
Dara menggeliat tapi tubuhnya terasa begitu berat
dia membuka matanya seraya menguceknya
pertama kali membuka mata yang terlihat penampakan dada bidang seseorang dengan tangan yang memeluknya erat
sejenak Dara memberanikan diri menempelkan wajahnya di dada Leo
Betapa rindunya dia saat ini pada sosok di hadapannya
Dara merasakan aroma tubuh Leo yang sudah lama ia dambakan
betapa nyamannya di pelukan Leo
"Aku kangen sama kamu" lirih Dara nyaris tidak terdengar
Sudut bibir Leo terangkat tapi matanya masih terpejam
ternyata Leo dari tadi pura pura tertidur
Tanpa sadar tangan Dara terulur menyentuh perut kotak kotak itu lalu naik ke dada Leo membuat lukisan abstrak disana
Setelah cukup lama sentuhan tangan Dara membuat sesuatu dibawah sana bangun
Leo menangkap tangan Dara yang masih bergerak di dadanya lalu mengecupnya
sontak Dara tersentak lalu memundurkan wajahnya
"Jangan kelamaan, kasihan yang lain jadi bangun" bisik Leo membuat wajah Dara merah padam menahan malu
"Kamu merasakannya? " usil Leo sengaja menempelkannya ke paha Dara yang menekuk ke dalam pahanya
"Astaga" Dara segera mundur menjauh dari Leo
Tanpa rasa malu Leo malah terkekeh melihat ekspresi terkejut Dara
buru buru Dara segera bangun dan pergi ke kamar mandi
setelah kepergian Dara Leo tersenyum miris bahkan sekarang ketika Dara merindukannya Dara tidak ingin menunjukannya
"Apa apaan ini, lama lama disini aku bisa gila"Dara Membasuh wajahnya berkali kali lalu menatap pantulan wajahnya di cermin
" Aku harus kabur, aku gak bisa disini terus ini gak baik buat aku" Dara merasa dirinya lama lama ketakutan di dekat Leo (takut khilaf hehee)
.
.
Siang itu Reno sedang melamun di ruangannya tiba tiba Bryan masuk
tetapi Reno masih asik dengan lamunannya
"Kesambet apaan lo? " tanya Bryan duduk di sofa
"Apaan sih ganggu orang aja" jawab Reno
"Belagu nih sekarang sama bos"
"Lo mikirin Dara ya? " tebak Bryan
"Sok tau lo" ketus Reno
"Pulang aja sana temenin istri di rumah, ada lo disini kerjaan gue jadi berkurang" lanjut Reno
"Lo bukan robot yang harus kerja terus terusan ren, lo perlu refreshing gitu biar gak jomblo mulu" celetuk Bryan
"Apa hubungannya sama lo sih, rempong deh kayak emak gue" jawab Reno
"Lo nungguin Dara? udah gue bilang dari dulu kalo suka tembak, sekarang udah terlambat Leo gak akan pernah lepasin Dara" ucap Bryan membuang nafas kasar
"Maksud lo? " Reno tidak mengerti yang dia kira Dara pulang bersama orang tuanya
"Dara di sembunyikan Leo gak tau dimana, lo tau sendiri Leo punya banyak anak buah udah kayak mafia di novel novel, istri gue aja minta dia lepasin Dara gak di gubris" ucap Bryan
"hufftt Dara disana bahagia gak ya? " celetuk Reno tiba tiba
"Tuhkan lo punya perasaan sama Dara kan? " goda Bryan
"Gue cuma cemas sebagai rekan kerja" jawab Reno ngegas
"Ahh yang bener? " Bryan semakin menggoda Reno
"Keluar atau gue lempar pake asbak nih" ancam Reno yang hanya di tanggapi tawa oleh Bryan
.
.
Nindy yang bosan di rumah memutuskan untuk pergi ke cafe milik Bryan
hanya sendiri karena cia masih berada di sekolah
dari ke jauhan dia seperti melihat seseorang yang tampak tidak asing
dia juga menatap ke arah Nindy tapi wajahnya tertutup oleh sehelai kain yang di pakai menutup kepala hingga wajahnya
Nindy berjalan mendekat ke arah orang tersebut dan mengikuti orang itu
tepat di depan cafe Nindy memanggil orang itu sontak menghentikan langkahnya
"Permisi nona, apa anda mengenal saya? " tanya Nindy pasalnya orang ini dari tadi menatap Nindy
__ADS_1
"Lo lupa sama gue? " orang itu berbalik membuka penutup di wajahnya
"Maria" Nindy cukup terkejut dengan wajah maria yang sekarang ada sejumlah luka di wajahnya
"Ingatan lo masih bagus"
"Muka lo? "
"Kakak sialan lo yang buat gue jadi gini, gara gara dia perusahaan papa gue hancur dan gue di usir dari rumah"
"Itu karena kesalahan lo sendiri Maria, lo gak pernah bisa berubah dendam lo terlalu mendarah daging"
"Gue benci kalian sampai kapanpun, dan selamat untuk awal kehancuran Leo" Maria terkikik pergi begitu saja
"Maria jangan jangan lo " dugaan Nindy selama ini benar Leo di jebak dia berusaha mengejar Maria tapi dengan cepat dia menaiki taksi
"*Hallo kak, kakak harus selidiki kejadian malam itu"
"Sudah adik kecil, anak buahku sudah mencarinya tapi belum ada hasil"
"Syukurlah, aku bertemu Maria dan dia ucapin selamat buat awal kehancuran kakak"
"Ohh jadi si wanita sialan itu, secepatnya ini akan berakhir*"
.
.
Sore itu Dara merencanakan melarikan diri dia pergi ke taman belakang dan memantau keadaan
dua penjaga mondar mandir disana mengawasi Dara
tiba tiba idenya muncul di saat yang tepat
"Aduuhh kemana jatuhnya ni cincin bisa di marahi Leo" ucap Dara dengan nada sengaja di buat keras
"Kenapa nyonya? "
"Tolong bantu cari cincin saya nanti tuan marah" mendengar hal itu penjaga tersebut mulai sibuk mencari
Kesempatan itu di gunakan untuk memanjat tembok yang ada batu batu hiasannya
lalu naik ke dahan pohon di samping tembok melompat dan berhasil keluar
"Pintar" gumamnya tersenyum bangga
Seseorang dari kejauhan tersenyum penuh arti dia menatap Dara dari layar laptopnya
tidak lain dan tidak bukan itu adalah Leo kemudian Leo menyuruh satu orang untuk mengikutinya
Leo hanya ingin tau kemana Dara akan pergi
karena penjaga tidak bisa masuk Leo menyuruh penjaga itu pulang dan dia kesana
sesampainya di rumah Nindy leo tidak mengetuk pintu dan masuk begitu saja
Cia yang ada di ruang tamu menatap Leo dengan tatapan tidak suka membuat kening Leo mengerut
"Mommy sama mama mana? "
"Kenapa mandang daddy gitu? " tanya Leo gemas
"Cia gak akan kasih tau, cia gak suka daddy sakitin mommy" cia berkata sambil membuang wajahnya
"Tapi kalo di kasih ice cream suka dong? " goda Leo
"Gak"
"Kalo dua ice cream? "
"Gak"
"Kalo 5 ice cream? "
Cia tampak berpikir sejenak lalu bicara
"Boleh deh, mommy di belakang sama mama, papa, dan om Reno" Cia merentangkan tangannya meminta di gendong
"Reno? "
"Iya ada om Reno"
Saat Leo menuju ke belakang halaman rumah Nindy disana hanya ada Dara dan Reno yang entah sedang membicarakan apa tapi mereka terlihat begitu dekat
Dara memukul bahu Reno sambil tertawa lepas membuat Leo kesal dan marah
Reno yang dulu cuek dan dingin pada Dara sekarang mulai mencair karena perkataan Bryan
mungkin dia kali ini tidak ingin menyia nyiakan kesempatan kedua
"Mana mama dan papamu? " tanya Leo pada Cia
"Mungkin lagi petik buah di belakang"
"Cia ke kamar dulu besok Daddy bawain ice cream yang banyak"
"Janji? "
"Janji seratus persen janji" setelah mendapat janji Cia pergi ke kamar sesuai permintaan Leo
Dengan kesal di campur amarah dan cemburu Leo dengan langkah besarnya mendekati Dara
__ADS_1
menarik tangannya dari belakang membuatnya terkejut dan langsung berdiri
"Kenapa kamu pergi dari rumah? " tanya Leo setengah berteriak
"Tenang bro gak usah setegang itu, bukannya lo udah nikah? " sahut Reno
"Diem lo gak punya hak ikut campur"
"Leo lepas sakit" Dara berusaha melepas tangannya
Mendengar ribut ribut Nindy dan Bryan kembali membawa keranjang buah
hendak menyapa Leo namun pria itu lebih dulu menarik Dara dengan kasar
Reno berusaha mengejar namun Nindy menghentikannya
"Jangam pancing emosi kak Leo, dia akan semakin menyakiti Dara" ucap Nindy
Di balik sikap Leo yang baik, ramah tapi jika amarahnya sudah di ubun ubun dia dapat menghancurkan segalanya
"Tapi Dara" ucapan Reno terpotong
"Dia gak akan kenapa napa selama tidak memancing emosi kak Leo
.
.
Di dalam mobil Dara menangis ketakutan melihat kilatan amarah dari mata Leo
di tambah lagi dia tidak mau kembali ke rumah itu
" Apa kamu punya perasaan sama Reno? " tanya Leo mencengkraman erat kemudi
"Memangnya kenapa? bukankah aku dan dia sama sama lajang gak ada yang salah tentang itu, yang salah itu kamu sama aku jelas jelas kamu udah punya istri tapi masih ngurusin mantan pacarnya" jawaban Dara membuat Leo semakin marah
Leo menambah laju kecepatan mobilnya membuat Dara berpegangan pada pintu mobil
Melihat amarah Leo yang memuncak Dara tidak bisa mengeluarkan kata katanya lagi
Leo menarik paksa Dara dan memasukkannya ke dalam rumah
meminta penjagaan di perketat lalu dia pergi begitu saja
Dara menangis sejadi jadinya baru kali ini dia melihat Leo semarah ini
bibi tertua menenangkan Dara dan membawanya istirahat di kamar
"Jangan bandel lagi ya neng bibi khawatir liat tuan marah marah" ucapnya namun dara tidak menjawab
.
.
Leo pergi ke sebuah bar untuk menghilangkan stressnya
sudah lama dia tidak datang ke tempat itu namun keadaannya akhir akhir ini memaksanya datang untuk menghilangkan sejenak beban di hatinya
Hari sudah semakin gelap entah kebetulan atau bagaimana Leo yang sedang mabuk bertemu dengan Meira
Meira yang senang bertemu disitu mendekati Leo dan duduk di sampingnya
"Leo gue kira lo gak pernah ke tempat seperti ini? " tanya Meira
"Diem lo, gue emang gak salah pilih lo sering dateng ke tempat kayak gini pasti lo juga udah pernah tidur sama banyak pria, gak salah gue milih Dara" hardik Leo dengan sisa kesadarannya
Meira tidak menjawab dia mengirim pesan pada temannya untuk meminta bantuan
tidak lama setelah itu seorang wanita datang menyerahkan sesuatu secara sembunyi sembunyi
Meira dan wanita itu terus mengajak Leo mengobrol meskipun jawaban Leo menyakiti hati mereka
diam diam Meira memasukan sesuatu ke dalam minuman Leo
"Lo ngapain disini? nyari duit? " sarkas Leo pada Meira
"Gue kesini abis nemuin temen jangan berpikiran negatif tentang gue" jawab Meira
"Minum, cheers" Meira mengacungkan gelas dan wanita itu dan Leo mengadukan gelasnya
10 menit
15 menit
sampai ke menit 20 Leo merasa ada yang salah dengan tubuhnya
Meira terus mengajaknya bicara tapi Leo jadi tidak fokus
dia berkeringat sesekali mengipas ngupas bajunya
"Kenapa? " tanya Meira
"Gerah kayaknya gue harus pulang" jawab Leo berdiri namun sudah tidak seimbang
"Biar gue bantu" Meira membantu memapah Leo
***APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA?
APAKAH MEIRA BERHASIL MENJEBAK LEO***?
LIKE KOMEN DAN VOTENYA DULU DONG 😆
__ADS_1