
Damar tidak kembali sampai sore Wina selalu melihat pintu keluar
entah kenapa perasaanya menjadi tidak tenang
niatnya menelpon dia urungkan karena takut mengganggu meetingnya
pintu kembali di buka kini muncul lah sang ayah mertua
Wina bangun dari tempat duduknya dan menghampiri papa Damar
"Papa kak Damar dimana? " tanya Wina
"Menantu papa lagi cemas sama suaminya ya" papa Damar mengacak pelan pucuk kepala Wina seraya tersenyum
"Damar bilang ada urusan sebentar, sebentar lagi juga datang" lanjut papa Damar
"Ohh gitu ya, papa mau pulang sekarang? " tanya Wina
"Iya, ini mau ambil tas dulu, kamu mau ikut papa pulang? "
"Enggak, aku nunggu kak Damar pulang aja deh" jawab Wina
"Baiklah, papa duluan ya"
"Iya pa" setelah berbincang Wina kembali ke tempat duduknya
"Menantu yang menghawatirkan suaminya, uunncchh so sweet" ejek staf yang selalu membuat masalah
"Jomblo uunncchh cakitt" balas Wina membuat yang lain terkekeh dan staf itu cemberut kesal
"Sayang" panggil Damar membuat semua staf menoleh
Wina berlari kearah suaminya tidak lupa memeletkan lidah pada musuh barunya
wanita itu menatap sinis mengerucutkan bibirnya
"Kita pulang sekarang? " tanya Wina menggelayut manja di lengan Damar
"Udah gak sabar nerusin yang tadi? " goda Damar
"Gak gitu" bisik Wina menggeram mencubit pinggangnya
"Iya iya ayo pulang" Damar terkekeh
Di dalam mobil Damar lebih banyak diam tidak seperti biasanya
Wina menatap wajah Damar yang terlihat sedang memikirkan sesuatu
"Mikirin apa? " tanya Wina
"hmm.. gak mikirin apa apa" Damar tersenyum ke arah Wina
"Win kalo aku lakuin kesalahan dulu apa kamu bisa maafin aku? " tanya Damar
"Maksudnya gimana? "
"Kalo aku sebelum nikah sama kamu lakuin sesuatu yang akan mempengaruhi hubungan kita kedepannya gimana? " tanya Damar memperjelas
__ADS_1
"Aku gak tau" jawab Wina
"Kok gak tau? kamu mau gimana menyikapinya? " tanya Damar
"Kesalahannya apa dulu dan berpengaruh gimana kedepannya, tergantung itu semua"
"Emang kamu lakuin kesalahan apa? " lanjut Wina
"Banyak Nana, aku takut kamu ilfil sama aku"
"Ganti nama orang sembarangan" gerutu Wina
"Itu panggilan sayang aku sama kamu, gimana baguskan?" ucap Damar membuat pipi Wina bersemu merah
"Oh"
"Kok oh doang sih? "
"Terus aku harus bilang apa?
" Gak ada, udah gak usah di bahas"
Sesampainya di kediaman Damar Wina sudah di sambut kedua orang tua Damar
Mama Damar menggandeng tangan Wina memperkenalkannya pada asisten rumah tangga yang datang 2/3 hari sekali untuk membersihkan rumah
"Sayang mereka cuma datang 2/3 hari sekali jadi di rumah apa apa kerjakan sendiri" ucap Mama Damar membawa Wina duduk di ruang keluarga
"Ma Damar sama Wina ke kamar dulu ya capek mau mandi" ucap Damar menuntun tangan Wina
"Mama biarin aja namanya juga pengantin baru"
"Cepet cepet kasih mama cucu" teriak mama Damar saat mereka sudah naik ke kamar Damar
"Denger gak mama minta cucu" ucap Damar membuat Wina tersipu
"Aku mau mandi" Wina mengalihkan pembicaraan
"Nanti aja kita.. kita.. " Damar tidak meneruskan perkataannya
Damar mendekati Wina dan menekan pinggangnya agar menempel pada tubuhnya
jantung Wina berdegup kencang saat Damar mulai mendekatkan wajahnya
"Aku mau mandi dulu"
"Gak usah"
"Tapi.. tapi.. "
"Nanti aku mandiin"
"Dam.. mmmpphh " sesaat kemudian Damar memagut bibir Wina dan menekan tengkuknya
Wina membalas pagutannya dan mengalungkan tangan pada leher Damar, Damar pun menggiring Wina ke ranjang dengan masih berpagutan dan menjatuhkan diri mereka berdua
"Aku mau sekarang " ucap Damar dengan bibir yang masih menempel
__ADS_1
Wina hanya mengangguk mengerti keinginan suaminya
Damar lebih dulu membuka pakaiannya membuat wajah Wina semakin memerah dan menutup matanya
"Buka matanya dan lihat"
"Aaaa" pekik Wina saat menyentuh sesuatu
"Sstt jangan teriak teriak kamar ini gak kedap suara, sekarang buka matanya lihat aku" Wina perlahan membuka matanya wajahnya sudah semerah kepiting rebus
"Kenapa? bukannya kamu sering lihat film dewasa? " goda Damar
"Tapi aku baru pertama lihat langsung"
"Damar udah.. aku gak bisa" pekik Wina tertahan
"Damar stop ini sakit" Wina mencengkram bahu Damar
"Cakar dan tekan punggung aku kalo kamu merasa kesakitan" Damar memindahkan tangan Wina ke punggungnya
"Damar pelan" teriak Wina saat Damar mulai menggila
tok tok tok
"Sial" pintu kamar Damar di ketuk saat ia hendak berada di puncaknya
"Damar sama Wina mau di masakin apa? " ucap mama Damar
Tidak mendapat jawaban mama Damar kembali mengetuk pintunya
"Ada mama" ucap Wina hendak bangun
"Diam biarin aja"
Mama Damar mendengar itu menutup mulutnya
anaknya begitu bersemangat hingga istrinya menjerit jerit kecil, dia akhirnya pergi meninggalkan kamar anaknya karena merasa malu sendiri
"Iwwhh, apa ini" Wina mengusap tangannya ke sprei
Damar terkekeh melihat kelakuan istrinya
"Jangan gitu liatinnya, mau lagi? " goda Damar membuat Wina menggeleng dengan cepat
"Kamu bakal tanggung jawabkan? " pertanyaan Wina membuat Damar tertawa
"Aku gak jamin akan tanggung jawab kalo kamu hamil" goda Damar membuat Wina tercengang
"Kamu.. kamu tega" ucap Wina menatap Damar dengan berkaca kaca
"Hei aku cuma becanda, lagian aku ini suami kamu kenapa juga kamu harus cemas? " Damar terkekeh memeluk Wina di sampingnya
"Aku tau.. aku cuma gak mau setelah ini kamu ninggalin aku, aku udah gak pera**n lagi" lirih Wina
"Otak kamu kecil banget" ucap Damar sambil tergelak
mendapatkan pelototan dari Wina yang memaksa keluar dari pelukan Damar
__ADS_1