Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Dijodohkan Dengan Ketos Galak
eps 74


__ADS_3

Dara dan yang lainnya sedang sarapan namun tidak dengan Meira dia memilih diam di kamar


Dara menyimpan makanan di piring lain untuk Meira dan hendak memberikannya


Dara berdiri dari kursi membawa makanan dan segelas air


"Mau kemana??" tanya Leo


"Mau ngasih sarapan dulu sama Meira"


"Nanti aja abisin dulu makananmu" Dara kembali duduk menuruti perkataan Leo


Setelah selesai dengan sarapannya Dara segera ke kamar mengantarkan makanan


Dara kesusahan membuka pintu karena membawa nampan


Leo yang melihat itu membantu membawakan nampannya dan masuk terlebih dulu


Meira bangun dari tempat tidur mengira Leo masuk sendiri


"Leo makasih semalem udah nolongin gue" Ucap Meira yang kini sedang berdiri di hadapan Leo


"Ini sarapan buat lo"


"Makasih lagi lagi lo perhatian sama gue"


"Bukan gue yang siapin ini dari Dara, sayang sini ngapain bengong disana" Leo memanggil Dara yang berada di balik pintu


"Oh makasih Dara" ucap Meira tersenyum


"Di abisin ya, gue masih ada urusan pergi dulu bye" ucap Dara lalu pergi meninggalkan Meira dan Leo


"Lo bisa temenin gue makan? " ucap Meira pelan


"Sorry gak baik laki laki dan perempuan berada di satu ruangan lama lama, gue susul Dara dulu" ucap Leo berlalu pergi


"Mungkin gue terlalu berharap " lirih Meira menyimpan makanannya di meja


Leo mencari cari Dara tapi tidak juga di temukan


orang rumah tidak tau kemana Dara pergi Leo yang khawatir berkeliling rumah mencari dan menemukan Dara berada di sungai dekat rumahnya


"Lagi ngapain? " tanya Leo duduk di sebelah Dara


"Gak, enak aja duduk disini"


"Enak emangnya di cicipin?" ucap Leo membuat Dara memandangnya dengan kesal


"Gak lucu"


"Kamu kenapa? lagi marah? "


"Gak"


"Aku bikin salah apa? "


"Gak ada"


"kamu kesel sama aku? "


"Gak Leo, kamu berisik banget sih"


"Bilang apa sekali lagi? "


"Leo berisik"


"Berani panggil nama" Leo menyentil pelan bibir Dara membuat si empunya mengatupkan bibirnya rapat rapat


"Sakit, emang namanya Leo kan? "


"Panggil sayang"


"Gak"

__ADS_1


"Aku selalu panggil kamu sayang tapi aku gak pernah denger kamu panggil aku sayang"


"Minta Meira aja panggil sayang"


"Oohh kamu lagi cemburu? " goda Leo mencuil dagu Dara


"Gak sama sekali"


"Terus kenapa bawa bawa nama dia? "


"Aku liat kayaknya dia ngarep aja sama kamu, aku tau dia suka sama kamu" ketus Dara


"Ya biarin aja yang penting kan akunya enggak"


"Aku gak suka aja kamu dekat dekat sama dia"


"Gak ada juga yang dekat dekat sama dia, aku tadi cuma bantuin kamu, kamu sendiri malah gak masuk"


"Aku mau liat aja reaksinya kalo kamu yang nganter ternyata bener dia seneng banget"


"Jangan lakuin hal hal yang buat kamu berpikiran yang macem macem"


"Maksudnya? "


"Ya uji coba kayak tadi, itu cuma akan menimbulkan masalah kamu cukup percaya sama aku gak ada wanita lain selain kamu" Leo membawa Dara ke pelukannya


Drrttttt drrttttt


Leo mengambil handphonenya di saku celana dan menjawab panggilan


"Hallo" melihat Dara yang menatapnya serius Leo meloudspekeer teleponnya


"Gue sama Nindy harus balik hari ini, gue bawa mobil lo ya" ternyata itu suara Bryan


"buru buru banget"


"Kerjaan banyak Reno ke teter, gue udah siap siap"


"Oke gue pulang sekarang gak ada waktu nunggu orang pacaran" Bryan menutup teleponnya


"Siapa juga yang mau di tungguin"


"Jadi Nindy pulang duluan? " tanya Dara


"Iya, kasihan Reno kerjaannya banyak" jawab Leo


"Apa gak sebaiknya kita pulang juga? aku gak enak ninggalin kerjaan"


"Biarinlah sekali kali libur agak lamaan, aku masih mau berduaan" Leo kembali menarik Dara ke pelukannya


"Ohh aku lupa bilang sama kamu, aku udah beli rumah buat kamu"


"Rumah? tapi kita punya rumah, apartemen buat apa beli lagi? " tanya Dara


"Aku cuma mau ngasih kamu sama anak anak kita kelak rumah yang nyaman yang layak yang akan kita tempati sampai tua bersama sama" ucap Leo


"Baiklah, kalo Sultan mah bebas mau beli rumah berapa banyak"


"Iya aku kan kaya" ucap Leo sesumbar


"Sombong" Dara mencebikkan bibirnya


.


.


Di tempat Maria berada sekarang dia sedang sangat kesal mendengar kabar Leo dan Dara akan segera menikah


dia berpikir bisa bisanya mereka hidup bahagia sementara dirinya semakin menderita


"Akan gue balas semuanya" Maria mengepalkan tangannya kuat kuat


"Gara gara kalian wajah gue hancur, hidup gue hancur kalian harus hancur sama sama"

__ADS_1


Di tempat lain Ashok sedang menerima telepon dari seseorang


nampaknya Ashok sangat serius


"baiklah nampaknya sekarang cukup aman jika dia sudah masuk penjara, aku hanya takut dia masih mencariku"


"Jaga dirimu baik baik, aku yakin dia tidak akan menyakitimu dia sangat mencintaimu" lanjut Ashok sebelum menutup teleponnya


"Kenapa aku dulu harus membantunya, hidupku jadi tidak tenang sekarang" gumam Ashok


.


.


Sejak kejadian malam itu Meira baru sekarang keluar dari kamar


Meira menghampiri Leo dan Dara yang nampaknya akan pergi


"Mau kemana? " tanya Meira


Dara melihat wajah Meira yang nampak murung dan sedih pun menghela nafas


"Kita mau pergi kalo mau ikut ayo"


"Sayang kenapa.. " ucapan Leo terhenti saat Dara menatapnya tajam


"Oke kamu menang" ucap Leo pergi lebih dulu


Sekarang mereka bertiga sedang ada di dalam mobil


hening tidak ada yang bicara satu pun


Dara memperhatikan Meira yang menatap Leo dari pantulan kaca


Sebenarnya Dara tidak ingin mengajak Meira tapi karena dia yang membawa Meira dan tidak ada Nindy di rumah terpaksa dia mengajaknya


"Sayang" Dara bergelayut manja di lengan Leo


"Apa" Leo mengecup kepala Dara


"Kapan kita pulang? " tanya Dara


"Terserah kamu, aku ikut kamu aja " jawab Leo


"Sampai" lanjut Leo, mereka pergi ke sebuah pameran tempat bermain


Dara masih memeluk lengan Leo dengan jarinya yang menulis abstrak di dada Leo


Meira hanya menatap mereka dengan hati yang perih namun berusaha menyembunyikannya


"Meira lo bisa turun duluan, tunggu kita di pintu masuk" ucap Leo


"Oke" dengan berat hati Meira turun dan pergi menjauh dari mobil


"Ayo turun" ucap Dara melepaskan Leo begitu saja


Belum sempat Dara membuka pintu Leo menarik tangannya


dan menyerangnya dengan ciuman Dara tidak bisa mengelak


"Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja? " Leo dengan nafas terengah mengusap bibir Dara


"Sekarang sudah boleh pergi? " Dara hendak kabur namun Leo masih menahannya


"Gak" Leo kembali mencium Dara menurunkan kursi mobil Dara


"Mereka menyuruhku pergi lebih dulu harusnya aku mengerti ini dari awal" Meira tersenyum miris


Niat Meira mengambil handphonenya yang tertinggal malah melihat adegan Dara dan Leo membuat hatinya lagi lagi terkoyak


mengapa takdirnya hanya mencintai pria milik orang lain


"Kenapa aku di takdirkan seperti ini" lirihnya sambil duduk menunggu Dara Dan leo

__ADS_1


__ADS_2