
Nindy meeting dengan beberapa perusahaan termasuk dengan Bryan
mereka sama sama tidak berani menatap satu sama lain
Hanya Bryan yang sesekali melirik Nindy yang berusaha tetap menatap kearah monitor
Meeting selesai semua sudah meninggalkan ruangan
tinggal Nindy sendiri disana dia masih melamun entah kenapa pikirannya selalu memikirkan malam itu
wajahnya selalu bersemu merah saat mengingatnya
perasaan benci, marah, rindu bercampur jadi satu
Lamunannya buyar saat mendengar dering di handphonenya
dia menjawab panggilannya
"Halo kak" Nindy mengawali pembicaraannya
"Gimana kantor aman? masih bisa handle?" tanya Leo
"Masih aman tapi jangan lama lama dong kak bosen nih di kantor tiap hari" keluh Nindy
"Hey perusahaan itu nantinya buat lo makanya belajar mengurusnya mulai sekarang" Nindy mendelikan matanya malas mendengar perkataan kakaknya
"Haahh bosannya bekerja kantoran"
"Setelah lo bisa menguasainya sendiri kakak akan berhenti kasih jatah bulanan" ucapan itu membuat Nindy tersentak dalam duduknya
"No.. no.. no.. kalo gue gak bisa dapet penghasilan gimana?" rengek Nindy
"Makanya kerja yang bener gue dulu juga gitu malah gak dapet bantuan sama sekali"
"Ohh iya gue lagi selidikin tentang mommy doain biar Nemu titik terang gue yakin mommy masih hidup" ucaap Leo sebelum menutup teleponnya
"Eehh udah jam 11 gue harus jemput Cia" Nindy teringat janjinya pada Cia
Dia keluar dari kantor mengemudi mobil menuju sekolah Cia
dia melihat sebuah mobil di belakang seperti sedang mengikutinya
Nindy memarkirkan mobilnya di area sekolah melihat orang yang ada di mobil ternyata keluar ngobrol dengan security
sepertinya menanyakan alamat
Cia datang dengan segerombolan anak anak memeluk kaki Nindy yang masih memperhatikan orang itu
Nindy terkejut lalu menatap siapa yang memeluk kakinya
senyum manis terbit di wajah cantiknya
"Temen temen ini mama aku, aku udah bilangkan kalo sekarang aku punya mama" ucap Cia polos
"Bukan mama asli ya" ucap salah satu murid lalu mereka tertawa
Wajah Cia berubah murung Nindy lalu menggendongnya
Nindy heran darimana anak anak seusia mereka bisa mengatakan hal hal jahat dan melakukan bullying
"Kalian gak boleh gitu harus bisa menghormati satu sama lain, tidak baik berbicara buruk terhadap teman sendiri" Nindy menasehati mereka
Anak anak itu hanya saling sikut dan tertunduk
Nindy segera membawa Cia pergi dari sana
tanpa dia sadari orang yang tadi mengikutinya masih ada disana bahkan memotretnya dengan Cia diam diam
"Cia mau makan apa? kita makan siang dulu" tanya Nindy
"Apa aja ma, asal sama mama makannya pasti enak" Nindy menganga tak percaya Cia bisa mengatakan hal seperti itu
"Haahhaa dari mana kata kata itu? lucu sekali" Nindy tertawa dia teringat itu yang Bryan selalu katakan ketika menggombalinya
Tawanya perlahan hilang dia tidak mengerti kenapa dia malah mengingat Bryan
sesampainya di sebuah cafe Nindy makan disana bersama Cia
Cia makan dengan lahapnya sambil menatap mengitari cafe itu
"Om" teriak Cia saat melihat Bryan yang tidak sengaja melihatnya
Bryan menghampirinya tersenyum dia tidak menyadari ada Nindy karena dia membelakangi Nindy
Bryan sekarang berdiri tepat dihadapan Cia mengelus rambutnya
Bryan baru sadar ternyata yang di depan Cia adalah Nindy
dia hanya menunduk menikmati makannya
"Ma ada om ini liat ma" Cia mengguncang tangan Nindy diatas meja
"I.. iy..iya sayang" Nindy perlahan mengangkat kepalanya menatap Bryan
Mereka jadi sama sama salah tingkah
semenjak kejadian malam itu hubungan mereka jadi renggang kembali
Nindy merasa takut bertemu Bryan dan Bryan merasa malu bertemu Nindy
"Om kesini sama siapa?" tanya Cia
"Sendiri, Om kerja disini" ucapannya membuat Cia mengangguk
"Duduk Om disini " ucap Cia menepuk kursi disampingnya
Bryan tidak bisa menolak keinginan Cia dia tidak bisa melihat wajah sedihnya
akhirnya dia duduk berhadapan dengan Nindy
"Om kerja apa disini?" tanya Cia
"Ini cabang cafe Om"
"Maksudnya gimana?" tanya Cia polos
"Maksudnya ini cafe baru Om" jelas Bryan
"Sayang cepat habiskan makannya mama harus kerja lagi" Nindy menjadi canggung dengan kehadiran Bryan
"Iya ma bentar lagi habis" ucap Cia
Nindy dan Cia selesai makan ketika hendak memanggil waiters untuk membayar Bryan menghentikannya
__ADS_1
"Gak usah bayar anggap saja promo pembukaan cabang baru" ucap Bryan
"Gak perlu saya gak suka gratisan" Nindy menyerahkan uang pada waitersnya
"Saya permisi" Nindy pergi menuntun Cia
"Dadaaaa om" Cia melambaikan tangan ke arah Bryan dan dia membalasnya
"Mama kenapa sih galak banget sama om itu? katanya itu suami mama" lagi lagi Cia bertanya polos
"Sshhttt jangan bilang itu Kitakan udah janji jaga rahasia" ucap Nindy menangkup wajah Cia
"Maaf ma Cia lupa" Cia mengambil tangan Nindy dan menciumnya sebagai tanda permintaan maaf
"Udah gak apa apa"
"Ma sebentar lagi Cia sekolah mama mau gak nganter Cia ke sekolah baru" Cia meminta dengan takut, takut Nindy menolak
" Eemmhh iya mama usahain tapi ada syaratnya"
"Apa syaratnya?" tanya Cia
"Cia harus rajin belajar dan buat mama bangga" Cia berjanji lalu memeluk Nindy
Hatinya menghangat saat Cia memeluknya dia rindu sosok anaknya bila berdekatan dengan Cia
entah kemana dia sampai sekarang belum di temukan
tidak terasa air matanya menetes Cia mendongak melihat tetesan apa yang jatuh di pundaknya
"Mama kenapa nangis? Cia nakal ya? atau Cia nyakitin mama?" tanya Cia segera menjauhkan tubuhnya dari Nindy
"Bukan sayang ini tangisan bahagia karena mama bersyukur bisa ketemu anak sepintar kamu" Nindy mengusap air matanya mencuil hidung Cia lalu memeluknya
Ditempat lain Maria sedang berbincang di telpon
dia mematikan panggilannya lalu melihat foto foto yang di kirim ke email nya
dia pasti merencanakan sesuatu
Setelah mengantar Cia Nindy pergi ke kantor polisi untuk menjenguk ayah
saat ayah keluar betapa teririsnya hati Nindy melihat penampakan ayah
tubuhnya yang dulu gagah dan wajah berwibawa sekarang kurus dan tidak terurus
Nindy menyalami ayahnya dia memeluknya erat
untuk pertama kalinya Nindy memeluk ayah mertuanya
dia prihatin dengan kondisi ayahnya
"Ayah makan ini ya Nindy temenin" Nindy mengulurkan rantang makanan
Ayah hanya mengangguk selanjutnya ayah makan dengan lahapnya
sesekali Nindy mengusap buliran bening yang menggenang di matanya
dia teringat akan ayahnya yang sudah tiada
"Ayah kenapa ayah bisaa di penjara?" Nindy bertanya saat ayah sudah menghabiskan makanannya
"Entahlah nak, waktu bundamu koma ayah tidak fokus dengan kerjaan ayah selalu mengurusinya bunda " pungkasnya
"Bagaimana keadaan Bryan apa kamu sudah bertemu dengan-nya? tanya ayah
"Sudah ayah dia baik baik saja dan perusahaannya sudah stabil sekarang"
"Apa dia tidak pernah kesini?" tanya Nindy
"Seminggu sekali dia kesini ayah cuma mau tau kamu bertemu dia atau tidak" Nindy terkejut ternyata ayah mengecohnya
"Dari mana kamu tau perusahaannya baik baik saja? apa kalian bersama lagi?" ada harapan di mata ayah
" Tidak ayah hanya perusahaan kita yang bekerja sama, Nindy mewakili perusahaan Alexander" ayah terkejut mendengar perkataan Nindy
"Gimana bisa Bryan bekerjasama dengan cabang perusahaan besar yang terkenal itu?" tanya ayah antusias
"Nindy gak tau yah, setau Nindy CEO.nya teman satu kampus dulu sama Bryan " ayahnya bersyukur perusahaan yang di bangunnya dari nol dulu kembali stabil
"Ayah titip Bryan dan bunda ya nak, banyak banyak temani bundamu" hati Nindy mencelos mendengar perkataan ayah
Pasalnya dia malah jarang sekali bertemu bunda
dia bertekad mulai hari ini dia akan memperhatikan bunda
"Ayah tenang aja Nindy akan bantu ayah keluar dari sini secepatnya" ayah hanya mengangguk angguk
Hari sudah gelap Nindy mengakhiri kegiatannya
dan sekarang dia sedang berbaring di ranjang menghilangkan rasa penatnya
terdengar suara ketukan pintu dan suara Damar
Nindy membuka pintu Damar menatapnya menahan tawa
"Lo kenapa sih tiap lihat gue? ada yang lucu?" Nindy melihat ekspresi wajah Damar yang berusaha menahan tawanya
"Lo pake baju tertutup gitu sepanjang hari gak gerah? " tanya Damar yang Nindy sudah tau akhirnya dia pasti mengejek Nindy
"Kagak, udah sana aahh gue males debat Ama Lo" ketus Nindy mendorong bahu Damar
"Eits sabar dulu bos ku, gue kesini cuma mau pinjem mobil" ucap Damar dengan cengir kudanya
Nindy berbalik mengambilnya kunci dan melemparnya kearah Damar
Damar menangkapnya dengan satu tangan
"thank you baby" Damar sudah berbalik hendak pergi tapi Nindy menarik baju bagian pundak Damar seperti kucing
" Tunggu dulu mau kemana?" tanya Nindy
"Kencan baby Lo mau ikut?"
"Ogah, gue cuma mau pesen mobil gue jangan di pake mantap mantap nanti apes" Damar tidak percaya Nindy mengatakan hal itu
"Hey baby Lo kalo ngomong suka Ngadi Ngadi mana ada gue kayak gitu , gue bukan cowok yang nafs*an bikin cewek kayak macan tutul" ucap Damar langsung ngibrit lari
"Sialan gue sumpahin kempes dah tuh mobil" Nindy sumpah serapah
Sekitar pukul 11 malam Damar menelpon Nindy
dengan malas Nindy menjawab dengan mata masih terpejam
__ADS_1
"Ape sih mar?" suara Nindy masih serak karena bangun tidur
"Mobil Lo kempes, mana dua ban lagi Lo jemput gue ya gue harus nganterin cewek gue pulang" Nindy segera membuka matanya lebar lebar dan tertawa terbahak
"Itu karma Lo udah pinjem mobil gue mana ngeledekin lagi, mampus mamam sendiri" Nindy masih tergelak
"Ayo lah Nindy bantu sepupumu ini, kasihan bidadariku kelamaan nunggu ganti ban" Damar memelas
"Iya iya atas nama perikemanusiaan gue jemput, kalo Lo Sekate Kate lagi Ama gue awas aja Lo" ancam Nindy
Akhirnya Nindy menuju tempat yang sudah Damar sharelok
menggunakan mobil Damar yang harganya di bawah mobil Nindy
Damar meminjam mobil Nindy hanya untuk bergaya di depan pacar
Nindy melihat Damar di depan bengkel akhirnya dia memarkirkan mobil dan turun
Nindy memakai baju turtleneck yang di lapisi jaket dengan celana pendek
pacar Damar dan orang yang ada di situ menatap dari atas sampai bawah
Melihat maha karya yang begitu indah kulit putih dengan kaki jenjang yang mulus
rambutnya di ikat ke atas membuat penampilan sederhana dapat memukau banyak pasang mata melihatnya
"Siapa dia sayang?" tanya pacar Damar posesif
"Sepupu aku masa kamu gak percaya" Damar meyakinkan pacarnya
"Tenang aja gue gak selera sama si Oncom, buruan ahh balik dingin nih"
"Mas nitip mobil saya awas jangan sampe lecet" tukang tambal malah bengong mendengar suara Nindy
"I..iiyy.. iya neng" jawabnya dengan susah payah
"Nindy... Lo yang nyetir ya?" Damar dengan bujuk rayunya agar bisa berpacaran di belakang
"Gue bukan taksi online, kesini juga terpaksa kalo gak bawa cewek ogah gue jemput" ucap Nindy memainkan ponselnya
"Nin siapa sih yang bikin anu anu? kayaknya mantep tuh" Damar dengan tidak malunya
"Apaan sih gue gak ngerti" sangkal Nindy
"Yang kita harus belajar dari cowoknya dia beuuhh tandanya itu " pacarnya menunduk malu dengan wajah memerah
Nindy langsung menjewer telinga Damar yang mengajak nakal pacarnya
"Jangan mau di apa apain sama cowok tengil meski pun di janjikan pertanggung jawaban, jangan hancurkan masa Depan kamu demi cinta karena sejatinya lelaki yang benar benar mencintai tulus tidak akan merusak harga diri wanitanya" mereka berdua menjadi diam seribu bahasa membuat Nindy menatap penuh tanya pada Damar lewat kaca spion
"Serius amat yang udah pengalaman" Damar mencairkan suasana
"Gue cuma ngasih saran aja, jangan kayak gue nikah ujung ujungnya bermasalah..
tapi untungnya gue di jodohkan bukan karena kebodohan gue" Nindy malah curhat
"Jadi yang bikin Lo belang belang siapa? pacar apa suami Lo?" tanya Damar
"Ya suami gue lah gila kali belum cerai bisa begituan Ama cowok lain" Nindy keceplosan ngegas
"Waaahhh berarti Bryan ganas dong" Damar dengan tawanya yang pecah
Nindy yang malu merebahkan tubuhnya di kursi belakang pura pura tidur
sementara pacar Damar sepertinya kurang nyaman dengan pembicaraan Damar
mereka pun sampai di rumah pacar Damar
"Makasih kak maaf ngerepotin" ucap pacar Damar sebelum turun
"Iya santai aja"
"Dadaaaa by nanti aku telpon ya kalo udah sampe rumah" ucap Damar
"Iya, hati hati ya" pacar Damar melambaikan tangan
Di perjalanan Nindy menatap Damar yang sedang mengemudi
Damar yang merasa di perhatikan mulai tidak nyaman dia gugup sesekali membuang muka kadang juga menggosok hidungnya meski tidak gatal
"Apa sih Nin liatin Mulu, risih tau" Damar mulai tidak nyaman dengan tatapan Nindy
"Jujur Lo pernah apain anak orang?" tanya Nindy membuat Damar gugup
"Gak.. gak.. ada"
"Bohong" Nindy penuh selidik
"Ya kalo enggak gue harus bilang apa?"
"Terus kenapa Lo sefrontal itu, kayak udah terbiasa gitu" ucap Nindy
"Astaga gue cuma iseng aja" Damar dengan santainya
"Aahh gila Lo iseng pake bawa bawa nama gue kan gue malu" gerutu Nindy
" Hahaha gue suka aja liat muka Lo kalo lagi malu"
"Rese" Nindy menoyor kepala Damar
Sesampainya di rumah Nindy mendapatkan telepon dari Leo
hanya sekedar menanyakan kabarnya
Leo
Dimana? apartemen di kosongin?
Nindy
iya males takut ketemu Bryan
Leo
Emang di apain kok takut?
Nindy
Eehh gak di apa apain, udah dulu ya gue ngantuk bye
Nindy menutup teleponnya dan memutuskan untuk tidur
Hai para leader mohon dukungannya ya
__ADS_1
tinggalkan like komen dan vote untuk membantu aku lebih semangat lagi up ceritanya 😍😍