
Mark pagi itu sedang menyisir rambut Cia
entah mengapa semenjak satu minggu Cia bersamanya itu menjadi kebiasaannya setiap pagi dan sore
Mark juga belajar bahasa Indonesia untuk memudahkannya berkomunikasi dengan Cia
Cia juga semakin terbiasa tinggal bersama Mark meskipun masih sering menanyakan mamanya
"Grandpa kapan Cia pulang? " tanya Cia
"Cia gak betah disini? " Mark balik bertanya
"Gak gitu, Cia cuma kangen sama mama" mengingat Nindy suara Cia mulai berat menahan tangis
"Kalau Cia pulang grandpa kesepian disini" ucap Mark
"Grandpa bisa ikut pulang" Cia berkaca kaca dan Mark pun memeluknya
"Sebentar lagi ya sayang, grandpa belum siap bertemu mama mu" ucap Mark membelai rambut Cia
.
.
Di rumah sakit langkah Nindy sangat cepat wajahnya terlihat panik
dia mendapat telepon bahwa Hendrico meninggal dunia
Nindy pergi kerumah sakit meski tanpa Bryan karena sedang di kantor
Brraakk
Nindy membuka pintu dengan nafas tersengal
disana terlihat tubuh kaku Hendrico sedang ditangisi keluarganya
Nindy perlahan melangkahkan kakinya rasa bersalah muncul di benaknya
apa karena menolongnya Hendrico mengorbankan nyawanya
Nindy hendak menyentuh jenazah Hendrico tapi ibunya mencengkram tangan Nindy
dengan tatapan penuh amarah dan kebencian cengkramannya semakin erat
Nindy meringis merasakan perih di tangannya
"Bu sudah bu jangan bikin ribut" Ayah Hendrico berusaha melepaskan tangannya
"Gara gara dia anak kita jadi mati pak, dasar wanita sialan gara gara kamu hidup anak saya jadi hancur sekarang dia malah mengorbankan hidupnya buat kamu" teriak ibu Hendrico
"Saya minta maaf sebelumnya bu, tapi saya tidak berniat menghancurkan hidup siapa pun" ucap Nindy
"Kamu pasti sudah mempermainkan perasaan anak saya"
"Kamu tahu? dua tahun anak saya depresi di kamarnya di penuhi poto kamu setelah 4 tahun dia sembuh dan bertemu dengan kamu lagi sekarang malah dia mati itu semua gara gara kamu.. pergi kamu wanita sialan pergiiii" ibu Hendrico berteriak mendorong dorong tubuh Nindy hingga jatuh
Ayah Hendrico membantu Nindy berdiri dan membawanya keluar
ayah Hendrico yang ramah berbanding terbalik dengan ibunya
Nindy bisa mengerti mengapa ibunya bersikap demikian sebab dia pun pernah mengalami bagaimana sakitnya kehilangan seorang anak
"Maafkan mamanya iko ya nak" ucap ayah Hendrico
__ADS_1
"Iya pak saya bisa mengerti, tapi sungguh pak saya gak pernah mempermainkan Hendrico kami hanya teman sekolah biasa" ucap Nindy
"Tidak apa nak mungkin Hendrico hanya terlalu mengagumi kamu"
"Dan ini ada titipan surat dari Hendrico, sekali lagi bapak minta maaf atas nama Hendrico jika dia ada salah" ayah Hendrico menyerahkan sepucuk surat
"Saya sudah memaafkannya pak, saya juga minta maaf karena saya Hendrico harus... hiks hiks" Nindy tak kuasa meneruskan kata katanya air matanya terus berderai membuat bibirnya sulit mengeluarkan kata kata nya
"Tidak apa nak, semua orang sudah punya garis takdirnya masing masing ini bukan salah siapapun"
"Sebaiknya kamu pulang saja saya takut nanti ibunya iko lebih nekat" lanjut ayah Hendrico
"Baik saya permisi pak, maaf saya tidak bisa melayat kerumah bapak saya tidak mau membuat keributan" ucap Nindy
"Bapak mengerti"
.
.
Meira sedang mengotak atik mobilnya di pinggir jalan
handphonenya mati dan jalanan juga sepi
sebisa mungkin dia berusaha memperbaiki mobilnya hingga pipi dan dahinya menghitam menempel dari tangan
Sebuah mobil berhenti setelah melihat Meira yang beberapa kali menendang nendang ban mobilnya
"Kenapa mobil lo? " tanya seseorang
Meira melirik ke asal suara tersebut
keluar seseorang dengan perawakan tinggi dengan setelan jas dan kacamata bertengger di hidung mancung nya
Kliikk
"Ohh mo.. mobil gue mogok" ucap Meira terbata bata
Tanpa bicara Leo memperbaiki mobil Meira
setelah beberapa saat akhirnya mobil Meira kembali menyala
"Thanks" ucap Meira senang
Masih tidak bicara apapun Leo menaruh sapu tangan ke tangan Meira lalu pergi begitu saja
Meira merasa senang entah karena apa meskipun sikap Leo dingin padanya namun Meira tetap saja mengagumi Leo
"Wangi banget" Meira mencium sapu tangan yang di berikan Leo sambil senyum senyum
.
.
Bryan sedang kelimpungan mencari Nindy yang tidak ada di kamarnya
handphonenya tidak aktif dan menelpon orang yang di kenalnya pun tidak ada
Bryan mondar mandir di apartemen seraya melihat jam di tangannya
Ceklek
Suara pintu terbuka Bryan melihat Nindy yang baru saja pulang dengan tubuh basah kuyup
__ADS_1
Bryan menghampirinya dan memeluk Nindy yang terlihat sembab
"Kamu dari mana? " tanya Bryan tapi Nindy tidak bergeming
"Aku tanya kamu dari mana? " Bryan mengguncang bahu Nindy
"Hendrico" singkat Nindy berurai air mata
"Kamu pergi menemuinya? buat apa? " Bryan sedikit kesal mendengar Nindy menemui Hendrico hingga basah kuyup
"Dia meninggal" Tangis Nindy pecah
"Semua karena aku, orang orang yang ada di dekat aku celaka harusnya aku yang mati hari ini" tubuh Nindy melemas hingga tidak kuat menahan berat badannya
Beruntung Bryan menahannya dan membawanya duduk di sofa
Bryan membuatkan teh hangat untuk Nindy yang terlihat kacau
"Aku penyebab semuanya, aku emang pembawa sial" Nindy menutupi wajahnya ketika Bryan duduk di sampingnya
"Bukan salah kamu semuanya udah takdir" Bryan memeluk Nindy dari samping dan mengelus bahu Nindy
"Tapi karena aku Hendrico meninggal, anak kita juga meninggal, Cia hilang semua karena keteledoran aku" Cia menangis pilu mengingat kepahitan datang bertubi tubi
"Sstttt... jangan salahin diri kamu sendiri, kamu pasti lagi capek minum dulu ya" Bryan membantu Nindy meminum teh nya
"Sekarang kita istirahat ya, kamu gak usah pikirin apapun" Bryan kembali memeluk Nindy
"Gimana aku bisa hidup dengan tenang sementara aku kehilangan anak anak yang berarti buat aku, bahkan aku jadi penyebab orang lain meninggal" Nindy menangis histeris
Bryan yang juga lelah baru pulang bekerja dan selama seminggu juga ikut mencari Cia sampai pulang selalu larut malam terpancing emosi
Bryan menangkup kedua wajah Nindy kasar agar menatap matanya
"Kamu pikir aku gak cape? kamu pikir aku bisa hidup tenang? aku juga orang tua mereka, aku juga manusia, selama ini aku berusaha tegar, kuat, sabar, di depan kamu cuma biar kamu juga bisa selalu kuat" Bryan berbicara dengan nada tinggi sambil berkaca kaca
Tidak ada jawaban dari Nindy hanya isakan tangis yang terdengar menatap mata Bryan yang menghitam dan terlihat lelah
"Aku sayang sama kamu, aku sayang sama anak anak, please berhenti salahin diri kamu sendiri, kamu gak sendiri " nada bicara Bryan melembut seraya mengelus pipi Nindy
"Aku ngerasa sendiri kamu pulang larut malam berangkat bahkan aku belum bangun, setelah kepergian bayi kita aku pikir kamu marah, aku pikir kamu mau ninggalin aku" Nindy terisak memegangi tangan Bryan yang mengelus pipinya
"Maaf sayang, aku sibuk kerja cari Cia juga, aku sama sekali gak marah, sampai kapanpun aku gak mungkin ninggalin kamu, aku sayang sama kamu" Bryan menempelkan dahinya dan dahi Nindy
"Jangan gini lagi, semua bukan salah kamu" Nindy hanya mengangguk tanpa menjawab ucapan Bryan
Sesaat setelah perlahan Bryan mencium bibir Nindy tidak dengan nafs*
hanya meyakinkan Nindy bahwa dia benar benar mencintainya
dan tidak akan meninggalkannya, dia hanya milik Nindy
HAI KAKAK KAKAK SEMUA TERIMAKASIH SUDAH MENDUKUNG KARYA KU SAMPAI SAAT INI
MOHON MAAF UNTUK TULISAN YANG TYPO DAN UNSUR CERITA YANG MASIH AMBURADUL 😄
AKU PEMULA MASIH BANYAK BELAJAR
***SELALU DUKUNG KARYA AKU YA BIAR AKU SEMANGAT UP NYA
LIKE, KOMEN, VOTE, FOLLOW DAN BERI DUKUNGAN LAINNYA
TERIMAKASIH 🥰🥰🥰***
__ADS_1