
Hari itu sepulang sekolah Nindy langsung pulang dan memasak berbagai menu untuk diantar ke ibu Dessy
Nindy mengisi beberapa rantang dan menyusunnya
" Huuhhhh selesai deh " ucap Nindy seraya menepuk nepukan ke tangannya
Setelah selesai Nindy segera mandi dan berganti baju dia begitu bersemangat karena akan bertemu ibunya
Nindy melajukan motornya ke pabrik ibu Dessy
pabrik itu cukup besar dengan pegawai yang berlalu lalang disana
karena Nindy sering ke pabrik semua pegawai sudah mengenal Nindy
" Hai mbak Anita ibu mana?" tanya Nindy
" Eehh neng Nindy makin cantik aja, ada di ruangannya non" ucap pegawainya
" Mbak bisa aja, aku masuk dulu ya" ucap Nindy
Saat Nindy sudah sampai di depan ruangan ibu Dessy juga
ternyata di dalam ibu Dessy sedang mengobrol dengan seseorang
ketika Nindy mengetuk pintu orang tersebut seperti panik dan langsung pamit
" Terimakasih Bu saya permisi dulu" ucapnya lalu pergi
"Siapa Bu ?" tanya Nindy
" Ohh itu cuma yang minta sumbangan tapi maksa pake tanda tangan segala " ucap Bu Dessy
" Terus ibu tanda tangan? kok mau sih kalo di pake gak bener gimana?" tanya Nindy
" Ibu yakin dia orang baik lagian kasihan itu uangnya buat panti asuhan" jelas Bu Dessy
" eemmhh... ya udah deh udah terlanjur juga, semoga aja mereka beneran orang baik, ibu makan dulu ya nih Nindy bawain bekal" ucap Nindy menyodorkan rantang
"Anak ibu memang baik, cantik daannnnn sekarang pinter gak ya?🤔" ucap ibu Dessy menggoda Nindy
" pinter dikit hhahaa" ucap Nindy membuat ibu Dessy tertawa
Ibu Dessy makan sambil sesekali menyuapi Nindy
mereka berdua rindu saat saat itu dimana mereka menghadapi suka duka bersama
ibu Dessy rindu dengan Nindy yang ceria, yang bisa menghangatkan rumahnya dengan candaannya meskipun terkadang dia keras kepala dan semaunya sendiri
" Enak gak Bu?" tanya Nindy
"Enaklah apalagi ini buatan anak ibu" ucap Bu Dessy menangkup dagu Nindy
" Bagaimana kamu sama Bryan ?" tanya Bu Dessy
" Bagaimana apanya Bu?" ucap Nindy
" Bryan gimana sama kamu baik gak?" tanya Bu Dessy
" Baik banget Bu, dia jaga aku dengan sangat baik apalagi setelah aku hamil dia selalu manjain aku" ucap Nindy membuat ibu Dessy lega
" Syukurlah ibu senang dengernya, kalo ada apa apa usahain bicara baik baik ya sayang jangan emosian... kalo Bryan lagi emosi kamu yang harus ngalah begitu pun sebaliknya ya" ucap ibu Dessy membelai rambut Nindy
"iya Bu akan Nindy ingat, ya ampun Nindy lupa belum ngabarin Bryan " ucap Nindy seraya menepuk keningnya
istriku
aku ke pabrik ibu tapi ini bentar lagi pulang
suamiku
iya gak papa, pulang ke rumah ibu aja aku masih bantuin ayah di kantor nanti pulang jam 7 malem..
istriku
oke... mau di masakin apa?
Bryan tidak lagi membalas pesan Nindy mungkin dia sedang sibuk
Nindy memasukan handphonenya kembali ke tas kecil
lalu ikut membereskan ruangan ibunya sebelum pulang
" Bu pulang naik apa?" tanya Nindy
" Naik taksi online paling" jawab ibunya
" Sama Nindy aja ya, Nindy bawa motor" ucap Nindy ibu Dessy diam sejenak karena merasa takut di bonceng Nindy
" janji deh aman selamat sampai tujuan" ucap Nindy
" ya udah tapi hati hati ya" ucap ibu Dessy
Di tempat lain seseorang terlihat sedang menelpon
dia berbicara dengan sesekali terlihat menyunggingkan senyum jahatnya
" Saya sudah berhasil mendapatkan apa yang anda inginkan, jangan lupa janji anda atau saya akan membongkar semuanya di hadapan polisi" ucapnya
"saya akan memenuhi janji saya asalkan semuanya bisa saya miliki seutuhnya" ucap seseorang di balik telpon
"Gimana pah?" tanya Tamara
" lancar mah kita tunggu proses selanjutnya" ucap suaminya membuat Tamara senang hingga melompat lalu mencium pipi suaminya
" akhirnya kita akan segera bebas dari jeratan hutang, dan punya modal buat usaha" ucap Tamara
Bryan kini sedang di perjalanan pulang ke rumah ibu Dessy
ternyata jam pulangnya meleset dari jam 7 jadi jam 10
__ADS_1
ketika sampai di rumah Bryan terkejut melihat Nindy tidur di meja makan dengan kepala berpangku pada tangannya di meja
Bryan mengelus kepala Nindy mengecup beberapa kali kepalanya
Nindy yang merasa terusik pun bangun seraya mengucek matanya
" Kamu kenapa gak tidur di kamar?" ucap Bryan merapikan rambut Nindy
"Aku nunggu kamu katanya jam 7 jadi ketiduran" jawab Nindy memeluk Bryan yang sedang berdiri di hadapannya
" Tidurnya pindah yuk" ucap Bryan menggenggam tangan Nindy
" Tapi kamu belum makan, aku panasin makanannya dulu ya" ucap Nindy hendak pergi
tapi tangannya masih di genggaman Bryan dengan sekejap Bryan menggendong Nindy ke kamar
Nindy yang terkejut mengalungkan tangannya di leher Bryan
Bryan membaringkan Nindy mengecup bibirnya lalu perutnya
" Papa mandi dulu ya sayang, mimpi indah sama mama muuaahh" ucap Bryan Nindy hanya tersenyum melihat tingkah suaminya
Bryan pergi mandi setelah selesai dan keluar kamar mandi ternyata Nindy sudah tertidur pulas
lalu dia ke luar dari kamar dan menghangatkan makanan yang di masak Nindy
" Nak Bryan sudah pulang? Nindy sudah tidur?" tanya ibu Dessy yang ke dapur mengambil air
" iya Bu baru pulang, Nindy sudah pindah tadi dia tidur di meja makan" jawab Bryan
" Anak itu memang keras kepala udah di suruh pindah ke kamar tapi gak mau ngeyel anak itu" ucap ibu Dessy
"Iya Bu dia memang semaunya sendiri" ucap Bryan
" Makasih nak sudah menjaga Nindy, ibu harap cinta kalian sampai akhir hayat jangan kecewakan dia" ucap ibu Dessy
" Sudah tugas saya Bu, saya janji akan selalu menjaga Nindy sampai akhir hayat saya" ucap Bryan ibu Dessy hanya mengangguk dan tersenyum lalu meninggalkan Bryan di dapur sendiri
Setelah makan Bryan kembali ke kamarnya dan berbaring di samping Nindy
dia menatap wajah polos Nindy yang sedang memejamkan mata
ia ingat betul dulu istrinya adalah siswi yang selalu dia hukum
Bryan tersenyum kala mengingat masa indah itu dimana menghukumnya adalah hal yang selalu dia nantikan setiap harinya
"Sumpah ya gue benci banget sama ketos itu, dikit dikit hukum seenaknya banget gak sih" ucap Nindy kepada sahabatnya yang di ingat Bryan
"Gue suka sama dia? iihhh amit amit" ucap Nindy yang terngiang ngiang di telinga Bryan
Bryan tersenyum menempelkan hidungnya ke hidung Nindy menggeseknya pelan
Nindy menggeliat mengerjapkan matanya berkali kali
menatap Bryan yang tersenyum kepadanya
" Kenapa bangun?" tanya Bryan
"Sini aku peluk, bobo lagi ya" ucap Bryan
Bryan memeluk Nindy yang menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bryan
" Kamu gak bakal tinggalin aku kan?" tanya Nindy
" Ya enggak lah, kenapa nanyanya gitu?" ucap Bryan
"Aku gak mau di tinggal untuk kedua kalinya oleh laki-laki yang aku cintai" ucap Nindy
"Aku bukan laki laki brengsek yang gampang berganti wanita" ucap Bryan
"Gak yakin aku" ucap Nindy seraya mendongakkan kepalanya
Bryan mengecup bibir Nindy sangat lama mereka memejamkan matanya
seolah sedang merasakan sentuhan bibir dan detak jantung masing masing
Bryan membuka matanya menatap Nindy yang masih memejamkan mata
dengan jahilnya Bryan menjauhkan wajahnya
"Kenapa merem manyun manyun gitu?" tanya Bryan
" Iiiihhh tau aah sebel aku sama kamu" ucap Nindy memukul bahu Bryan lalu memunggunginya
Bryan tertawa melihat wajah Nindy Yaang memerah karena malu
Bryan memeluk Nindy tapi tangannya selalu di tepis
"Dingin gini enaknya di peluk, tapi istri gak mau eemmhh peluk siapa ya enaknya?" ucap Bryan
mendengar ucapan Bryan Nindy langsung berbalik dan memeluk erat Bryan
menyembunyikan wajahnya di dada Bryan dengan kaki yang di belitkan di pinggang Bryan
Bryan hanya tersenyum melihat tingkah Nindy yang pencemburu
Bryan merasakan dadanya basah dia pikir Nindy sudah tidur ternyata dia salah
Bryan menangkup dagu Nindy dengan sebelah tangan lalu mendongakkan nya
" Hei kenapa nangis?" tanya Bryan mengelap air mata Nindy
" Kamu jahat kalo aku gak ada kamu mau peluk orang lain?" ucap Nindy dengan Isak tangisnya
"Ternyata istri aku lagi cemburu ya, mana mungkin aku peluk wanita lain selain istri cantikku ini?" jawab Bryan
" Kamu bohong ada aku aja kamu peluk peluk Maria apalagi kalo gak ada aku mungkin kalian udah... huuaaaa aaaa" ucap Nindy menggantung ucapannya lalu menangis keras
" Mungkin aku udah punya anak lain dari dia" goda Bryan
__ADS_1
Nindy semakin mengeraskan tangisnya dia melepaskan pelukannya dari Bryan beralih memeluk guling lalu menyelimuti dirinya sampai kekepala
" Hey aku cuma becanda, ayolah jangan gini" ucap Bryan berusaha melepas selimutnya
" Kalo kamu selingkuh mending aku pergi bawa baby jauh jauh dari kamu" ucap Nindy
" sayang jangan ngomong gitu aku cuma becanda, maaf ya aku janji aku gak bakal bisa pindah ke lain hati" ucap Bryan lalu Nindy membuka selimutnya menatap Bryan
" kecuali kalo kamu ninggalin aku duluan " goda Bryan membuat Nindy merajuk kembali
Dasar Bryan sudah tahu wanita hamil itu sensitif tapi dia malah terus menggoda Nindy
membuatnya menangis tidak berhenti
Bryan tertawa membuat Nindy menatapnya dengan marah
" Kamu lucu kalo lagi ngambek, padahal aku kan cuma becanda" ucap Bryan memeluk erat tubuh Nindy
Nindy semakin kesal saat dirinya masih menangis tersedu sedu Bryan malah tidur memeluknya erat
mungkin tangis Nindy seperti alunan lagu yang membuatnya memejamkan mata
karena lelah Nindy sampai tertidur dengan mata yang sembab
Keesokan harinya disekolah Nindy, Maria mencari Nindy waktu jam istirahat
setelah menemukannya Maria menggebrak meja kantin dimana Nindy dan sahabatnya sedang makan
Sampai bakso yang akan di suap Wina jatuh menggelinding
Nindy sama sekali tidak menatapnya dia memakan makanannya seperti tidak ada siapapun di hadapannya
padahal Maria sudah menatapnya seperti singa yang siap menerkam
"Gue udah peringatin Lo supaya jauh jauh dari Bryan" ucap Maria dengan keras semua murid menatap ke arah meja mereka
"Apa masalah Lo?" tanya Nindy
" Lo udah ganggu hubungan gue sama Bryan, gara gara cewek murahan kayak Lo dia jadi ngehindarin gue" ucap Maria membuat semua murid mulai membicarakan mereka
" Lo gak tau malu apa gak punya malu sih? tanya semua murid disini gue udah lama pacaran sama Bryan sebelum Lo Dateng kesini" ucap Nindy tidak mau kalah
" Lo pasti bohong kan? kalo pun Lo pacar Bryan apa pantas Lo selalu main ke apartemen cowok dengan pakaian yang gak pantes di liat mata " ucap Maria membuat murid murid semakin kaget
" Terus apa bedanya gue sama Lo? bahkan Lo lebih parah Lo selalu menawarkan diri padahal Lo di tolak berulang kali... Lo cuma hilang ingatan bukan hilang akal, harusnya Lo bisa cerna perkataan seseorang" ucap Nindy membuat Maria hanya diam dengan jawaban Nindy
"Lo sama Meira udah dengerkan kemarin Bryan bilang apa? jangan ganggu gue sama Bryan" lanjut nindy, Maria yang geram hendak menampar Nindy tapi dia menangkisnya
"Dan jangan lupa juga kata Bryan, sampai sehelai rambut gue jatuh karena orang yang nyakitin gue dia akan bikin perhitungan" ucap Nindy membuat Maria sangat malu dan pergi dari sana
" Apa Lo liat liat udah abisin tuh makanan keburu basi" ucap Dara pada murid yang masih menatap mereka
" Gila ternyata Lo punya keberanian lawan mereka" ucap Wina bertepuk tangan
"Gue cuma berusaha jaga makanan gue dari lalat yang bikin penyakit" ucap Nindy
" emang makanan nya enak banget ya?" ucap Wina membuat Nindy dan Dara saling tatap mengerutkan alisnya
" Lo nanya apaan sih?" ucap Dara
" Abis Nindy bilang jaga makanan dari lalat berarti makanannya enak dong makanya sampe di jagain" ucap Wina membuat Nindy dan Dara tepuk jidat
" maksudnya Nindy makanannya itu kak Bryan terus lalatnya si Maria" jelas Dara
" Emang Lo makan apanya kak Bryan? iihhh ngeri Lo kanibal ya?" ucap Wina membuat Nindy dan Dara semakin pusing
" Udah jangan di inget otak Lo gak bakal nyampe, kasian nanti korslet ye makan aje tuh baso Ama mangkoknya sekalian " ucap Nindy
" Lo jahat banget sih udah makan orang pake ngatain lagi" ucap Wina manyun
" Emang dashyat Lo gokil wuww gak ada duanya" ucap Dara
Wina menautkan alisnya mendengar perkataan Dara
"Gak ada dua lemotnya" ucap Dara lalu kabur bersama Nindy
" Tunggu iih kalian jahat tau gak" ucap. Wina mengejar mereka
saat mereka kekelas semua murid menatapnya sinis
tapi Nindy tidak pernah peduli pada tatapan mereka
dia hanya berbicara dengan sahabatnya
Damar menghampiri mereka
" Lagi ngomongin apaan sih kayaknya seru banget" ucap Damar
" Lagi ngomongin si Wina lemot" ucap Dara lalu mereka tertawa tapi tidak dengan Wina dia sedang manyun di katain Dara
" Damar mending Lo gak usah Deket Nindy entar gagal dapetin kak Bryan dia malah dapetin Lo, Lo bisa bisa dapet barang bekas" ucap salah satu siswi
" Masalah Lo apa sama temen gue? sini kalo berani gue pindahin tu bibir ke pantat" ucap Dara membuat siswi itu kabur
"Lo gak salah nin piara singa dia berguna juga" ucap Wina terkekeh
"Sialan Lo" jawab Dara menoyor kepala Wina
"Kalian udah liat belum grup sekolah kita" ucap Damar
" Emang kenapa?" tanya Nindy
"Lo liat aja" jawab Damar
Betapa terkejutnya mereka Melihat Poto Nindy dengan Bryan
ada yang di peluk, di gendong sampai Poto Nindy mencium Bryan di depan rumah sakit
'' Lo agresif juga nin" celetuk Wina tanpa sadar yang kakinya langsung di tendang Dara
__ADS_1
"Siapa sih yang kirim Poto gini" ucap Nindy panik