
Nindy sedang duduk di ranjang menatap Poto ibunya
dia mencium dan memeluk Poto ibunya seraya meneteskan air mata
terdengar suara pintu terbuka Nindy segera menghapus air matanya dan menyimpan poto ibunya
sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang
Nindy sudah tau itu tangan suaminya dia berbalik mengalungkan tangannya di leher Bryan
mengecup sekilas bibir suaminya
"Sekarang semakin mengganjal ya" ucap Bryan sedikit mengeratkan pelukannya
"He'emm.. " singkat Nindy menyandarkan kepalanya di dada Bryan
Bryan tau istrinya habis menangis terlihat hidungnya yang memerah dan mata yang sedikit sembab
Bryan mengusap lembut rambut Nindy
sesekali mengecup pucuk kepalanya
"Jangan sedih lagi nanti baby ikutan sedih" ucap Bryan
"Aku cuma sedih kenapa orang tua aku buang aku gitu aja" lirih Nindy
"Ibu gak buang kamu, kamu yakin kan sama ketentuan tuhan? jodoh,rezeki,maut sudah di atur yang maha kuasa" ucap Bryan
"Bukan itu, ahh sudahlah kamu gak bakalan ngerti" ucap Nindy
"Apa ada sesuatu yang belum kamu ceritakan?" tanya Bryan
Nindy bangkit dari duduknya mengambil sesuatu di lemari
lalu memperlihatkannya pada Bryan dan Bryan mengambilnya
"Ini kalung siapa?" tanya Bryan
"Ibu kasih kalung itu katanya dulu waktu ibu menemukanku hanya kalung itu yang ada bersamaku" ucap Nindy
"Jadi kamu.." ucap Bryan terputus
"Iya aku anak angkat, apa kamu malu punya istri yang di buang keluarganya?" ucap Nindy seraya menangis dan tertawa bersamaan
"Enggak sayang, aku sayang sama kamu cinta sama kamu tulus gak peduli status keluarga kamu, cuma ada kamu dan baby di hati aku" ucap Bryan seraya mendudukkan Nindy di pangkuannya
"Aku cuma punya kamu, jangan tinggalin aku jangan hianatin aku" ucap Nindy menangkup wajah Bryan
"Aku janji gak bakal ninggalin kamu, kalo aku khilaf kamu boleh lakuin apapun sama aku" ucap Bryan
"Khilaf? kamu udah niat mau khilaf?" tanya Nindy seraya memukul dada Bryan
"Gak gitu aku cuma becanda" ucap Bryan seraya tertawa di pukuli Nindy
"Kalo kamu berani selingkuh aku bakal tinggalin kamu, aku bawa baby sama aku biar kamu gak bisa ketemu kita lagi" ucap Nindy menjewer kuping Bryan
"Aduuhh duhh iya aku janji gak bakal macem macem lepas dong" ucap Bryan melepaskan tangan Nindy dari telinganya
Lalu Bryan kembali memeluk Nindy tapi perutnya sekarang yang menendang keperut Bryan
Bryan menatap Nindy dengan senyum yang sangat bahagia
"Jadi anak papa juga protes? " ucap Bryan lalu menciumi perut Nindy bertubi-tubi
Nindy yang merasa geli tertawa terpingkal pingkal
karena Bryan menciumi perutnya tanpa henti
"Udah sayang aku cape" ucap Nindy barulah Bryan menghentikannya
"Temenin aku makan yuk?" ajak Bryan
"Aku baru selesai makan, masih kenyang" ucap Nindy
"Kamu gak usah makan temenin aku aja" ucap Bryan
"Ya udah iya ayo" Nindy mengulurkan tangannya minta di bantu berdiri
"Yang ini sebaiknya pake aja, siapa tau jadi petunjuk buat kamu nemuin keluarga kamu" ucap Bryan memakaikan kalung pada Nindy
"Aku udah gak peduli sama mereka, sekarang aku udah punya keluarga yang sayang sama aku, kayaknya aku gak butuh mereka" ucap Nindy
"Hei istri aku gak boleh jadi pendendam dong, sayang kamu belum tau alasan kenapa keluarga kamu ninggalin kamu siapa tau mereka ada masalah atau apa gitu? siapa tau mereka selama ini juga nyariin kamu" ucap Bryan
"Mungkin, ya udah aku pake aja siapa tau mereka inget sama aku" ucap Nindy
"Gitu dong jangan pernah menaruh dendam pada siapapun, dendam hanya akan melebur hidup kamu perlahan lahan" jelas Bryan
"Iya guru" ucap Nindy mengatupkan kedua tangannya di dada
Bryan yang gemas dengan tingkah Nindy mencubit pipi Nindy yang menggembung
karena sedang hamil besar otomatis badan langsingnya benar benar berubah seperti beruang
seperti apa yang sering di katakan Bryan sebagai panggilan sayangnya
Nindy menemani Bryan makan di meja makan
tapi Nindy cemberut di buat kesal oleh Bryan
Bryan makan tapi juga terus menyuapi Nindy
padahal beberapa jam sebelum Bryan pulang dia sudah makan
Tapi dia dipaksa makan lagi oleh Bryan mau tidak mau dia hanya menurut saja
"Aku udah kenyang sayang, kamu gak liat badan aku udah bulet gini?" ucap Nindy
"Aku suka kalo kamu makin montok, semuanya makin membesar" ucap Bryan menaik turunkan alisnya
"Kamu iihhh.... ngomong apaan sih" ucap Nindy merasa malu takut di dengar orang lain
"Aku jujur aku lebih suka kamu melebar" ucap Bryan
"Tangannya di kondisikan deh malu kalo di lihat orang" bisik Nindy
"Tapi kalo di kamar boleh dong" Bryan ikut berbisik
"Tau ahh bisa eror aku kalo terus Deket kamu" ucap Nindy seraya berjalan menjauh
" Mau kemana?" tanya Bryan
"Mau nyamperin bunda di taman belakang" ucap Nindy tanpa berbalik
Nindy melihat bundanya sedang menyiram tanaman
lalu berjalan mendekati bunda yang langsung menengok saat mendengar suara langkah kaki
__ADS_1
"Sayang, duduk sini" ajak Bunda
"Bunda mau Nindy bantu?" tanya Nindy
"Gak usah nak ini pegel harus berdiri kamu kasih makan ikan aja" ucap bunda mengulurkan wadah berisi makanan ikan
"Kenapa gak nyuruh bibi aja Bun ?" tanya Nindy
"Kalo buat bunda nyirem tanaman kasih makan ikan itu hal yang bisa ngilangin stress buat ngisi waktu luang juga" ucap Bunda
"Ooh gitu" jawab Nindy
"Yang masuk yuk" teriak Bryan di ambang pintu
"Gak ahh masih sore aku mau nemenin bunda aja" ucap Nindy
"Bryan masih sore buru buru amat" sindir bunda sambil terkikik
"Apaan sih bunda, Bryan kan pengen manja manjaan sama istri Bryan " ucap Bryan
"Preeet manja manja apaan bantuin ayah kek kerja ngapain pulang sore sore" ucap bunda
"Bunda sayang cemburu atau sirik gak bisa mesra mesraan sama ayah?" ucap Bryan mendekati bunda dan merangkul bahunya
"Bocah gendeng" ucap bunda menjitak kepala Bryan
Nindy tersenyum melihat interaksi antara ibu dan anak yang tidak canggung
bunda bisa menjadi teman dan orang tua karena sifatnya yang supel
Bunda mendekati Nindy menuntun tangannya tanpa berbicara
meninggalkan Bryan yang kesal karena bunda malah mengajak Nindy pergi
"Mau kemana Bun?" tanya Nindy
"Mau petik buah" ucap bunda
"Emang ada pohonnya?" tanya Nindy
"Kamu belum pernah liat ya nih" ucap bunda membuka pintu gerbang belakang yang langsung menuju taman buah kecil di belakang halaman rumah
"Nindy kira ini jalan keluar " ucap Nindy
Nindy melihat tanah yang tidak begitu luas tapi di penuhi pohon buah
ada anggur, strawberry, jambu Cristal, jambu air, mangga, dengan pohon pendek tapi berbuah lebat dan tanaman sayur hidroponik
Nindy di buat takjub dengan taman buah milik bunda
dia melangkahkan kakinya masuk ke halaman kedua itu
meskipun tempatnya tidak begitu luas dengan pagar tembok yang mengelilinginya
tapi taman itu berbuah lebat
"Kamu boleh petik apapun yang kamu mau" ucap bunda
"Beneran Bun?" tanya Nindy
"Iya ini keranjangnya" ucap bunda mengulurkan sebuah keranjang
selesai memetik buah bunda dan Nindy membawa kedapur dan mencucinya
sekarang Nindy sedang duduk di meja makan menikmati buah hasil panennya sementara bunda pergi mandi
Nindy melotot membuka kembali mulut Bryan dan mengambil strawberry yang masih keluar setengah
Nindy mengambilnya dan memakannya membuat Bryan menganga tak percaya
"Pelit banget" ucap Bryan
"Ini bunda yang petikin buat aku kamu petik sendiri aja" ucap Nindy lalu memangku dan memeluk keranjangnya sendiri
"Dasar pelit" ujar Bryan memeletkan lidahnya sebelum pergi
Nindy hanya memalingkan wajahnya masih memakan buah yang ada di tangannya
Bryan mengambil cemilan dan menonton tv
karena strawberry nya habis Nindy mengikuti Bryan yang sedang menonton tv
Nindy duduk di samping Bryan tangannya terulur mengambil cemilan yang ada di tangan bryan tapi Bryan langsung menutupnya
Nindy cemberut menyilangkan tangan di dadanya menatap ke depan
Bryan menahan tawa melihat Nindy yang kesal
dia juga melakukan hal yang sama yang di lakukan Nindy
Bryan menyerahkan bungkusannya membuat Nindy berbinar senang
Tapi beberapa saat raut wajah Nindy kembali murung
bibirnya bergetar dengan air mata yang menggenang hampir menangis
ternyata bungkusan yang di berikan Bryan sudah habis
Bryan tertawa melihat Nindy yang hampir menangis hanya karena cemilan
akhirnya air matanya lolos juga setelah dia tahan tahan
Bryan panik menenangkan Nindy dia takut dimarahi bunda
"Aduh jangan nangis dong" ucap Bryan tapi Nindy semakin mengencangkan suaranya
"Huuaaaaaa haaaaaaa" tangis Nindy
"Aku ambilin yang banyak tapi jangan nangis" ucap Bryan seraya bergegas pergi ke dapur
Nindy mengintip dengan sebelah mata dengan senyum liciknya
setelah Bryan membawa berbagai cemilan barulah Nindy diam dan mengelap air mata dan ingusnya lalu tersenyum
Malam ini untuk menghibur Nindy Bryan mengajak Nindy dan sahabatnya jalan jalan ke mall
mereka sedang memilih perlengkapan bayi
"Dara yang pink aja lebih lucu" ucap Wina
"Yang biru aja bagus tuh " ucap Dara
"Kalian kenapa sih kita gak tau baby-nya cewek apa cowok" ucap Nindy
"eehh iya" ucap Wina menggaruk kepalanya
"Emang gak USG gitu?" tanya Dara
__ADS_1
"USG sih tapi gue nyuruh dokternya biar gak ngomongin jenis kelamin biar surprise" ucap Nindy
"Sayang aku ke toilet dulu ya" ucap Bryan yang sedari tadi hanya membuntuti mereka
saat Nindy sedang berjalan melihat setiap peralatan bayi
dia tidak berhati hati sampai menabrak bahu seseorang
seseorang itu berbalik dan menyapa Nindy
"Hai lagi pada ngapain disini?" tanya Leo
"Lagi nganter Nindy beli perlengkapan bayi" ucap Wina mendekati Leo seraya merapihkan rambut
" kak Leo sendiri ngapain disini?" tanya Nindy
"Lagi beli baju buat anak asuh" ucap Leo sambil memilih baju bayi
"Kak Leo punya anak?" tanya Wina kaget
"Iya anak asuh di panti" ucap Leo
"Ohh iya gue mau pamit sama kalian, besok pagi gue mau pulang kampung.. thanks ya udah mau jadi temen gue" ucap Leo mengulurkan tangannya pada Nindy
"Iya kak, hati hati di jalan" ucap Nindy menjabat tangan Leo
"Kita gak di salamin nih?" ucap Wina mengulurkan tangannya
Dara pun menoyor kepala Wina membuat mereka tertawa
lalu Leo menjabat tangan mereka satu persatu
lalu Leo pamit pergi, saat berjalan Leo berpapasan dengan Bryan
Bryan menatap sinis pada Leo yang hanya di balas senyum olehnya
"Kak Leo mau pulang kemana?" tanya Wina
"Ke Amerika" singkat Nindy
"Wow pantesan wajahnya bule ternyata ada turunannya" ucap Wina
"Kebayang gak sih kalo punya suami bule entar anak gue kayak apa cakepnya" lanjut Wina sudah membayangkannya
"Anak Lo kayak kebo" ucap Dara dan mereka pun tertawa
Saat Bryan sudah mendekat mereka pun diam pura pura memilih baju
"Ngapain dia?" tanya Bryan
" Cuma kebetulan ketemu" jawab Nindy
"Jangan bohong kamu" ucap Bryan
"Aku jawab jujur, lagian siapa sih yang mau sama orang bunting" ucap Nindy ketus seraya pergi
Wina dan Dara terkikik melihat Bryan kena semprot oleh Nindy
Bryan menatap mereka dengan tatapan membunuh membuat mereka bergidik ngeri
dan mereka berlari mengejar Nindy
Malam ini Nindy begitu senang diajak Bryan keliling mall
belanja, nonton dan makan bersama sahabatnya dan suami tercinta
Nindy memijat kakinya di ranjang
Bryan baru saja keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk yang di lilit di pinggangnya
Nindy menelan salivanya melihat perut kotak Bryan dengan otot otot yang menonjol
Bryan tau apa yang di pikirkan Nindy yang menatapnya tak berkedip
Bryan mendekati Nindy duduk disampingnya ikut memijat kaki Nindy membuatnya terkejut
"Kamu pake baju dulu sana" ucap Nindy seraya memalingkan wajah menepis lembut tangan Bryan
"Emang kalo gini kenapa?" ucap Bryan malah menaruh tangan Nindy di perutnya
Wajah Nindy memerah dia memejamkan mata
merasa malu padahal Bryan itu suaminya sendiri
Bryan menangkup wajah Nindy menghadapkan pada wajahnya
wajah Bryan semakin mendekat mengikis jarak antara mereka lalu menjauh
Nindy menggerutu di dalam hati dia benar benar kesal dengan perbuatan Bryan
Nindy memutuskan untuk tidur lebih dulu
saat Bryan sudah memakai bajunya dia melihat Nindy sudah tertidur
Bryan membangunkannya tapi dia tidak kunjung bangun
akhirnya Bryan juga merebahkan dirinya dan tertidur memeluk Nindy
di tempat lain Leo mendapatkan telepon dari orang suruhannya
dia batal pergi ke luar negeri Karena ada kabar tentang keberadaan adiknya disana
"Jadi kalian sudah menemukannya?" tanya Leo
"Belum bos kami hanya tau adik anda di asuh oleh pasangan suami istri yang mengambilnya di panti asuhan dulu" ucap orang tersebut
"Baiklah itu perkembangan yang lumayan cari tau lebih banyak, saya akan membatalkan kepulangan saya" ucap Leo
"Baik bos" jawabnya
Triiiinngggg
sebuah pesan masuk ke handphone Nindy mengganggu pendengaran Bryan yang baru saja memejamkan matanya
dia mengepalkan tangannya membaca isi pesannya
Bukan hanya mengganggu tidurnya tapi pesan itu juga memercikan api cemburu di hati Bryan
dia segera menghapus pesannya
isi pesannya kurang lebih seperti iniπ
Leo
Gue gak jadi pulang mereka udah ada petunjuk tentang adik gue...
doain ya biar bisa ketemu secepatnya
__ADS_1
like komen and vote πππ