
Nindy sedang berada di depan meja rias dengan Bryan yang selalu mengikutinya kemana pun
Bryan memeluknya dari belakang menelusupkan wajahnya ke leher Nindy
"Bryan diem dulu" ucap Nindy karena Bryan terus saja menciumi tengkuknya
" Kenapa? gak boleh?" tanya Bryan
"Bukan gitu ini belum selesai, lagian gak puas apa masih ngintilin Mulu" gerutu Nindy
"Sekali lagi" ucap Bryan membuat Nindy melotot
"Gak, gue udah mandi"
"Mending sekarang mandi kita harus ke kota D" Nindy mendorong Bryan sampai kamar mandi
"Leo udah bilang kita gak boleh kemana mana"
"Tapi kita harus secepatnya temuin anak kita" ucap Nindy
"Biar dulu kayak gini, ini aman buat kamu dan anak kita" Bryan membelai pipi Nindy
"Ya udah gue pergi sendiri" Nindy menurunkan tangan Bryan dan melangkah pergi
"Oke tunggu jangan kemana mana gue mandi dulu" teriak Bryan membuat Nindy yang membelakanginya beryes ria
Nindy berjalan menuruni anak tangga
di bawah tampak banyak orang sedang berkumpul di sebuah meja besar
'sejak kapan meja itu ada disana" batin Nindy
"Lagi apa kak" Nindy menghampiri Leo
Leo tersenyum mengelus belakang kepala Nindy
dia memberitahu rencana untuk menjebak dalang dari semua ini
tiba tiba dari belakang tangan Leo yang mengelus Nindy di tepis oleh Bryan
"Gak usah pegang pegang, nyari kesempatan banget sih" ucap Bryan membawa Nindy dalam dekapannya
"Cihh si posesif datang" ledek Leo
"Maaf saya terlambat" ucap Roy yang baru saja datang
"Kak Roy juga disini? apa kabar" Nindy terlihat senang melihat Roy mengulurkan tangannya
"Baik, lama gak ketemu" ucap Roy
Bryan melihat keakraban Nindy dan Roy memandang tidak suka apalagi Nindy tidak mengenalkan Bryan sebagai suaminya
Leo menahan tawanya ketika melihat Bryan di acuhkan oleh Nindy dan asyik mengobrol dengan Roy
Saat Nindy ingin mengenalkan Bryan ternyata Bryan sudah tidak ada di sampingnya
"Loh Bryan mana kak?" tanya Nindy pada Leo
Leo menunjuk dengan lidahnya yang menyembul di dalam pipi
Nindy bergegas menghampiri Bryan yang sedang berdiri memandang air kolam
Nindy memeluk Bryan dari belakang
"Sayang lagi apa?" tanya Nindy dia tahu Bryan sedang marah
"Tumben manggil sayang" Bryan masih mendiamkan Nindy
__ADS_1
"Kok gitu? emang gak boleh?" Nindy mengeratkan pelukannya
Nindy celingukan melihat kondisi rumah
Leo dan anak buahnya sepertinya sudah pergi
Nindy berputar memeluk Bryan dari depan
Bryan masih mendiamkan Nindy tidak membalas pelukannya
Nindy beralih mengalungkan tangannya di leher Bryan
menekan tengkuk Bryan dan berjinjit untuk mencium Bryan
keduanya sama-sama menikmati ciumannya hingga tidak sadar Nindy terus mundur dan keduanya jatuh ke kolam
"Aaakkkkhhhhhh kamu sih" Nindy mencipratkan air ke wajah Bryan
Bryan malah menekan pinggang Nindy dan kembali menciumnya
"Eehhmm" Suara Damar membuat keduanya terlonjak, disana sudah ada Damar,Leo, dan anak buahnya yang membelakangi mereka karena perintah Leo
"Kalo mau mesra mesraan di kamar dong banyak jomblo nih" Ledek Damar mendapat jitakan di kepalanya oleh Leo
Di tempat lain Maria sudah berhasil mendapatkan kepercayaan dari Mark
bukan hanya tentang uang tapi juga tentang kekuasaan
"Honey " ucap Maria manja duduk di pangkuan Mark bersandar di dadanya
"Kenapa hmm?" Mark mengelus rambut Maria
"Apa aku boleh ikut kemana pun kau pergi?" tanya Maria
"Tentu apapun yang kau inginkan" jawaban Mark membuat Maria tersenyum puas
.
.
Anak itu kehilangan banyak darah dan keadaannya kritis
dia keluar dengan keringat mengucur di pelipisnya
"Bu apa sudah dapat donor darahnya?" tanya Meira
"Belum dok saya sendiri bingung harus cari dimana, dia anak yatim piatu" jawab pengurus panti
Meira baru teringat sesuatu golongan darah anak ini sama dengan Bryann
Dia ingin menghubungi Bryan tapi tidak punya nomor ponselnya
dia scroll handphonenya dan mendapati no Leo yang waktu itu pernah dia hubungi sewaktu menyelamatkan mamanya
Tuutttt tuutttt
Beberapa kali Leo mematikan teleponnya
Meira tidak putus asa dia terus menghubungi Leo
"Hallo, kenapa menelpon orang berulang kali?" bentak Leo
"Ma.. maaf tuan saya hanya ingin meminta pertolongan Bryan anak yang bernama Cia kembali masuk rumah sakit dan golongan darah sedang kosong, anak ini yatim piatu saya mohon segera sampaikan ini pada Bryan"
"Apaaaa?" Leo segera berlari ke kamar Nindy
Tanpa permisi tanpa mengetuk pintu Bryan langsung masuk
__ADS_1
"Sorry" Leo langsung membalikan tubuhnya memunggungi Bryan
"Ngerusak suasana Lo" hardik Bryan
"Gue cuma mau bilang Cia masuk rumah sakit butuh donor darah tapi di RS kosong golongan darah sama kayak punya Bryan" jelas Leo
Nindy segera turun dari ranjang menghampiri Leo
matanya berkaca-kaca mendengar kabar Cia
baru saja di tinggal beberapa hari kejadian buruk menimpanya
"Cepet kita kesana" Nindy yang panik menarik tangan Leo keluar
" Kenapa dia yang di tarik" gerutu Bryan
Sesampainya di rumah sakit segalanya sudah di cek dan Bryan sudah mendonorkan darahnya
Bryan dan Nindy menunggu Cia disampingnya
entah kenapa hati keduanya sakit kqlq melihat Cia terbaring lemah
Nindy diam sejenak sebuah ide muncul di otaknya
dia berniat tes DNA antara Cia dan Bryan dan juga anak yang mereka temui di kota A
Bryan setuju saja, sambil menunggu keadaan aman untuk pergi ke kota D
lebih baik melakukannya sekarang siapa tau diantara mereka adalah anaknya
"Hasilnya akan keluar 2 Minggu lagi" ucap dokter
"Gue akan jaga tes DNA ini gue janji siapa pun gak akan bisa sabotase, makasih Nindy Lo udah mau nolongin mama dan maafin kita yang selalu jahat sama Lo" Meira menggenggam tangan Nindy dengan berlinang air mata
"Gue udah maafin kalian " kemudian Nindy memeluk Meira
.
.
"Mmhh" Cia mulai sadar memegangi kepalanya
Ketika dia membuka mata betapa bahagianya dia saat melihat Nindy dan Bryan tersenyum padanya
senyum Cia mengembang di wajah pucatnya
"Mama papa disini" ucap Cia
"Iya sayang, ada yang sakit? atau mau mama suapin makan?" Cia menggeleng
"Mama kok gak pernah temuin Cia lagi" ucapnya dengan sedih
"Maafin mama sama papa ya kemarin kemarin ada kerjaan dulu, yang penting sekarang kan mama ada disini"
"Mama janjikan gak bakal tinggalin Cia lagi?" tanya Cia
"Janji sayang" Nindy menautkan jari kelingkingnya dan Cia
"Hai cantik" Leo baru saja datang menutupi wajahnya dengan boneka
"Tebak siapa ini?" ucap Leo dengan suaranya yang di ubah seperti anak kecil
"Daddyyyy " sorak Cia
"Ini untuk anak cantik dan kuat" Leo menyerahkan boneka seraya mengelus pucuk kepala Cia
"Jangan kenceng kenceng sakit" Cia memanyunkan bibirnya mengusap kepalanya membuat semuanya tertawa
__ADS_1