
Tok tok tok
Nindy mengetuk pintu rumah orang tua angkat salah satu anak panti
pintu terbuka nampak seorang wanita berusia sekitar 40 tahun
"Ya siapa?" ucapnya sambil membuka pintu
"Apa benar ini kediaman keluarga Santoso? perkenalkan Saya Nindy dan ini suami saya Bryan" ucap Nindy lalu mereka berjabat tangan
"Saya Sarah istri tuan Santoso, silahkan masuk" ucap ibu itu ramah
Setelah di mempersilahkan duduk Sarah pergi ke dapur membuat minuman
sepertinya akan mudah bagi Nindy untuk meminta bantuan keluarga ini melihat betapa ramahnya tuan rumah
"Silahkan diminum, sebenarnya ada perlu apa nak?" tanya Sarah
"Begini Nyonya maaf sebelumnya apa ini pernah mengadopsi anak di panti kasih bunda?" tanya Nindy ibu itu tampak mematung mendengar ucapan Nindy
"Maaf nyonya saya tidak bermaksud, tapi kedatangan saya kesini untuk minta bantuan dari Nyonya" ucap Nindy
"Lalu apa maksud kalian datang kesini?" Sarah kelihatan cemas dengan kedatangan Nindy
Nindy menceritakan hilangnya anak mereka saat itu
Sarah nampak sangat cemas setelah mendengar perkataan Nindy
"Saya mau minta izin untuk tes DNA anak itu nyonya" ucap Nindy ragu ragu
"Tidak itu anak saya selamanya akan menjadi anak saya" Sarah mulai terisak takut anaknya akan dibawa Nindy
"Sa.. ssaya mohon" Nindy sudah tak kuasa meneruskan ucapannya
"Saya mohon nyonya anda juga seorang wanita seharusnya anda mengerti perasaan istri saya" Bryan yang bicara karena Nindy tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun
"Kenapa saya harus mengerti kalian? kalian juga tidak mengerti perasaan saya, saya sayang anak itu saya tidak rela siapapun mengambilnya dari saya" Sarah mulai meninggikan suaranya
"Saya mohon nyonya saya hanya ingin memastikan anak itu anak saya atau bukan, saya janji jika terbukti itu anak saya, saya tidak akan mengambilnya dari anda cukup anda memperbolehkan saya menemuinya" Nindy berlutut memegangi kaki Sarah sambil terisak
Sarah pun menangis dia juga merasakan bagaimana kehilangan anak yang begitu dia sayangi hingga akhirnya ia memutuskan mengadopsi anak untuk mengurangi kesedihannya
tapi saat Sarah mulai bahagia Nindy datang ingin melakukan tes DNA pada anak angkatnya sontak saja ia ketakutan anaknya akan di ambil kembali
Bryan membantu Nindy berdiri memegangi kedua bahunya tapi Nindy masih bersikeras berlutut dihadapan Sarah
butuh waktu lama untuk membujuk Sarah
Setelah beberapa waktu akhirnya mengiyakannya dengan syarat tidak akan mengambil anaknya kalaupun anak itu terbukti anak Nindy
Sarah dan Nindy pergi ke kamar anaknya untuk mengambil rambut yang masih tersisa di sisir
Setelah berulang kali mengucap terima kasih Nindy pamit untuk pulang
dan akan mengabarkan hasilnya jika sudah keluar
"Ingat janji kalian" tegas Sarah
Sarah mengantar Nindy dan Bryan keluar bersamaan dengan itu Astri baru saja pulang sekolah dengan Santoso
mata Nindy berkaca kaca saat anak itu menyapa Sarah dari kejauhan
"Bundaaaa" teriak anak itu merentangkan tangannya lalu memeluk kaki Sarah dan Sarah pun memeluk bahu Astri
"Hai Astri" sapa Nindy
"Hai Tante" saat Nindy akan menyentuh Astri Sarah memeluknya dengan posesif
Hati Nindy sakit melihatnya bagaimana jika anak itu adalah anaknya apa dia akan sanggup berjauhan dengan anaknya meskipun anaknya sudah ditemukan
Bryan memeluk bahu Nindy dengan sebelah tangan dan hendak membawanya pergi
__ADS_1
tapi Nindy tak bergeming dia menatap tangan Sarah yang memeluk Astri
Astri melihat Nindy menangis dia menatap wajah Sarah seolah meminta izin untuk menghibur Nindy
Akhirnya Sarah mengizinkannya karena dia tidak bisa menolak setiap permintaan Astri
"Tante jangan nangis, kata bunda apapun masalah kita jangan pernah bersedih dan berputus asa Allah ada bersama kita" Nindy berlutut memegang bahu Astri yang sedang menghiburnya
Astri mengusap air mata Nindy dengan ibu jarinya
seketika tangisnya semakin deras Nindy memeluk Astri sebelum benar benar pergi
"Terimakasih" ucap Nindy pada Sarah yang hanya di jawab anggukan
"Bunda Tante itu siapa?" samar samar terdengar suara Astri bertanya pada Sarah
"Temen bunda Tante itu baru saja kehilangan anaknya" jawab Sarah
"Sepertinya nyonya Sarah menyayangi Astri dengan tulus dia mengajarkan keperibadian yang baik buat Astri" ucap Bryan sambil mengemudi
"Heem" lirih Nindy menatap kearah jendela
Bryan kembali ke hotel tempat mereka menginap
di lobby mereka bertemu dengan Maria yang baru saja keluar
Nindy menahan tangan Maria yang melewatinya dengan senyum meremehkan
Plaakk
Satu tamparan membuat Maria hampir tersungkur
Maria hilang keseimbangan berpegangan pada pot besar di sisi pintu
Maria bangkit memegangi pipinya yang terasa perih dengan sedikit darah di sudut bibirnya
"Kurang ajar" Maria hendak melayangkan tangannya untuk menampar Nindy tapi Bryan menahannya
"Lo akan segera masuk penjara" tegas Bryan lalu merangkul Nindy dan membawanya pergi
"Aaarrrggghhhhh" teriak Maria
Maria menjadi tontonan orang orang disana
jangan ditanya semalu apa dia
Maria segera bangkit dan lari keluar hotel dengan amarahnya
"Sial" Maria memukul mukul kemudinya
"Halo.. cari tahu lebih banyak tentang Nindy dan beri sedikit kejutan" ucap Maria lalu mematikan teleponnya
Di kamar Bryan sedang membaringkan tubuhnya di ranjang menunggu Nindy keluar dari kamar mandi
terdengar suara handphone Nindy berdering
awalnya Bryan ragu untuk menjawab teleponnya tapi karena melihat nama si pemanggil dia berinisiatif menjawabnya
Tapi belum Bryan menjawab teleponnya panggilan di akhiri
dan orang itu mengirim pesan
Richard
''aku akan berkunjung ke negaramu, aku akan menagih janjimu untuk membawaku jalan jalan "
(pesannya bahasa Inggris, tapi berhubung othor gak bisa translatenya aja langsung wkwkwkw)
"Ciihh rupanya dia punya banyak temen cowok" Bryan mulai scroll kontak di handphone Nindy yang kebanyakan nomer perempuan
Nindy baru saja keluar dan menghampiri Bryan yang sedang duduk di ranjang
__ADS_1
tapi saat Nindy mendekat Bryan melempar handphonenya ke atas ranjang tepat di hadapan Nindy dan dia pergi begitu saja ke kamar mandi
Nindy mengerutkan keningnya dia bingung kenapa wajah Bryan seperti sedang marah
apa cuma perasaannya saja atau memang Nindy punya salah
.
.
Malam hari tiba keduanya masih sama sama diam berdampingan duduk di atas ranjang dengan bersandar ke kepala ranjang
Nindy tampak sesekali melirik Bryan yang hanya fokus ke layar laptopnya
'Mungkin sibuk' hanya itu yang ada di benaknya
Nindy sudah berbaring bersiap untuk tidur tapi handphonenya kembali berdering
Nindy memandang layar handphone dengan tersenyum
Bryan melihat itu dan dia semakin cemburu
"Hallo Rich bagaimana kabarmu?" tanya Nindy
"Oohh ya? kapan kau menelpon aku tidak ingat"
"Oohh baiklah aku masih di kota A, iya nanti aku ajak jalan jalan kalau sudah pulang ke kota B"
"Oke bye" Nindy menutup teleponnya
Setelah Nindy menyimpan handphonenya dia berbalik menghadap Bryan
Bryan menutup laptopnya dengan kasar lalu tidur memunggungi Nindy
"Bryan" panggil Nindy
Tapi Bryan tidak kunjung berbalik
Nindy mengguncang lengan Bryan tapi Bryan masih tidak bergeming
padahal dirinya sudah sangat lapar
Krucuucuukkk
bunyi perut Nindy terdengar nyaring, Nindy hanya mengusap perutnya
Bryan tidak tega mendengar suara cacing yang demo karena istrinya kelaparan
Bryan berbalik menghadap Nindy yang sedang terlentang menatap langit langit sambil mengusap perutnya
"Mau makan dimana?" tanya Bryan datar
"Gak usah nanti ngerepotin" Nindy tidak mengubah posisinya
" Bilang aja mau di anterin atau langsung ketempatnya" suara Bryan agak meninggi
" Gak usah Bryan gak usah, gue gak laper" suara Nindy agak tercekat menahan tangisnya
Nindy berbalik memunggungi Bryan punggungnya bergetar menandakan dia sedang menangis
Bryan tidak membujuk atau memaksanya makan hanya perut Nindy yang terus terusan berbunyi
"Cepet bangun gue gak mau anak gue kenapa Napa" ucap Bryan menyingkap selimut Nindy
"Gak mau gue udah gak laper" mendengar ucapan Nindy Bryan membalikkan tubuh Nindy dan duduk dipahanya
"Makan sekarang atau Lo gue makan" ucap Bryan
Nindy menelan salivanya susah payah tapi dia berusaha menetralkan raut wajahnya yang sedang merasa ketakutan
"O.. ooke pergi sekarang" tutur Nindy
__ADS_1