
Dara berada di sebuah pusat perbelanjaan bersama Leo
mereka memilih belanja bulanan dari sabun, beras hingga bahan pokok lainnya layaknya pasangan suami istri
mereka mendorong troli bersamaan sambil tertawa entah apa yang mereka bahas
" Total semuanya 1990.999Rp Mbak " ucap kasir saat mereka hendak membayar
"Ini mbak saya bayar pake kartu" ucap Leo
Dara dan Leo bersamaan menyerahkan uang dan kartu
Dara menoleh ke arah Leo dan Leo hanya tersenyum lalu pergi membawa belanjaannya
"Ini kartunya mbak" Kasir mengembalikan kartunya pada Dara
"Ini aku bayar cash aku gak mau ngutang sama orang" Dara menyerahkan uang ke tangan Leo
"Gak pokoknya aku gak mau menerima penolakan, cukup kamu masak buat aku anggap aja ini bayarannya" Leo memasukkan kembali uangnya ke tas Dara dan merangkul bahunya pergi dari sana
.
.
Di markas Mark seperti biasa Maria layaknya kucing yang selalu menempel manja pada majikannya
Maria duduk menyamping di pangkuan Mark sambil menyuapi nya buah
"Kalian bawa kembali anak itu kemari kalau perlu bawa juga ibunya" titah Mark
"Sayang kenapa kamu tidak membunuhnya saja? " tanya Maria
"Aku bukan manusia iblis yang harus membunuh seorang anak kecil demi ambisiku"
"Terserah kau saja tapi jika hanya menggertak seorang anak kecil pun bisa" ucap Maria seraya pergi
.
.
"Sayang cepet makannya nanti sekolahnya kesiangan " ucap Nindy seraya memasang dasi Bryan
"Udah aja mah kenyang" Cia merengek
"Gak bisa nanti masuk angin, cepet makan dulu" Nindy menyuapi Cia tapi Cia menggelengkan kepala
"Sini sini biar Daddy aja yang suapin'' Leo meraih piring dari tangan Nindy
Leo membisikkan sesuatu kepada Cia dan dia hanya manggut manggut sambil tersenyum
Nindy mengerutkan kedua alisnya menatap mereka
" Udah sekarang kamu yang makan dari tadi sibuk ngurusin orang" Bryan menarik tangan Nindy agar duduk
"Ma Cia mau pergi ke kebun binatang lagi" ujar Cia
"Itu bisa di atur sekarang cepet berangkat nanti kesiangan" Nindy memasang tas kresek pundak Cia
"Ya mama gak asik" Cia cemberut
"Dih nih anak siapa sok asik " ledek Damar mendengar perkataan Cia
"Iihhh" Cia memberengut membuat semua tertawa
Setelah semua orang berangkat Nindy juga pergi ke makam ibunya
sudah lama sekali dia tidak datang kesana Nindy juga tidak lupa membeli bunga
"Assalamu'alaikum bu" Nindy mengusap nisan ibunya
"Maafin Nindy ya bu jarang datang kesini, Nindy punya banyak masalah bu tapi sekarang Nindy sudah berkumpul kembali dengan keluarga Nindy"
" Kalo ibu masih ada ibu pasti juga senengkan? makasih bu udah rawat Nindy dari kecil" Nindy mengusap air mata yang perlahan turun
__ADS_1
Di kantor Leo sedang senyum senyum sendiri sambil memainkan ponselnya
dia sedang chatingan dengan Dara
sama halnya dengan Leo Dara pun sebaliknya sampai tidak menyadari di hadapannya sudah ada Reno
Braaaakkkk
"Kesini mau kerja apa main handphone" Reno menggebrak meja Dara
Dara yang terkejut membuat handphonenya lepas dari genggamannya
Dara melihat handphonenya yang jatuh kacanya retak dan mati
Dara mengambilnya dengan mata yang berkaca kaca
"Balik kerja kalo gak serius mending gak usah kerja" ujar Reno lalu melengos pergi
"Huufftt, Hpnya mati, padahal udah susah payah nabung mana baru lagi" Dara menghela nafas menaruh handphonenya di meja
Leo menunggu balasan dari Dara tapi handphonenya tak kunjung berdering
dia juga menelpon Dara tapi tidak aktif
.
.
Kini Nindy sedang berada di rumah sakit hendak memeriksa kandungannya sendirian
Dia mendengarkan penjelasan dokter tentang kandungannya
"Jangan terlalu stress ya Bu, untuk sekarang tidak ada masalah tapi ibu harus bisa menjaga pola makan teratur dan jangan terlalu banyak pikiran, obatnya jangan lupa di minum"
"Terimakasih dok"
Saat hendak menebus obat dia berpapasan dengan Hendrico
"Loh Hendrico kita ketemu lagi disini" ujar Nindy tersenyum ramah
"I.. Iiyya, gue ada perlu buru buru duluan ya, sampai ketemu lagi bye" Hendrico pergi dengan langkah terburu buru
Nindy mengerutkan alisnya melihat sikap Hendrico
Karena terburu buru sebuah plastik terjatuh dari saku Hendrico
Nindy memungutnya ternyata isinya sebuah obat
"Ibu ini obatnya"
"ohh ya terimakasih, mbak maaf ini obat aya ya? " Nindy mengulurkan obatnya
Obatnya di buka dan di lihat satu persatu oleh petugas apoteker
"Ini obat untuk yang kemoterapi Bu sepertinya orang yang punya obat ini memiliki penyakit kanker"
"Haa kanker" gumam Nindy
Nindy baru di ambang pintu keluar Hendrico bergegas masuk sepertinya sedang mencari sesuatu
"Lo cari ini" Nindy mengulurkan plastik obat
"Iya itu punya orang tua gue" Hendrico cepat mengambilnya dari tangan Nindy
"Lo"
"Thanks ya gue duluan" ucap Hendrico lalu pergi
.
.
Di sekolah Cia yang baru dia sedang menunggu Nindy yang hendak menjemput
__ADS_1
Cia menunggu di depan gerbang sambil menengok kiri kanan
"Mamaaaa....." teriak Cia pada Nindy yang baru saja keluar dari mobil
Nindy tersenyum berjalan ke arah Cia namun tiba tiba sebuah mobil berhenti tepat di tengah tengah mereka
dengan cepat mobil itu pergi bersamaan dengan itu Cia juga menghilang
"Toolooonngg" teriak Nindy sambil mengejar mobil itu
Banyak orang berkerumun membantu mengejar mobilnya tapi tidak berhasil
Nindy terjatuh dan di bangunkan orang orang disana
Nindy terisak memanggil nama Cia
Nindy mengambil handphonenya untuk menghubungi suami dan kakaknya tapi sialnya handphonenya kehabisan daya
Nindy di tenangkan ibu ibu yang berada disana
pikirannya kalut dia menangis sejadi jadinya
seseorang datang dan bertanya apa yang terjadi karena Nindy masih tidak berhenti menangis
"Udah jangan nangis nanti gue bantu cari" ucap Hendrico
Hendrico menenangkan Nindy menepuk bahunya pelan
tiba tiba dari arah belakang seseorang menarik kerah baju Hendrico
"Ngapain lo disini? " ucap Bryan menatapnya nyalang
"Gue cuma kebetulan lewat dan liat kerumunan orang awalnya gue gak tau ada Nindy"
"Pergi" Bryan menghempas kasar kerah baju Hendrico
"Gue duluan nin" Hendrico pergi dengan wajah kecewa
"Sayang kamu gak apa apa? " Bryan memeluk Nindy
"Kamu gak seharusnya usir dia sekasar itu"
"Kamu belain dia? " Bryan cemburu ketika Nindy membela Hendrico
"Aku gak mau debat, kamu tau darimana aku disini? "
"Guru telepon aku dan bilang semuanya, kenapa kamu gak telepon aku atau kamu malah nelepon dia" tanya Bryan
"HP aku mati dia bener dia cuma kebetulan lewat, kita gak seharusnya berdebat sekarang kita harus cari Cia" bentak Nindy
.
.
Leo di telepon Nindy untuk segera pulang di perjalanan mobilnya malah mogok
dia memeriksa mobilnya sebentar lalu menelpon bengkel
sebuah mobil berhenti di dekatnya dan seorang wanita turun
"Mobilnya kenapa? " tanya Meira
"Lo gak liat mobilnya mogok? " ketus Leo
''Mau kemana biar gue anter"
"Gak usah "
"Beneran? kalo gitu gue duluan" ucap Meira berbalik pergi
"Tunggu, gue ikut tapi biar gue yang nyetir" ucap Leo
Meira menahan senyumnya melihat tingkah Leo yang gengsian
__ADS_1