Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Dijodohkan Dengan Ketos Galak
eps 45


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit Nindy dan Bryan mengantar Cia pulang ke panti


sementara Leo kembali ke perusahaan


sesampainya disana Nindy mengantar Cia kekamar untuk istirahat


lalu kembali ke ruangan dimana ibu Ambar berada


"Bu apa 6 tahun lalu ada anak yang di buang disini?" tanya Nindy


"Ada beberapa tapi beberapa sudah di adopsi juga, lagian ibu kurang tau soalnya dulu Yang ngurus tempat ini almarhum ibuku, memang nya ada apa?" tanya Bu Ambar


"Jadi 6 tahun lalu ada yang membuang bayi saya disini ......." Nindy menceritakan detail masalahnya membuat ibu Ambar ikut meneteskan air mata


"Apa ada catatan riwayat tentang anak yang tinggal disini?" tanya Bryan karena Nindy tidak sanggup lagi bicara


"Oohh ya ibu sampe lupa, ada nak mari kita cari" ucap ibu Ambar lalu pergi ke satu ruangan dengan penuh rak buku


Mereka membuka satu persatu map dari 6 tahun yang lalu


ada yang masuk bulan Januari, Agustus, dan juni


Nindy tahu persis tanggal dimana dia melahirkan karena dia mencatatnya


Dan itu tanggal 19 Agustus ternyata di hari yang sama ada 3 bayi yang masuk panti itu diantaranya ada nama 'Fellycia'


Nindy membaca map itu dan memandang kearah Bryan


"Kenapa?" tanya Bryan saat Nindy menatapnya


"Ada 3 anak di tanggal yang sama dengan hilangnya anak kita diantaranya ada nama Cia"


"bisa ibu lihat?" Nindy memberikan map-nya


"Ohh ya 2 anak ini sudah di adopsi" lanjut ibu Ambar


"Lalu apa ada alamat orang tua angkatnya?" tanya Nindy


"Sebenarnya tidak di perbolehkan memberikan alamat orang yang mengadopsi anak disini tapi ini darurat ibu akan Carikan dulu" ibu Ambar membuka laci berisi map dan mencocokkan nama serta tanggal di adopsinya anak itu


"Anak yang pertama Astri tinggal di jalan harapan blok B di kota A


dan Yogi di jalan anggrek blok C di kota D, itu pun jika mereka tidak pindah" ibu Ambar membacakan alamatnya


othor ngarang aja alamatnya ya 😁


"Kita harus mendatangi rumah mereka untuk memastikan" ucap Nindy penuh harap


"Tapi kota D itu jauh bagaimana kalo anak itu bukan anak kita" ucap Bryan


"Jadi Lo gak mau berkorban cari anak kita? yaudah gue bisa cari sama kak Leo" Nindy marah lalu pergi dari sana membuat ibu Ambar melongo dengan sikap Nindy


"Maaf Bu mungkin karena hormon kehamilan jadi emosinya naik turun saya permisi" ucap Bryan membuat


"Dasar anak muda dulu ngakunya temen sekolah ternyata suami istri yang lagi berantem" ucap ibu Ambar menggelengkan kepalanya


Bryan mengikuti Nindy yang sedang duduk di depan panti memandang lurus ke depan dengan air mata yang berlinang


dia mengusap kasar air matanya sesekali mengumpat Bryan


Bryan berdiri di belakangnya hanya tersenyum geli dengan umpatan Nindy


" Besok kita berangkat ke kota A yang Deket dulu" ucap Bryan membuat Nindy berbalik


"Kalo gak ikhlas gak usah gue bisa berangkat sendiri" ketus Nindy sembari terisak


"Maksud gue bukan gak mau cari anak kita tapi gue cuma gak mau Lo kecapean dan berpengaruh sama baby yang ada disini" ucap Bryan memeluk Nindy dari belakang mengusap perutnya


"Gue bisa cari sendiri dan Lo istirahat aja di rumah" ucap Bryan


"Tapi gue mau ikut cari, gue gak bisa kalo diem aja" Nindy melepaskan tangan Bryan


"Hmm oke oke" Bryan membuang nafas kasar tidak bisa menolak permintaan Nindy


"Sekarang kita pulang ya, Lo harus istirahat dan makan yang banyak" ajak Bryan karena hari sudah sore


"Gue mau pulang ke rumah Damar" ucap Nindy membuat Bryan menganga


"Apa? gue gak salah denger? " tanya Bryan sedikit ngegas


"Gue sama kak Leo selama ini tinggal di rumah Damar, emang ada masalah?"


"Pokoknya sekarang pindah ke apartemen gue" tegas Bryan


"Gak mau" Nindy menekankan kata katanya


Setelah perdebatan cukup lama akhirnya Bryan mengalah mengantar Nindy ke rumah Damar


sesampainya disana sudah ada keluarga Damar dan juga Leo


"Assalamualaikum semua" ucap Nindy dengan riang seperti biasa


"Waalaikum salam, masuk nak" ucap mama Damar melihat Bryan hanya berdiri di ambang pintu


"Hai bro kita ketemu lagi sebagai seorang sodara" ucap Damar dengan nada menyindir mengambil tangan Bryan bersalaman


"Iya " singkat Bryan sambil tersenyum


"Kalian kenal juga?" tanya mama Damar menunjuk Damar dan Leo

__ADS_1


"Ini suami Nindy ma, kakak kelas aku dulu" jawab Damar


"Oohh syukurlah kalo masalah kalian sudah terselesaikan" mama Damar ikut senang


"Semua saya pamit dulu sudah mau Maghrib" ucap Bryan


"Loh kalian kan baru baikan kenapa harus pulang sih nginep sini aja " ucap mama Damar


"Iya mending nginep jadi bisa kangen kangenan kan" timpal Damar menaik turunkan alisnya


"Tan ke kamar dulu ya gerah mau mandi" ucap Leo terkesan dingin pada Bryan


Satu persatu dari mereka pergi ke kamar masing masing


tinggal Nindy dan Bryan yang terlihat canggung


"Ki.. kitta ke kamar aja " ucap Nindy ragu ragu


Bryan mengikuti Nindy ke kamarnya


sesampainya di kamar Bryan merebahkan diri di ranjang sementara Nindy pergi mandi


"Mau mandi?" Nindy baru saja keluar dari kamar mandi dengan baju tidur dan kepala di bungkus handuk


"Iya tapi gue gak bawa baju ganti masa tidur pake ini" ucap Bryan menunjuk setelan jas nya


"hhmm bentar" Nindy berpikir sejenak lalu keluar dari kamar


Setelah beberapa waktu Nindy kembali membawa kaos dan celana pendek


lalu memberikannya pada Bryan


setelah mandi Bryan mengganti pakaiannya


dia berjalan ke arah ranjang dimana Nindy sudah tertidur


Bryan ikut merebahkan tubuhnya di belakang Nindy


Perlahan Bryan memeluk Nindy dengan hati hati karena takut Nindy bangun


setelah berhasil dia ikut memejamkan matanya menghirup aroma tubuh Nindy yang dia rindukan sejak lama


belum lama mereka terlelap pintu kamar di ketuk membuat Nindy terganggu


Nindy mengucek matanya mengumpulkan kesadaran nya


baru saja membuka mata terasa ada yang bergerak di perutnya


perlahan dia memindahkan tangan Bryan yang melingkar di pinggangnya


"Mau kemana?" tanya Bryan dengan suara parau


"Kita makan malam dulu udah ada yang ngetuk pintu" Bryan pun bangun dan mengikuti Nindy


Semua sudah berkumpul dan sedang menikmati makan malam


Damar melirik ke arah Nindy dan Bryan bergantian lalu senyum senyum sendiri


sementara Leo semenjak ada Bryan dia lebih banyak diam


"Ma soal macan tutul yang waktu itu.." ucapan Damar terhenti saat Nindy tersedak hingga terbatuk-batuk


Bryan segera meminumkan segelas air lalu mengelus punggung Nindy


sementara Damar terlihat sedang menahan tawanya


" Kamu baik baik saja nak?" tanya mama Damar


"Gak apa apa tan" semua kembali menikmati makan malam sebelum mama Damar bertanya


"Tadi kamu bilang apa mar?" tanya mama Damar


"Soal macan tutul ma mungkin mulai besok sampai beberapa hari aku mau melihara macan tutul" ucap Damar sambil cengengesan


Mendengar ucapan Damar spontan Nindy melotot dan menendang kaki Damar di bawah meja


tapi yang di tendang malah kaki Leo


"Aaakkkkhhhhhh apaan sih nendang nendang" gerutu Leo


"So.. ssorry kak gak sengaja " ucap Nindy dengan wajah yang di buat memelas karena takut di marahi Leo


Leo tidak menjawab hanya meneruskan makan malamnya


setelah makan malam selesai mereka ke kamar masing masing


Nindy terakhir ke kamar dia melewati kamar Leo yang sedikit terbuka


dia masuk dan menghampiri Leo yang sedang merokok di balkon


"Kak belum tidur?" Leo segera mematikan rokoknya karena takut mempengaruhi kandungan Nindy


"Kenapa kesini? sini duduk" Leo mendudukkan Nindy di kursi dan dia duduk di siku kursi dengan mengelus kepala Nindy


"Lo kenapa seharian diem Mulu? ada masalah?" tanya Nindy


"Gak sama sekali" singkat Leo


"Tapi kayaknya Lo gak ramah aja semenjak Bryan datang"

__ADS_1


"Emang gitu ya? perasaan biasa aja" Leo masih mengelus kepala Nindy


"Kak Leo marah sama Bryan?"


"Mungkin, dia selalu memandang rendah Lo sebagai cewek , bukan masalah buat gue di tuduh jadi lelaki brengsek tapi kalo orang lakuin itu sama Lo gue gak terima" jawab Leo


Nindy tersenyum mendongak menatap Leo


Leo yang merasa di tatap juga menatap wajah Nindy


Nindy memeluk Leo dari samping dan leo memeluk bahu Nindy


"Gue seneng Lo perhatian sama gue, tapi Lo juga harus ngerti Bryan lakuin itu karena dia cemburu dia juga gak tau kalo kita adik kakak makanya dia kayak gitu" ucap Nindy


"Oohh ya... apa dia perlakuin Lo dengan baik? " tanya Leo


"selalu kak, dia marah marah gak jelas kalo gue Deket sama cowok lain aja, dan gue udah mulai dapet petunjuk tentang anak gue yang ilang"


" Dimana? terus apa yang akan kalian lakuin selanjutnya?" tanya Leo


"dikota ini, di kota A dan D" ucap Nindy membuat Leo bingung


"Kenapa banyak banget? " tanya Leo


"Karena ada 3 anak yang masuk di hari yang sama jadi aku harus tes DNA ketiganya" jelas Nindy


"Tapi itu terlalu jauh gue gak izinin"


"Ayolah kak gue pergi Sama Bryan gue janji bakal jaga kesehatan" ucap Nindy memelas


Setelah di bujuk panjang lebar akhirnya Leo mengizinkan


dengan catatan Nindy harus banyak istirahat


setelah mengobrol dengan Leo Nindy kembali ke kamarnya


baru saja masuk Nindy di kejutkan dengan Bryan yang tiba tiba memeluknya dari belakang pintu


"Aakkkhh" pekik Nindy


Bryan tidak peduli dengan Nindy yang berontak minta di lepaskan


dia membenamkan wajahnya di ceruk leher Nindy


"Makasih" ucap Bryan dengan posisi yang masih sama


"Buat apa?" Nindy mengerutkan keningnya


"Udah belain gue depan Abang ipar " jawab Bryan


" Lo nguping ya?" Nindy memukul pelan tangan Bryan yang melingkar di pinggangnya


"Dikit heehee" Bryan semakin menggesekkan hidungnya ke leher Nindy membuat Nindy kegelian


"Hahaha diem geli " Nindy berusaha menjauh dari Bryan


Seseorang sedang menguping di balik pintu


dia menempelkan telinganya di pintu


"Entar dulu sakit iihh" terdengar suara Nindy


"Tahan dulu bentar lagi masuk" ucap Bryan


"Jangan di paksain nanti lecet aaawww"


"Bentar lagi sayang tanggung ini udah masuk setengah"


"Udah awas aahh sini gue aja yang masukin" ujar Nindy


Setelah sejenak mereka terdiam terdengar lagi suara


"Besok gue yakin gak bakal susah dimasukin lagi, sekarang gue udah tau ukurannya


Damar yang sedari tadi menguping di buat melongo dengan percakapan dua sejoli di dalam kamar


'ada adegan panas nih kayaknya' gumam Damar dalam hati


Nindy mengambil cincin yang di bawa Bryan


ternyata dulu saat Bryan mengajak makan malam di luar dia ingin menghadiahkan sebuah cincin untuk Nindy


karena tidak tau ukurannya cincinnya ternyata terlalu sempit


dan Bryan berniat menukarnya besok


setelah menyimpan cincinnya di laci Bryan hendak kembali ke ranjang tapi melihat bayangan di bawah pintu Bryan mengendap membuka pintu


disaat bersamaan Bryan mendengar seseorang berteriak


"Nindy nih Damar nguping" teriak Leo lalu lari ke bawah


Saat Damar mengumpat dan berbalik ke arah Leo


Bryan sudah membuka pintu sontak saat Damar kembali berbalik dia langsung berhadapan dengan Bryan yang sedang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi dengan tangan menyilang di dadanya


"Eehh baru aja mau ketuk pintu" ucap Damar tersenyum kikuk


"Mau ngetuk apa mau nguping" tanya Bryan datar

__ADS_1


"Hehe gak kok, tadi cuma mau pinjem sesuatu sama Nindy tapi gak jadi, permisi" ucap Damar lalu lari secepat kilat ke kamarnya


Bryan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Damar yang masih seperti bocah


__ADS_2