Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Dijodohkan Dengan Ketos Galak
eps 39


__ADS_3

Nindy meeting dengan beberapa perusahaan termasuk dengan Bryan


mereka sama sama tidak berani menatap satu sama lain


Hanya Bryan yang sesekali melirik Nindy yang berusaha tetap menatap kearah monitor


Meeting selesai semua sudah meninggalkan ruangan


tinggal Nindy sendiri disana dia masih melamun entah kenapa pikirannya selalu memikirkan malam itu


wajahnya selalu bersemu merah saat mengingatnya


perasaan benci, marah, rindu bercampur jadi satu


Lamunannya buyar saat mendengar dering di handphonenya


dia menjawab panggilannya


"Halo kak" Nindy mengawali pembicaraannya


"Gimana kantor aman? masih bisa handle?" tanya Leo


"Masih aman tapi jangan lama lama dong kak bosen nih di kantor tiap hari" keluh Nindy


"Hey perusahaan itu nantinya buat lo makanya belajar mengurusnya mulai sekarang" Nindy mendelikan matanya malas mendengar perkataan kakaknya


"Haahh bosannya bekerja kantoran"


"Setelah lo bisa menguasainya sendiri kakak akan berhenti kasih jatah bulanan" ucapan itu membuat Nindy tersentak dalam duduknya


"No.. no.. no.. kalo gue gak bisa dapet penghasilan gimana?" rengek Nindy


"Makanya kerja yang bener gue dulu juga gitu malah gak dapet bantuan sama sekali"


"Ohh iya gue lagi selidikin tentang mommy doain biar Nemu titik terang gue yakin mommy masih hidup" ucaap Leo sebelum menutup teleponnya


"Eehh udah jam 11 gue harus jemput Cia" Nindy teringat janjinya pada Cia


Dia keluar dari kantor mengemudi mobil menuju sekolah Cia


dia melihat sebuah mobil di belakang seperti sedang mengikutinya


Nindy memarkirkan mobilnya di area sekolah melihat orang yang ada di mobil ternyata keluar ngobrol dengan security


sepertinya menanyakan alamat


Cia datang dengan segerombolan anak anak memeluk kaki Nindy yang masih memperhatikan orang itu


Nindy terkejut lalu menatap siapa yang memeluk kakinya


senyum manis terbit di wajah cantiknya


"Temen temen ini mama aku, aku udah bilangkan kalo sekarang aku punya mama" ucap Cia polos


"Bukan mama asli ya" ucap salah satu murid lalu mereka tertawa


Wajah Cia berubah murung Nindy lalu menggendongnya


Nindy heran darimana anak anak seusia mereka bisa mengatakan hal hal jahat dan melakukan bullying


"Kalian gak boleh gitu harus bisa menghormati satu sama lain, tidak baik berbicara buruk terhadap teman sendiri" Nindy menasehati mereka


Anak anak itu hanya saling sikut dan tertunduk


Nindy segera membawa Cia pergi dari sana


tanpa dia sadari orang yang tadi mengikutinya masih ada disana bahkan memotretnya dengan Cia diam diam


"Cia mau makan apa? kita makan siang dulu" tanya Nindy


"Apa aja ma, asal sama mama makannya pasti enak" Nindy menganga tak percaya Cia bisa mengatakan hal seperti itu


"Haahhaa dari mana kata kata itu? lucu sekali" Nindy tertawa dia teringat itu yang Bryan selalu katakan ketika menggombalinya


Tawanya perlahan hilang dia tidak mengerti kenapa dia malah mengingat Bryan


sesampainya di sebuah cafe Nindy makan disana bersama Cia


Cia makan dengan lahapnya sambil menatap mengitari cafe itu


"Om" teriak Cia saat melihat Bryan yang tidak sengaja melihatnya


Bryan menghampirinya tersenyum dia tidak menyadari ada Nindy karena dia membelakangi Nindy


Bryan sekarang berdiri tepat dihadapan Cia mengelus rambutnya


Bryan baru sadar ternyata yang di depan Cia adalah Nindy


dia hanya menunduk menikmati makannya


"Ma ada om ini liat ma" Cia mengguncang tangan Nindy diatas meja


"I.. iy..iya sayang" Nindy perlahan mengangkat kepalanya menatap Bryan


Mereka jadi sama sama salah tingkah


semenjak kejadian malam itu hubungan mereka jadi renggang kembali


Nindy merasa takut bertemu Bryan dan Bryan merasa malu bertemu Nindy


"Om kesini sama siapa?" tanya Cia


"Sendiri, Om kerja disini" ucapannya membuat Cia mengangguk


"Duduk Om disini " ucap Cia menepuk kursi disampingnya


Bryan tidak bisa menolak keinginan Cia dia tidak bisa melihat wajah sedihnya


akhirnya dia duduk berhadapan dengan Nindy


"Om kerja apa disini?" tanya Cia


"Ini cabang cafe Om"


"Maksudnya gimana?" tanya Cia polos


"Maksudnya ini cafe baru Om" jelas Bryan


"Sayang cepat habiskan makannya mama harus kerja lagi" Nindy menjadi canggung dengan kehadiran Bryan


"Iya ma bentar lagi habis" ucap Cia


Nindy dan Cia selesai makan ketika hendak memanggil waiters untuk membayar Bryan menghentikannya

__ADS_1


"Gak usah bayar anggap saja promo pembukaan cabang baru" ucap Bryan


"Gak perlu saya gak suka gratisan" Nindy menyerahkan uang pada waitersnya


"Saya permisi" Nindy pergi menuntun Cia


"Dadaaaa om" Cia melambaikan tangan ke arah Bryan dan dia membalasnya


"Mama kenapa sih galak banget sama om itu? katanya itu suami mama" lagi lagi Cia bertanya polos


"Sshhttt jangan bilang itu Kitakan udah janji jaga rahasia" ucap Nindy menangkup wajah Cia


"Maaf ma Cia lupa" Cia mengambil tangan Nindy dan menciumnya sebagai tanda permintaan maaf


"Udah gak apa apa"


"Ma sebentar lagi Cia sekolah mama mau gak nganter Cia ke sekolah baru" Cia meminta dengan takut, takut Nindy menolak


" Eemmhh iya mama usahain tapi ada syaratnya"


"Apa syaratnya?" tanya Cia


"Cia harus rajin belajar dan buat mama bangga" Cia berjanji lalu memeluk Nindy


Hatinya menghangat saat Cia memeluknya dia rindu sosok anaknya bila berdekatan dengan Cia


entah kemana dia sampai sekarang belum di temukan


tidak terasa air matanya menetes Cia mendongak melihat tetesan apa yang jatuh di pundaknya


"Mama kenapa nangis? Cia nakal ya? atau Cia nyakitin mama?" tanya Cia segera menjauhkan tubuhnya dari Nindy


"Bukan sayang ini tangisan bahagia karena mama bersyukur bisa ketemu anak sepintar kamu" Nindy mengusap air matanya mencuil hidung Cia lalu memeluknya


Ditempat lain Maria sedang berbincang di telpon


dia mematikan panggilannya lalu melihat foto foto yang di kirim ke email nya


dia pasti merencanakan sesuatu


Setelah mengantar Cia Nindy pergi ke kantor polisi untuk menjenguk ayah


saat ayah keluar betapa teririsnya hati Nindy melihat penampakan ayah


tubuhnya yang dulu gagah dan wajah berwibawa sekarang kurus dan tidak terurus


Nindy menyalami ayahnya dia memeluknya erat


untuk pertama kalinya Nindy memeluk ayah mertuanya


dia prihatin dengan kondisi ayahnya


"Ayah makan ini ya Nindy temenin" Nindy mengulurkan rantang makanan


Ayah hanya mengangguk selanjutnya ayah makan dengan lahapnya


sesekali Nindy mengusap buliran bening yang menggenang di matanya


dia teringat akan ayahnya yang sudah tiada


"Ayah kenapa ayah bisaa di penjara?" Nindy bertanya saat ayah sudah menghabiskan makanannya


"Entahlah nak, waktu bundamu koma ayah tidak fokus dengan kerjaan ayah selalu mengurusinya bunda " pungkasnya


"Bagaimana keadaan Bryan apa kamu sudah bertemu dengan-nya? tanya ayah


"Sudah ayah dia baik baik saja dan perusahaannya sudah stabil sekarang"


"Apa dia tidak pernah kesini?" tanya Nindy


"Seminggu sekali dia kesini ayah cuma mau tau kamu bertemu dia atau tidak" Nindy terkejut ternyata ayah mengecohnya


"Dari mana kamu tau perusahaannya baik baik saja? apa kalian bersama lagi?" ada harapan di mata ayah


" Tidak ayah hanya perusahaan kita yang bekerja sama, Nindy mewakili perusahaan Alexander" ayah terkejut mendengar perkataan Nindy


"Gimana bisa Bryan bekerjasama dengan cabang perusahaan besar yang terkenal itu?" tanya ayah antusias


"Nindy gak tau yah, setau Nindy CEO.nya teman satu kampus dulu sama Bryan " ayahnya bersyukur perusahaan yang di bangunnya dari nol dulu kembali stabil


"Ayah titip Bryan dan bunda ya nak, banyak banyak temani bundamu" hati Nindy mencelos mendengar perkataan ayah


Pasalnya dia malah jarang sekali bertemu bunda


dia bertekad mulai hari ini dia akan memperhatikan bunda


"Ayah tenang aja Nindy akan bantu ayah keluar dari sini secepatnya" ayah hanya mengangguk angguk


Hari sudah gelap Nindy mengakhiri kegiatannya


dan sekarang dia sedang berbaring di ranjang menghilangkan rasa penatnya


terdengar suara ketukan pintu dan suara Damar


Nindy membuka pintu Damar menatapnya menahan tawa


"Lo kenapa sih tiap lihat gue? ada yang lucu?" Nindy melihat ekspresi wajah Damar yang berusaha menahan tawanya


"Lo pake baju tertutup gitu sepanjang hari gak gerah? " tanya Damar yang Nindy sudah tau akhirnya dia pasti mengejek Nindy


"Kagak, udah sana aahh gue males debat Ama Lo" ketus Nindy mendorong bahu Damar


"Eits sabar dulu bos ku, gue kesini cuma mau pinjem mobil" ucap Damar dengan cengir kudanya


Nindy berbalik mengambilnya kunci dan melemparnya kearah Damar


Damar menangkapnya dengan satu tangan


"thank you baby" Damar sudah berbalik hendak pergi tapi Nindy menarik baju bagian pundak Damar seperti kucing


" Tunggu dulu mau kemana?" tanya Nindy


"Kencan baby Lo mau ikut?"


"Ogah, gue cuma mau pesen mobil gue jangan di pake mantap mantap nanti apes" Damar tidak percaya Nindy mengatakan hal itu


"Hey baby Lo kalo ngomong suka Ngadi Ngadi mana ada gue kayak gitu , gue bukan cowok yang nafs*an bikin cewek kayak macan tutul" ucap Damar langsung ngibrit lari


"Sialan gue sumpahin kempes dah tuh mobil" Nindy sumpah serapah


Sekitar pukul 11 malam Damar menelpon Nindy


dengan malas Nindy menjawab dengan mata masih terpejam

__ADS_1


"Ape sih mar?" suara Nindy masih serak karena bangun tidur


"Mobil Lo kempes, mana dua ban lagi Lo jemput gue ya gue harus nganterin cewek gue pulang" Nindy segera membuka matanya lebar lebar dan tertawa terbahak


"Itu karma Lo udah pinjem mobil gue mana ngeledekin lagi, mampus mamam sendiri" Nindy masih tergelak


"Ayo lah Nindy bantu sepupumu ini, kasihan bidadariku kelamaan nunggu ganti ban" Damar memelas


"Iya iya atas nama perikemanusiaan gue jemput, kalo Lo Sekate Kate lagi Ama gue awas aja Lo" ancam Nindy


Akhirnya Nindy menuju tempat yang sudah Damar sharelok


menggunakan mobil Damar yang harganya di bawah mobil Nindy


Damar meminjam mobil Nindy hanya untuk bergaya di depan pacar


Nindy melihat Damar di depan bengkel akhirnya dia memarkirkan mobil dan turun


Nindy memakai baju turtleneck yang di lapisi jaket dengan celana pendek


pacar Damar dan orang yang ada di situ menatap dari atas sampai bawah


Melihat maha karya yang begitu indah kulit putih dengan kaki jenjang yang mulus


rambutnya di ikat ke atas membuat penampilan sederhana dapat memukau banyak pasang mata melihatnya


"Siapa dia sayang?" tanya pacar Damar posesif


"Sepupu aku masa kamu gak percaya" Damar meyakinkan pacarnya


"Tenang aja gue gak selera sama si Oncom, buruan ahh balik dingin nih"


"Mas nitip mobil saya awas jangan sampe lecet" tukang tambal malah bengong mendengar suara Nindy


"I..iiyy.. iya neng" jawabnya dengan susah payah


"Nindy... Lo yang nyetir ya?" Damar dengan bujuk rayunya agar bisa berpacaran di belakang


"Gue bukan taksi online, kesini juga terpaksa kalo gak bawa cewek ogah gue jemput" ucap Nindy memainkan ponselnya


"Nin siapa sih yang bikin anu anu? kayaknya mantep tuh" Damar dengan tidak malunya


"Apaan sih gue gak ngerti" sangkal Nindy


"Yang kita harus belajar dari cowoknya dia beuuhh tandanya itu " pacarnya menunduk malu dengan wajah memerah


Nindy langsung menjewer telinga Damar yang mengajak nakal pacarnya


"Jangan mau di apa apain sama cowok tengil meski pun di janjikan pertanggung jawaban, jangan hancurkan masa Depan kamu demi cinta karena sejatinya lelaki yang benar benar mencintai tulus tidak akan merusak harga diri wanitanya" mereka berdua menjadi diam seribu bahasa membuat Nindy menatap penuh tanya pada Damar lewat kaca spion


"Serius amat yang udah pengalaman" Damar mencairkan suasana


"Gue cuma ngasih saran aja, jangan kayak gue nikah ujung ujungnya bermasalah..


tapi untungnya gue di jodohkan bukan karena kebodohan gue" Nindy malah curhat


"Jadi yang bikin Lo belang belang siapa? pacar apa suami Lo?" tanya Damar


"Ya suami gue lah gila kali belum cerai bisa begituan Ama cowok lain" Nindy keceplosan ngegas


"Waaahhh berarti Bryan ganas dong" Damar dengan tawanya yang pecah


Nindy yang malu merebahkan tubuhnya di kursi belakang pura pura tidur


sementara pacar Damar sepertinya kurang nyaman dengan pembicaraan Damar


mereka pun sampai di rumah pacar Damar


"Makasih kak maaf ngerepotin" ucap pacar Damar sebelum turun


"Iya santai aja"


"Dadaaaa by nanti aku telpon ya kalo udah sampe rumah" ucap Damar


"Iya, hati hati ya" pacar Damar melambaikan tangan


Di perjalanan Nindy menatap Damar yang sedang mengemudi


Damar yang merasa di perhatikan mulai tidak nyaman dia gugup sesekali membuang muka kadang juga menggosok hidungnya meski tidak gatal


"Apa sih Nin liatin Mulu, risih tau" Damar mulai tidak nyaman dengan tatapan Nindy


"Jujur Lo pernah apain anak orang?" tanya Nindy membuat Damar gugup


"Gak.. gak.. ada"


"Bohong" Nindy penuh selidik


"Ya kalo enggak gue harus bilang apa?"


"Terus kenapa Lo sefrontal itu, kayak udah terbiasa gitu" ucap Nindy


"Astaga gue cuma iseng aja" Damar dengan santainya


"Aahh gila Lo iseng pake bawa bawa nama gue kan gue malu" gerutu Nindy


" Hahaha gue suka aja liat muka Lo kalo lagi malu"


"Rese" Nindy menoyor kepala Damar


Sesampainya di rumah Nindy mendapatkan telepon dari Leo


hanya sekedar menanyakan kabarnya


Leo


Dimana? apartemen di kosongin?


Nindy


iya males takut ketemu Bryan


Leo


Emang di apain kok takut?


Nindy


Eehh gak di apa apain, udah dulu ya gue ngantuk bye


Nindy menutup teleponnya dan memutuskan untuk tidur


Hai para leader mohon dukungannya ya

__ADS_1


tinggalkan like komen dan vote untuk membantu aku lebih semangat lagi up ceritanya 😍😍


__ADS_2