Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Dijodohkan Dengan Ketos Galak
eps 9


__ADS_3

satu bulan kemudian


lusa kelulusan dan kenaikan kelas Bryan dan Nindy


tapi bryan masih menyuruh Nindy untuk belajar


karena nilai ujian Nindy tidak begitu bagus


saat nindy sedang fokus mengerjakan soal yang di berikan bryan


handphone Bryan berbunyi membuat Nindy melirik sekilas pada handphone Bryan


untuk melihat siapa yang menelpon


Bryan menjawab telpon dan Nindy berusaha menguping


*Bryan


" halo kenapa?"


" hah Lo dimana tunggu bentar gue jemput*"


" siapa bryan?" tanya Nindy


" gue ada urusan bentar nin" jawab Bryan bergegas membawa jaket dan kunci mobil


Nindy terus mengekor Bryan memegang kaosnya dari belakang


" gue ikut ya" ucap Nindy


" Lo tunggu belajar aja jangan mikirin yang lain. lain dulu" ucap Bryan


" tapi Lo belom jawab pertanyaan gue" ucap Nindy tapi bryan sudah pergi tidak menghiraukan Nindy


Nindy kesal Bryan mengacuhkannya


konsentrasinya buyar karena memikirkan siapa yang menelpon Bryan sampai sampai dia sepanik itu


Nindy tidak semangat belajar entah salah atau benar semua jawabannya dia memilih tidur


Nindy sedang terlelap tidur lalu terbangun karena rasa hausnya


mengambil segelas air di meja samping tempat tidur dia melihat jam sudah pukul 2 malam tapi Bryan belum juga kembali


" bentar bentar taunya udah mau subuh belom pulang" gerutu Nindy seraya menelpon Bryan karena khawatir


ttuutt ttuutt ttuutt


"halo, Bryan Lo dimana?" tanya Nindy


" iya halo, Bryan lagi ke kamar mandi" ucap seorang wanita


Nindy tau betul itu suara Maria Nindy mematikan teleponnya


tidak terasa air mata mengalir di pipinya dia mengusapnya kasar


ternyata Bryan tidak berubah dia masih saja berhubungan dengan Maria


Nindy tidak bisa tertidur kembali sampai subuh tiba


dia mandi, menunaikan shalat subuh lalu masak sarapan hanya untuknya


tepat pukul enam pagi Bryan pulang


Bryan masuk memeluk Nindy dari belakang yang sedang mencuci piring


" lepasin gue mau berangkat sekolah masih ada kerjaan di sekolah" ucap Nindy menepis kasar tangan Bryan


" kok gitu sih? Lo marah?" tanya bryan


" kalo Lo punya otak harusnya Lo tau" jawab Nindy lalu pergi menenteng tasnya


" nin berangkat bareng gue, gue takut Lo kenapa kenapa" teriak Bryan yang melihat Nindy telah pergi dengan motornya


" Nindy kenapa sih, padahal gue baru mau cerita... apa karena semalam gue GK pulang ya" gumam bryan


Nindy ke sekolah karena ada sesuatu yang harus di kerjakan


Nindy dan teman temannya ikut berpartisipasi dalam acara tersebut


saat pulang sekolah Nindy sedang mengobrol dengan Hendrico karena dara dan Wina sudah pulang


Bryan yang baru saja tiba di parkiran melihat Nindy sedang berbicara santai bryan pun menghampiri mereka


" Lo macem macem sama Nindy gue bikin perhitungan" ucap Bryan menuuk wajah Hendrico


" santai bro, gue juga udah minta maaf sama Nindy kita sekarang berteman yang ada Lo awas kalo Lo sampe nyakitin Nindy" ucap Hendrico


" gue bukan tipe cowok buaya" ucap Bryan menuntun tangan Nindy tapi dia menepisnya


" ayo kak katanya mau ke toko buku, gue juga mau cari komik" ucap nindy


belum Nindy melangkah Bryan menarik tangannya


membawanya ke mobil dan segera melajukan mobilnya dengan kencang


tiba di sebuah tempat yang sepi Bryan menghentikan mobilnya


" Lo kenapa sih ngehindarin gue Mulu? Lo marah kemarin gue gak pulang?? asal Lo tau ya gue...." ucapan Bryan terpotong oleh Nindy


" gue.. gue apa? gue tidur di rumah Maria iya gitu? apa pantes seorang lelaki beristri nginep di rumah wanita lain apa pantes haaahhh? abis ngapain Lo malem malem di rumah mantan Lo? lagi nostalgia iya?" ucap nindy yang tidak ada jeda


setelah meluapkan isi hatinya Nindy menangis sesenggukan


Bryan yang bingung harus apa hanya memijat pelipisnya


Ternyata sulit memahami wanita


Bryan membawa Nindy kepelukannya tapi Nindy melepaskan diri dari Bryan


mengusap kasar air matanya


" kalo Lo masih suka sama Maria gue mau Lo tinggalin gue" ucap Nindy


" gak bisa gitu dong nin kita baru nikah beberapa bulan apa nanti kata orang tua kita?" ucap Bryan


" oohh... jadi Lo cuma takut terlihat gak baik di hadapan orang tua kita? apa bedanya Bryan sekarang atau nanti sama aja gue gak mau nambah luka lagi" ucap Nindy lalu turun dari mobil berlari meninggalkan Bryan


Bryan yang merasa kesal memukul keras kemudi


Nindy pulang dengan lesu merebahkan tubuhnya di ranjang memejamkan matanya


tak terasa air matanya mengalir dia tidak tahu kedepannya akan seperti apa nasibnya


bagaimana bisa dia menjadi janda saat dia masih sekolah


lama Nindy meratapi semua tentang hidupnya dia lalu bangun mandi dan mencari charger handphone yang ketinggalan di apartemen Bryan


karena charger Bryan juga di bawa akhirnya Nindy memutuskan untuk mengambilnya


Nindy lalu menelpon bunda menanyakan Bryan tapi tidak ada di rumah

__ADS_1


sudah di pastikan Bryan ada di apartemen


di apartemen Bryan sedang berbaring menunggu Nindy menghubunginya


terdengar suara pintu di ketuk membuatnya segera bangun dan membuka pintu


dia berharap itu Nindy maka dari itu dia bergegas membukanya


" nin....." ucap Bryan tidak meneruskan ucapannya


" hai Bryan, udah lama ya gue gak main kesini" ucap Maria seraya masuk melewati Bryan tanpa di persilahkan masuk


Maria membaringkan tubuhnya di ranjang Bryan


Bryan sudah menyuruhnya pulang tapi Maria tidak menghiraukannya


Bryan menarik tangan Maria agar bangun tapi Maria tidak mau terjadi saling tarik menarik yang menyebabkan Bryan terjatuh di atas maria


saat Bryan mengungkung Maria tiba tiba Nindy datang melihat Bryan Nindy memikirkan yang bukan bukan


" hai nin, Lo juga disini?" ucap Maria seraya berpura pura merapikan rambutnya


" gue cuma mau ngambil charger" ucap Nindy seraya mengambilnya di nakas lalu beranjak pergi


Bryan mengejarnya menahan tangan Nindy agar tidak pergi


" please nin dengerin gue dulu " ucap Bryan


" gak ada yang perlu di jelasin, gue mau pulang" ucap Nindy menepis tangannya Bryan tapi Bryan memeluknya dari belakang


" Bryan biarin aja kalo dia mau pergi kan ada gue yang nemenin Lo" ucap Maria


" Lo diem, yang harusnya pergi itu Lo" ucap Bryan dengan nada tinggi


Bryan masih berusaha memeluk Nindy yang berontak ingin di lepaskan


Maria yang di bentak Bryan pulang dengan kesal berjalan menghentak hentakan kakinya lalu membanting pintu


bryan memeluk Nindy yang sedang menangis


" lepasin gue Bryan, gue mau pulang" ucap Nindy setengah teriak


" gak usah pulang nin ini juga rumah Lo, Lo bisa tidur disini" ucap Bryan masih memeluk nindy dari belakang


" gue gak Sudi tidur di kamar yang sama sama pacar Lo itu, gue muak gue benci sama kalian, gue mau pisah aja Bryan biar Lo bebas gak usah sembunyi sembunyi lagi " ucap Nindy


Bryan membalikkan tubuh Nindy memeluknya erat seakan tidak mau Nindy meninggalkannya


Nindy mendorong Bryan hingga terjatuh lalu memukuli Bryan


sambil berteriak pada Bryan


" dasar brengsek, semua cowok sama aja kalian cuma mau mainin perasaan cewek kalian gak punya otak gak punya perasaan Lo sama aja kayak bokap gue, gue benci kaliaaann....... aaarrrggghhhhh" teriak Nindy seraya memukuli Bryan


Bryan tidak melawan dia membiarkan Nindy puas memukulinya


setelah Nindy tenang dia terduduk bersandar pada tembok dengan keadaan kacau


Bryan bangun menghampiri Nindy memeluknya kini Nindy hanya diam di peluk Bryan masih menangis sesenggukan


Bryan menangangkup wajah Nindy dengan kedua tangannya


mengusap air matanya dengan ibu jari


" Nindy lihat gue, semua gak seperti yang Lo pikir, kemarin gue mau cerita tapi Lo udah pergi dengan amarah hari ini juga sama Lo belum dengerin penjelasan gue dan Lo gak bisa tahan amarah Lo" ucap bryan


Nindy hanya diam masih sesegukan tapi sudah tidak menangis seperti tadi


Bryan memeluk Nindy mencium keningnya sesaat mereka masih dalam posisi Bryan memeluk nindy dan Nindy menyandarkan kepalanya di dada Bryan


" kening Lo berdarah" ucap Nindy lalu mengambil p3k di dapur


"marah aja masih perhatian" gumam Bryan tersenyum senang karena nindy masih perhatian padanya


Nindy mengobati luka Bryan, Bryan terus menatapnya membuat Nindy salah tingkah


ketika Nindy mengambil plester lalu berbalik pada Bryan


tiba tiba Bryan mencium bibir Nindy


Nindy yang masih marah mengelap bibirnya yang di cium Bryan membuat Bryan ternganga tak percaya


" oohhh jadi sekarang jijik ya di cium suami ?" tanya Bryan membuat Nindy memasang wajah jutek


" Lo diem deh, luka Lo udah gue obatin sekarang gue mau balik" ucap Nindy lalu berbalik akan pergi tapi Bryan menarik tangan Nindy


membuat Nindy terjatuh di pangkuan Bryan


Bryan memeluknya Nindy berontak lagi tidak mau di peluk Bryan tapi Bryan memeluknya erat menciumi tengkuk Nindy


" Bryan lepasin gak, Lo gak puas apa sama Maria" ucap Nindy


" gue gk ngapa ngapain nin, percaya sama gue, gue cuma ngelakuin itu sama Lo" ucap Bryan dengan nafas berat seperti menahan sesuatu


"Lo ngomong apa sih, Awas gak gue mau pulang" ucap Nindy menggoyang goyangkan tubuh ingin melepaskan diri dari Bryan


" jangan banyak gerak nin gue gak tahan" ucap bryan kembali menciumi Nindy


" bryan jangan gini dong gue takut" ucap Nindy dengan wajah panik


Bryan mendorong Nindy hingga jatuh terlentang


Bryan menindih lalu mencium Nindy dengan kasar membuat Nindy menangis ketakutan


Bryan sadar dengan kelakuannya akhirnya meminta maaf lalu bangun pergi ke kamar mandi


sekian lama Bryan di kamar mandi


Bryan keluar kamar mandi melihat Nindy sudah tertidur dengan mata sembab rambut acak acakan


Bryan mencium setiap inci wajah Nindy lalu berbaring memeluk Nindy


keesokan harinya Nindy bangun memegangi kepalanya yang terasa berat


Bryan yang merasa terganggu dengan pergerakan Nindy bangun


Nindy berlari ke kamar mandi Bryan pun menyusulnya


uuooeek uooeekk


" nin Lo kenapa? " ucap Bryan seraya menggedor pintu, Nindy keluar dengan memegang perut dan kepalanya


" gue gak apa apa, awas minggir" ucap Nindy mendorong Bryan


" maafin gue nin, Lo kan belum denger penjelasan gue" ucap Bryan akan memeluk nindy


" gak usah Deket Deket sana Lo bau'' ucap nindy seraya menutup hidungnya


Bryan mengendus ketiaknya dia merasa dirinya tidak bau


lalu berusaha mendekati Nindy lagi tapi Nindy malah mual dan berlari ke kamar mandi

__ADS_1


Bryan mengerutkan keningnya dia tidak mengerti sakit apa Nindy sampai tidak mau dekat dengan bryan


Nindy berbaring di ranjang memijat keningnya


" makan dulu nin" ucap Bryan akan menyuapi Nindy


" gue mual gak mau makan" ucap Nindy menutup mulutnya


" Lo masuk angin ya" ucap Bryan


" mungkin, dari kemarin gue gak makan" ucap Nindy dengan wajah juteknya


" suruh siapa gak makan " gumam Bryan yang masih di dengar Nindy


" Lo bilang apa? gue gini gara gara Lo" ucap Nindy menjewer telinga bryan


"iya iya ampun nin, gue minta maaf" ucap Bryan lalu Nindy melepaskan telinga bryan


" yaudah sekarang ceritain yang semalem sama tadi" ucap Nindy dengan wajah garang


" semalem Maria nelpon gue katanya mobilnya mogok dia juga demam sedangkan di rumahnya gak ada siapa siapa makanya gue jagain dia kasian, kalo yang tadi nih Lo bisa liat sendiri di rekaman cctv" ucap bryaan menyodorkan laptopnya


mata Nindy membulat tidak percaya bryan memasang cctv di di kamarnya


dia merasa malu sendiri pasalnya setiap yang mereka lakukan pasti terekam cctv


" Lo pasang cctv? berarti waktu kita...." ucapan. Nindy tergantung menutup mulutnya yang menganga menatap Bryan yang berusaha menahan senyumnya


" iya, apa Lo mau liat video kita" ucap Bryan seakan tau maksud Nindy


" summpaahh gue malu banget" ucap Nindy menutup wajahnya dengan bantal


" gak usah malu itu buat kenang kenangan aja, lumayan kan kalo iseng bisa di puter" ucap Bryan yang mendapat lemparan bantal ke wajahnya


" awwwww kepala gue" ucap Bryan meringis kesakitan


" eehh sorry Bryan, mana sini biar gue liat" ucap Nindy, saat Nindy memegang kening Bryan Nindy tiba tiba merasa mual dan muntah di baju Bryan


" nindyyyyyyy Lo jorok banget sih" ucap Bryan pada Nindy yang sudah berlari ke kamar mandi


bryan kesal karena Nindy muntah di bajunya


dia mandi dan mengganti bajunya


Bryan masih membujuk Nindy agar mau makan


dari kejauhan pastinya karena Nindy akan muntah jika di dekat Bryan


" nin Lo sakit apa sih? masa jadi jijik sama gue heran deh" ucap bryan


" gue gak tau" singkat Nindy dengan wajah juteknya


Bryan menghela nafas panjang


dia bingung dengan Nindy yang seperti itu padanya


Bryan membawa Nindy ke rumah sakit karena Nindy terus menerus muntah


di mobil Bryan semakin kesal karena Nindy duduk di belakang


" nin Lo masih marah sama gue?" tanya bryan


" gak tau" ucap Nindy masih dengan wajah yang tidak bersahabat


" kalo Lo marah sama orang emang jadi mual gitu ya kalo Deket? " tanya bryan lagi


" Lo gak usah banyak nanya Bryan Lo mau gue muntah di sini?" ucap Nindy dengan satu tarikan nafas


" ni orang kenapa sih marah marah Mulu gak takut darting kali ya" gumam Bryan


" Lo ngomongin gue ya?" ucap Nindy penuh selidik


" PD banget sih? " jawab Bryan


sesampainya di rumah sakit


dokter sedang memeriksa Nindy menanyakan kapan terakhir datang bulan


dan untuk memastikan sebaiknya Nindy di bawa ke dokter kandungan


lalu Bryan dan Nindy menunggu antrian


semua menatap mereka bahkan ada yang saling berbisik


" kayaknya masih muda banget ya" ucap salah satu ibu2


"jangan jangan hamidun" ucap yang lain


Nindy yang melihat mendelikan matanya


giliran Nindy di periksa dokter sekarang dokter menaruh alat USG ke perut Nindy


Nindy dan Bryan saling pandang lalu Bryan mengangkat bahunya


" saya sakit apa dok?" ujar Nindy


" kamu tidak sakit, kamu hamil lihat lah ini anak kamu" ucap dokter membuat Nindy kaget begitu pula Bryan


" gak mungkin" gumam Nindy yang di dengar dokter


" apanya yang tidak mungkin, apa kalian masih sekolah?" Nindy mengangguk menanggapi ucapan dokter


Bryan hanya terdiam masih mencerna semuanya


perbuatannya hanya sekali tapi sudah membuahkan hasil


dokter yang melihat mereka melamun pura pura terbatuk


" kenapa kalian melakukan itu? kaliankan masih sekolah apa kalian tidak memikirkan masa depan kalian? " ucap dokter membuat lamunan mereka buyar


" kami sudah menikah dok" penuturan Bryan membuat dokter terkejut


Bryan menceritakan semuanya akhirnya dokter mengerti


dokter memberikan vitamin pada Nindy


di dalam mobil Nindy terus saja menyalahkan Bryan


membuat Bryan pusing dengan Omelan Nindy


" ini semua gara gara Lo coba kalo Lo nurut sama omongan bunda" ocehan Nindy sepanjang jalan


" Lo juga nikmatinkan? ya lagian mana gue tau sekali langsung jadi" ucapan bryan membuat Nindy mati kutu


Nindy memalingkan wajahnya menahan senyum


dia membenarkan ucapan Bryan


Bryan melihat Nindy dari pantulan cermin yang terkekeh


" jangan senyum senyum gue tau secara tidak langsung Lo mengekui kehebatan gue kan" ucap Bryan membanggakan diri

__ADS_1


Nindy melirik memukul lengan Bryan


membuat Bryan tertawa berhasil menggoda Nindy


__ADS_2