Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Dijodohkan Dengan Ketos Galak
eps 46


__ADS_3

Di sebuah pusat perbelanjaan di kota A Nindy dan Bryan sedang belanja keperluan selama disana karena mereka tidak mau repot dengan barang bawaan


Maria juga sedang ada di kota A menggantikan ayahnya untuk meeting


dia melihat Bryan menggenggam tangan Nindy


'Apa ini artinya mereka balikan lagi?' gumam Maria dalam hati


Karena rasa penasarannya Maria mengikuti Nindy dan Bryan


dari kejauhan Maria melihat ada dua orang yang juga mengikuti Bryan dan Nindy


sampai Bryan dan Nindy pun pergi dari sana menggunakan mobil


mereka juga mengikuti dengan mobil masing masing


Maria menyalip mobil kedua orang itu dan menghalangi mobil mereka


dua lelaki dengan postur tubuh yang berotot besar serta tinggi


sepertinya mereka warga negara asing


Disini kalo ngomong sama keluarga dan orang orang yang berhubungan dengan Leo dari luar negeri anggap aja pake bahasa Inggris ya soalnya othor gak bisa bahasa Inggris hahaha 🤣🤣


"Apa anda cari mati nona?" gertak salah seorang lelaki itu


"Ohh tidak tuan tenang dulu, saya disini hanya ingin menanyakan ada hal apa sampai anda mengikuti orang di mobil depan?" tanya Maria


"Bukan urusan anda, anda sudah membuang waktu kami sebaiknya anda pergi sebelum kami habisi" ucap mereka lalu berbalik hendak pergi


"Tunggu tuan jika kalian punya masalah dengan mereka sama halnya denganku " teriak Maria membuat mereka berhenti


"Jangan main main" ucap salah satunya tanpa berbalik


"Saya kenal mereka, saya tidak ingin apapun saya hanya ingin mereka berdua musnah dari muka bumi ini" ucap Maria sukses membuat mereka melangkah mendekat


"Anda bisa bicara dengan bos kami" ucapnya menyerahkan handphone


"Hallo tuan apa anda sedang punya masalah dengan Nindy dan Bryan?" tanya Maria


"Apa maksud anda nona? " orang itu balik bertanya


"Mobil yang anak buah anda ikuti" ucap Maria


"Mobil Cecilia?" tanya Mark


"Aahh siapa itu Cecilia? yang saya tau namanya Nindy, tapi terlepas dari apapun permasalahan kalian aku ingin dia mati bersama orang yang dia sayangi" ucap Maria dengan senyum sinisnya


"Lalu apa imbalan yang anda inginkan?" tanya Mark


"Tidak ada hanya itu aku ingin dia mati, dan aku akan membantu kalian " ucap Maria


"Baiklah dengan senang hati, tapi apa anda bisa di percaya?" tanya Mark


"Saya sudah menyerahkan kartu nama saya, semoga anda bisa melakukannya dengan baik"


Setelah menelpon Maria memberikan handphonenya dan pergi begitu saja


semua semakin menarik menurutnya sepertinya orang itu cukup kuat untuk berada di belakangnya


Maria menelpon anak buahnya untuk menyelidiki semua tentang Nindy


Kini Nindy dan Bryan baru saja sampai di hotel


Nindy merebahkan dirinya dan memejamkan mata sementara Bryan baru saja keluar dari kamar mandi


Bryan ikut merebahkan dirinya di samping Nindy dan memeluknya

__ADS_1


Nindy langsung bangun ketika air dari rambutnya menetes ke wajah Nindy


Bryan ikut bangun dan menggosok rambutnya dengan handuk kecil karena melihat tetesan air di wajah istrinya


"Sorry jadi basah" ucap Bryan


Nindy tidak menjawab dia melongo menatap Bryan yang masih menggunakan bathrobe dengan tetesan air di wajah dan rambutnya


dengan cepat Bryan mengecup bibir Nindy membuatnya terkesiap


"Eehh gue belum mandi, mau mandi dulu ya " Nindy yang salah tingkah langsung berlari ke kamar mandi


"Iisshh kebiasaan deh ni otak lemot banget" Nindy memukul pelan kepalanya sambil berdiri di hadapan cermin


Setelah menyelesaikan ritual mandinya Nindy keluar hanya memakai bathrobe juga


awalnya dia ragu dan menyembulkan kepalanya melirik ke kiri dan ke kanan melihat situasi


saat dirasa aman nindy berjalan ke paper bag untuk mengambil baju


Belum sampai Bryan baru saja kembali dari luar membuat Nindy mematung di tempatnya


"Mau makan sekarang atau..." Bryan menggantungkan ucapannya


"Iii.. Iyya gue udah laper" Nindy mengambil paperbagnya lalu kembali berlari ke kamar mandi


Bryan tersenyum gemas melihat Nindy yang masih terkesan malu malu


mungkin karena lama tidak bertemu Nindy jadi kembali canggung terhadap Bryan


Di tempat lain Leo sedang menerima telepon dari Roy


dia mengabarkan tidak ada pergerakan apapun dari musuh disana bahkan tempat yang awalnya di jaga ketat kini hanya beberapa orang yang menjaga


dan untuk Mark hanya sekali saja dia datang mungkin hanya untuk urusan bisnis karena banyak para pemimpin perusahaan lain juga terlihat beberapa kali datang ke bangunan itu


"Baik bos" Leo mematikan teleponnya


Setelah makan Nindy kembali ke kamar karena hari sudah gelap


pencarian di lakukan keesokan harinya


Nindy hanya berbaring dengan handphone memutar film Drakor


sementara Bryan sibuk dengan laptopnya duduk bersandar di sofa


" Tolong ambilin hardisk di atas meja dong" ucap Bryan


"Gak bisa apa ambil sendiri?" Nindy malas untuk bergerak


"Ok kalo gitu besok kita gak kemana mana" ancam Bryan


"Iisshh" **** malas Nindy mengambilnya dan memberikannya pada Bryan


Bryan menutup laptopnya dan menyimpan di meja yang terletak disamping sofa


Nindy mengerutkan keningnya kala dia mengulurkan hardisknya Bryan malah menutup laptopnya


Bryan menarik tangan Nindy sampai dia jatuh di pangkuan Bryan


Bryan memeluknya dari belakang menyembunyikan wajahnya di punggung Nindy


meskipun Nindy berontak tapi Bryan tidak melepaskannya


"Ssstt cuma begini aja, jangan gerak gerak Mulu ntar ada yang bangun" Bryan menghirup aroma tubuh Nindy dalam dalam


"Bryan Lo..." Nindy merasa ada yang mengganjal di bokongnya

__ADS_1


Nindy bangkit ketika merasa Bryan semakin tidak bisa menahan diri


"Jangan sekarang" Nindy berjalan mundur karena Bryan terus maju mendekat


"Kenapa? Lo udah tau gue gak bersalah kenapa Lo masih belum bisa terima gue?" Nindy tidak dapat menjawab pertanyaan Bryan


Dia mundur seiring majunya langkah Bryan


Nindy seakan membangun dinding diantara dirinya dan Bryan


"Gggu gue gue..." Nindy tidak dapat meneruskan kata katanya


Bryan menyudutkannya ke dinding dengan satu tangan berada di sisi Nindy


dan satu tangan memegang dagu Nindy


"Apa Lo masih ragu? gue sayang sama Lo bahkan gak ada cewek mana pun yang bisa geser posisi Lo " Nindy hanya diam menatap mata Bryan


"Apa Lo percaya? "


"Gue janji gak akan kasar" entah sihir apa yang Bryan gunakan Nindy hanya mengangguk untuk menjawab semua pertanyaan yang Bryan lontarkan dinding yang di bangun Nindy akhirnya runtuh juga


.


.


Pagi hari Nindy mendengar samar samar suara handphonenya


dia meraih dan mematikan alarmnya


bukannya bangun dia malah kembali meringkuk menaikan selimut


sebuah tangan menarik Nindy kepelukannya


Awalnya Nindy hanya diam menggesek gesekkan wajahnya di dada Bryan


sampai akhirnya dia tersadar ada sesuatu yang keras mengenai pahanya


"Aakkhhh" Nindy terperanjat


"Gak usah malu gitu " ujar Bryan


"Diieemmmm" teriak Nindy di bawah selimut


.


.


"Bryan cepetan" teriak Nindy kala menunggu Bryan keluar dari kamar mandi


"Iya bentar, kenapa mau lagi?" tanya Bryan saat keluar dari kamar mandi


"Cepetan kita harus cari alamatnya, gara gara Lo jadi kesiangan kan" gerutu Nindy


Bryan tidak mempedulikan Omelan Nindy dia malah duduk di ranjang memainkan ponselnya


Nindy yang kesal menghampirinya dan menarik tangan Bryan


"Cium dulu" ucap Bryan


"Iissshhh"


"Ya udah gak usah kemana.." kalimat Bryan terhenti saat Nindy mencium bibir Bryan


"Nah lakukan itu setiap pagi" ucap Bryan melewati Nindy membawa baju ganti


"Kebiasaan mulai semaunya sendiri " gerutu Nindy

__ADS_1


__ADS_2