
...Dua Minggu kemudian...
Hari itu Nindy tidak pergi ke kantor dia merasa lemas
sepanjang hari dia hanya tidur bahkan telepon berdering pun dia tidak ingin menjawabnya
banyaknya panggilan tidak dihiraukannya
Sore itu Mama Damar memeriksanya ke kamar
Nindy tampak berbaring di bawah selimut
Mama Damar menaruh telapak tangannya di kening Nindy
"Gak demam" gumam Mama Damar
"Nindy gak sakit tan cuma lemes doang males ngapa-ngapain" Nindy dengan mata yang masih tertutup
"Ke dokter aja ya biar Tante sama Damar yang anter" Mama Damar khawatir Nindy punya penyakit serius
"Gak usah Tan tolong kerokin aja siapa tau masuk angin" Mama Damar mencari koin dan minyak zaitun untuk mengerok tubuh Nindy
Selesai mengerok Mama Damar juga tidak melihat ada tanda merah bekas kerokan
Nindy kembali berbaring memijat pelipisnya
Mama Damar keluar kamar Nindy hendak menelpon Leo
Mama Damar
"Halo le"
Leo
"Iya Tan ada apa? tumben telepon"
Mama Damar
"Ini le Nindy kayaknya badannya lemes banget di suruh ke dokter gak mau"
Leo
"Gak apa apa tan biarin aja nanti Leo yang bujuk"
Mama Damar
"Ya udah, kapan kamu pulang? hari ini gak ada yang gantiin di kantor Damar ikut papanya ke proyek"
Leo
"Besok Leo udah ada di rumah tapi jangan kasih tau Nindy "
Mama Damar
"Ya udah Tante tutup teleponnya ya"
Leo
"*Iya"
Di t*empat lain pagi pagi Bryan baru bangun tidur dia merasa perutnya di aduk
rasa mual dan pusing begitu menyiksanya dia berusaha menahannya dan duduk di pinggiran ranjang
Semakin dia berusaha menahannya semakin rasa itu terasa
Bryan lari ke kamar mandi dan memuntahkan apa yang sedari tadi dia tahan
Bryan lemas duduk bersandar di dinding kamar mandi
Setelah cukup lama dia kembali ke kamar dan meraih handphonenya
dia mencari nama Reno dan segera meneleponnya
Bryan
"Ren dimana Lo?"
Reno
"Gue masih di rumah kenapa?"
Bryan
"Gue gak bisa ke kantor Lo gantiin ya"
Reno
"Tapi ada meeting penting sama perusahaan Alexander"
Bryan
"Lo aja yang handle sama Dara"
Leo
"Tapi kalo ada.."
Bryan
"Alah gak ada tapi tapian Lo nurut atau gue pecat,. hhhooeek hooeekkk
Reno
"Halo bos bos Lo kenapa? sakit?"
Tidak ada Jawaban dari Bryan panggilan masih tersambung
__ADS_1
terdengar suara Bryan muntah membuat Reno khawatir dengan atasan sekaligus sahabatnya itu
Tok tok tok
Bryan membuka pintu dengan wajah pucat
ternyata yang mengetuk pintu adalah Reno
yang khawatir dengan keadaan Bryan
dia kasihan dengan pria malang ini
"Lo kenapa pucet gitu?" tanya Reno
"Gak tau gue pengen muntah Mulu mana pusing lagi" Bryan menjawab sambil berjalan menuju ranjangnya
"Lo udah makan?" tanya Reno
"Belom gue gak selera" Bryan menutup mata dengan lengan yang di tumpangkan
"Kenapa gak panggil dokter aja?"
"Lo telepon aja gue males" Reno menggeleng
Reno menelpon dokter agar datang ke apartemen Bryan
setelah dokter datang dan memeriksanya ternyata tidak ada penyakit yang serius
dokter hanya memberikan pil untuk mengurangi mual
Dokter pamit pulang begitupun Reno yang harus ke kantor
"Ren jam istirahat beliin gue asinan buah ya" ucapan Bryan membuat Reno mengerutkan keningnya
"Lo ngidam? " tanya Reno
"Gila emang gue apaan, gue laki man" ucap Bryan
"Ya udah nanti gue beliin gue pergi dulu"
Dari kemarin Nindy hanya berbaring makan pun di antar ke kamar oleh mama Damar
dia belum juga membuka matanya tapi dia merasa kepalanya di elus seseorang
perlahan dia membuka matanya
Tampak Leo sedang tersenyum manis duduk di samping Nindy
"Lo sakit?" tanya Leo
"Gak gue gak sakit apa apa cuma kayak lemes aja males buat ngapa ngapain" Nindy memeluk kaki Leo
"Ke dokter ya gue anter" Leo berbicara dengan lembut
"Gak usah, gue gak mau" ucap Nindy manja
Nindy hendak tidur kembali tapi Leo menahannya
"Kalo gak nurut gini gue males pulang" ucap Leo hendak pergi tapi tangannya di tahan Nindy
''Jangan pergiiiiiii please, gue bakal mandi tapi anter jalan jalan" lagi lagi Nindy manja dengan puppy eyes nya
"Iya tapi Lo harus nurut kalo enggak awas aja gue gak mau pulang lagi dan Lo gak dapet jatah bulanan" ancam Leo
"Iya iya gue mandi" Nindy bergegas masuk ke kamar mandi
Selesai dengan semua perintah Leo Nindy kini sedang tiduran di sofa
Leo menggeleng melihat Nindy yang hanya tiduran tidak seperti biasanya
"Ayo kedokter" Leo membangunkan Nindy mengangkat lengannya
"Males kak" Nindy kembali tidur sekarang dia juga menjadi manja
Leo yang kesal membawa Nindy di pundaknya seperti membawa karung
Nindy memukul mukul punggung Leo tapi dia tidak bergeming
Leo mendudukannya di mobil lalu menguncinya
"Gue gak sakit udah di bilangin juga gue gak mau ke dokter" Nindy memukul mukul lengan Leo yang sedang mengemudi
"Ehh iya iya kita gak bakal ke dokter diem dulu nanti nabrak" Leo lalu menepikan mobilnya
"Terus sekarang maunya kemana?" tanya Leo
"Beliin asinan buah ya?" ucap Nindy
"Ngidam Lo?" tanya Leo
"Suka sembarangan deh kalo ngomong hamil sama siapa? sama kecoa?" jawab Nindy membuat Leo tertawa
"Haha iya iya jangan ngegas gitu dong"
Mereka menuju tukang asinan buah mereka mengantri
Nindy sudah tidak bisa diam mulutnya serasa ngiler melihat orang lain makan
Leo berpapasan dengan Reno yang juga selesai membeli asinan buahnya
"Tuan Reno" sapa Leo
"Ohh tuan Leo kebetulan kita bertemu disini" mereka berjabat tangan
"Beli asinan buah juga?" tanya Reno
"Ahh iya Nindy yang maksa kesini, anda sendiri?" jawab Leo
__ADS_1
"Ini punya atasan saya" ucap Reno
"Saya permisi tuan "
"Ohh iya iya " jawab Leo
Nindy begitu antusias saat Leo membawa asinan buahnya
dia langsung mengambilnya dari tangan Leo
Leo menatap Nindy yang sedang makan asinan buah dengan lahap
Leo mengacak lembut rambut Nindy
"Kamu waktu ketemu Bryan diapain? tanya Leo
"Apaan sih kak Leo kepo deh" Nindy memanyunkan bibirnya
"Kalian gituan?" tanya Leo dengan cekikikan
"Iihhh kak Leo apaan sih nyebelin banget deh" Nindy semakin merajuk Leo mencubit pelan hidungnya dengan gemas
Dari kejauhan Reno sebenarnya masih ada di sana untuk mengintip mereka
Reno berasumsi Nindy sedang hamil melihat perlakuan Leo yang sangat perhatian padanya
dia lalu pergi untuk mengantarnya ke apartemen Bryan
"Kak bisa bantuin ayah gak?" tanya Nindy
"Ayah siapa?" Leo bertanya balik
Nindy menceritakan semuanya pada Leo
Leo mempertimbangkannya dia harus mempunyai bukti dulu agar ayahnya tidak hanya keluar penjara tapi juga membersihkan nama baiknya
"Jadi harus punya bukti dulu?" tanya Nindy
"Iya sebaiknya kamu bantu Bryan cari bukti di kantornya " usul Leo
"Males kak takut mau ketemu Bryan " lirih Nindy
"Takut kenapa dia nyakitin Lo? gue heran kenapa dia diem aja ayahnya di penjara selama itu" ucap Leo
"Mungkin dia gak kepikiran apa apa karena terlalu banyak tekanan, gue denger dari Dara selama gue ninggalin dia hidupnya jadi berantakan"
"Lo gak kasihan sama dia? " tanya Leo
"Entahlah dia terlalu banyak nyakitin gue, tapi gue minta tolong keluarin ayah dari penjara" ucap Nindy seraya menggenggam tangan Leo
"Gue usahain tapi gue gak janji bisa ya" ucap Leo
" Makasih Lo emang kakak terbaik" saking senangnya Nindy memeluk leher Leo dari samping
Di apartemen Bryan
Reno baru saja sampai membawa pesanan bos nya
tidak mengetuk pintu dia langsung nyelonong masuk
Bryan duduk di ranjang dengan laptop di pangkuannya
"Ini bos pesenannya" Reno menaruhnya di samping Bryan
"Lo makan aja deh gue pengennya tadi sekarang udah gak mood" Bryan melirik sekilas pada bungkusan itu lalu kembali pada laptopnya
"Astaga" Reno menganga merasa di kerjai oleh bosnya itu
"Sekarang gue kayak suami yang lagi nurutin kemauan bininya yang bunting" gerutu Reno sambil menyantap asinan buahnya di sofa
"Tau gak bos tadi gue ketemu Nindy waktu beli rujak ini" ucap Reno kembali menyuap
"Gue gak peduli Nindy lebih milih dia "
"Lah tau darimana dia milih Leo?" tanya Reno
"Gue pernah ngurung dia disini semaleman gue tanya bener bener dan dia gak bisa ninggalin Leo" jelas Bryan
"Terus kenapa gak cerai aja sih? ribet deh" ucap Reno dengan santainya
"Sebagai jomblo lo gak bakal paham sama masalah ginian" sindir Bryan
"Gue tau Lo masih cinta sama dia tapi dianya enggak, gitukan?" Reno tidak mau kalah
"Salahnya lagi gue paksa dia dan itu buat semakin renggang hubungan gue sama dia" Bryan menutup laptopnya pandangannya kosong
"Serius Lo paksa dia? " Reno mulai penasaran dan mendekati Bryan yang menjawab dengan anggukan
"Gilaaaa, gimana reaksi dia?" lanjut nya
"Dia nangis setelah kejadian itu gue ninggalin dia gitu aja dan sampai sekarang gue gak pernah ngomong sama dia"
"Anjr***t Lo parah banget man" Reno tidak habis pikir dengan kelakuan Bryan
"Gue emosi depan gue dia peluk Leo, dia juga ngomong gak bisa ninggalin Leo karena dia hubungan sama Leo tapi mereka gak pacaran" Bryan mengacak rambutnya frustasi
"Move on lah bro biarin dia bahagia mengikuti kemauannya sendiri" Reno menepuk bahu Bryan
"Atau Lo pura pura punya cewek lain mesra depan dia kita lihat reaksinya" usul Reno
"Gimana kalo dia makin benci sama gue" tanya Bryan
"Coba dulu lah kalo cara itu gak mempan culik aja paksa lagi haha" gelak tawa Reno membuat Bryan kesal
Bryan menoyor kepala Reno yang masih saja cekikikan
"Btw gimana rasanya perk*s* istri sendiri?" Reno semakin tertawa keluar dari sana
__ADS_1
"Gue nyesel curhat sama Lo" teriak Bryan