
Satu bulan sudah Meira ada di mansion Leo
Apakah setelah kejadian itu Meira malu atau bahkan menjauhi mereka? jawabannya tidak
seperti halnya hari ini saat Dara sedang tidak ada di rumah sedang berbelanja
Meira melihat Leo merokok sendirian berdiri di balkon kamarnya
pintu kamar itu sedikit terbuka membuat Meira dapat melihat punggung kokoh Leo
Tanpa malu bahkan tanpa berpikir itu akan membuat Leo semakin menilainya buruk
Meira berdiri tepat di samping Leo menatap kearah depan
"Lancang" ketus Leo menghembuskan asap rokoknya
"Pintunya terbuka jadi gue masuk aja" ucap Meira santai
"Apa lo terlalu gak punya malu? lo bahkan masuk ke kamar orang sembarangan" Leo menatap tidak suka pada Meira
"Leo kenapa lo gak pernah bersikap baik sama gue sedikit pun? " tanya Meira menatap dalam manik mata
" Pertama lo udah nyakitin adik gue kedua gue tau sifat orang kayak lo di baikin dikit ngelunjak, contohnya hari ini lo masuk tanpa izin ke kamar orang apa lo tau itu akan menjadi kesalahan pahaman antara gue dan Dara? atau lo emang sengaja? " Leo menatap tajam pada Meira berbeda dengan Meira seketus apa pun Leo padanya dia tetap menatap kagum pada sosok di depannya
Tiba tiba Meira memeluk Leo yang ada di hadapannya
Leo terkejut langsung mendorong Meira tapi Meira mengerutkan pelukannya
Leo mendengar suara mobil yang parkir di halaman Mansion
Leo panik melihat mobil Dara terparkir
dia mendorong tubuh Meira yang masih melekat di tubuh Leo bak pake lem power
"Ehem" Dara baru saja masuk ke kamar
" Sayang ini gak seperti yang kamu pikir" Leo buru buru menyela
Dara mendekati mereka dan mencengkram tangan Meira menarik paksa hingga tangan
Meira memerah tercetak jari Dara
dan mendorongnya menjauh dari Leo
Dara langsung masuk ke pelukan Leo mendorongnya pelan sambil menautkan bibirnya pada Leo hingga Leo tertidur di ranjang Dara naik ke atas Leo lalu membuka blouse yang dia pakai menyisakan bra hitamnya
dengan bodohnya Meira masih mematung menatap mereka dari balkon membuat Dara semakin naik pitam
'Dia itu bodoh atau dungu kenapa masih belum pergi' gumam Dara dalam hati
cukup lama menjadi patung Meira merutuki kebodohannya dan pergi menutup pintu dengan kasar, Dara menyeringai menatap pintu yang sudah tertutup
Dara menatap Leo yang sudah sayu menginginkan lebih
namun
__ADS_1
Plak
Dara menampar wajah Leo dan turun dari tubuhnya memungut kembali bajunya lalu dia pakai
"Sayang" Dara menatap tajam pada Leo
"Ayolah sayang aku udah gak tahan"
"Najis" Dara keluar membanting pintunya
"****" umpat Leo dia benar benar dalam masalah
.
.
Roy mendapatkan telepon dari Leo untuk mengurus sesuatu
dia tampak manggut-manggut mendengarkan perkataan Leo
"Baik tuan"
"Kenapa anda sepertinya terdengar sedang kesal? " tanya Roy
"Tidak tersalurkan" ketus Leo lalu menutup telepon enggan bicara lebih banyak
Roy terkekeh mendengar penuturan atasannya itu
sesaat kemudian dia mulai menyiapkan apa yang atasannya itu minta
.
.
Di tempat Leo duduk sekarang Dara terlihat mengacuhkannya
sesekali Dara menatap tajam pada Meira yang malah terlihat biasa saja
mereka sedang duduk di ruang tamu
"Nak mama gak pernah liat kamu keluar dari kamar Meira? " tanya Tamara tiba tiba membuat Leo menatap kearah Dara
"Mama jarang keluar makanya gak liat" sahut Meira karena Leo tidak kunjung menjawab
"Ada yang harus aku katakan" ucap Leo
"Aku sudah menyiapkan pengobatan di luar negeri untuk mama Tamara"
"Tempat tinggal, tiket dan semua biaya sudah di tanggung" lanjut Leo
Meira dan Tamara tercengang mendengar perkataan Leo
ini seperti mengusir dengan cara halus pikir keduanya
"Apa tidak bisa disini saja mama gak mau pisah lagi sama Meira"
__ADS_1
"Mama bisa bawa Meira ikut serta kalau begitu" Dara mengulum senyum mendengar perkataan Leo
"keberangkatan tiga hari lagi menunggu dokter spesialis kembali" lanjut Leo
"Jika tiga hari tidak berangkat maka penawaran akan hangus" Leo pernah mendengar bahwa Tamara kesulitan ekonomi untuk pengobatannya maka dia mengusulkan hal ini agar dia segera pergi
"Mas kamu ngusir mama? " Meira angkat bicara
"Bukan mengusir tapi jika kalian menganggapnya begitu itu terserah kalian, yang jelas pengobatan akan sangat lengkap dan kemungkinan sembuh lebih cepat" ucap Leo
"Dara ikut aku ada yang harus di kerjakan" ucap Leo
"Aku tidak mau" tolak Dara
"hukuman 5x pushup" ucapan Leo tentu mengandung makna tersendiri
Mau tidak mau dia mengikuti Leo dari belakang mengekorinya ke ruang kerja
sesampainya di ruang kerja Leo segera menutup dan mengunci pintu
Dara duduk di sofa menopangkan kakinya
"Ada apa tuan Leo? " tanya Dara seraya melihat kuku kukunya
"Menggemaskan" Leo duduk merengkuh tubuh Dara
"Kamu puas? aku akan singkirkan mereka" Leo memeluk Dara yang bersandar di dadanya
"Aku udah bilangkan dari awal jangan biarin mereka tinggal disini nanti akan ada kesalahan pahaman diantara kita" lanjut Leo
"Iya maaf aku salah, aku cuma mau lihat dia kepanasan aja" lirih Dara
"Kamu emang nakal" Leo memencet hidung Dara
"Aku mau minta sesuatu boleh? " tanya Dara
"Apa? "
"Mau pegang ini boleh? " Dara sedikit ragu menunjuk ke bawah Leo
Leo terkekeh mencium kening Dara
"Kamu lagi pengen? " tanya Leo
"Gak aku cuma pengen pegang doang" lirih Dara pelan
"Permintaan macam apa itu? kamu lagi ngerjain aku? " tanya Leo seraya mendongakkan wajah Dara dan mencium bibirnya
"Aku serius gak tau kenapa tapi aku mau aja" wajah Dara terlihat memohon
"Baiklah tapi aku minta imbalan" Dara menggeleng mendengar Leo pasti meminta haknya
"Baby kamu ini bercanda? aku bisa tersiksa" sudah di pastikan akan sangat menyiksa ketika tidak di keluarkan dengan tuntas
"Ya udah aku mau tidur aja" Dara berdiri melangkah pergi namun Leo menahan tangannya
__ADS_1
"Baiklah pegang dia sesuka hatimu" wajah Dara berubah cerah senyumnya mengembang mengecup singkat bibir Leo