
Nindy mengumpulkan keberaniannya menemui Leo di kantor
dia menghela nafas saat hendak masuk keruangan Leo
Nindy hanya mematung menatap Leo yang sedang membaca dokumen dan sesekali menatap laptop
begitu banyak dokumen di mejanya menandakan Leo sangat sibuk
"Kak" panggil Nindy memberanikan diri mendekati Leo
Leo hanya menoleh sekilas lalu kembali pada pekerjaannya
Nindy ragu untuk memanggil Leo kembali dia hanya mematung sambil memainkan jarinya
"Pergi" hanya itu yang di ucapkan Leo
"Kak gue kesini mau.. "
"Gak ada yang perlu di bicarain lagi, sekarang Pergi " Leo menekankan kata pergi
"Kenapa lo benci gue? kenapa lo salahin gue untuk sesuatu yang gak pernah gue lakuin" lirih Nindy
Tok tok tok
"Masuk" belum sempat Leo menjawab pertanyaan Nindy seseorang mengetuk pintu
Meira terkejut melihat kehadiran Nindy disana begitu pun Nindy
"Meira"
"Hai Nindy gue gak tau lo ada disini juga" ucap meira canggung
"Kalian mau apa lagi kesini? sekarang cepet pergi jangan ngerusak mood gue yang lagi banyak kerjaan" bentak Leo
"Gue cuma mau ngasih ini, jangan lupa makan" meira menyimpan paper bag di meja Leo
"Kak kita harus bicara" ucap Nindy
"Gak ada yang harus di bicarain gue lagi sibuk, sekarang lo pergi dan bawa temen lo pergi juga sebelum gue panggil security" ancam Leo
"Tapi kak"
"Pergi" leo menekankan kata pergi
Mau tidak mau Nindy terpaksa pergi karena tidak ingin membuat keributan di kantor begitu pun meira
Nindy berjalan gontai keluar dari perusahaan Leo
karena takut di tegur Nindy meira mempercepat langkahnya hendak mendahului Nindy
"Meira tunggu" ucap Nindy membuat langkah meira berhenti tepat di ambang pintu
"I.. iyya nin" Meira merasa gugup
"Kenapa lo masih bela belain kirim makanan ke kantor kak Leo? " tanya Nindy saat sudah menarik meira ke taman dekat kantor
"Gue gak tau ini perasaan apa Nindy tapi gue merasa senang aja saat gue ketemu Leo" Meira menundukkan wajahnya
__ADS_1
"Meira lo tau sendirikan? kalo kak Leo... " ucap Nindy lembut
"Gue tau gue sangat tau nin tapi apa gue salah mencintai seseorang apa gue salah? cinta ini tumbuh gitu aja seperti rumput liar"
"Lo akan buat diri lo sendiri terluka begitu pun Dara dan kak Leo, apa lo siap untuk itu? " tanya Nindy
"Gue gak tau tapi gue cuma mau coba jalanin aja, gak apa apa walaupun akhirnya gue harus kalah"
"Please menurut gue jangan" Nindy melarang keras untuk Meira mendekati Leo
"Lo gak bisa larang gue, kalo gak ada lagi yang harus di bicarakan gue permisi" ucap Meira lalu pergi
"Gimana nih" Nindy menggigit ibu jarinya
.
.
Setelah Nindy memaafkan Mark atas semua kesalahannya
sekarang Mark bisa mengajak main Cia dengan tenang
seperti sekarang mereka sedang bermain di sebuah taman Cia dan Mark terlihat begitu senang
Bermain ayunan, kejar kejaran, dan Mark bercerita untuk Cia
dia mungkin bukan ayah yang baik namun dia berusaha menjadi kakek yang terbaik untuk menebus semua kesalahannya pada Nindy
"Cia mau ice cream " ujar Cia setelah penat bermain
"Oke kita beli" Mark menaikan Cia ke punggungnya dan berlari berkelok kelok
.
.
Malam hari Mark membawa Cia kerumah sakit untuk bertemu Nindy
lagi lagi saat Mark masuk dia sedang melihat Nindy menangis di tepian ranjang Bryan dan menjadikan tangan Bryan sebagai bantal
Mark dan Cia saling pandang lalu berjalan mendekati Nindy
"Mama" suara Cia membuat Nindy bangun dan segera menghapus air matanya
"Hai sayang udah makan belum? " Nindy tersenyum manis tidak menunjukkan kesedihanya di hadapan Cia
"Mama gak apa apa? " Cia menyentuh wajah Nindy yang matanya masih sembab
"Gak apa apa sayang, emang mama kenapa? " tanya Nindy
"Mama bobo aja biar Cia yang jagain papa" celoteh Cia sambil mengelus pipi Nindy dengan ibu jarinya
"Waahh anak mama sudah besar ya sekarang mau jagain papanya" Nindy menarik lembut tubuh Cia dan memeluknya
Mark hanya menatap mereka berdua tanpa bicara sepatah kata pun
Mark merasa bersalah dan menyesal tidak bisa melihat bagaimana anak perempuannya tumbuh dewasa menjadi wanita yang tangguh, terlihat baik baik saja untuk orang yang dia cintai
__ADS_1
"Grandpa.. grandpa" ucap Cia menggoyangkan lengan Mark membuyarkan lamunannya
"Makanan buat mama" Cia menadahkan tangannya
"Ini anak manis" Mark memberikan bungkusannya sambil mengusap kepala Cia
"Makanlah selagi hangat" ucap Mark pada Nindy
"terimakasih"
"Apa kau sudah bertemu dengan Leo? " tanya Mark
Nindy hanya menggeleng dengan wajah kecewa
Mark duduk di sofa dan membawa Cia duduk di pangkuannya
"Tidak usah terlalu di pikirkan, aku sendiri yang akan menemuinya nanti"
"Aku takut kak Leo tidak bisa mengontrol dirinya dan hal serupa terjadi seperti kemarin" jawab Nindy
"Apa kau mengkhawatirkanku? tanya Mark
" Entahlah aku hanya tidak ingin ada yang terluka diantara kalian"
Mark tersenyum mendapat perhatian dari putrinya meskipun dia tidak pernah berkata menyayanginya secara langsung tapi Mark bisa merasakan hal itu
mungkin karena kekecewaannya terhadap Mark dia merasa butuh waktu untuk menyayangi Mark sepenuhnya
"Kau pulanglah aku akan menjaga Bryan" ucap Mark setelah Nindy makan
"Aku tidak akan meninggalkannya"
"Ayolah kau butuh istirahat, jangan siksa dirimu sendiri setidaknya istirahatlah pada malam hari aku akan bergantian menjaganya"
"Apa kau takut aku akan membunuhnya? " tanya mark yang melihat Nindy hanya diam
"Tidak bukan begitu aku hanya.."
"Tidak apa apa aku pantas di curigai"
"Bukan begitu, baiklah aku akan membawa Cia pulang" Mark tau Nindy akan menurut jika dia bilang seperti itu
Saat Nindy sudah melangkahkan kakinya hendak keluar pintu dia berbalik menatap Bryan
"Apa kau tidak memberi tahu orang tuanya? " tanya Mark
"Tidak, aku takut di salahkan telah membuat anaknya terbaring begitu lama"
"Ada baiknya jika kau memberi tahu mereka tentang kondisi anaknya"
"Baiklah nanti akan aku beri tahu, aku pulang dulu" Mark menatap punggung Nindy yang perlahan menghilang
menggendong Cia yang sudah tertidur meletakkan kepalanya di bahu Nindy
"Anakku tumbuh menjadi wanita yang tangguh, cantik, baik sayang aku tidak pernah melihat dia tumbuh"
"Terimakasih sudah mencintai dan menjaga anakku, kau orang beruntung dapat di cintai wanita sehebat dia" Mark menepuk tangan Bryan yang masih setia menutup matanya
__ADS_1
"Kemana kau kenapa setelah membawa anakku kau tidak pernah kembali, ingin sekali aku membuat perhitungan denganmu karena telah membantu Carolina membawa anakku pergi jauh dariku" gumam Mark