terdengar


Nindy pergi dengan tangisan pilunya hatinya begitu sakit melihat keadaan bunda yang sekarang


tapi dia tidak mau ketahuan lalu pergi memanggil dokter untuk ke ruangan bunda


"Nindy.... Nindy tadi dia disini dok" ucap bunda mencari Nindy


"Nyonya anda baru bangun setelah 6tahun terbaring koma, ini mukjizat nyonya


saya akan menelpon anak anda agar segera kesini" ucap dokter setelah memeriksa bunda


tuutttt tuutttt


"*Halo tuan ada kabar baik, nyonya sadar" ucap dokter


"Apa dok? Alhamdulillah saya segera kesana" ucap Bryan*


Bryan yang masih di jalan memutar kembali mobilnya kerumah sakit


dia dengan semangat mengendarai mobil agar bisa sampai dengan cepat


sesampainya di rumah sakit bunda sedang di suapi oleh suster


"Bun Bryan senang bunda sadar" ucap Bryan menahan air matanya memeluk bunda


Lama Bryan memeluk bunda tapi tidak ada balasan


bunda hanya mematung juga tidak mengatakan sepatah kata pun


Bryan melepas pelukannya dan mencium kening bundanya


"Biar saya aja sus yang suapin"' ucap Bryan


"Gak sus suruh dia pergi" ucap bunda membuat Bryan bengong dengan jawaban bunda


"Tapi kenapa Bun? Bryan kangen sama bunda... maaf untuk enam tahun sebelumnya" ucap Bryan yang kini menangis


"Suruh dia pergi sus saya tidak mau bertemu dia" ucap bunda juga menangis


"Tuan maaf sebaiknya anda pergi dulu biarkan nyonya tenang dia baru saja sadar" ucap suster

__ADS_1


"Tapi sus" ucap Bryan


"Demi ibu anda, jika dia sudah membaik saya hubungi anda kembali" ucap suster


Bryan pergi dengan berat hati dia terus merutuki dirinya sendiri


saat di lampu merah ada mobil bersebelahan dengan mobilnya


ketika Bryan melirik kearah mobil tersebut dia melihat seperti Nindy sedang mengemudi


Ketika hendak menyapa pengendara mobil tersebut tapi dia menutup kaca mobil lalu melesat dengan kencang


Bryan hendak mengejarnya tapi kecepatan mobil itu membuatnya kehilangan jejak


"Nindy apa benar itu Nindy? aku kangen sama kamu" gumam bryan


Sepanjang hari dia terus mengingat orang yang mirip Nindy


dia memilih tinggal di cafenya dari pada kembali ke kantor


di kantor Maria menunggunya sepanjang hari dia sudah merasa bosan dan kesal akhirnya dia keluar dari ruangan Bryan


"Kemana bosmu kenapa dia lama sekali" ucap Maria


"Tuan sudah selesai meeting dari 4 jam yang lalu" ucap sekretarisnya cuek


"Kurang ajar kenapa gak bilang? Lo mau gue pecat?" teriak Nindy pada Dara yang menjadi sekretaris Bryan


"Tidak usah teriak teriak nona Maria yang terhormat, saya tidak peduli jika saya harus di pecat" ucap Dara sinis


Maria pergi dengan kesal dia menu menunggu begitu lama


tapi Bryan malah tidak kembali ke kantor


Bryan sedang menyandarkan tubuhnya di kursi di ruangannya


tiba tiba pintu di buka dengan kerasnya sampai orang yang ada di cafe terkejut


Bryan menarik tangan Maria dan menghempaskannya kasar ke sofa


Maria merintih kesakitan memegangi sikunya yang terbentur pinggiran sofa yang terbuat dari kayu


"Kamu kasar banget sama aku" ucap Maria


"Gue udah bilang jangan pernah mimpi buat masuk ke hidup gue" bentak Bryan


"Gue udah gak peduli sekarang mau Lo bilang bokap Lo cabut sahamnya juga gue gak peduli, gue muak sama Lo" lanjut Bryan lalu pergi membanting pintu


"Sia sia usaha gue selama ini aaarrrggghhhhh kurang ajaaaarrr, kalo gue gak bisa dapetin Lo maka siapapun gak boleh" teriak Maria


Maria yang sedang di kuasai amarah langsung pergi ke rumah sakit


dia pergi keruangan dimana bunda di rawat


dia memakai pakaian serba hitam dan tertutup


disana bunda sedang tertidur


Maria menutup wajah bunda dengan bantal membuat bunda berontak


tubuhnya yang masih lemah tidak dapat melawan


sebisa mungkin bunda meraih bel yang ada di atas kepalanya


Untung saja perawat segera datang memergokinya


ketika kepergok oleh perawat Maria mendorongnya hingga terjatuh lalu pergi dengan cepat dari sana


"Nyonya tidak apa apa?" tanya suster


" Tidak terimakasih" ucap bunda lalu suster memberi segelas air


"Apa saya harus menghubungi anak anda?" tanya suster


"Tidak usah biar saja, saya hanya ingin istirahat " ucap bunda


Ke esokan harinya Bryan pergi ke perusahaan Alexander


dia mengajukan proposal untuk kerja sama dengan perusahaan tersebut


"Anda bisa langsung ke ruangan tuan Alexander" ucap sekretarisnya


Bryan menuju ruangan CEO Alexander dia membuka pintu


betapa terkejutnya Bryan melihat siapa yang ada di dalam


kini dia begitu berbeda dari penampilannya bahkan prilakunya


"Nindy " gumam Bryan


"Maaf tuan anda mencari siapa?" tanya nindy


Bryan berlari menubruk tubuh Nindy yang mematung


Bryan memeluknya bahkan sekarang bahu Nindy terasa basah karena air mata Bryan


Nindy sekuat tenaga menahan air matanya


saat itu suara Leo yang mengejutkan mereka


"Eehheemm" ucap Leo


Nindy segera menjauhkan tubuh Bryan dan berlari menghampiri Leo


Nindy bergelayut manja di lengan Leo membuat Leo mengerutkan keningnya


"Sayang kenapa lama?" tanya Nindy manja


Leo hanya diam Nindy yang kesal pun mencubit perut Leo dari belakang


Leo memejamkan sebelah matanya seraya meringis


"Maaf tuan ada yang bisa saya bantu?" tanya Leo


Bryan mematung melihat interaksi kedua orang di hadapannya


masih tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya


dia ingin marah tapi apa dengan amarahnya Nindy akan kembali


Bryan menyerahkan proposalnya dan apa yang terjadi selanjutnya?........


Jangan lupa like, komen and vote ya ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2