
Bryan menghampiri Cia yang berada di kamar
anak itu duduk dilantai dan bersandar ke ranjang
Bryan tersenyum melihat Cia melamun memilin ujung karpet yang dia duduki
"Cia lagi apa? masih inget om gak?" tanya Bryan
"Gak Cia lagi bosen aja, inget om yang baik beliin baju buat Cia sama yang lain" jawab Cia
Bryan berjalan mendekat dan duduk di hadapan Cia
"Katanya mau belajar gambar? mau om ajarin?" ucap Bryan
"Boleh" ucap Cia seraya mengeluarkan buku di tasnya
Mereka sedang asyik menggambar Nindy memperhatikan dari balik pintu
mereka terlihat begitu akrab bercerita tertawa bahkan ada gerakan tubuh yang sama tapi mereka tidak menyadarinya
Waktu begitu cepat berlalu hari sudah gelap Nindy membuatkan makan malam untuk mereka
setelah malam siap Nindy kembali memanggil mereka untuk makan
Semua sudah berada di meja makan Cia selalu berceloteh
tingkahnya selalu membuat Nindy dan Bryan tertawa
Nindy kini menyoroti tingkah Bryan dan Cia yang sama sama sibuk memisahkan bawang di makanan mereka
"Cia gak suka bawang?" tanya Nindy
"Iya kalo makan bawang rasanya mual" jawab Cia masih sibuk memilah makananya
Nindy jadi teringat masalalunya dengan Bryan yang setiap makan makanan yang mengandung bawang dia sibuk memilahnya dengan alasan yang sama yaitu jika termakan dia akan merasa mual
"Gak usah bengong, emang sebagian orang gak suka bawang contohnya gue jadi gak usah heran" celetuk Bryan
"Kalian sadar gak sih kalian itu hampir sama? gak suka makan bawang, punya kebiasaan yang sama, kadang gestur tubuh kalian itu sama pergerakannya" ucap Nindy
"Masa sih?" ucap Cia dan Bryan bersamaan
Melihat wajah Nindy yang heran dengan kesamaan mereka
Bryan dan Cia malah tertawa melihat ekspresi wajah Nindy
Selesai makan malam Nindy membawa Cia ke kamar
menceritakan dongeng hingga Cia tertidur
Bryan datang lalu tidur di samping Cia membuat Nindy kesal
"Kenapa gak tidur di tempat lain aja atau pulang gitu temenin bunda" ucap Nindy
"Lo ngusir gue? lagian gue tidur sama Cia bukan sama elo kan?" ucap Bryan lalu menutup matanya sambil memeluk Cia
Ketika kedua orang dihadapannya mulai tertidur nyenyak
Nindy memperhatikan mereka butiran bening dari matanya mengalir di wajah cantiknya
Nindy tak kuasa menahan tangisnya lalu dia turun dari ranjang dan memilih berdiri di balkon memandangi suana malam yang hening dari atas sana
"Andai aja hari itu gak terjadi mungkin hari ini gue bahagia sama kalian, maafin mama nak belum bisa nemuin kamu semoga kamu baik baik aja dan selalu bahagia" Nindy berbicara sendiri sambil menangis
Tiba tiba sebuah tangan muncul dari belakang
mengungkung Nindy dengan tangan berpegangan pada besi pembatas
Nindy tidak berani berbalik dia diam menahan tangisnya yang sudah sesak di dadanya
"Gak udah sembunyiin apapun dari gue, gue tau Lo nangis kenapa di tahan? nangis aja sepuasnya " ucap Bryan membuat air mata Nindy semakin mengalir deras
"Kalo aja hari itu gak terjadi anak gue gak bakal hilang " ucap Nindy di sela tangisnya
"Maaf" lirih Bryan
Nindy tidak menjawab apapun meskipun dihatinya dia ingin mencaci maki Bryan tapi rasanya dia tidak sanggup mengeluarkan kata katanya
tangannya mengepal dengan mata terpejam sesak dia tidak ingin kembali tapi takdir mempertemukan mereka membuat Nindy kembali mengingat semuanya
"Kenapa kita di pertemukan kembali, gue pengen ngubur dalem dalem masalalu gue tapi kenapa kita harus di pertemukan kembali" ucap Nindy dengan terisak
"Gue bersumpah gue gak ada khianatin Lo, gue di fitnah bahkan setelah Lo pergi begitu lama gue gak bisa terima cewek lain" ucap Bryan
"Terus kenapa Lo bisa tunangan sama Maria? apa hubungan sejauh itu masih bisa di sebut gak bisa terima cewek lain?" tanya Nindy sinis
"Sama halnya sama Lo dan Leo gue juga punya alasan sendiri kenapa itu terjadi, kalo Lo atas dasar suka tapi gue punya alasan lain" jelas Leo
"Suka? jadi Lo ngira gue yang ada main sama cowok lain?" tanya Nindy marah
Dia berbalik menatap Bryan yang masih mengungkungnya
Bryan tidak sedikitpun menatapnya pandangannya lurus kedepan
dengan tatapan yang kosong
"Gue emang tunangan sama Maria tapi itu cuma sebagai syarat agar bokapnya mau suntik dana buat perusahaan gue yang hampir bangkrut alasan gue jelas tapi gue gak tau alesan apa yang membuat Lo sedekat itu sama Leo bahkan tinggal bareng" ucap Bryan
"Lo akan terkejut saat Lo tau semuanya tapi belum saatnya Lo tau yang jelas gue gak pernah ada hubungan sama cowok mana pun" ucap Nindy berapi api
"Kalo gitu gue berharap Lo tinggalin semua yang berhubungan sama dia dan kita tata ulang semuanya " pinta Bryan
"Gue gak bisa kalo harus tinggalin dia kita udah terikat" ucapan Nindy membuat Bryan terkejut
Dia menatap Nindy dengan marah nafasnya memburu dengan wajah memerah dengan urat urat yang menonjol karena menggretakan giginya
dia mencengkram kuat besi yang dia pegang membuat otot di tangannya terlihat jelas
Nindy ketakutan matanya mulai berair
dia ingin pergi tapi tidak bisa dia memejamkan matanya erat
__ADS_1
dia takut Bryan akan melukainya dia tidak mau melihat wajah Bryan yang terlihat sangat marah
"Apa yang udah Lo lakuin sama dia samai Lo sebut Lo terikat sama dia?" bentak Bryan membuat tubuh Nindy semakin bergetar
Karena tidak ada jawaban dari Nindy akhirnya Bryan menggendong Nindy layaknya karung beras yang di angkat di pundak
Bryan tidak melepaskan Nindy walaupun dia berteriak memukul mukul punggungnya
Cia tidak terganggu dengan keributan yang di buat Nindy dan Bryan dia tetap tertidur pulas
Bryan membawa Nindy kekamar lain dan menghempaskannya dengan kasar ke ranjang
Nindy hendak bangun namun Bryan sudah menindihnya
tidak peduli dengan teriakan dan berontaknya Nindy
dia menciuminya dengan ganas membuat tanda merah yang lumayan banyak di lehernya
"Kalo Lo bisa jadi ****** buat cowok lain kenapa gue gak bisa nikmatin tubuh istri gue sendiri" ucap Bryan dengan nafas berat
"Gue gak pernah tidur sama cowok lain please jangan gini Bryan gue takut" teriak Nindy seraya menangis
"Kenapa Lo takut sama gue tapi sama cowok lain enggak padahal kalian bisa lakuin apa aja kan kalo tinggal bareng" ucap Bryan
Bryan tidak menghentikan aksinya dia terus Saja menjelajahi tubuh Nindy
Bryan merobek pakaian. yang Nindy pakai hanya tersisa dalaman dan kini Bryan menarik semuanya
tubuh Nindy sekarang polos tanpa sehelai benang pun membuat Nindy semakin histeris
Tidak ada kata pujian tidak ada perlakuan manis seperti dulu saat mereka selesai bercinta
sekarang bahkan setelah memaksa Nindy dia meninggalkannya begitu saja
Hati Nindy begitu terluka dengan perlakuan Bryan
dia merasa di rendahkan meskipun Bryan suaminya
Nindy menangis menyelimuti tubuhnya lalu tertidur karena lelahnya
Ditempat lain Bryan menyesali perbuatannya entah apa yang akan dia lakukan jika bertemu dengan Nindy nantinya
dia memutuskan pergi dari apartemennya dengan merutuki dirinya sendiri
Cahaya matahari bersinar cerah masuk melalui celah jendela
Nindy masih tertidur di tutupi selimut Cia masuk begitu saja membangunkan Nindy
"Ma bangun katanya mau ngajak jalan-jalan" ucap Cia
Awalnya Nindy dengan santai menggeliat lalu dia segera menutupi tubuhnya karena sadar tidak berpakaian
"Cia sayang tunggu di luar ya mama mau mandi dulu" ucap Nindy
Cia menurut dan tunggu di sofa depan tv
Nindy sudah mengganti pakaiannya sekarang dia sedang memandikan Cia dan membantunya berpakaian
Nindy membawa Cia keliling mall lagi menemaninya sampai puas berjalan jalan makan dan belanja
Cia kelelahan sampai meminta untuk pulang
Nindy mengemudi mobil sesekali melirik Cia yang tertidur di sebelahnya
Dia teringat kunci apartemen Bryan yang ada padanya
di persimpangan jalan akhirnya Nindy memutuskan memilih jalan menuju rumah Bryan
sesampainya di halaman rumah Bryan Nindy keluar dari mobil
Dia meninggalkan Cia yang tidur di mobil karena dia hanya akan memberikan kuncinya pada bunda
Tok tok tok
Pintu rumah terbuka dan tampak bunda tersenyum pada Nindy
Nindy segera meraih tangan bunda lalu menciumnya
bunda memeluknya melepaskan rasa rindunya
"Masuk nak" ajak bunda
"Gak bisa bunda di mobil ada anak anak Nindy harus pamit, Nindy kesini cuma mau ngembaliin ini" ucap Nindy terburu buru mencium tangan bunda lalu lari seraya mengucap salam
Bunda menggeleng melihat tingkah laku Nindy yang tidak berubah
masih seperti dulu yang suka terlambat dan selalu terburu buru
Nindy sebenarnya tidak ingin bertemu lagi dengan Bryan
Bunda melihat tangannya yang memegang sesuatu dari Nindy
ternyata itu kunci apartemen membuat bunda memikirkan hal yang bukan bukan padahal emang iya iya hihihi
"Berarti semalam mereka berdua di apartemen dong? semoga saja hubungan mereka cepat membaik " gumam bunda dalam hati
Di tempat lain Leo dan Roy kini sedang mengawasi bangunan terbengkalai yang kemarin di ceritakan Roy
hari ini berbeda dengan kemarin penjagaannya lebih sedikit
Roy masih bertanya tanya kenapa hari ini tidak seperti kemarin yang banyak penjaga berlalu lalang
"Sebenarnya apa yang mereka Rencanakan?" tanya Leo pada Roy
"Entahlah tuan tapi saya rasa mereka sudah tau kita mengawasi nya" ucap Roy
"Tempatkan anak buah disini untuk memantau perkembangan, kita akan menyusun rencana di markas" titah Leo
Karena tidak mendapat informasi apapun akhirnya mereka pergi dari sana dan di ganti orang kepercayaan Roy
Dikediaman Maria dia tidak mau keluar dia mengacak acak seluruh kamarnya seraya berteriak teriak seperti orang gila
__ADS_1
dia meminta ayahnya agar melakukan sesuatu pada perusahaan Bryan agar Bryan mau terikat lagi dengannya
Tapi ayahnya tidak bisa apa apa karena Bryan sudah mengembalikan semua uangnya
ini semua karena bantuan Leo yang membantu perusahaan Bryan kembali seperti dulu lagi
Nindy mengantar Cia pulang ke panti dengan riangnya dia bercerita pada anak anak yang lain
dia di ajak jalan jalan dan tinggal di rumah yang mewah
teman temannya ikut senang membayangkan mereka juga ingin seperti Cia
Nindy memandang iba Cia yang antusias bercerita
wajahnya begitu berbinar nampak kebahagiaan di wajahnya
Nindy pamit harus ke kantor kakaknya karena Leo sedang tidak ada
"Cia mama pamit dulu ya nak, mama harus ke kantor Dady besok mama kesini lagi" ucap Nindy
"Besok jemput Cia sekolah ya ma" ucap Cia
"Ok" jawab Nindy membulatkan tangannya
Sesampainya di kantor dia mengerjakan pekerjaan Leo yang sangat menumpuk
kenapa Leo meninggalkan pekerjaan yang begitu banyak
pikir Nindy memijat keningnya yang terasa pusing
Tok tok tok
"Permisi Bu, ada yang ingin bertemu" ucap asistennya
"Siapa?" tanya Nindy
"Perwakilan dari SBScorp " ucap asistennya
"Siapa CEO nya?" tanya Nindy
"Tuan Bryan , tapi yang sekarang datang wakilnya Bu" jelas asistennya
"Biarkan dia masuk" ucap Nindy
Terdengar langkah kaki mendekat sepertinya tidak hanya satu orang
Nindy masih mengerjakan pekerjaannya hingga tidak menatap mereka
"Permisi nona" ucap orang dihadapannya
Nindy sangat familiar dengan suara itu dia mendongakkan kepalanya
dan ternyata itu adalah sahabatnya yang lama tidak pernah dia temui
"Daraaaaa" pekik Nindy berlari memeluk Dara
" Kangen banget" ucap Dara juga memeluk Nindy
"Lo kemana aja? gue pangling liat Lo makin cantik" lanjut Dara
"Dan Lo berubah jadi cewek banget sekarang" ledek Nindy
"Ya secara gue seorang sekretaris harus feminim dong" ucap Dara membuat mereka tertawa
"Ya jadi obat nyamuk deh" ucap Reno
"Eehh iya lupa ada kak Reno, silahkan duduk" ucap Nindy hanya cengir kuda
"Ada keperluan apa pada kesini?" tanya Nindy
"Kita wakilin bos buat nyerahin ini promosi produknya seperti ini" ucap Reno menyerahkan beberapa file
"Kalo ada masukan atau ini ada yang kurang bisa di ganti, kita kesini mau denger pendapat dari perusahaan Alexander juga" lanjut Reno
"Bisa gak nanti aja soalnya harus tanya kak Leo dulu" ucap Nindy
"Bisa tapi kalo ada masukan lain langsung hubungi bos kita aja" ucap Reno
"Gak bisa sama kalian aja?" tanya Nindy
"Biar lebih jelas dan terperinci sebaiknya sama bos langsung" jawab Reno
"Oke deh " ucap Nindy
"Ra minta nomer dong entar pulang kerja gue mau ajak ngopi" ucap Nindy
"Boleh" Dara menyerahkan ponselnya
Setelah selesai Reno dan Dara pamit untuk kembali ke perusahaan
mereka sekarang sedang di perjalanan kesana
"Kenapa di suruh langsung hubungi pak Bryan sih kan bapak juga bisa?" tanya Dara
"Gak usah manggil bapak udah gue bilang gue bukan bapak Lo, panggil bapak di kantor ajaa" gerutu Reno
"Hehehe kebiasaan" jawab Dara
"Gue yakin mereka ada konflik lagi makanya gue sengaja bilang gitu biar mereka ngobrol lagi gitu" ucap Reno
"Ohh... emang mereka udah ketemu?" tanya Dara
"Udah sih kata Bryan tapi ya gitu mereka gak pernah baik baik aja kalo ketemu masih terjebak di masa lalu" jawab Reno
"Ya kalo gue di posisi Nindy juga pasti ngelakuin hal yang sama, meskipun itu mungkin siasat orang licik tapi kalo kitanya gak tau kan sakit juga" ucap Dara
"Perasaan Lo ternyata cewek juga ya gue kira penampilan aja yang feminim " ledek Reno
" Emangnya Lo pikir gue apaan? transgender" ucap Dara nyolot
''Ya kali aja" ucap Reno yang mendapat pukulan dari Dara
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote dari kalian jadi motivasi buat aku up