
10 menit
15 menit
sampai ke menit 20 Leo merasa ada yang salah dengan tubuhnya
Meira terus mengajaknya bicara tapi Leo jadi tidak fokus
dia berkeringat sesekali mengipas ngupas bajunya
"Kenapa? " tanya Meira
"Gerah kayaknya gue harus pulang" jawab Leo berdiri namun sudah tidak seimbang
"Biar gue bantu" Meira membantu memapah Leo
Meira memapah Leo dan hendak memasukannya ke sebuah kamar namun masih ada sisa kesadaran membuat Leo menepis tangan Meira dan menelpon Roy yang juga sedang di club malam itu
Roy datang membawa Leo keluar membuat Meira menatap nanar punggung mereka yang perlahan menjauh dan menghilang
Meira menjadi kalut dalam pikirannya apa yang akan terjadi pada Dara jika sampai Leo pulang ke rumah yang di tempati Dara
Sesampainya di mansion Leo
Dara sedang menonton TV di ruang tengah pintu tiba tiba terbuka dengan kasar dan muncul Leo yang terlihat berantakan bahkan atasannya sudah polos hanya tinggal celana panjang yang ia pakai
tiga pelayan sampai melongo melihat tubuh tuannya itu bahkan mungkin ilernya sudah pada jatuh
Leo melihat Dara yang sedang menelungkup memakan cemilannya segera menarik paksa tangan Dara hingga berdiri
Dara yang terkejut belum sempat melayangkan protesnya bibirnya sudah di bungkam secara kasar membuat Dara berontak dan memukul mukul Leo
"Kamu bisa berlaku manis sama Reno? tapi kenapa sekarang kamu gak bisa berlaku manis sama aku? " mata Leo terlihat sayu dan memerah
Dara hanya diam
tanpa menunggu Dara bicara Leo mengangkat tubuh Dara seperti karung beras di pundaknya
Dara menjerit meronta meminta tolong pada pelayannya
dia tau sesuatu terjadi pada Leo mulutnya tercium bau alkohol dan Leo memepetkan bagian bawahnya kebagian bawah Dara
membuatnya menyadari sesuatu telah tegak di bawah sana
"Bibi tolong" Dara meronta mengulurkan tangannya
"Tuan tolong jangan" ucapan bibi tertua terpotong kalau Leo menatap tajam kearah mereka
"Menyeramkan, tatapannya seperti iblis" ucap salah satu pelayan
"Iblis itu mungkin akan berkembang biak sekarang" ucap Roy yang baru saja masuk dan menaruh kemeja serta jas Leo yang di tanggalkan di dalam mobil
__ADS_1
para pelayan melongo mendengar ucapan Roy
belum selesai keterkejutannya terdengar jeritan Dara meminta tolong dan meminta Leo sadar dan melepaskannya
"Aku pergi selamat menjadi pendengar setia" ucap Roy melenggang pergi keluar
Bukannya pergi ketiga pelayan itu malah kepo dan naik ke tangga untuk menguping
jeritan jeritan itu terdengar pilu dan tertahan
"Leo aku akan membencimu kalo kamu sampai berani macam macam" teriak Dara
"Aku akan bertanggung jawab, dan setelah ini kamu gak akan bisa kabur lagi'' jawab Leo dengan suara berat dan nafas tersengal
" Aaaa Leo hentikan sebelum semuanya terlambat"
"Leo aku mohon aku akan menurut aku tidak akan kabur lagi"
"Bukan masalah janji Dara aku udah gak bisa tahan, ini menyiksa"
"Kamu menyakitiku"
mereka menghitung berapa kali Dara terdiam mereka berpikir itu adalah jeda yang Leo berikan dan kembali pada Dara
"Ini udah 2 jam, apa nyonya akan baik baik saja? " bibi tertua sangat menghawatirkan Dara
"Sudah 4kali jeda omg tuan sangat kuat" entah pujian atau apa yang di lontarkan inem
"Ayo pergi semoga nyonya baik baik saja" kata sumi setelah tidak terdengar suara Dara menarik kedua pelayan yang masih betah berdiri di pintu kamar Leo
.
.
Dara yang sudah pingsan
setelah puas Leo menjatuhkan dirinya di samping Dara dan tertidur dengan pulasnya
.
.
Keesokan harinya pukul 07:30 Leo bangun lebih dulu
dia menatap wajah Dara yang berantakan dan nampak sembab
Leo menyingkirkan rambut yang mengganggu di wajah Dara
mengecupi wajah Dara tapi tidak membuat tidurnya terganggu
"Maaf sayang" Leo kembali mengecup kening Dara
__ADS_1
Setelah mandi dan bersiap ke kantor Leo turun dari tangga mengancingkan lengan bahunya
Inem dan surti menatap Leo dengan penuh arti
"Tuan sarapan dulu" ucap sumi menabrak bahu dua pelayan yang bengong
"Gak bi saya udah telat, nanti kalo nyonya bangun tolong di bantu ya siapain apapun yang dia mau" ucap Leo menyambar tasnya lalu pergi
"Nem kebayang gak, ganteng, gede, kuat, tahan lama" ucap surti dengan genitnya langsung mendapat tabokan di b*k*ngnya oleh bi sumi
"Aku lebih khawatir sama nyonya" tatapan inem seperti sedang mengawang membayangkan sesuatu
"Ini pasti pertama kalinya buat nyonya terdengar dari jeritannya, duh gimana ya bi" ucap inem pada sumi
"Kalian kerjain kerjaan rumah aku mau jagain nyonya takutnya nanti bangun" sumi langsung pergi ke kamar atas
Lama sumi menunggu di kamar Leo hingga pukul 12 siang
Dara memijat keningnya yang terasa pusing tubuhnya bergetar saat hendak duduk
tatapan bi sumi mengiba, tapi wanita paruh baya ini tidak tau apa yang terjadi semalam dengan tuannya hingga tega memaksa Dara
"Nyonya butuh sesuatu? " tanya sumi
"Minum" suara Dara nyaris tidak terdengar
BI sumi segera menyerahkan satu gelas air dan di teguk hingga tandas
Dara memejamkan matanya merasakan tubuhnya yang terasa remuk dan sakit di bagian bawahnya
tubuhnya bergetar ngilu dan kakinya lemas seperti tidak bertulang
"BI bantu ke kamar mandi" pinta Dara
Bi sumi memapah Dara yang hanya di lilit handuk yang di berikan sumi
Dara di biarkan berendam di air hangat
Dara memejamkan matanya sungguh menderitanya dia walaupun hanya untuk berjalan
Sumi menatap nanar tanda merah di sekujur tubuh Dara
setelah Dara berendam sejenak BI sumi merapihkan tempat tidur dan mengganti seprei
seprei kotor tergeletak di bawah bi sumi memungutnya
bercak darah yang di tinggalkan di seprei bahkan cukup banyak jika itu bekas pertempuran semalam
Bi sumi membayangkan betapa menderitanya Dara semalam saat jeritan jeritan pilu itu dia dengar
bi sumi sampai merinding di buatnya
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE