
Hari itu Leo, Bryan, Reno, dan Roy sedang berada di ruangan Leo bercakap santai tidak formal seperti biasanya
Leo menatap Reno tidak suka begitupun Reno
mereka habis baku hantam karena Reno mendengar Leo bicara pada Roy tentang malam itu dia memaksa Dara hingga gadis itu pingsan
tiba-tiba saja Reno membuka pintu dengan kasar dan menghadiahkan bogem mentah di wajah Leo
"Jadi selanjutnya gimana? " tanya Bryan menengahi
"Kalo lo gak bisa bahagiain dia lepas biar gue yang bertanggung jawab" ucap Reno lantang kini terang terangan menginginkan Dara
"Jangan mimpi, selamanya Dara akan menjadi milik gue" sungut Leo
"Dan lo akan jadiin dia istri ke dua? lo egois man" hardik Reno
"Gue akan segera cerai sama Meira setelah nyokapnya kembali berobat ke luar negeri, nyokapnya leukemia gue gak sanggup nyakitin dia melihat tubuhnya lemah sekarang, maka dari itu gue akan nikahin Dara setelah dia pergi" tutur Leo
"Sampe lo nyakitin Dara lagi gue akan bawa dia pergi dari sisi lo selamanya" ancam Reno
"Lo gak usah ancam gue, gue pasti lakuin itu tanpa lo minta'' Leo tidak mau kalah
Bryan dan Roy hanya diam sesekali saling pandang membuat pusing berhadapan dengan Leo dan Reno
setelah mereka diam Roy mengeluarkan amplop coklat ke atas meja mereka bertiga memandang kearah Roy
" Itu bukti tuan, anda memang tidak bersalah" ucap Roy
Leo bergegas membukanya mengeluarkan isinya satu persatu
membuat Reno dan Bryan kepo dan langsung berdiri memposisikan tubuhnya ke belakang sofa yang di duduki Leo
"****, gue udah yakin gue gak ngapa ngapain dia malam itu, dia hanya pura pura tapi siapa yang coba jebak gue" banyak pertanyaan di benak Leo
"Apa mungkin Meira sendiri? " tanya Bryan
"Tapi dia juga terlihat shok malam itu" jawab Leo
"Siapapun dalang di balik semuanya gue gak peduli, Bryan gue minta lo temenin gue besok ke rumah orang tua Dara" ucap Leo bersemangat
"Ngapain kerumah Dara? " tanya Bryan heran
"Besok juga gue bakal nikahin dia " ucapan Leo membuat ketiga orang itu terkejut
"Lo serius? apa gak ada resepsi? " tanya Bryan
"Gak penting yang penting sekarang sah dulu tapi jangan bilang Dara gue mau kasih dia kejutan" perkataan Leo membuat Reno kembali merasakan patah hati
Wajahnya terlihat berbeda semenjak Leo mengatakan akan menikahi Dara besok
"Roman romannya ada yang kebakar nih" goda Leo saat mereka sudah berada dalam mobil
"Lo nyindir gue? " Reno tersulut emosi
__ADS_1
"Kalo yang patah hati emang selalu mudah emosi" ucap Bryan membuat Reno mengerem mendadak Bryan yang tidak pakai sabuk pengaman otomatis tersungkur ke depan
"Mamam tuh emosi" Reno puas melihat Bryan kepalanya terpentok dashboard mobil
"Assisten sialan" Bryan memegangi kepalanya
.
.
3 hari kemudian
Dara duduk di tepi kolam menatap kosong air yang beriak karena goresan tangannya
Tiga pelayan itu duduk mengampit Dara yang sama sekali tidak menyadari kehadiran ketiganya
"Astaga bibi ngagetin aja "Dara terlonjak bi sumi memegang bahunya
" Non mau makan apa? ini udah siang" tanya bi sumi
"Leo tiga hari gak pulang ya bi? " Dara malah balik bertanya
"Nyonya kangen sama tuan? " tanya surti
"Ahh ti.. tidak aku cuma bertanya" jawab Dara gugup
"Benarkah? Inem pikir nyonya kangen" goda inem
"Apaan sih" Dara tersipu malu wajahnya memerah
"Ciee nyonya malu'' goda inem dan surti, bi sumi hanya tersenyum melihat nyonya nya kini bisa tersenyum lagi setelah beberapa hari hanya diam melamun
Setelah membantu memasak Dara makan siang seperti biasa mereka makan bersama lesehan di lantai
Dara merasa tubuhnya terasa lengket dan memutuskan untuk mandi
sepertinya berendam sebentar akan merilekskan tubuhnya
Niat hati berendam sebentar tapi dia malah keenakan dan ketiduran
Dara tiba tiba merasakan kakinya seperti menyentuh sesuatu dia mulai membuka mata dan betapa terkejutnya saat Dara melihat Leo di hadapannya sudah masuk ikut berendam
" Aaaaaaaaaa" teriak Dara membuat Leo menutup telinganya
"Tenang tenang aku gak apa apain kamu, aku cuma mau ikut berendam" Leo berusaha menenangkan Dara
"Keluar sekarang juga" bentak Dara
"Kalo aku gak mau? " goda Leo
"Aku yang akan keluar" Dara hendak bangun tapi teringat sesuatu
Handuknya ia gantung jauh dari bathtub jadian dia hanya menenggelamkan diri sampai dagunya
__ADS_1
dengan nakal kaki Leo menyentuh kaki Dara dan menggesek gesekkannya
"Leo jangan kurang ajar" bentak Dara namun Leo hanya terkekeh
"Gak sopan sama suami panggil nama" ucap Leo
"Suami? mimpi" Dara mencebikkan bibirnya
"Istriku mau aku bantu mandikan" ucap Leo dengan jahilnya mendekat ke arah Dara
"Leo please mundur" suara Dara mulai bergetar
"Sayang kita ini suami istri hal seperti ini wajar" Leo semakin mendekat bahkan kini berada di samping Dara dan memeluknya
Leo bisa merasakan tubuh Dara bergetar matanya berkaca kaca
mungkin bayangan malam itu masih terngiang ngiang di dalam ingatannya
"Sayang maaf"
"Apa aku membuatmu takut? "
Dara menggeleng lalu mengangguk entah jawaban macam apa itu
Leo menarik lembut wajah Dara agar menghadapnya
lalu mengecup kening pipi dan bibir Dara dengan lembut menyingkirkan segala ketakutan Dara
"Sekarang aku suamimu, tidak ada alasan lagi untuk kita melakukannya" perkataan Leo di telinga Dara terdengar begitu menenangkan
Leo sadar ada sedikit perubahan dari Dara dia menarik dirinya menjauh dari Leo
"Sayang kamu istriku" ucap Leo dengan mata sayu
"Istri sejak kapan Leo? kamu mempermainkan aku? " ucap Dara meraih handuknya dan pergi meninggalkan Leo
"Please Leo jangan lakukan ini lagi" Dara memelas
"Kamu sekarang istri aku" Leo meraih buku kecil di atas nakas
Mata Dara membelalak sempurna melihat dia buku itu
matanya berkaca kaca memegang buku itu dengan gemetar
"Leo kamu coba menipu aku? " tanya Dara
"Gak sama sekali selama dua hari aku pergi ke rumah orang tua kamu meyakinkan mereka bahwa aku gak bersalah malam itu"
"tapi bagaimana bisa? " tanya Dara heran
"Sekarang itu gak penting, aku jelasin nanti aku mau kamu sekarang" bisik Leo
"Aku takut" Dara menjauh
__ADS_1
"Aku akan pelan" Leo mendekat