
Leo masuk ke ruangan dimana Dara di rawat
Dara tersenyum manis ke arahnya
Leo duduk disamping dan memeluknya menyandarkan kepala Dara di dada bidangnya
"Ada yang sakit? " tanya Leo
"Udah enggak" ucap Dara seraya menggeleng
"Hei junior kamu buat daddy panik, kamu tau daddy di omelin mama Nindy tadi" ucap Leo seraya mengelus perut Dara membuat Dara tersenyum geli
"Dimana Nindy? " tanya Dara
"Dia pulang karena Cia merengek mau ikut mamanya"
"Kamu sebenarnya kenapa? dia ngapain kamu? " tanya Leo
"Kamu belum lihat CCTV-nya? " tanya Dara
"Belum sayang aku sibuk banget hari ini"
''hhmm "singkat Dara kembali memeluk Leo menyembunyikan wajahnya di dada bidang Leo
" Mau makan? minum? atau buah? " tanya Leo namun di jawab gelengan oleh Dara
"Mau pegang? " Tanya Leo membuat Dara mendongak menatap Leo sebentar
"Tapi.... "
"Gak apa apa, sini tidur" ucap Leo tersenyum sesaat kemudian mengecup bibir Dara
Merebahkan tubuhnya dan Dara lalu menutupinya dengan selimut
wajah Dara memerah dengan tawaran Leo
Leo seolah tau apa yang selalu di inginkan istrinya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Gila gak tuh? aku sampe gedeg banget euuhh pengen nampol aja bawaannya" Nindy yang duduk bersebelahan dengan Bryan di ranjang tempat istirahat Bryan di ruangannya mengomel sendiri menceritakan tentang Dara dan Meira
"Lagian gak punya otak apa gimana dia itu, harusnya bersyukur Dara sama kak Leo udah berbaik hati dan perhatian sama emaknya yang sama sama sengklek itu" lanjutnya
Bryan hanya mendengarkan seraya mengusap kepala Cia yang tidur di pangkuannya
dia tidak berani memotong atau menjawab perkataan Nindy karena wanita itu akhir akhir ini sering marah marah tidak jelas
" Hah sampai seret aku, aku mau ambil air kamu mau sesuatu? " tanya Nindy
"Gak sayang, kenapa repot repot ngambil sendiri biarin OB yang nganterin kesini"
"Gak aku sekalian liat liat disini sekalian meringankan perkerjaan mereka" ucap Nindy
Nindy berjalan ke arah lobby semua karyawan menundukkan kepala saat bertemu Nindy dan mengucapkan satu patah dua patah kata
Nindy menjawab sambil tersenyum
Nindy di kenal istri bos yang tidak sok berkuasa dia gampang berbaur meskipun hanya dengan seorang cleaning servis
__ADS_1
"Nyonya kenapa tidak memanggil saya saja? " tanya seorang cleaning servis
"Kamu kerjakan yang lain saja aku hanya ingin meringankan pekerjaanmu" jawab Nindy tersenyum
"Terima kasih nyonya anda memang atasan yang tidak pernah menindas bawahan" ucapnya
"Kamu terlalu memuji" jawab Nindy lalu kembali ke ruangan Bryan
Di perjalanan ke ruangan Bryan dia mendengar keributan dia menghampiri untuk melihat apa yang sedang terjadi
Ketika Nindy mendekat dia melihat seorang cleaning servis bersimpuh di hadapan seorang wanita yang sedang berdiri berkacak pinggang dan memarahinya
"Lo kalo gak bisa kerja ngomong aja, lo niat nih rok gue jadi kotor, kalo nodanya gak ilang lo harus ganti, apa lo tau? harga rok ini mungkin bisa dua bulan gaji lo" bentaknya
"Saya minta maaf nona, gak apa apa biar nanti saya ganti dan akan mencicil nya" jawabnya masih berlutut meremas lututnya
Nindy menghampiri mereka dan membangunkan cleaning servis itu
wanita yang tadi berkacak pinggang menunduk hormat begitupun cleaning servis ini
"Ada apa ini? " tanya Nindy seolah tidak tahu
"Ini nyonya cleaning servis ini kerjanya gak bener bisa bisanya malah numpahin kopi di rok saya" cleaning servis itu hanya menunduk tidak berani menjawab
"Lantas apa kamu pikir kamu bisa seenaknya memperlakukan dia dengan buruk sampai harus berlutut? * tanya Nindy membuatnya bungkam
" Kalian itu sama sama kerja di gaji orang jangan merasa jabatan kalian lebih di atas bisa semena mena sama yang di bawah, buat kalian semua ini jadi pelajaran penting dan kalo punya waktu luang jangan nyuruh nyuruh cleaning servis mengantar minuman atau cemilan kalian bisa mengambilnya sendiri" Nindy menjadi pusat perhatian
"Jangan merasa kalian jabatannya di atas mereka, saya paling gak suka ada yang suka menindas di kantor ini, jika kalian keberatan dengan perkataan saya silahkan mengundurkan diri" semua bungkam dengan perkataan Nindy
"Dan ini buat kamu " Nindy menyiramkan kopi pada rok wanita itu membuat semuanya tercengang
"Kamu dan kalian bisa melarang saya, lalu kenapa kamu semua tidak melarang saat dia melakukan itu? " tunjuk Nindy pada cleaning servis tadi
"Saya tidak mau ada kejadian seperti ini lagi, dan saya ganti rok kamu" Nindy mengeluarkan cek dan menulis nominal 5jt di cek itu
" nyonya biar saya saja" tolak cleaning servis itu
"Kamu kembali bekerja dengan benar hati hati dan
jangan teledor"
"Terimakasih banyak nyonya"
"Kembali bekerja" ucapnya sambil berlalu pergi
Semua pegawai di buat cengo mereka menatap wanita tadi yang juga sedang bingung harus berbuat apa
dia memegangi ceknya dan menjatuhkan dirinya kasar duduk di kursi kerjanya
"Apa yang harus gue lakuin sekarang" gumamnya merasa malu amat sangat malu
Nindy kembali ke ruangan Bryan dan kembali marah marah
Bryan hanya menjadi teman setia mendengarkan ocehan istrinya itu
entah kenapa akhir akhir ini dia lebih mudah marah dan cerewetnya minta ampun
Suara pintu di ketuk namun Nindy masih belum menyelesaikan ocehannya
__ADS_1
setelah di persilahkan masuk Reno masuk membawa beberapa map
dan menyimpannya dimeja kerja Bryan
"Selamat siang nyonya" sapa Reno
"Gak usah terlalu formal kak Reno" jawab Nindy
"Hee iya, bentar lagi makan siang mau makan siang dimana nih? " tanya Reno
"Kita makan bareng aja kita ke restauran seafood" usul Nindy
"Boleh juga" Reno manggut manggut
"Sayang terakhir ya? " pinta Nindy
"Gak si Reno makannya banyak" tolak Bryan sebenarnya hanya bercanda
"Kamu kok sama temen sendiri pelit gitu, aku gak suka ya kamu gitu lagi, apa kamu gak lihat Reno kan kerjanya bagus dia selalu bisa meng-handle kerjaan kamu dengan benar anggap saja itu bonus buat dia, kamu sama temen sendiri itungan banget" cerocos Nindy membuat Bryan pusing
Reno mengulum senyum melihat Bryan yang seperti anak kecil yang sedang di omelin ibunya
Bryan menghela nafas panjang lalu menangkup wajah Nindy
"Aku cuma becanda, aku sering teraktir dia kalo cuma makan seafood doang apa susahnya" ucap Bryan
"Kamu kenapa sih akhir akhir ini cerewet banget suka marah marah" lanjut Bryan
"ohh jadi menurut kamu aku suka marah marah? aku cerewet dan berisik gitu? kalo kamu gak bikin kesel aku juga gak bakal cerewet dan marah marah" suara Nindy meninggi, diam diam Reno kabur tidak mau terlibat dalam urusan rumah tangga bosnya
"Bukan gitu sayang, sabar dong tenang tarik nafas" ucap Bryan menepuk nepuk punggung Nindy yang mulai tenang
"Sini" Bryan menarik Nindy duduk di pangkuannya
Bryan menyembunyikan wajahnya di dada Nindy 👐 erat
setelah emosi Nindy mulai turun Bryan mendongak dan mencium bibir Nindy sekilas
"Uang belanja kurang? " tanya Bryan namun Nindy menggeleng
"Kamu mau aku ambil art? Nindy masih menggeleng
" Kamu lelah? butuh supir? mau liburan? belanja? " Nindy masih menggeleng
"Terus kamu kenapa marah marah? " tanya Bryan
"Gak tau juga pengen aja" jawab Nindy membuat Bryan menghela nafas frustasi
"Jangan marah marah terus ahh gak baik" Bryan menyandarkan tubuhnya dan Nindy ikut bersandar di bahunya, memainkan tangannya di dada Leo membuat coretan coretan abstrak
"Cium aku" Bryan menunjuk bibirnya
"Gak" tolak Nindy
"Ya udah kalo gitu aku yang cium kamu" Bryan menjatuhkan tubuh Nindy dan mengungkungnya dari atas dan mulai mencium bibir Nindy
"Nanti ada orang" Nindy mendorong pelan tubuh Bryan
"Nanti Cia bangun" ucap Nindy dengan nafas tersengal
__ADS_1
"Aku udah kunci semua pintu" Bryan kembali pada aktivitas panasnya