
"Selamat siang tuan Alexander" ucap Bryan
"Selamat siang, silahkan duduk" ucap Leo
"Kedatangan saya kesini untuk mengajukan kerja sama antara perusahaan anda dan perusahaan saya tuan" ucap Bryan
"Anda bisa simpan proposalnya disini nanti saya kabari kembali, saya ada meeting saya permisi" ucap Leo pergi meninggalkan mereka berdua
Nindy diam memainkan kukunya seraya menunduk
Bryan memperhatikan Nindy tersimpan kerinduan yang begitu besar di hati Bryan
dia ingin sekali memeluk wanita yang begitu ia cintai
tapi dia tidak berani takut jika dia marah dan malah semakin menjauhinya
"Apa kamu gugup?" tanya Bryan
"Tidak sama sekali" ucap Nindy tersenyum miring
Bryan senang melihat senyum Nindy meskipun hanya senyum sinis
ketika Nindy hendak pergi Bryan mengejarnya dan menahan tangannya
Nindy berusaha melepaskannya tapi Bryan semakin mengeratkan pegangannya
"Lepas sakit tau" ucap Nindy
"Kenapa kamu seperti orang lain? kenapa kamu seperti tidak kenal sama aku?" tanya Bryan
"Bukannya lebih baik seperti ini? tidak akan ada yang merasa tersakiti" ucap Nindy
"Tapi kamu gak bisa kayak gini kamu masih istri aku" ucap Bryan
"Ya udah kita urus perceraian kita secepatnya" ucap Nindy menepis tangan Bryan lalu pergi
"Aku gak mau pisah sama kamu, kamu harus dengerin aku" teriak Bryan
Tapi Nindy tidak mau mendengarnya dan pergi begitu saja
setelah keluar ruangan Nindy mengusap air matanya
Bryan mengusap wajahnya kasar menjambak rambutnya frustasi
Leo yang melihat melalui cctv menggeleng merasa heran kenapa mereka tidak duduk dan meluruskan masalahnya dengan kepala dingin
"Benar benar dua orang yang keras kepala" ucap Leo
"Halo, kak pokoknya jangan setujui kerja samanya titik" ucap Nindy menelpon Leo
"Kinerja kantornya bagus, dia hanya kekurangan investor" ucap Leo
"Pokoknya kalo kakak setujui aku gak mau ngomong lagi sama kakak" ucap Nindy lalu mematikan teleponnya
Nindy masuk ke mobilnya lalu pergi dari sana
hatinya sesak jika terus berada di dekat Bryan
dia menangis seraya mengendarai mobilnya
kenapa mulut dan hatinya berkata lain seakan tidak sinkron
Karena tidak fokus menyetir Nindy hampir menabrak seorang anak kecil
Nindy yang terkejut mengerem mendadak lalu segera turun dari mobil
seorang gadis kecil berjongkok di depan mobil menutupi telinganya
"Kamu gak apa apa nak?" ucap Nindy membangunkan anak tersebut
anak itu hanya menggeleng
Nindy membawa anak itu duduk di bangku taman dekat sekolah TK
Nindy memeriksa tubuh anak kecil itu
"Kamu yakin gak apa apa?" tanya Nindy
"Gak apa apa Tante gak kena kok" ucap anak itu untuk pertama kalinya
Mata Nindy mengembun melihat anak dihadapannya
tangan kecil itu mengusap pipi Nindy yang mulai meneteskan air mata
"Tante kenapa nangis?" tanya anak itu
"Tante inget anak tante'' ucap Nindy
"Gak usah sedih tante, aku juga kangen sama orang tua aku tapi aku gak nangis" ucap anak itu
"Gimana caranya biar gak nangis?" tanya Nindy membuat anak itu tersenyum
"Begini" ucap anak itu memperagakan tanya menatap keatas dengan tangan yang mengipas ngipasi matanya
"Haahhaa kamu lucu banget" Nindy tertawa mencubit kedua pipi anak itu lembut
"Tante aku pamit pulang dulu ya, nanti ibu nyariin" pamit anak itu
"Kamu pulang sendiri? Tante anter pulang ya" ucap Nindy
"Gak usah Tan, biasanya pulang sama kakak kakakku tapi mereka belum pulang masih belajar mungkin" ucap anak itu
"Rumahnya dimana? Deket gak?" tanya Nindy
"Lurus jalan ini nanti belok sedikit nyampe deh" ucap anak itu berdiri membetulkan tasnya
"Eemmhh yakin mau pulang sendiri?" tanya Nindy
"Yaakin, bye Tante" ucap anak itu melambaikan tangan
"Tunggu dulu" ucap Nindy membuat anak itu menghentikan langkahnya
"Ini Tante punya lollipop buat kamu aja" ucap Nindy mengulurkannya
Anak itu ragu untuk mengambilnya tapi Nindy meyakinkannya
bahwa dia bukan orang jahat dia hanya ingin berteman dengan anak itu
"Makasih Tante bye" anak itu pergi melambaikan tangan
Nindy menatap kepergian anak itu sesekali ia tersenyum
di mengingat dirinya dulu persis aanak itu pulang sekolah berlari melompat
bersenandung riang gembira
Nindy kembali melanjutkan perjalanannya
dia menuju sebuah minimarket untuk membeli beberapa cemilan dan minuman
sebelum kembali ke rumah Damar
Ya Leo membawa Nindy kerumah Damar saat baru sampai di Indonesia
untuk menginap disana karena hanya Damar saudaranya disana
Saat sedang memilih cemilan seseorang tiba tiba menabraknya dari belakang
saat Nindy berbalik ke pada orang yang menabraknya
__ADS_1
orang itu menganga menutup mulutnya seakan tak percaya
raut wajahnya seketika seperti ketakutan
"Meira" ucap Nindy
"Nindy... sorry gue buru buru" ucapnya lalu pergi begitu saja keluar
"Aneh banget " gumam Nindy menggeleng
Sesampainya di kediaman Damar Nindy memberi salam bicara sekedar basa basi lalu pergi ke kamar
Damar mengetuk pintu kamar Nindy dengan cepat Nindy membukakan pintu
"Ada apa mar?" tanya Nindy
"Nanti malam nonton yuk bete nih" ucap Damar
"Males ahh nanti ketauan pacar Lo gue dikira pelakor lagi" ucap Nindy
"Gak bakal kita kan sodara, lagian dia gak mau pergi katanya harus belajar " ucap Damar
"Ya elo punya pacar anak SMA jadi gak bisa di ajak jalan malem" ucap Nindy
"Jangan bahas itu deh, gue ngajak Lo mau apa kagak?'' tanya Damar
"Boleh nanti jam 8 malem ya" ucap Nindy
"Iya dandan yang cantik jangan malu maluin ya" ucap Damar lalu menyambar sebungkus cemilan dan pergi
"Yeee dasar kampret" ucap Nindy menutup pintunya
Malam itu tiba Nindy sudah siap dengan jeans dan jaketnya
dia turun kebawah untuk menemui Damar
dibawah ada Leo yang sedang menonton tv dengan orang tua Damar
"Tan Damar mana?" tanya Nindy
"Katanya nunggu di mobil, mau kemana sih?" ucap mama Damar
"Damar ngajakin nonton katanya bete pacarnya gak bisa" ucap Nindy
"Haahh anak itu bisanya maiiin aja suruh bantuin papannya di kantor gak mau" gerutu mamanya
"Nanti Nindy nasehatin Tan, Nindy pergi dulu ya" ucap Nindy menyalami mama Damar
"Gue ikut dong" ucap Leo
"ya udah ayo'' ucap Nindy juga menyalami mama Damar
"Tumben amat ni bocah Salim segala" ucap mama Damar
"Tante perubahan meskipun hal kecil itu harus di beri apresiasi" ucap Leo sukses membuat mama Damar dan Nindy tertawa
Nindy dan Leo sudah menyusul Damar di mobil
Nindy membuka pintu mobil belakang dan Leo duduk di samping Leo
"Lo ngapain ikut sih?" tanya Damar
"Lo kok tega sih jalan berdua gue jenuh di rumah sendiri" ucap Leo
"Kan ada emak gue di rumah" ucap Damar
"Males gue lama lama sama emak Lo di suruh nemenin nonton sinetron Mulu mana ngomel ngomel gak jelas lagi marahin tv" ucap Leo
"Jadi berangkat gak sih?" sahut Nindy dari belakang
Damar melajukan mobilnya menyetel musik dengan kencang
sambil mengemudi dia bercanda dengan Leo membuat mereka berdua terus dimarahi Nindy
Damar mengerem mobilnya tapi terlambat orang itu sepertinya tertabrak
Damar terkejut dia masih mematung sementara Nindy terus mengoceh memarahi mereka
"Kalian sih udah gue bilangin jangan bawa mobil sambil bercanda" ucap Nindy lalu turun di ikuti mereka
"Ibu gak apa apa? maafin temen saya ya bu" tanya Nindy
"Aduuhh kaki saya aakkhh" ibu itu meringis
"Saya bawa ke rumah sakit ya Bu" ucap Nindy ibu itu hanya mengangguk
"Kalian kenapa bengong angkat dong gimana sih" bentak Nindy
Damar dan Leo segera mengangkat ibu itu ke mobil
mereka membawanya ke klinik terdekat
Untung lukanya tidak parah hanya kaki dan luka kecil di tangan dan kepalanya
"Bu sekali lagi saya minta maaf untuk teman saya Bu, dia kurang hati hati" ucap Nindy Leo dan Damar pun merasa bersalah
"Iya Bu maafin saya ya" ucap Damar
"Iya gak apa apa nak namanya juga musibah gak ada yang tau" ucap ibu itu
"Tapi saya punya banyak anak asuh, gimana saya bisa merawat mereka" lanjut ibu itu sedih
"Saya bantu rawat mereka sampai ibu sembuh" ucap Nindy
"Serius nak? terimakasih banyak sudah mau membantu ibu" ucap ibu itu
Mereka mengantar ibu itu pulang Nindy familiar dengan jalan yang dia lewati
mereka telah sampai dan benar saja saat Nindy memapah ibu itu masuk
segerombolan anak anak datang menghampiri mereka
"Ibu ibu ibu kenapa?" suara mereka serentak membuat bising seisi rumah
"Ibu gak apa apa, yang bisa bikin teh hangat tolong buatkan untuk Tante dan om ini ya" ucap ibu itu
Lalu beberapa anak terbesar diantara mereka pergi ke dapur
Nindy membawa ibu itu ke kamar dan membantunya berbaring
seorang anak kecil masuk membawakan air putih untuk ibunya
"Ibu kenapa?" tanya anak itu dan Nindy pun berbalik
" Loh kamu tinggal disini?" tanya Nindy
"Iya Tan aku tinggal disini sama kakak kakakku" ucap anak itu tersenyum manis
"Cia tidur ya bilangin sama yang lain juga suruh tidur, ini udah malem besok kan sekolah" ucap ibu itu lalu anak itu menurut
"Perkenalkan saya Ambar pengasuh disini" ucapnya mengulurkan tangan
"Saya Nindy " ucap Nindy menjabat tangannya
"Besok saya kesini pagi pagi bantu urus mereka" ucap Nindy
"Apa tidak merepotkan?" tanya Ambar
"Tidak sama sekali Bu, saya merasa bersalah atas kejadian yang menimpah ibu" ucap Nindy
__ADS_1
"Oohh iya Bu anak yang barusan namanya siapa?" tanya Nindy
"Itu Fellycia, anak itu pintar tidak pernah mengeluh untuk apapun dia juga anaknya penurut" ucap Ambar
"Kalian sudah pernah bertemu?" tanya Ambar
"Iya Bu di depan TK Deket sini" ucap Nindy
"Iya dia sekolah disana" ucap Ambar
"Saya pamit dulu ya Bu besok pagi pagi saya kesini" ucap Nindy
Setelah pamit Nindy keluar kamar ibu Ambar
menemui Damar dan Leo yang sedang di kerubungi anak anak
Nindy menghampiri mereka dengan tersenyum
"Anak anak bukannya ibu sudah bilang untuk tidur?" ucap Nindy
"Yaaahhhh" keluh mereka serempak
"Tante bentar lagi ya masih seru nontonnya" ucap Cia
"Cia besok Tante bawa laptop biar nontonnya lebih besar" ucap Nindy
"Hey teman teman tidur yuk besok kita nonton di laptop Tante jadi lebih besar" teriak Cia pada teman temannya
"Horeeeeee" teriak mereka berlari memeluk kaki Nindy
"Sekarang semua tidur besok Tante kesini lagi" ucap Nindy
Mereka menuruti Nindy pergi ke kamar dan segera tidur
Nindy pulang kerumah dengan Leo dan Damar
mama Damar membukakan pintu menyambut seperti biasa
"Gimana nontonnya seru?" tanya mama Damar
"Gak jadi nonton Tan" ucap Nindy
"Loh kenapa?" tanyanya lagi
"Tadi si Damar na.. eemmmpphh" ucap Nindy terputus saat Damar membekap mulutnya
"Tadi kita malah main ke panti asuhan mah" sahut Damar dengan senyum anehnya
Nindy melepaskan tangan Damar dari mulutnya
dan mengelap mulutnya
"Tangan Lo pait" ucap Nindy masih mengelap bibirnya
"Aahh masa?" ucap Damar seraya menjilat tangannya
"Damar jorok banget sih" ucap mamanya seraya memukul bahu Damar
Damar mendekati Leo dan merangkul pundaknya
dengan tangan yang tadi dia jilat
Leo melotot dan segera menepis tangan Damar
"Jijik anjim" ucap Leo mengelap pundaknya
"Mama mama kak Leo ngomong kasar" ucap Damar dengan logat seperti anak kecil
"Sumpah Damar jijik banget" ucap mamanya mereka bertiga bergidik melihat tingkah Damar
Mereka tertawa Nindy kembali merasakan bahagia selain dengan keluarga Bryan
tiba tiba tawanya terhenti saat dia mengingat bunda di rumah sakit
dia merasa bersalah kemarin meninggalkannya begitu saja
Pagi menjelang Nindy sudah bersiap sejak subuh
membuatkan sarapan untuk di bawa ke sana
jam 6 pagi dia berangkat ke panti dengan mobilnya
Tok tok tok
"Assalamualaikum anak anak udah pada sarapan belum?" tanya Nindy
"Belum..." ucap mereka serempak
terlihat juga tiga orang berbaju SMP sedang bersiap memasak
"Udah jangan di terusin masaknya, sekarang ambil piring kita makan sama sama" ucap Nindy membuka wadah besar berisi nasi goreng
"asyiiik, horeeeeee, waahh harum ya" suara anak anak riuh
"Ini buat ibu anterin dulu sama airnya ya" ucap Nindy pada salah satu anak
Setelah Nindy selesai membereskan rumah mencuci baju anak anak
kemudian Nindy menghampiri ibu Ambar di kamarnya untuk pamit ke rumah sakit
dan sepulang anak anak sekolah dia sudah berada di panti lagi
Nindy sudah ada di depan ruangan bunda sebelum masuk dia menghela nafas kasar
mengumpulkan keberanian untuk menemui bundanya
Nindy masuk dan melihat bunda sedang tidur
Nindy mendekat dan meraih tangan bunda dan menciumnya
mengusap tangan yang keriput bahkan terlihat tulang menonjol disana
bukan karena terlalu tua tapi karena selama 6 tahun bunda koma otomatis tidak ada asupan makanan yang masuk
"Bunda maafin Nindy ya, Nindy gak bisa rawat bunda sekarang" ucap Nindy seraya mengelap air matanya
"Bunda baik baik, Nindy akan sering datang kesini" lanjut Nindy
"Jangan pergi lagi nak, bunda gak akan minta kamu kembali sama Bryan bunda cuma minta kamu disini sama bunda" lirih bunda menangis
"Bunda maafin Nindy gak bisa" ucap Nindy kemudian mereka berpelukan melepaskan kerinduan mereka
"Bunda udah makan?" tanya Nindy mengusap air matanya bunda hanya menggeleng
"Nindy ambilin ya" ucap Nindy
"Bunda gak mau makanan rumah sakit gak enak" ucap bunda
"Sekarang makan ini aja dulu, kalo udah sembuh Nindy masakin apa aja yang bunda mau" ucap Nindy
"Janji kamu gak akan tinggalin bunda?" ucap bunda mengacungkan jari kelingkingnya
"Janji" singkat Nindy mengaitkan kelingkingnya
Nindy sedang menyuapi bunda sambil bercanda dengan tawa bahagia
seseorang mengintip di balik pintu yang sedikit terbuka
dia tersenyum seraya meneteskan air mata
__ADS_1
sekarang dia bahagia melihat dua wanita yang dia cintai kembali tertawa lepas
Jangan lupa like, komen dan vote 😍😍😍😍