Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Dijodohkan Dengan Ketos Galak
eps 97


__ADS_3

Leo menggertakkan giginya melihat rekaman CCTV yang menunjukkan sebuah video


Dara baru saja keluar dari arah pintu kamar surti dan inem


Meira tiba tiba menarik tangan Dara dan menghempaskannya kencang


membuat Dara tersungkur dan kepalanya membentur dinding


"Sialan" gumam Leo mengepalkan tangannya


"Sayang" Dara baru saja datang ke kamar membawa satu piring buah yang sudah di kupas


"Sayang kenapa? " Dara melihat kekesalan di wajah Leo


Dara duduk di pangkuan Leo mengusap lembut wajah Leo


Dara tersenyum kala emosi Leo nampaknya sudah memudar


"Lagi nonton apa? " Dara mengedarkan pandangannya pada laptop Leo


"Kenapa kamu gak bilang kalo dia nyakitin kamu? " ucap Leo mengecupi pipi Dara


"Buat apa sayang udah lewat juga" jawab Dara santai memakan buahnya


"Sekarang udah lewat tapi kemarin kamu gak bilang"


"Hhehe iya maaf" Dara kembali memakan buahnya


"Aku akan buat perhitungan sama dia" tegas Leo


"Gak usah sayang dendam itu gak baik" ucap Dara menangkup kedua pipi Leo


"Aku akan tetap melaporkan hal ini pada polisi dan aku pastikan dia akan di pecat dari pekerjaannya"


"Buat apa sayang itu cuma akan bikin dia semakin marah sama kita, kita cukup peringatkan dia untuk menjauh gak usah bikin hancur hidupnya nanti dendamnya gak berhenti berhenti"


"Istri aku memang bijak, dia salah menyakiti istriku yang baik hati ini" Leo memeluk Dara terus menghujani Dara dengan ciuman


"Udaahh geli" Dara menjauhkan wajah Leo menahan keningnya


"Aku kangen baby" ucap Leo


"maksudnya? " tanya Dara gak mungkinkan Leo mau bertemu dengan bayi yang masih dalam kandungan


"Pengen nengokin baby tapi kata dokter gak boleh"


"Astaga" Dara menepuk jidatnya seraya terkekeh


"Kamu apaan sih aku kirain apa" ucap Dara masih terkekeh


"Kamu gak kangen apa? " tanya Leo


"Gak" singkat Dara


"Masa sih? "


"Iya pegang aja udah cukup" ucap Dara


"Gak asik" ucap Leo memalingkan wajahnya pura pura merajuk


"Daddy tahan beberapa minggu/bulan lagi"


"Kamu bilang apa? " tanya Dara

__ADS_1


"tahan beberapa minggu atau bulan"


"Yang sebelumnya? " tanya Leo


"Daddy"


"Aku suka panggilan itu"


"Oke daddy apapun buat kamu"


"Kamu menggemaskan tapi sayang gak bisa di apa apain" Leo memeluk erat Dara menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Dara


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


Waktu sudah semakin siang Nindy sedang malas mengerjakan apapun


dia hanya tiduran dan makan saja seharian


Cia pulang sekolah pun dia menyuruh Bryan menjemputnya


"Mamaaaaa" Cia berlari memeluk mamanya yang sedang tiduran di depan TV


"Sayang.. papa beli makan diluar gak? " tanya Nindy langsung menanyakan makanan


"Sayang makan dulu nak" teriak Bryan dari dapur


"Buat aku mana? " yang di panggil siapa yang nongol siapa


"Loh aku kira cuma beli makan buat Cia, kamu kan di rumah bisa masak" seloroh Bryan


"Akukan nyuruhnya beli makan buat kita bukan cuma buat Cia kamu kalo baca pesan makanya baca yang bener jangan liat ujungnya doang,


kamu gak tau apa aku udah kelaperan dari tadi atau kamu sengaja mau biarin aku mati kelaparan? " Bryan menahan tawanya mendengar ocehan Nindy


"Ini aku cuma becanda kamu gampang emosian deh" ucap Bryan lalu tertawa


Setelah makan Nindy kembali merebahkan dirinya di depan TV


bahkan Bryan mencuci piring dan menyapu masih menggunakan setelan kerjanya


setelah selesai Bryan duduk di belakang Nindy yang tidurnya miring


"Sayang kamu belum mandi? " ternyata Nindy masih menggunakan baju semalam


"Males " singkat Nindy mengunyah cemilan


"Kamu makan mulu mandi enggak kayak kebo" ucap Bryan menyandarkan tubuhnya di sofa


Nindy duduk menatap tajam Bryan saat hendak mengeluarkan kata katanya Bryan lebih dulu mengangkat tubuh Nindy ala bridal style


"Turunin kamu mau bawa aku kemana? " Nindy meronta ronta


Sesampainya di kamar Bryan menyalakan keran memenuhi bathtub dan menceburkan Nindy


membuatnya ikut basah kuyup


kepalang basah Bryan membuka paksa baju Nindy dan memandikannya sampai selesai


Bryan memakaikan baju, skincare, juga mengeringkan rambut Nindy


Nindy hanya diam saja bak anak kecil yang di mandikan ibunya


"Kamu kenapa sih? " tanya Bryan membalikkan tubuhnya

__ADS_1


"Kenapa apanya? " Nindy bingung sendiri


"Jadi pemalas suka marah marah, kamu lagi pms?" tanya Bryan


"Ya ampun kok aku sampe lupa" Nindy mengecek kalender dan memandanginya lama


"Kamu kenapa sih? aneh banget"


"Bentar" Nindy mengambil sesuatu di laci dan kembali ke kamar mandi


Lama dia berada di kamar mandi membuat Bryan mengetuk pintu karena khawatir


pintu terbuka dan Nindy keluar dengan wajah berseri membuat Bryan mengerutkan keningnya


Nindy mengulurkan sebuah alat tes kehamilan dengan senyum yang mengembang


Nindy langsung melompat ke gendongan Bryan menghujani wajah Bryan dengan ciuman


Bryan hanya mematung tanpa berekspresi


Nindy memudarkan senyumnya dan turun menatap wajah Bryan


"Kamu gak senang? " tanya Nindy


"Aku senang sayang sangat senang tapi aku khawatir sama kamu" Bryan masih mengingat saat Nindy kehilangan anak keduanya


Wajah Nindy berubah jadi murung dan berlalu meninggalkan Bryan menuju ranjang


Bryan menghela nafas berat mengikuti Nindy


"Maaa tas Cia yang biru dimana? " Cia membuak pintu kamar namun Bryan memberikan kode agar Cia diam


Perlahan Cia kembali menutup pintunya dan kembali ke kamarnya


"Sayang" Bryan memeluk Nindy dari belakang menyandarkan kepalanya di punggung Nindy


"Apa kita akan kehilangannya lagi? " lirih Nindy


"Gak sayang , aku akan usahakan yang terbaik buat kamu dan anak kita"


"Dia akan selamatkan? " tanya Nindy sesaat kemudian air matanya lolos


"Hei lihat aku" Bryan membalikkan tubuh Nindy menangkup wajahnya menempelkan keningnya pada keningnya Nindy


"kita bisa sayang, tidak akan terjadi apa apa" sesaat kemudian Bryan memberikan kecupan di bibir Nindy


"Jangan di pikirkan nanti kamu jadi sakit itu gak akan baik juga buat dedek bayi "


Nindy mengangguk mempererat pelukannya pada Bryan


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


Meira duduk di sisi ranjang ibunya keadaan wanita itu membaik setelah dia di rawat oleh dokter ahli yang di tawarkan Leo


pikiran Meira kalut dia tidak tau apa yang harus dia lakukan


karena egonya dia jadi kehilangan teman seperti Nindy


dan Leo jangankan untuk mendapatkan hatinya mungkin dia tidak akan mau melihat meira lagi


" Ada apa sayang? " tanya Tamara melihat Meira begitu murung


"Leo gak akan mau lagi ketemu sama aku mah aku udah nyakitin Dara" lirih Meira

__ADS_1


"Gak apa apa dia memang pantas mendapatkan itu, kamu bisa mendapatkan kesempatan lain kali, jangan main kasar nak kamu harus main cantik untuk mendapatkannya" ujar Tamara namun Meira tidak menimpali perkataan ibunya itu


"Salahkah aku mencintaimu Leo? kenapa dari awal kamu gak pernah memandang aku ada, apakah aku terlalu buruk bagimu? kamu tidak pernah melihatku sedikit pun" gumam Meira dalam hati


__ADS_2